Kehidupan kecil Arthur yang penuh kebahagiaan lenyap dalam waktu singkat, saat kedua orang tua dan juga neneknya menghilang dalam sebuah kecelakaan.
Arthur kecil yang tak lagi mendapat kasih sayang, kini tumbuh menjadi sosok Arthur yang tak berperasaan
Dan yang paling menonjol dalam dirinya adalah, sikap Playboynya.
Namun, Pertemuannya dengan seorang murid cewek baru disekolahnya, merubah hampir keseluruhan sikap buruk Arthur, dan membantunya mengungkap masalah yang sudah tertutup rapat selama hampir 6 tahun lamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mawarjingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebenaran
"Selamat malam kek." ujar Dara sembari menyelimuti tubuh kakek tersebut, karena waktu kini sudah menunjukan pukul 20:01 malam.
"Terimakasih banyak dek!" ucapnya dengan mata berkaca-kaca, tak menyangka setelah bertahun-tahun lamanya disekap ditempat gelap dan kotor, kini ia bisa menikmati lagi nyamannya tidur di atas kasur yang empuk.
"Sama-sama kek!" balas Dara seraya tersenyum.
"Kakek istirahat, tidur yang nyenyak ya kek!" ucap Dara yang kemudian diangguki olehnya.
Keesokan harinya dirumah papa Arga, semua orang melakukan aktifitasnya seperti biasa.
Sebelum berangkat sekolah, Dara pun mengingatkan ART nya agar tidak lupa untuk memberi sang kakek makanan sehat, dan mengingatkan mereka agar tidak mengatakan keberadaannya pada kedua orang tuanya, karena ia sendiri yang akan bercerita.
..
"Hai sayang, kangen!" ucap Arthur, dan menarik Dara kepelukannya.
"Ar, nanti papa lihat, ayo berangkat ih."
"Iya iya." dengan terpaksa akhirnya Arthurpun melepaskan pelukannya, lalu segera mengenakan helmnya dan bergegas menaiki motor, yang diikuti oleh Dara.
Sebelum memasuki kelas, Arthur kembali menggenggam tangannya, "Entar siang jalan yuk"
"Eh, euhm aku nggak bisa Ar, ada sesuatu yang harus aku urusin soalnya."
"Apaan sih sayang?"
"Ada deh!"
"Dih, udah mulai rahasia-rahasiaan ya!"
"Nanti aku kasih tahu Ar, tapi nggak sekarang."
"Ok deh, nggak masalah sayang!"
.
.
"Hallo kek, selamat siang?" ujar Dara, saat membuka pintu kamar yang di tempati kakek itu.
"Siang dek!"
"Kakek udah makan?"
"Udah." balas kakek seraya tersenyum.
"Kek, maaf sebelumnya, tapi bolehkah saya tahu nama kakek?" tanya Dara, yang membuat kakek tersebut kembali tersenyum.
"Boleh sayang!"
"Ah kenalin, saya Dara kek." mengulurkan tangan padanya.
"Kenalin nama kakek, Firman."
Deg!
"Hah, F-fi siapa kek?" Dara semakin mendekatkan badannya kearah sang kakek, untuk Memastikan bahwa ia memang tidak salah dengar.
"Firman nak!"
"K-kakek serius,?" ucap Dara tak percaya.
"Masa kakek bohong." balasnya seraya terkekeh geli.
"K-kakek kenal sama om Gibran?"
"Tentu saja sayang, dia itu anak kakek, tapi dari mana kamu tahu tentang Gibran nak?" ucap Kakek, yang merasa sedikit bingung.
"Berarti kakek juga kenal Arthur kan?"
"Arthur cucu kakek, kamu kenal dia juga nak?" tanyanya, dengan raut wajah yang berubah sendu.
"Euhmz, S-sebenarnya Arthur, Arthur_"
"Arthur kenapa?" potong kakek penasaran.
"Arthur pacar Dara kek!" balasnya dengan wajah tersipu.
yang membuat sang kakek, tersenyum dengan sedikit tergelak.
"Yaampun, hari ini kakek benar-benar merasa dikaruniai setumpuk kebahagiaan dari yang maha kuasa, karena sudah dipertemukan dengan gadis baik dan juga pemberani seperti kamu nak, kakek benar-benar bahagia." ucapnya sembari meneteskan air mata haru.
"Kek, Dara boleh bertanya tentang sesuatu yang lain?" ucapnya dengan penuh kehati-hatian.
"Boleh, sangat boleh, apapun yang Dara tanyakan pasti kakek akan menjawab semuanya, kecuali jika kakek tidak mengetahuinya." kakek Firman kembali terkekeh.
Dara menghela nafas, kemudian menatap kembali kearah kakek Firman.
"Apa kakek tahu tentang alasan kampung itu disebut kampung mati?"
"Sebenarnya apa yang rerjadi dikampung mati itu kek, dan mengenai gosip yang beredar itu apakah benar, bahwa selama ini, disana ada peneror jahat bertopeng, yang sudah mengakibatkan beberapa warga disana meninggal dalam keadaan mengenaskan."
Kakek Firman menunduk, lalu menghela nafas, sebelum kemudian menceritakan kejadian yang sesungguhnya.
"Bukan nak, tidak seperti itu ceritanya, itu semua bohong!"
"M-maksud kakek?"
"Mereka sudah membohongi semua orang!" ucap kakek Firman dengan rahang yang terlihat mengeras.
"Tidak ada satupun dari kampung itu ada yang meninggal nak, tapi mereka semua pindah entah kemana, setelah Raffi membayar mereka 3x lipat dari harga rumah yang mereka miliki."
"Kemudian diluar sana mereka mempengaruhi semua orang, dengan cara menakut-nskutinya, agar tidak memasuki wilayah kampung tersebut, karena mereka sudah merencanakan akan menjadikan tempat tersebut untuk menyekap kakek disana."
"Yaampun kek!" Dara menutup mulut Menggunakan kedua tangannya tak percaya.
"Jadi selama ini, anak kakek sendiri yang udah nyulik kakek, kok bisa kek dia setega itu?" Dara menggeleng, lagi-lagi tak percaya.
"Karena harta, apapun bisa terjadi nak!"
"M-maksud kakek?"
"Mereka semua menginginkan harta kakek nak, terlebih saat mengetahui jika mereka bukanlah anak kandung kakek."
"A-apa kek?"
"Banu, Raffi dan Hera kakaknya Gibran yang merupakan ayah dari Arthur itu bukanlah anak kandung kakek nak!"
"Mereka adalah anak-anak yang kakek ambil dari panti asuhan saat masih kecil, waktu itu istri kakek sudah di vonis dengan kecil kemungkinannya untuk memiliki seorang anak."
"Dan saat itulah kakek dan istri memutuskan untuk mengadopsi tiga anak sekakigus, untuk mengurangi kesedihan yang kami rasakan, hingga 3 tahun kemudian sebuah keajaiban menghampiri keluarga kakek, karena tiba-tiba istri kakek hamil, dan melahirkan anak laki-laki yang sehat dan tampan."
"Dia adalah Gibran."
"Dan 10 tahun kemudian, kami kembali dikaruniai seorang anak perempuan yang lucu dan cantik!"
"Apa itu tante Anna kek?"
"Betul nak!"
"Lalu untuk apa mereka mengurung kakek selama bertahun-tahun?"
"Mereka menginginkan sebuah tanda tangan pemindahan seluruh harta kakek untuk dipindahkan menjadi atas nama mereka."
"Tapi kakek bersikukuh nenolak, hingga mereka memutuskan untuk mengurung kakek, hingga kakek menyerah, dan mengikuti kemauannya."
"Jahat sekali sih mereka." tanpa sadar Dara sudah menitikan air mata.
"Kek, kakek mau Dara beritahu sekarang tentang keberadaan kakek, pada Arthur dan juga tante Anna?"
"Nggak nak jangan, kakek minta tolong jangan beritahu mereka,"
"Kenapa memangnya kek?"
"Kakek akan menyusun rencana untuk memasukan mereka kedalam tempat yang cocok,agar mereka bisa merenungi semua kesalahannya."
"Baiklah kek, tapi Dara harus memberitahu papa Dara ya soal kakek, dan Dara yakin sebisa mungkin pasti papa akan bantu menyelesaikan masalah ini, kakek pasti kenal kan sama papa saya?"
"Memangnya siapa nama ayahmu nak?"
"William Argantara kek!"
Deg!
"Ini benar-benar sebuah kebetulan yang tidak terduga, sungguh sulit dipercaya." Kakek Firman menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Dimana ayahmu sekarang nak, kakek ingin bicara!"
"Maaf kek papa belum pulang, nanti sore kalau dia udah pulang Dara akan langsung suruh papa buat temuin kakek disini."
"Baiklah nak, terimakasih banyak!"
"Sama-sama kek!" balasnya dengan senyum tulus.
"Apa ada sesuatu yang kakek inginkan sekarang kek?"
"Kalau tidak keberatan, kakek ingin melihat wajah Anna dan Arthur yang sekarang nak, kakek sangat merindukan mereka."
"Sebentar ya kek!" Dara pun mengambil benda pipih Miliknya yang ia simpan di dalam saku celananya.
"Ini kek, tapi fotonya cuma ini yang Dara punya!" menunjukan Foto dirinya beserta tante Anna, dengan Arthur yang berada ditengah-tengah keduanya.
...
Apapun tq ya thor,aku suka smua karya mu sampai saat ke 3 karya mu yg ku baca ,semua cowok/suami begitu menghargai cewek/istri mereka,, bagus ,aku akan lanjut baca kisah si kembar Satya dan Satria deh setelah ini,,⭐️⭐️⭐️⭐️🌺🌺🌺🌺🌺👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻