Amanda yang seorang guru, dihadapkan pada lika-liku sekolah yang semakin hari semakin kehilangan arahnya.
Beban tanggung jawabnya sebagai wali kelas 1A benar-benar tak mudah, karena ia juga mendapatkan tekanan dari berbagai sisi, hingga membuatnya stress dan frustasi.
Disaat Amanda sedang pusing menghadapi berbagai masalah dalam sekolah tempatnya mengajar dan juga masalah bersama sang mantan yang masih kekeh meminta balikan dengannya.
Pertemuanya yang tak terduga dengan Reihan yang merupakan kakak dari salah satu muridnya menambah drama baru dihidupnya.
Membangkitkan kembali kenangan masa kecil yang telah terkubur lama ditambah bayang-bayang masa lalu antara dirinya dan Aqila, teman Reihan membuat hubungan mereka jadi penuh drama.
Kira-kira apa yang terjadi di antara mereka? Apa yang membuat Amanda sampai terlibat dengan Reihan dan Aqila?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biru_Muda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terseret Dalam Arus
Akhirnya, mereka berempat beranjak untuk keluar dari restaurant setelah menyelesaikan makanan mereka. Saat Amanda hendak membayar makanannya sendiri, namun ternyata Reihan sudah membayar semua tagihannya.
"Pak dokter, maaf. Itu, soal tagihan makanan saya, biar saya saja yang bayar sendiri." ucap Amanda menghampiri Reihan.
"Uangnya anda simpan saja, karena hari ini saya yang traktir makanannya." senyum Reihan menolak uang Amanda.
Amanda bingung karena mendadak di traktir oleh Reihan. Mengingat mereka tak saling kenal ataupun dekat sebelumnya.
"Oh gitu ya, kalau begitu terimakasih." karena Reihan tetap kekeh menolak uang pemberian darinya, pada akhirnya Amanda menyerah dan langsung mengucapkan terimakasih karena sudah di traktir. Dan, Reihan hanya membalasnya dengan senyuman.
"Kakak masih ada jadwal nggak dirumah sakit?" tanya Raisa.
"Masih ada, kemungkinan kakak akan pulang sedikit terlambat hari ini, jadi kamu pulang kerumah dengan taksi saja, ya." balas Reihan yang tak bisa mengantar Raisa pulang.
"Kalau begitu, kak Aqila bagaimana? Apa kakak akan langsung pulang?" kali ini Raisa bertanya pada Aqila.
"Kakak juga akan pulang, tapi sebelum itu kakak akan kerumah sakit terlebih dahulu." jawab Aqila.
"Kenapa balik kerumah sakit? Apa kakak sakit?" Raisa mengkerutkan dahinya bingung.
"Eh, kalau begitu bu Amanda juga akan balik kerumah sakit, kan? karena mau ambil motor?" belum sempat dijawab oleh Aqila, Raisa sudah mengajak bicara pada Amanda.
"Iya." jawab Amanda.
"Yaudah kalau begitu kita berangkat kerumah sakit aja lagi, toh tujuannya sama semua." ucap Raisa yang langsung masuk kedalam mobil, menggandeng tangan Amanda yang sebenarnya ingin kembali ke rumah sakit dengan sendirian. Namun, tentu saja niatnya itu tidak diperbolehkan oleh Raisa.
Dan, entah mengapa hari ini Amanda seperti sedang dijebak untuk masuk dalam situasi yang tak nyaman ini oleh Raisa.
"Aku tidak mau kak Reihan berduaan saja sama kak Aqila." gumam Raisa yang sudah masuk kedalam mobil. Ia menggerutu saat Reihan dan Aqila masih berada diluar.
"Kenapa kamu nggak suka? Bukannya kamu kenal dekat dengan teman kakakmu?" Amanda menatap heran pada Raisa yang duduk disampingnya.
"Duh, dia tuh nyebelin pokoknya, aku nggak suka kalau kakak tuh deket sama kak Aqila." ucap Raisa memasang wajah kesal.
Obrolan keduanya pun terputus begitu saja saat Reihan dan Aqila akhirnya masuk kedalam mobil.
"Kira-kira kamu masih lama nggak jadwalnya dirumah sakit?" tanya Aqila yang duduk disamping Reihan yang sedang menyetir.
"Entahlah, hal begitu tidak bisa diprediksi. Kenapa memangnya?" jawab Reihan matanya fokus kedepan, dengan sesekali melirik ke arah Aqila.
"Soalnya hari ini aku mau mampir kerumah kamu, jadi aku berharap kamu bisa cepat menyelesaikan jadwalmu biar kita bisa berkumpul bersama." ujar Aqila.
"Hem... akan aku usakan, tapi aku tidak janji." Balas Reihan tidak merasa yakin.
Bangku bagian belakang hanya diam mendengar obrolan keduanya, jika Amanda hanya mengamati dalam diam, Raisa justru memasang wajah tak senang mendengar Aqila yang hendak mampir kerumahnya.
"Hari ini bu Amanda ada jadwal lain, nggak?" Raisa mencoba mengajak ngobrol Amanda.
"Enggak ada, habis ini bu Amanda akan langsung pulang." jawab Amanda.
"Kalau begitu pas sekali! Kebetulan mamaku lagi ada dirumah. Jadi, lebih baik hari ini saja bu Amanda ketemu sama mama." ekspresi Raisa tiba-tiba jadi ceria.
Amanda menatap wajah Raisa dengan tatapan mencari penjelasan, dari sikapnya yang hari ini terkesan terburu-buru dan memaksanya terus ikut.
"Sepertinya kamu suka sekali ya Raisa sama guru kamu, sampai terus memaksanya ikut begini?" Aqila ikut berkomentar. Nadanya penuh sarkas dan ekspresinya memperlihatkan ketidak sukaanya terhadap sikap Raisa yang terus mencoba membawa Amanda di antara mereka.
"Aku nggak memaksa bu Amanda ikut tuh, kan memang benar bu Amanda mau ketemu sama mama? Jadi, apa salahnya meminta bu Amanda untuk datang kerumah, sekarang?" Raisa tak merasa ada yang salah dengan sikapnya.
Aqila hanya diam tak membalasnya, namun ekspresinya tak bisa bohong bahwa ia tak suka mendengar jawaban Raisa.
"Bu Amanda bawa motor, kan? Kalau begitu bonceng aku, ya? Soalnya aku pengen banget pulang kerumah dengan naik motor."
Belum sempat Amanda jawab, mereka sudah sampai dirumah sakit. Membuat pembicaraan mereka terputus begitu saja.
"Kakak akan pesankan kamu taksi, kamu pulang kerumah sama kak Aqila ya." ucap Reihan begitu mereka turun dari mobil.
"Aku nggak mau pulang sama kak Aqila, aku mau pulang sama bu Amanda saja." Raisa menolak untuk pulang bersama Aqila.
Amanda yang kembali diseret, kembali memasang ekspresi terkejut.
"Raisa, hari ini bu Amanda harus segera pulang, jadi tidak bisa datang kerumah kamu. Karena itu, kita tidak bisa pulang bersama." balasan Amanda membuat wajah Raisa cemberut.
Bukan hanya Amanda yang merasa heran dengan sikap Raisa, namun Reihan sendiri juga bingung dengan sikap adiknya yang menurutnya sedikit aneh hari ini.
Pada akhirnya, Raisa pulang bersama Aqila menggunakan taksi walau sedikit enggan. Reihan kembali masuk kedalam rumah sakit, dan Amanda berjalan untuk menjemput motor maticnya.
Petemuan yang canggung itu pun akhirnya selesai. Amanda yang akhirnya keluar dari situasi tak nyaman jadi sedikit bisa bernafas lega.
"Akhirnya, sekarang aku bisa sedikit merasa hidup." ucapnya lega.