"Lo tau Asam Sulfat? Tapi, itu belum cukup buat lelehin hati lo yang beku. Tapi, gue juga gak bakal Nyerah semudah itu"
~ Arfenik Arkasa
Arfen, si Bocah Sains sang badboy ahlinya PHP, Pemecah rekor murid terlambat setiap hari. Paling enggak bisa patuh sama peraturan.
Arfen yang gak bisa nurut peraturan terlalu hobi mengganggu Lathifa si gadis Hukum yang identik dengan peraturan dari kelas IPS Satu.
Siapa yang sangka, Gangguan iseng Arfen setiap harinya berakibat jatuhnya ia terlalu dalam pada cinta nya Lathifa.
Mampukah Arfen menaklukan Hati beku Lathifa? Apakah Lathifa si gadis hukum mau menerima sang BadBoy?
Ingin tau kisah nya?
Cek yuk ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rini IR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
***
Maaf yah. Semalam Aku enggak bisa up. Karna kondisi tangan yang kurang memungkin kan. Nih juga tangan nya cenat cenut. Wkwkw
In shaa Allah, hari ini bakal up lebih dari satu Chapter deh ^^ Semoga komenan kalian bisa buat Author up trus^^
Yang mau gabung Grub WA. Kuy Save No nya Aku 08972154833 yah. Mari berteman ^^
***
"Arfen? Seriusan nih gak papa gue sering - sering main ke rumah lo? " Tanya Thifa, masih duduk di mobil Arfen, tepat di sebelah cowok itu juga.
"Sebenarnya lo gak boleh sering - sering main ke rumah. Nyokap, Bokap, Nenek, Kakek, Shiren gue ngelarang semua. " Sahut Arfen sendu
Jlebbbb
Bagai ada pedang tajam yang menusuk hati Thifa. Fakta ini terlalu menyakiti hati kecil gadis mungil ini. Ia berusaha mati - matian untuk menahan isak tangis nya.
Tapi, bagaimana dengan Sikap Keluarga Arfen yang welcome ke Gue?
Yah, Thifa sadar diri. Dia hanya anak dari pengusaha kelas menengah. Sedangkan Arfen? Dia anak dari Salah satu perusahaan terbesar di Indonesia. Dan bahkan, merupakan penerus nya. Lalu, Thifa bisa apa?
"Lah terus, elo ngapain ngajakin gue ke sini lagi. Entar keluarga lo marah lagi? " Protes Thifa, berusaha mengatur nada suara nya sebaik mungkin.
"Iyah sih, itu masalahnya. Mereka enggak mau lo datang ke sini sebagai Temen gue. Mereka maunya mah elo datang nya sebagai Pacar. Kalo bisa mah menantu" sahut Arfen enteng, dengan menampilkan wajah polos tak berdosa khas nya.
Bukhhhh
Tangan mulus Thifa dengan sempurna nya mendarat di bahu cowok tengil itu. Siapa yang tidak emosi?! Jika Memiliki orang dekat seperti Arfen?
"Hahaha! Sumpah, muka tegang lo itu bikin gue nahan tawa. " ledek Arfen, ia segera turun dari mobil nya.
Meski kesal dan sebal, namun rasa bahagia nya juga tidak dapat di tutupi. Thifa juga keluar dari mobil.
"Ya Allah, nih calon binik, susah amat di ajak ke rumah mertua. " Seru Arfen, ia menggenggam tangan Thifa dan menarik nya masuk.
Thifa hanya bisa diam dan mengikuti langkah Arfen. Hingga, sampai di depan pintu Utama Keluarga Arkasa itu. Langkah Thifa terhenti. Pandangan nya hampa.
"Euy Cewek Pendek tapi Gue sayang. Ngelamunin apa? Halah, udah lah enggak usah gugup. Rumah Suami sendiri, entar juga jadi rumah lo. Ngapain gagu gitu. " Kata Arfen meneruskan langkah nya. Thifa hanya diam. Yah sifat Thifa memanglah pendiam.
"Assalamualaikum, Mamah! " seru Arfen dengan santai nya duduk di sofa, dengan Thifa tentunya.
"Wa'alaikumussalam. Eh Thifa, anak mamah di sini? Kapan datang? Kok enggak ngomong? Kamu gak diganggu Arfen kan nak? " Sahut Sheryl, langsung memeluk Thifa. Membuat Gadis mungil itu tenang seketika. Rasa bahagia menyeruak di hatinya.
"Harus berapa kali istighfar Arfen ya Allah. lihat calon binik begini, enggak ada care nya sama suami. Eh liat mamah kandung sendiri gini. Cobaan macam apa ini" keluh Arfen, mendongak ke atas.
"Enggak usah drama deh. Udah sana jemput Shiren di rumah Om Rei. Dia udah minta jemput. " titah Sheryl yanh sifatnya mutlak. Bahkan Nathan saja tidak kuasa menolak nya, apalagi Arfen?
"Mah, Arfen baru balik. Udah gitu kan ada Thifa, masa Thifa Arfen tinggalin. Kan gak lucu" Protes cowok tengil ini.
"Thifa kan ada mamah, dia enggak kesepian. Dia lebih butuh mamah dari pada kamu. Udah kamu sana jemput adik kamu"
"Lah, dimana mana mah, Istri butuh nya suami dulu. baru mamah mertuanya. "
"Jemput Shiren sekarang, atau Semua Aset Harta mamah tarik. " Ancaman yang ini, yah yang selalu sukses membuay Arfen diam.
"iyah iyah, Yang Mulia Permaisuri. Yang kalo titah nya gak di turuti, bisa - bisa gak boleh pulang sehari. " racau Arfen, ia dengan malas berjalan keluar lagi. Untuk menjemput sang Adik kesayangan.
Thifa menahan tawa nya. Rasanya, sangat bahagia ada di antara keluarga hangat itu.
"Eh Thifa, Gimana kabar orang tua kamu? " tanya Sheryl duduk di sebelah gadis mungil itu.
"Alhamdulillah baik mah. Semuanya lancar kok. "
"Sekolah nya gimana lancar kan? Hubungan kamu sama Arfen baik kan? Arfen enggak dekat sama cewek lain kan? "
"Sekolah sih mah lancar. Cuma, emang ada Adik kelas yang lagi deketin Arfen. Yah gitu deh mah" curhat Thifa dengan polos nya. Thifa sendiri bingung. Bagaimana mungkin ia bisa seceplos itu pada Nyonya Arkasa?
"Terus, kamu enggak marah sama Arfen? "
"Enggak sih mah. Soal nya Arfen kayak nya juga ngejauh dari dia. "
"Trus, Kamu enggak marahin adik kelas kamu itu?"
"Eh marahin dia mah? Emang boleh gitu yah mah? "
"Yah boleh lah, Kalau kamu emang ngerasa Arfen milik kamu. Yah di jaga dong sayang, entar di ambil orang gimana? "
"Tapi kan mah, Arfen sama Thifa enggak pacaran. Artinya Thifa enggak ada hak larang siapapun untuk deketin Arfen. "
"Kalau gitu, yah kamunya pacaran dong sama Arfen. Biar ada hak ngelarang. Kalau Arfen enggak mau. Mamah paksa mau entar. "
---
Arfenik Arkasa? Lo udah ngerubah hidup gue. Gue berharap, cowok kayak lo cuma hanya ada satu di dunia ini. Yah, biar cuma gue yang miliki. Dan orang lain gak boleh. Biar cuma elo yang jadi milik gue, Biar semua orang iri ke gue. Karna lo, cuma milik gue.
***