Kisah Pendekar Pedang Langitan, merupakan petualangan Bagaga di Jawa Dwipa bersama Ngo Cian, gadis cantik yang mungil dari negeri Champa.
Bagaga di Jawa Dwipa lebih dikenal dengan Pendekar Pedang Langitan, karena itulah senjata yang selalu dia gunakan.
Bagaga dan Ngo Cian terlibat dalam upaya menyelamatkan kelahiran bayi suci yang membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa dan Nusantara.
Semua berawal dari Bagaga mengalami peristiwa barasihan dan menerima wangsit dari Maharesi Pawitra alias Maharesi Semeru Anakan.
Banjir darah melanda Jawa Dwipa bagian timur karena perbedaan cara pandang para Maharesi dan juga para Penguasa.
Mari nikmati kisah Pendekar Pedang Langitan Bagaga dan Dewi Pengendali Api Ngo Cian menjelang kelahiran Ken Arok, bayi suci yang akan membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa.
Seperti biasa. Pendekar Pedang Langitan adalah sekelumit kisah fiksi dengan latar belakang sejarah.
Terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heryando Palar Vinkoert, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. Menuju Kotaraja Dharmasraya
Menjelang senja, ketika matahari telah condong jauh ke barat. Semburat merah jingga mulai muncul di kanvas langit.
Tiga iringan kereta kuda kerajaan Bhūmī Malayu Dharmasraya dengan kawalan pasukan khusus, memasuki kawasan istana kadipaten Batang Hari.
Penjaga gerbang segera membuka gerbang dan memberi hormat ketika iring iringan itu mendekat ke arah istana Adipati Batang Hari.
"Selamat datang yang mulia Senopati dan rombongan. Tuan Adipati telah menunggu." Seorang pengawal penjaga gerbang memberi tahu.
Adipati Batang Hari Hang Balaboh menyambut iring iringan kereta di depan istana bersama istri dan dua anaknya. Tentu saja ikut hadir pemimpin pasukan kadipaten Batang Hari Pati Mugi Laweh serta beberapa pejabat tinggi kadipaten Batang Hari.
Iring iringan kereta berhenti, Pandeka Pedang Suling Kumala adalah orang pertama yang turun dari kereta. Senopati Muda Hanusa yang berdiri di samping pintu kereta kuda memberikan penghormatan ala militer kerajaan Bhūmī Malayu Dharmasraya. Pandeka Pedang Suling Kumala hanya mengangguk kecil. Setelah Pandeka Pedang Suling Kumala, turun Dewi Rimau Kumango yang kemudian berdiri disebelah Pandeka Pedang Suling Kumala. Terakhir turun Dewi Bulan, yang juga langsung berdiri disebelah Pandeka Pedang Suling Kumala. Sehingga pendekar super sakti itu diapit oleh Dewi Rimau Kumango dan Dewi Bulan.
Kemudian penumpang dua kereta lainyo juga ikut turun. Senopati Muda Hanusa memperkenalkan semua orang kepada Adipati Hang Balaboh.
"Aku sungguh bangga, kadipaten Batang Hari di kunjungi oleh sepasang pendekar super sakti dan Puti Reno Bulan. Serta semua orang besar dari kerajaan Bhūmī Malayu Dharmasraya.
Aaahhh... Terimakasih kasih atas kunjungan Anda putri Nguyen Lan dan nona Ngo Chian. Juga untuk anda berdua pendekar dari Tionggoan." Adipati Hang Balaboh menyambut semua dengan ramah.
Mereka kemudian menghabiskan waktu dengan ngobrol dan makan malam bersama.
Esok harinya. Hari masih sangat pagi. Rombongan kembali melanjutkan perjalanan. Namun semua tidak lagi mengenakan pakaian seragam pasukan. Bagaga juga tidak lagi naik kereta. Dia menunggang seekor kuda besar bewarna coklat. Rombongan itu terlihat seperti satu iring iringan pedagang.
Ketika matahari telah naik melebihi penggalan. Rombongan itu mulai memasuki jalur hutan. Bagaga menjejerkan lari kudanya disebelah kuda Senopati Hanusa.
Belum terlalu lama mereka menyusuri jalanan hutan. Pandeka Pedang Suling Kumala melihat banyak bayangan melesat dengan cepat dibalik rimbunan tanaman dikiri kanan jalanan hutan.
"Maaf Uda Bagaga, sepertinya akan ada yang mengganggu perjalanan kita."
"Masih ada kelompok kelompok perampok berkeliaran di jalur jalur jalanan hutan ?"
"Akhir akhir ini memang ada kelompok perampok berkeliaran Uda. Namun ketika kami turun untuk menangkap mereka. Tidak satupun yang bisa kami temukan."
"Oh, itu mungkin karena kalian datang dalam seragam resmi pasukan khusus."
Hanusa tercenung sejenak. Kemudian dia mengangguk dan berkata.
"Mestinya Uda Bagaga benar. Kini ketika kita berpakaian biasa, nyatanya mereka bakal segera muncul."
Setelah melewati sebuah tikungan, mereka menemukan rombongan puluhan orang berpakaian hitam dengan sabuk warna merah dan ikat kepala merah menutupi jalan yang akan mereka lewati.
Hanusa mengangkat tangannya tinggi dan iring iringan itupun berhenti. Hanusa melihat seorang pria besar berambut ikal panjang dengan ikat kepala merah. Dari sikapnya dan sikap orang orang lain dalam kelompok itu. Terlihat pria itu adalah pemimpin rombongan perampok itu.
Pria besar itu cukup ganteng. Hanya sorot matanya yang liar menunjukkan dia adalah seorang yang licik, sombong dan sangat kejam.
"Maaf sanak. Siapakah kiranya engkau dan kelompok mu yang sangat banyak ini ?"
Pria besar dengan rambut ikal panjang itu tertawa keras. Tawanya besar dan terdengar menyeramkan.
Ha ha haa hua ha haa haaa haaah....
"Kau tidak tahu siapa kami ? Hua ha ha haa haaa....
Apakah kau pernah mendengar Rajo Legam kepala rampok penguasa hutan yang kalian lewati ini ??"
Hanusa melihat kepada Pandeka Pedang Suling Kumala yang juga tengah melihat kearah dirinya. Hanusa mengangguk kecil, sepertinya dia membenarkan pertanyaan yang muncul di mata Bagaga. Lalu Hanusa kembali melihat kepada Rajo Legam.
"Jadi engkau yang bernama Rajo Legam ? Sungguh ini suatu hal sangat kebetulan. Aku telah cukup lama sebetulnya mencari engkau dan semua anggota mu."
"Ooh... Untuk apa kau mencari ku anak muda ?" Rajo Legam menatap Hanusa dengan tatapan penuh tanya dan raut wajah heran.
Sementara semua pasukan yang dibawa Hanusa adalah pasukan khusus, pasukan darah besi. Mereka semua langsung menyebar. Tentu saja tindakan semua anggota pasukan darah besi yang tidak berseragam itu langsung diikuti oleh Pati Malin, Pati Indra Kiemas dan Lingga. Begitu juga dengan pendekar Tombak Maut dan Pendekar Bayangan.
Hanusa menatap tajam kepada Rajo Legam dan berkata. Suaranya terdengar sangat keren dan penuh kuasa.
"Rajo Legam... Aku perintahkan kau dan semua anak buahmu untuk menyerah. Atau kalian akan segera dimusnahkan." Rajo Legam kaget mendengar ucapan Hanusa yang terdengar penuh kekuasaan dan tekanan.
Tapi itu hanya sejenak. Kemudian tawa gelak yang sangat keras berkumandang menggetarkan hutan yang tenang.
"Hua ha ha Hua ha haa haaa haaah.... Siapa kau Bunduang ?! Sikap mu seperti seorang pejabat istana saja.
"Ya aku memang dari istana Dharmasraya. Aku adalah Senopati Hanusa." Ucap Hanusa sambil memperlihatkan lencana emas yang menunjukkan pemegang lencana emas itu adalah seorang Senopati kerajaan Bhūmī Malayu Dharmasraya.
Melihat itu Rajo Legam kaget. Namun kembali tertawa gelak. Diujung tawanya, Rajo Legam langsung menurunkan perintah.
"Hua ha ha haa haaa haaah.... Seraaaaang...! Bunuuuhhh...!!"
Begitu bicara, Rajo Legam langsung menyerang Senopati Hanusa.
Berbeda dengan Rajo Legam yang langsung menyerang. Anggota pasukan darah besi yang mendengar perintah Rajo Legam. Langsung bertindak mendahului anak buah Rajo Legam.
Pertempuran segera pecah. Namun dalam waktu singkat, anak buah Rajo Legam berguguran. Keberadaan Senopati muda Malin dan Pati Indra Kiemas serta Pendekar Bayangan dan Pendekar Tombak Maut. Semua anggota perampok itu menjadi makanan empuk.
Empat orang pendekar dan juga pejabat tinggi kerajaan Bhūmī Malayu Dharmasraya itu langsung membantai anak buah Rajo Legam. Pekik kesakitan dan jerit kematian langsung menuhi udara.
Rajo Legam yang menyerang Senopati Hanusa juga tersentak. Dia terdorong mundur dua tombak ketika Senopati Hanusa menangkis serangan kejutnya.
Ternyata Senopati Hanusa sudah sangat siaga. Tidak lama kemudian, hanya sekitar waktu sepenanakan nasi. Semua anggota perampok Rajo Legam tewas. Mereka seperti menghantam tembok besi ketika bertarung dengan pasukan darah besi. Karena semua anggota pasukan darah besi adalah para pendekar yang telah lolos seleksi ketat atas kemampuan dalam pertandingan pesilat muda kerajaan Bhūmī Malayu Dharmasraya.
Dua hari kemudian. Iring iringan kereta kuda itu memasuki kota kerajaan Dharmasraya. Iring iringan itu langsung bergerak menuju istana Yuvaraja Mauli Balanaga, sang putra mahkota kerajaan Bhūmī Malayu Dharmasraya.
Warga kota raja Dharmasraya yang sedang berada diluar rumah. Langsung berjejer di sepanjang jalan. Mereka melihat kearah tiga kereta kuda yang berjalan beriringan. Kereta kereta itu dikawal oleh dua puluh empat orang anggota pasukan khusus berpakaian lengkap dan seorang Senopati Muda yang gagah perkasa. Masih ada lima orang pemuda yang juga menunggang kuda berjejer di belakang Senopati Muda Hanusa. Dua orang pria asing dengan rambut dikepang. Juga seorang pemuda gagah yang terlihat sangat tenang.
"Bukankah itu pendekar Golok Ganda Talaud ?" Salah seorang warga berkata kepada orang di sebelahnya.
"Hei itu adalah Pati Malin dan Pati Indra Kiemas. Bukankah mereka yang bertugas ke daratan Tionggoan ??"
"Kalau melihat penampilan mereka aku yakin mereka membawa berita kemenangan besar."
Berbagai komentar terdengar dari orang orang di sepanjang jalan.
Iring iringan kereta terus berjalan menyusuri jalanan kota raja Dharmawangsa. Menuju kearah timur, kearah istana Yuvaraja.
Seorang pengawal berlari dengan terburu buru menghadap kepada Yuvaraja Mauli Balanaga. Pati Talang Perigi melirik sekilas kearah prajurit tersebut.
"Mohon ampun Yang Mulia Yuvaraja..." Prajurit itu langsung menjura dalam memberikan sikap hormat. Nafas masih tersengal, namun wajahnya terlihat sumringah.
"Tenangkan hatimu dulu. Setelah itu baru bicara." Pengawal itu mengangguk dan berusaha untuk mengatur kembali nafasnya yang masih agak tersengal.
"Datang melapor kepada Yang Mulia Yuvaraja. Pandeka Pedang Suling Kumala dan Dewi Bulan beserta semua rombongan telah kembali."
"Dimana mereka ?" Yuvaraja bertanya dengan cepat. Wajah tampan sang putra mahkota kerajaan Bhūmī Malayu Dharmasraya itu langsung senang. Senopati Talang Perigi juga terlihat sangat tertarik. Pria ahli strategi kerajaan Bhūmī Malayu Dharmasraya yang juga calon suami Pati Mantiak Suri yang cantik dan sensual.
"Sedang menuju ke istana ini Yang Mulia Yuvaraja. Mereka telah memasuki kota." Ucap pengawal yang datang melapor.
Senyum bahagia terukir di wajah tampan Yuvaraja Mauli Balanaga. Dia bergegas melangkah keluar diikuti oleh Senopati Talang Perigi.
\=\=\=\=\=***\=©