Orland Dmytry harus kehilangan semua yang dia miliki dalam satu malam akibat kebodohan yang dia lakukan.
Cristin Bailey mendapati suaminya sedang bercinta dengan wanita lain di malam pernikahannya dan juga harus mendengar jika suaminya menikahinya karena uang.
Rasa sakit hati dan putus asa membuatnya pergi di malam pernikahannya sampai akhirnya membawa Cristin ke stasiun dan di sanalah Cristin bertemu dengan Orland yang hendak bunuh diri karena putus asa.
Cristin menyelamatkan hidup Orland dan menawarkan uang satu juta dolar jika Orland bersedia melewatkan malam panas bersama dengannya.
Orland yang putus asa bersedia menerima tawaran Cristin dan menjadi gigolo untuk satu malam dan setelah itu mereka berpisah tapi beberapa tahun kemudian mereka bertemu kembali dalam keadaan yang berbeda.
Mampukah Orland mencairkan hati Cristin yang sekeras batu dan bisakah dia membantu Cristin terbebas dari suaminya yang ternyata tidak hanya menginginkan uangnya saja tapi juga menginginkan ginjalnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni Juli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maukah Kau Menjadi Tempatku Berbagi?
Cuaca yang dingin membuat Cristin enggan bangun dari tidurnya. Dia masih tidur dengan nyaman apalagi rasa hangat yang dia rasakan. Cristin lupa dia ada di mana, dia juga lupa sedang tidur dengan siapa. Dia ingin seperti itu untuk sebentar lagi, menikmati kehangatan yang dia rasakan apalagi masih pagi.
Orland memandangi wajahnya sambil tersenyum, dia tidak menduga akan mendengar apa yang dialami Cristin. Sekarang rasa penasarannya terjawab sudah. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan wanita yang telah menolongnya. Walau dia tahu tidak akan mudah, tapi dia yakin sedikit demi sedikit, Cristin akan membuka hati untuknya.
Pria yang bernama Johan itu begitu bodoh karena telah menyia-nyiakan cinta yang diberikan oleh Cristin. Walau dia tidak tahu apa alasan pria itu melakukannya tapi dia harap Cristin tidak kembali pada suaminya itu.
Cristin bergerak dan memeluknya dengan erat, senyum kembali menghiasi wajah, Orland bahkan mengusap wajah Cristin dengan perlahan. Seharusnya dia tidak melakukan hal itu dan hasilnya, Cristin terbangun dan terkejut melihatnya.
"Kenapa kau memelukku?!" Cristin mendorongnya dengan sekuat tenaga.
"Kau yang memeluk aku, Nona. Apa tidak salah?"
"Enak saja, siapa yang mau memelukmu!" Cristin membalikkan tubuhnya dan terlihat tersipu malu. Apa dia sudah gila memeluk pria satu juta dolar itu?
Orland masih tersenyum, dia mendekati Cristin dan membisikkan sesuatu di telingannya.
"Kau memeluk aku sepanjang malam tanpa mau melepaskan aku, Cristin. Walau kau berkilah tapi kau tidak bisa menutupi kenyataan itu. Jika tidak percaya coba cium aroma tubuhku, parfum yang kau gunakan menempel di tubuhku," godanya.
Wajah Cristin memerah, sial. Dia tidak menduga akan jadi seperti ini, semua gara-gara tendanya yang ketinggalan.
"Sana jauh-jauh, aku memelukmu karena aku mengira kau adalah bantal!" ucap Cristin.
"Wah, aku benar-benar ingin menjadi bantalmu setiap malam."
"Sembarangan!" ucap Cristin dengan nada kesal.
"Kenapa? Kita berdua sudah melakukan hal itu bahkan aku pria pertama bagimu, apa kau tidak mau memberi aku kesempatan lagi, Cristin?"
"Jangan sembarangan bicara!" Cristin beranjak, dia tidak suka membahas hal memalukan itu.
"Kau memang pria pertama yang melakukan hal itu denganku tapi kau juga menjadi pria terakhir yang melakukannya karena aku tidak akan mengijinkan siapa pun menyentuh tubuhku lagi!" Setelah berkata demikian, Cristin keluar dari tenda.
Orland belum beranjak, wow. Jadi dia adalah pria pertama dan terakhir bagi Cristin? Bagus, dia benar-benar akan menjadi pria terakhir bagi Cristin karena dia akan berusaha mendapatkan wanita itu.
Cristin merenggangkan otot tubuhnya di luar sana. Seluruh badannya terasa remuk, pasti karena ini pertama kalinya dia tidur di atas tanah.
Orland hanya tersenyum melihatnya, rasanya enggan mengajak Cristin untuk pindah tempat tapi dia sudah berjanji jika mereka akan satu malam saja tidur di hutan. Padahal itu kesempatan emas untuknya karena mereka bisa tidur disatu tenda berdua tapi tidak masalah, dia masih memiliki beberapa malam untuk berduaan bersama Cristin.
"Setelah ini kau akan membawa aku ke mana? Aku tidak mau tidur di sini lagi karena badanku sakit!" ucap Cristin.
Orland mendekatinya sambil tersenyum. Seperti biasa, Cristin selalu memasang wajah jutek dan galaknya tapi Orland senang melihatnya seperti itu.
"Aku benjanji akan membawaku ke tempat yang lebih indah dan kali ini, kau bisa melihat langit malam yang indah," ucapnya.
"Bagus, aku sudah tidak sabar pergi dari sini!!" Cristin kembali merengganggkan ototnya tapi dia terkjeut ketika Orland memeluknya dari belakang.
"Orland!" Cristin hendak protes, tapi Orland semakin mengencangkan pelukannya bahkan pria itu membenamkan wajahnya di tengkuk Cristin.
"Ijinkan aku seperti ini untuk sebentar, Cristin," ucap Orland sambil menghirup aroma manis tubuh wanita itu.
"Ck, dasar kau pria kesepian!" sindir Cristin.
Orland tersenyum mendengar sindiran yang dilontarkan oleh Cristin. Yeah, dia memang kesepian karena dia tidak punya teman. Walau sekarang dia sudah sukses dan punya banyak uang tapi kejadian yang dia alami beberapa tahun lalu tidak akan dia lupakan di mana para sahabat yang dia miliki tidak mau mempedulikan dirinya yang sedang terpuruk bahkan sahabat paling baiknya sekalipun tidak mau mempedulikan dirinya. sahabatnya itu bahkan berpura-pura tidak kenal dengannya. Sebab itu dia tidak mau hal itu terulang kembali. Untuk saat ini yang dia percaya hanya asisten pribadinya. Pria itu bisa menjadi tempat untuknya bertukar pikiran.
"Aku memang kesepian, Cristin. Aku sudah tidak percaya lagi dengan yang namanya sahabat. Sebab itu, maukah kau menjadi tempatku berbagi?" tanya Orland.
"Bagaimana jika aku tidak jauh berbeda dengan para sahabatmu dulu, Orland?"
"Tidak, aku tahu kau tidak akan sama dengan mereka. Kita berdua sama, Cristin. Kita berdua terpuruk karena kebodohan kita jadi aku percaya kau tidak mungkin seperti orang-orang yang aku kenal dulu."
Cristin diam, belum menjawab. Dia memang tidak akan seperti itu tapi untuk apa Orland mengajaknya menjadi teman berbagi? Dia tidak mau terlalu dekat dengan pria itu tapi entah kenapa dia semakin terjerat. Benar yang ibunya katakan, semakin dia ingin menjauh, semakin mereka dekat.
"Cristin," bibir Orland bermain di tengkuknya, merambat naik ke bagian telinganya.
Cristin mengigit bibir, menahan geli dari belaian bibir Orland bahkan Cristin menutup mulutnya karena Orland menggigit daun telinganya dengan perlahan.
"O-Orland," Cristin gugup, dia bahkan salah tingkah dengan jantung berdebar.
"Hm," Orland tidak menghentikan bibirnya yang terus merayap ke wajah Cristin.
Tanda peringatan di kepalanya berbunyi, Cristin tahu jika apa yang mereka lakukan saat ini tidaklah benar dan dia juga merasa jika dia tidak menghentikan pria itu sekarang maka dia yakin dia tidak akan bisa menghentikannya lagi karena dia tidak mau terbuai.
"A-Aku mau buang air kecil," ucap Cristin seraya mendorong tubuh Orland menjauh. Cristin segera melarikan diri, dia berlari menuju sebuah pohon besar. Dia bersembunyi di sana sambil memegangi dadanya di mana jantungnya berdebar dengan cepat dan napasnya tampak memburu.
Orland menatap kepergiannya sambil tersenyum, semakin Cristin menghindar, semakin ingin dia menggodanya. Sebaiknya dia membereskan tenda karena dia akan mengajak Cristin pergi dari sana.
Di balik pohon, Cristin masih berusaha menenangkan jantungnya dan mengatur napasnya. Sial, dia tahu jika dia tidak boleh berlama-lama dekat dengan pria itu. Dia selalu mengingatkan dirinya bahwa berbahaya jika dia berdua saja dengan pria itu dan benar saja, sebaiknya dia mulai menjaga jarak.
"Cristin," tiba-tiba saja Orland muncul dari balik pohon.
Cristin berteriak sambil memukul, degupan jantungnya yang sudah tenang kembali berdegup dan hampir saja copot.
"Sialan, kau benar-benar mengagetkan aku!" ucap Cristin kesal.
"Sorry, aku hanya ingin mengajakmu pergi. Apa kau tidak apa-apa?" Orland mendekatinya.
Cristin mengangguk, menyebalkan. Dia benar-benar terkejut.
"Siap pergi?" tanya Orland seraya meraih tangannya.
"Hm, kali ini harus lebih baik dari pada ini!" ucap Cristin.
"Tenang saja, kali ini aku yakin kau pasti akan suka," Orland mengajaknya pergi tapi sebelum itu mereka harus mengambil barang-barang mereka terlebih dahulu.
Cristin tampak lega, semoga saja bukan hutan lagi karena dia sangat ingin mandi dan tentunnya dia tidak mau buang air kecil lagi di belakang pohon.
Mereka keluar dari hutan itu sambil berpegangan tangan, Cristin tidak membantah, karena dia sudah menarik tangannya tapi Orland tidak mau melepaskannya.
Mereka akan menuju tempat kedua dengan mobil dan tentunya Orland akan memanfaatkan kesempatan itu dengan baik.