kisah seorang wanita yang berusaha melupakan mantannya yang mengkhianati kepercayaan.
diperjalanan menemukan jati diri dan kehidupan baru
sebuah kisah cinta yang manis namun penuh komedi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma Nirmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
...**************...
Keesokan paginya, suasana di depan gedung Hills Corporation jauh berbeda dari biasanya.
Puluhan wartawan telah memenuhi area depan gedung sejak pukul tujuh pagi.
Kamera televisi, mikrofon, dan kendaraan siaran berjejer memenuhi sisi jalan.
Petugas keamanan tampak sibuk memasang pembatas agar para karyawan tetap bisa masuk dengan tertib.
Di dalam mobil, Naomi mengintip keluar jendela lalu menghela napas panjang.
"Nona..."
Evelyn yang sedang membaca agenda rapat mengangkat kepala.
"Kenapa?"
Naomi menunjukkan ke arah pintu masuk.
"Sepertinya mereka datang lebih banyak dari kemarin."
Evelyn melihat ke luar.
Puluhan wartawan berdiri sambil memegang mikrofon.
Beberapa di antaranya langsung menyadari mobil Evelyn.
"Itu mobil Nona Evelyn!"
"Semuanya, bersiap!"
Dalam hitungan detik, kerumunan bergerak mendekat.
"Nona Evelyn!"
"Benarkah Anda menjalin hubungan dengan Tuan Arseno?"
"Apakah keluarga Anda sudah merestui?"
"Apakah kerja sama bisnis ini berawal dari hubungan pribadi?"
Naomi langsung berkata kepada sopir,
"Masuk ke area parkir basement."
"Baik."
Mobil segera berbelok menuju pintu masuk bawah tanah.
Meski begitu, beberapa wartawan tetap berusaha mengejar.
Beruntung petugas keamanan segera menutup akses.
Begitu mobil berhenti, Naomi mengembuskan napas lega.
"Hampir saja."
Evelyn tersenyum tipis.
"Rasanya seperti dikejar penagih utang."
Naomi tidak bisa menahan tawa.
"Di situasi seperti ini Nona masih sempat bercanda."
"Kalau panik, masalahnya tidak akan selesai."
Di sisi lain kota...
Keadaan di Andreas Corporation tidak kalah ramai.
Kosta baru saja turun dari mobil ketika beberapa wartawan langsung menghampirinya.
"Pak Kosta!"
"Apakah benar Pak Arseno sedang berpacaran?"
"Apakah mereka akan segera bertunangan?"
Kosta mengangkat kedua tangan sambil tersenyum canggung.
"Maaf, saya tidak berwenang memberikan komentar."
"Lalu kapan pihak perusahaan akan memberikan pernyataan resmi?"
"Saat ini kami masih fokus pada operasional perusahaan."
Ia segera berjalan cepat memasuki gedung.
Sesampainya di lantai eksekutif, ia langsung menuju ruang kerja Arseno.
"Pak..."
Arseno masih berdiri di depan jendela.
"Berapa banyak?"
"Sekitar empat puluh wartawan di depan gedung."
Arseno menghela napas.
"Semakin banyak."
"Investor juga mulai menghubungi kami."
"Apa yang mereka tanyakan?"
"Mereka hanya ingin memastikan proyek tetap berjalan sesuai jadwal."
"Itu yang terpenting."
Kosta mengangguk.
"Saya juga sudah menyiapkan draf pernyataan resmi."
"Bagus."
Menjelang siang, Arseno menghubungi Evelyn melalui panggilan video.
Begitu layar tersambung, Evelyn langsung berkata,
"Aku baru saja selesai rapat."
"Bagaimana keadaan kantormu?"
"Ramai."
"Sama."
Evelyn tertawa kecil.
"Sepertinya kita mendadak jadi selebritas."
"Aku lebih suka menjadi CEO."
"Aku juga."
Arseno tersenyum tipis.
"Setidaknya selera humormu belum hilang."
"Itu mekanisme bertahan hidup."
"Aku percaya."
Beberapa detik mereka terdiam.
Kemudian Arseno berkata,
"Ayah memintaku datang ke mansion malam ini."
Evelyn mengangguk.
"Nenek juga menghubungiku."
"Kemungkinan mereka sudah membaca semua berita."
"Tentu saja."
Evelyn memijat pelipisnya.
"Aku tidak sabar mendengar ceramah nenek."
Arseno terkekeh pelan.
"Mungkin ayahku juga akan melakukan hal yang sama."
"Kalau begitu kita senasib."
Sore hari...
Di mansion keluarga Hills.
Nyonya Renata duduk anggun di ruang keluarga sambil menunggu kedatangan cucunya.
Tak lama kemudian, Evelyn masuk.
"Nenek."
"Evelyn, duduklah."
Nada suara Renata tenang, tetapi cukup serius.
Evelyn duduk di hadapan neneknya.
Renata menatapnya beberapa saat.
"Nenek hanya ingin mendengar langsung darimu."
"Mengenai berita itu?"
Renata mengangguk.
"Apakah benar?"
Evelyn tersenyum tipis.
"Tidak."
"Kalian hanya rekan bisnis?"
"Ya."
Renata memperhatikan wajah cucunya.
"Lalu kenapa semua media begitu yakin?"
"Itulah yang sedang kami cari jawabannya."
Renata menghela napas panjang.
"Nenek percaya padamu."
Evelyn tersenyum lega.
"Terima kasih."
"Tapi ingat, reputasi dibangun bertahun-tahun dan bisa rusak dalam semalam."
"Aku mengerti."
Sementara itu...
Di mansion keluarga Andreas.
Antonio berdiri di depan jendela ruang kerjanya ketika Arseno masuk.
"Ayah."
"Duduk."
Arseno menurut.
Antonio langsung membuka sebuah map berisi guntingan berita.
"Menurutmu, ini kebetulan?"
"Tidak."
"Aku juga."
Antonio menyilangkan tangan.
"Semua berita muncul hampir bersamaan."
"Dan waktunya bertepatan dengan proyek Singapura."
Arseno mengangguk pelan.
"Ada yang sengaja memanfaatkan situasi."
Antonio tersenyum tipis.
"Bagus."
Arseno mengernyit.
"Bagus?"
"Kau mulai berpikir seperti pemimpin."
Arseno hanya menggeleng kecil.
Antonio kemudian berkata,
"Besok malam, undang Evelyn dan Nyonya Renata ke sini."
"Ayah ingin bertemu mereka?"
"Ya."
"Ada rencana?"
Antonio menatap putranya dengan tajam.
"Kalau lawanmu menyerang reputasi..."
"...maka kau harus menyusun langkah yang tidak mereka duga."
Arseno mulai memahami maksud ayahnya.
Namun ia belum tahu...
Bahwa usulan Antonio pada pertemuan esok malam akan mengubah hubungan dirinya dan Evelyn ke arah yang sama sekali tidak pernah mereka bayangkan.
...****************...