Memiliki suami tampan, mapan, baik dan penyayang adalah impian semua wanita, tapi tidak bagi Bella.
Empat kriteria yang di idamkan para wanita justru menjadi musibah buat Bella. Nathan, pria yang ia nikahi, ia percaya, ternyata mengkhianatinya. Diam diam Nathan menikahi wanita lain di kota tempat ia bekerja. Kepulangan Nathan kembali ke rumah harusnya menjadi kabar yang membahagiakan Bella.
Namun, kenyataan berbicara lain, Nathan pulang bersama istri barunya.
Hancur? sudah pasti. Namun luka yang Bella terima tidak hanya sampai di situ. Nathan dan ibu mertua menuduh Bella telah selingkuh dan tidak mengakui darah dagingnya sendiri.
Nathan. "Dia bukan putraku!"
Greta. "Akhirnya rencana malam itu membuahkan hasil, akan kusimpan rencana besar ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menutup Hati
Seperti biasa, Rafka membuka jas juga dasinya, lalu ia berikan pada Juan. Rafka semakin leluasa mendekati dan berbincang-bincang dengan Bella karna seluruh karyawan termasuk Riko sudah membungkan mulutnya. Entah apa yang akan terjadi kalau misalkan suatu saat Bella mengetahuinya. Bayangkan saja, pastinya akan menjadi orang terbodoh sedunia.
"Kau rajin sekali. Harusnya ini pekerjaanku, ruangan ini adalah tanggung jawabku. Kenapa kau yang melakukannya?" tanya Bella pada Rafka yang sudah mengepel sebagian ruangan.
"Kau jangan geer, aku hanya sedikit membantu karna kau kelamaan datangnya." Jawabnya.
"Hei, aku tadi habis dari toilet. Kebelet, makanya agak telat. Yaudah sini biar aku yang kerjakan, kalau ketahuan Bos bisa di pecat aku. Kau urus saja kerjaan yang lain. Lap kaca, buang sampah kek atau apalah sana?" usirnya pada Rafka.
"Kau ini bukannya berterimakasih malah mengusirku. Tidak mau, aku tetap di sini." Rafka mengambil lap meja yang menggantung di pundak Bella. Lalu ia melangkah menuju meja yang berada di pojok ruangan.
"Aneh!" rutuk Bella. "Kerjaannya cuma ngikutin aku mulu, emang dia enggak ada kerjaan di tempat lain apa, lantai empat, lima, enam kek, atau apa gitu." Dumel Bella sambil mengepel lantai.
Sementara Rafka, ia hanya tersenyum saat mendengar dumelan Bella. Entahlah, menurutnya itu sangatlah menggemaskan.
"Kenapa jadi gini? apakah aku menyukai Bella? heh, kenapa bisa secepat itu?" gumamnya dalam hati.
***
Hari demi hari Bella dan Rafka selalu melakukan pekerjaannya secara bersama-sama. Dan beberapa bulan kemudian, Bella sudah merasakan adanya kenyamanan saat berada di dekat Rafka. Namun, Bella selalu saja menepisnya, ia masih tidak mau membuka hati yang sudah di hianati oleh Nathan. Rasa trauma masih menjalar pada dirinya, Bella memutuskan untuk berusaha menutup kembali hatinya pada Rafka.
Tidak dengan Rafka, Ia bahkan secara terang-terangan memberikan perhatian pada Bella, walau Bella sering menanggapinya sebagai candaan. Namun, Rafka tidak menyerah ia masih berusaha untuk membuat Bella luluh pada dirinya.
Sedangkan Riko, ia semakim geram melihat kedekatan Bos nya yang hampir setiap hari selalu bersama dengan Bella. Langkahnya terbentengi oleh Juan yang selalu saja menggagalkan rencana yang sudah ia buat.
Seperti saat ini, dari kejauhan Riko sedang melihat kebersamaan mereka berdua. Rahangnya mengeras saat Rafka menyibakkan rambut Bella yang menghalangi pandangannya. Lalu setelah itu ia mengepalkan tangan disaat Rafka berusaha mengucir rambut Bella.
"Ini tidak bisa di biarkan, lama-lama aku benar-benar akan kehilangan Bella. Riko. Kau harus mencari cara lain agar Bella secepatnya bisa kau dapatkan." Gumamnya dengan sedikit penekanan.
Riko berbarik arah, rasa panas akan kecemburuannya sudah tidak bisa lagi ia tahan. "Kita lihat saja nanti, siapa yang bisa memenagkan Bella secepatnya, Bapak Rafka yang terhormat." Riko tersenyum sinis. Ia memutuskan untuk kembali keruangannya.
***
Dikediaman Wijaya.
Ajeng sedikit merasa lega, karna akhir-akhir ini ia sudah tidak lagi melihat pergerakan Bella yang berusaha untuk mencari-cari kebenaran tentang anaknya.
Namun, berbeda dengan Nathan. Ia sering sekali bermimpi buruk dan membuat mimpi itu menjadi beban pikiran.
"Mas. Kau bermimpi buruk lagi?" tanya Ajeng pada Nathan yang terlihat melamun.
"Entahlah, mas benar-benar terganggu dengan mimpi itu." Sahutnya.
Ajeng menatap kasian pada Nathan, wajahnya yang terlihat kusut akibat kekurangan tidur. Mata panda juga terlihat jelas melingkar di bawah matanya.
"Sebaiknya mas istirahat. Badan mas juga agak sedikit hangat." Ajeng memapah Nathan menuju tempat tidur. "Sekarang, mas istirahat dan berdo'a supaya mimpi itu tidak muncul lagi." Saran Ajeng.
"Mas sudah berdo'a, bahkan semalaman mas sudah beberapa kali berdo'a tapi tetap saja mimpi itu datang lagi. Apa jangan-jangan ada sangkut pautnya dengan Bella dan juga anaknya?".
"Tidak, mas. Mimpi itu tidak ada kaitannya sama mereka, tidak sama sekali. Mungkin mas hanya kecapean saja, makanya tidurnya keganggu, kurang nyenyak." Sahut Ajeng sedikit kesal karna Nathan masih saja memikirkan Bella.
"Sebaiknya, mas istirahat dan jangan mikirin mereka." Ajeng berdiri lalu pergi meninggalkan Nathan sendirian di kamarnya.
"Tidak. Ini pasti ada hubungannya dengan Bella, mimpi itu pasti ada kaitannya dengan mereka." Gumam Nathan, kemudian ia duduk termenung memikirkan apa yang sebenarnya terjadi di masa lampau antara dia dan juga Bella.
...........
kesabaran membawa kebahagian buat bella dan kel nya
pdhl ms penasarn sm papa ny bella
smg dimas baik3 sj
oh y thor kbr ayhny bella gimn ap sudh meninggl atu msi hdup
kbr ibu margaret gimn thor
msi adlg rhasua yg blm trbingkar tgu aja