Disarankan untuk membaca novel sebelumnya "Jodoh Sang Dokter Duda" karena disana ada silsilah seluruh keluarga ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon harsupi fakihudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Hanan mengulum senyum "Sudah dong, jangan nangis. Dilihatin orang banyak malu "
"Iya ni, papa juga jadi penonton" Ledek Ilham
Kawan kawan Alana mlongoh berjama'ah sefakultas
"Oww.. So sweet..." Ucap Desi sambil mendekap tangannya sendiri kedada "Kapan kiranya aku bisa seperti itu"
"Sudah lewat Desi" Sarkas Novi
"Sudahlah Nov, biarkan kami berhayal. Siapa tau pulang dari wisuda, aku ketabrak cowok tampan seperti suami Alana uh" Ucap Okta berhayal
"Mati, baru bener" Ucap Novi saking kesel
"Hus. Doain temennya ko koid sih" Timpal Agus
"Ya lebay aja ya nov, ingin ditabrak cowok tampan segala. Kalau cowoknya bawa tronton. Gepeng lah dia Persis kaya wayang kulit "Ucap Septian kesal juga seperti Novi
"Iya bener sih Sep" Agus
Alana mengurai peluk, ia memiringkan badannya, ternyata papa dan mamanya juga hadir. Dan tak ketinggalan Imran ada diantara mereka
Alana menyingkirkan Hanan, dan berjalan kedepan "Waaaaah" Alana membentangkan tangan dan berjalan cepat menuju Imran "Imraaaannn"
Eeeerrrrgggggg
Imran gembira ria
"Eh lupa" Alana kembali lagi menuju Hanan "Kakak, nitip bentar" Alana memberi buket pada Hanan, lalu berbelok lagi menuju Imran
Semua orang tua balapan tepuk jidat
Watak Alana, memang seperti gadis usia belasan tahun, mungkin sifat anak bontot / bungsu.
Ditambah, kedua orang tua dan kakaknya dulu, memperlakukan Alana seperti anak kecil. Apa apa selalu dipilihkan dan dibelikan, dan kebetulan, Alana tidak menolak, ia selalu menerima
Tapi lain hal. Jika Alana sudah melihat anak kecil, baik anak saudara, atau anak tetangga, kalau orang tuanya tidak menyusul, seharipun Alana betah untuk mengajaknya. Jadi tidak heran, Alana memperlakukan Imran seperti anaknya. Mungkin, sifat dia yang penyayang, membuat Alana bisa menjadi sosok ibu yang pandai menjaga anak anak, meskipun bayi sekalipun
Beda dengan masalah memasak. Alana tidak pandai masalah memasak, jika bisapun selalu tidak pas dengan rasa.. Bahkan, menyalakan kompor saja sepertinya sebulan sekali, itupun belum tentu
Jadi, Hanan harus ekstra kerja. Agar Alana tidak hidup susah
Next
Alana mengambil Imran dan menggendongnya "Ikut yuk"
Imran sudah tertawa dan tangannya melambai lambai acak
"Foto keluarga dulu sayang" Hanan merangkul Alana yang sedang menggendong Imran
Pose mereka diatur oleh arahan fotografer "Foto berdua dulu ya mbak ?" Ucap sang fotografer
"Imrannya kasihkan sama mbak Rasti dulu" Bujuk Hanan
"Ih kak, aku ingin sama Imran" Alana memelas
"Iya nanti sama Imran, sekarang kita berdua dulu sebentar" Masih Hanan yang membujuk "Mbak Rasti, Imran diajak dulu mbak" Teriak Hanan
Setelah mereka berdua sudah berfoto seperti habis pengantinan, Imran masuk untuk difoto foto. Foto bareng Ilham dan Sifa, lalu foto bareng Anti dan Anto. Terakhir, foto bersama dengan kedua keluarga
-
Saatnya makan siang bersama orang tua dan mertua
"Hanan, Alana, papa sudah menyiapkan tiket pulang pergi untuk kalian berlibur" Ucap papa Anto
Hanan menoleh kearah mertuanya "Apa?? Eng.. Tapi pa maaf, saya tidak gampang pendapatkan izin dengan mudah. Saya harus pengajuan cuti terlebih dahulu. Jika dari pihak rumah sakit menyetujui cepat ya bisa cepat, tapi jika tidak ya, lama"
"Tidak masalah, besok, kamu atur cutimu. Bukankah dari awal menikah kamu tidak pernah cuti?" Skak mart dari papa Anto
"Iya nak, jangan mikirin kehamilan Istri orang melulu. Istrimu juga perlu rabuk " Bisik Ilham mesum
"Is papa.." Hanan malu digoda papanya
-
Saatnya honeymoon
Papanya Alana memang luar biasa. Memberi hadiah untuk anak dan menantunya adalah, paket honey moon untuk menikmati indahnya naik kapal pesiar
Pilihannya memang top
Perjalanan ini memakan waktu kurang lebih mencapai 3 sampai 4 malam, yaitu rute Singapura, Malaysia dan Thailand
Mereka berdua memasuki kamar "Wah cantik sekali" Alana membantingkan badannya keranjang empuk
Tangan Alana diayunkan dikasur keatas dan kebawah seperti sayap burung garuda. Hanan mendekati dari samping Alana berbaring
Cup cup cup cup
Hanan tak bosan bosan menghujani ciuman diseluruh wajah Alana
"Pipi lembut punya siapa ini ? Cup" Hanan mulai menggoda
Alana membuka matanya "Kakak"
"Hidung?"
"Kakak"
"Mata? "
"Kakak, kakak, kakak, kakak semuanya punya kakak " Alana duduk, tangannya membentang "Semuanya kakak yang punya"
Hanan mendekati Alana duduk, ia duduk dibelakangnya. Kedua tangannya mengalung diperut langsing Alana
Cup
Pundak, leher, semuanya diabsen dengan bibirnya "I love you Alana"
Alana berbalik, tangan Hanan masih tetap diperut Alana, tanpa lepas dan tetap mengalung disana seperti semula
Mereka berhadapan dan saling tatap
Tangan kiri Alana mengalung dipundak Hanan, sedang tangan kanannya mengabsen seluruh wajah Hanan, lalu berhenti dibibir Hanan "Oiya, sejak kapan kakak mencintaiku ?" Jari lentik Alana memainkan Alis tebal Hanan, lalu Alana berdiri dengan lututnya hingga Hanan yang mendongak
"Sejak kita ketemu dicafe dan ada Budi disana" Sebenarnya menyebut nama Budi bibir Hanan kaku tidak suka
Alana langsung menurunkan kaki kiri kelantai
"Eh eh, mau ngapain? " Ucap Hanan
"Mau menemui Budi" Bohongnya
"Ngapain? "
"Biar kakak cemburu, biar kakak cinta denganku"
"Hei sudah naik lagi. Momen romantis, kenapa kau sebut nama pria lain"
"Kan kakak dulu yang menyebut, aku hanya menyambungnya saja"
Hanan mendekap lagi
"Kakak, berjanjilah padaku. Kakak jangan pindah kelain hati"
"Kenapa kau berfikir seperti itu"
Hanan berdiri
"Kakak gendong"
Hanan mundur, dan Alana langsung nemplok dipunggung Hanan
"Pintunya buka.." Ucap Hanan berjalan mendekati pintu menuju balkon yang tembus dengan lautan lepas
Alana membuka pintu balkon "Wowww aku sukaaaaa" Tangan Alana membentang seakan mengatakan "Selamat datang samudra"
"Turunin kak"
Hanan menurunkan Alana, lalu dirinya duduk didak kapal
Alana berdiri mendekati Hanan, lalu berdiri ditengah tengah paha Hanan yang sedang duduk disana
Alana memeluk Hanan erat, lalu mendongak "Kakak... Cium" Alana menunjuk bibirnya, dan tangan kanannya memegang ponsel untuk berselfi, agar gambarnya bisa diabadikan
"Us jangan, nanti kawanmu yang belum punya pasangan, mereka akan menuangkannya sama siapa" Tolak Hanan
"Sekedar cium bibir kakak"
"Tetap tidak, kakak tidak mau itu diabadikan" Hanan lupa, menyebut dirinya kakak.
Momen seperti ini, mengingatkan Hanan dan Alana, sebelum mereka ditakdirkan bersatu.
Dulu Alana sering tidak kontrol. Jika duduk, kaki Alana seperti bapak bapak yang makan diwarung. Kakinya tengkreng tak ada cantik cantiknya
"Hallaaaa... Kakak sekali saja"
"Tetap tidak bisa sayang... Memangnya kamu mau pamer sama siapa ?"
"Buat story"
"Sama aja"
"Aku tutupin pakai stiker"
"Ya berarti nggak usah dong"
"Kakaaak" Alana menjauhi Hanan
"Eh eh " Hanan menarik tangan Alana "Sini sini kita selfi"
Hanan manarik Alana, agar Alana berdiri ditengah paha Hanan. Hanan mendekap leher Alana dari belakang
Cekrek cekrek cekrek
"Dah" Hanan turun dan memberikan ponsel kepada Alana
"Sekali lagi kak"
Alana berdiri disamping dak kapal, dengan tangan membentang, Hanan mengikutinya
Cekrek cekrek cekrek
Alana tersenyum "Sudah"
BERSAMBUNG......
saya suka saya suka saya suka