Jatuh cinta adalah perasaan terindah, namun apa jadinya jika cinta memiliki syarat?
Asfa hanya jatuh cinta, cinta yang membutakan hatinya. Hingga syarat menghempaskannya pada hubungan asing tanpa rasa. Akankah pernikahannya menumbuhkan cinta yang baru? Atau kandas di tengah karam?
Kembalinya sang Papa dengan tamparan keras di pipi mulusnya, menghentikan cinta butanya. Hidupnya terlalu berharga untuk di permainkan! Kembalinya Seorang Asfa, mendadak membuat dunia menjadi panas dengan musuh-musuh yang berdatangan silih berganti, berdoa untuk kehancurannya. Ada pengkhianatan yang menusuknya dalam diam. Jatuh bangun kepercayaan orang-orang di sekelilingnya menjadi emosi tanpa batas menghantam jiwanya.
Akankah orang-orang dalam circle kehidupannya bertahan? Siapa yang akan menjadi pendukung setianya? Siapa musuh-musuh yang siap menikamnya?
Hanya takdir yang tahu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asma Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Intimidasi Tuan Besar
Bruug...
"Jelaskan! " seru seorang pria dengan suara berat nya yang mampu memberikan intimidasi tanpa bicara panjang kali lebar.
Terlihat puluhan foto yang sangat berkualitas, bahkan foto yang buram pun bisa jadi terlihat jelas. Bukan gentar ataupun ingin melarikan diri tapi tangannya dengan teliti memeriksa setiap foto dan membaginya dengan waktu dan kejadian yang benar, dimana dengan urutan yang benar maka cerita yang akan di sampaikan nya pasti akan seperti kenyataan aslinya.
"Kejadian pertama setelah kembali nya nona muda, dengan perintah pertama File E No 1. Dimana orang kita akan menjebak tuan muda A Narendra untuk melakukan hal ilegal, tapi tangan kami tidak perlu kotor karena pemuda itu sudah memiliki jejak kejahatannya sendiri. Dengan mengamankan bukti yang sulit di dapatkan akhirnya kejahatan pemuda itu di upload ke dunia dan jelas hal ini sebagai hadiah pernikahan nona muda dari ku. Tentu bukan salah kami jika kejahatan nya terungkap, pemuda itu memang harus menerima hukuman setimpal setelah mencampakkan nona muda tanpa perasaan." ucap Justin membuang sepuluh lembar foto ke dalam tong sampah di dekat nya.
"Kejadian kedua di mansion nona muda, dimana dalam waktu bersantai nya sebuah kabar membuat nona muda harus berlari untuk menghentikan niat gadis penjilat itu. Terlihat jelas dari awal mata gadis penjilat itu sangat licik dan penuh tipu daya, tapi nona muda masih saja memelihara nya hingga hasilnya drama penyerangan yang mengorbankan empat anak buah kompeten gugur di malam penyerangan." ucap Justin menyingkirkan lima lembar foto yang tidak menarik untuk nya ke tong sampah.
"Kecelakaan Tuan Abhi yang tidak di rencanakan atau lebih tepatnya memang seharusnya bukan untuk pria itu, karena mobil yang digunakan adalah mobil baru yang di pesan khusus untuk nona muda sebagai hadiah pernikahan mereka. Dalang perusakan mobil baru itu hanyalah berandal kecil yang tidak memiliki rumah namun dalang utama nya adalah gadis tidak tahu balas budi itu! Penyelidikan dengan rekaman CCTV rahasia sudah menunjukkan sisi iblis gadis bermuka dua itu, tapi nona muda masih belum memberikan perintah apapun." ucap Justin dan menyingkirkan 15 foto yang ada di urutan ke tiga.
"Dan ini bagian terakhir dimana kini nona muda mengalihkan tanggung jawab ku kepada Dominic dan membiarkan ku untuk menjadi tangan kanannya menjalankan perusahaan ABF company. Pertemuan delegasi asing akan di lakukan esok dan saat ini mereka tinggal di mansion milik nona muda, apa ada lagi tuan? " ucap Justin dan membiarkan lima belas foto terakhir tetap di meja.
"Bagaimana dengan ini? " ucap suara berat itu menyodorkan satu foto yang terakhir, hanya satu foto yang langsung membuat Justin menelan ludah nya sendiri.
Apakah dirinya kecolongan sesuatu sehingga tidak mengetahui tentang apa yang terlihat di foto itu, dengan perasaan bersalah Justin mengamati setiap garis berwarna itu. Sangat getir jika sesuatu yang buruk menimpa nona mudanya terlebih lagi tanggung jawab utama Justin adalah nyawa queen pewaris tunggal tahta tuan besarnya, sedikit saja nona muda nya terluka sudah pasti seluruh dunia akan merasakan api dari tuan besarnya.
"Maaf tuan besar." ucap Justin memberanikan diri menatap mata tuan besar nya.
"Kali ini **ku maafkan, Tapi INGATLAH. Tidak ada kesalahan berikutnya, tidak seorang pun bisa mengganti Hidup Mutiara ku! Paham." ucap tuan besar dengan nada yang lebih di tekan.
"Bereskan itu segera dan kembali ke sisi queen! Tingkatkan keamanan mutiara ku atau enyahlah dari dunia ku! " perintah tuan besar menyibakkan jas nya yang ada di sofa.
Tak.. tak.. tak...
Kepergian tuan besar membuat Justin bernafas lega dengan amarah yang tidak tertahan, bukan karena ucapan tuan besar nya tapi karena foto yang masih ada di tangannya. Dengan langkah mantap kakinya meninggalkan ruangan kerja tuan besarnya, mengelilingi beberapa ruangan yang terlihat tidak asing hingga satu pintu menuju ke taman ada di depannya.
Sreeeek.... (suara tirai yang di sibakkan kini menunjukkan pemandangan yang membuat nya haus darah, tangan nya gatal untuk memulai aksinya)
"Tuan." ucap seorang wanita paruh baya yang tiba-tiba muncul di samping Justin.
"Apa kondisi mereka? " tanya Justin to the poin.
"Fresh tuan." jawab wanita paruh baya itu dengan seringaian.
"Satu lawan satu atau? " tanya Justin ambigu.
"Terserah tuan, bagaimana dengan mood tuan? " tanya balik wanita paruh baya itu ikut meneteskan air liur melihat pemandangan di balik kaca sana.
Sreeek... (Justin menutup kembali tirai dan melihat ke arah wanita paruh baya di sampingnya)
"Berhenti lah menjadi predator kecil Bunda Anya! Bukankah banyak mangsa kakap di kesempatan emas? " ucap Justin dengan lembut tapi penuh makna.
"Hahaha baiklah tuan. Hhaah sebaiknya aku pergi sebelum niatku kembali lagi, Have fun tuan." jawab bunda Anya dengan berjalan menuju ke dapur.
*Tuan besar itu sudah cukup untuk melawan lima puluh orang seorang diri tapi lihatlah penghuni mansion nya ini, satu lawan puluhan semua. Beruntung nya aku menjadi salah satu bagian mansion tuan besar, jika aku jadi musuh nya uuh pasti jadi debu tanpa nama.* batin Justin sesaat mengelus dadanya.
Gluuduk.. gluuduk..Tik.. (Justin menggeser pintu kaca tanpa membuka tirainya, setelah berpindah tempat pintu kembali di tutup dengan double kunci password)
Byuuur...
"Hump.. hump.. " suara ikan kehabisan nafas mulai terdengar membuat Justin masa bodo.
"Let's Play! Cap cip cup, which lucky person?(Ayo main! Cap cip cup,siapa yang beruntung?)." ucap Justin mengacungkan belati tajam nya ke depan seraya berpindah arah.
Terlihat ada kilatan kekesalan dengan amarah yang siap memunculkan tanduk tak kasat mata dan sudah di pastikan isi hati mereka adalah sumpah serapah yang pasti tidak baik, dengan gaya santai namun mematikan Justin berjalan mendekati tumbalnya kali ini.
Jleeb... Sreet.... (satu tusukan tepat mengenai satu mata mangsanya dengan satu goresan panjang di dadanya)
Terlihat shock dengan bau pesing yang membuat Justin mundur selangkah, beralih ke sisi lain dengan hal sama namun kali ini kehilangan satu telinga dengan goresan leher yang langsung membuat mangsa nya terbang ke neraka. Tubuh-tubuh gemetar nampaknya semakin menunjukkan betapa pengecut nya mangsa nya kali ini, satu lagi yang tersisa.
Sreet... (satu sobekan tepat membuka lakban mangsa terakhir, tentu nya sakit bukan main dengan bibir yang ikut sobek dengan ulah Justin)
"Iblis! Lepaaas.. kan." seru mangsa nya menahan nyeri di bibir nya.
"Terimakasih! Siapa menyuruh mu melakukan semua ini? " tanya Justin dengan santai memainkan belati di dada mangsa terakhir nya.
"Aku tidak tahu apa maksudmu." jawab mangsa terakhir nya dengan lirih.
"Tidak tahu ya?! Baiklah." ucap Justin seakan menyerah yang membuat mangsanya bernafas lega.
Duug.. Sreet...
"Kau fikir aku bodoh hah! Dasar bajing@n! " seru Justin yang langsung menendang pusaka mangsanya dan menarik lidah mangsa nya untuk di potong.
"aarh.. eerhh.. " ucap mangsa itu dengan suara yang sudah tidak layak.
"Hah kenapa tidak ada yang menyenangkan, sebaiknya kita ubah permainannya. Nikmati istirahat kalian, satu jam lagi aku akan kembali." ucap Justin meninggalkan dua mangsa yang dibiarkan dalam keadaan menggenaskan dengan nyawa yang masih tertinggal di raga keduanya.
Beberapa anak buah mengambil satu mangsa yang sudah terbang ke neraka lebih awal dan membiarkan dua mangsa lainnya menghirup udara bebas di taman sepuasnya**.
.....................
"Bunda Aliya dan Papa Mahardika istirahat lah di kamar sebelah, Asfa bisa menjaga mas Abhi." ucap Asfa yang melihat kedua mertuanya itu enggan meninggalkan ruangan suaminya.
"Nak jawab jujur, bagaimana bisa Abhi masuk ke rumah sakit utama? Papa tahu jika rumah sakit utama bukan orang sembarangan yang bisa di rawat di sini." tanya Papa Mahardika dengan serius yang selama beberapa hari ini memikirkan hal sama terus menerus.
"Udahlah pa, yang penting keselamatan dan kesehatan Abhi sekarang membaik. Bukankah kita harus bersyukur dan berterima kasih atas kemurahan Tuhan? " ucap Bunda Aliya dengan bijak.
"Bunda dan papa tidak perlu khawatir, assisten Leo sudah menjamin jika tuan Justin adalah orang baik dan hanya ingin menolong keluarga kita." jawab Asfa dengan lembut tanpa emosi.
"Baiklah nak, pulang lah. Bukankah seharian ini kau menunggu suami mu, biarkan kami yang menjaga nya sekarang." ucap papa Mahardika dengan mengelus kepala Asfa.
"Baik, tolong kabari Asfa jika mas Abhi siuman." jawab Asfa mengalah.
Kedua mertua nya mengangguk dan memberikan pelukan sesaat sebagai tanda perpisahan, sedangkan sorot mata Asfa menatap brangkar yang ada di depan saja. Tapi mengingat keputusan terakhir nya membuat dirinya harus meninggalkan rumah sakit utama untuk pertemuan penting esok hari, di luar ruangan terlihat pria dengan aroma parfum yang sangat familiar.
"Apa ada emergency? " tanya Asfa to the poin.
"Ntah lah queen, lihatlah." jawab pria itu menunjukkan ponsel di tangannya.
"Baiklah, antarkan aku ke mansion. Perintahkan beberapa bodyguard di depan kamar rawat suamiku!" perintah Asfa dengan memulai langkah nya menyusuri lorong rumah sakit utama.
Sedangkan pria di belakang nya berbincang menggunakan ponsel yang ada di genggamannya beberapa saat dan melangkah lebih cepat dari queen nya, sesampainya di lobi dengan sigap pria itu membukakan pintu depan mobil.
"Silahkan queen. " ucap pria itu tersenyum.
Tidak ada jawaban selain memasuki pintu mobil yang sudah terbuka, dengan siulan pria itu menghampiri tempat kemudi dan melajukan mobil dengan kecepatan standar meninggalkan rumah sakit utama.
...................
"Siapa kau? " ucap seseorang mengagetkan pria yang tengah memegang selimut di tangannya.
kalau memang ngak cinta seharusnya jujur dari awal.... jangan menjadikan oranglain tumbal atas kegoisan aqsa n keluarga.....
semangat ya asfa.....
dan ingat cinta bisa krn terbiasa
Selamat pagi, semuanya.
Buat semua reader's tercinta.
Terima kasih telah memberikan support dan membagikan semangat kalian agar othoor trus berkarya.
Sehat selalu, ya buat kalian. 🥰