Andi, seorang akuntan kuper yang hidupnya lurus seperti tabel Excel, panik ketika menerima undangan reuni SMA. Masalahnya: dulu dia selalu jadi bahan ejekan karena jomblo kronis. Tak mau terlihat memprihatinkan di depan teman-teman lamanya, Andi nekat menyewa seorang pacar profesional bernama Nayla—cantik, cerdas, dan terlalu mahal untuk dompetnya.
Namun Nayla punya syarat gila: “Kalau kamu jatuh cinta sama gue, dendanya satu milyar.”
Awalnya Andi yakin aman—dia terlalu canggung untuk jatuh cinta.
Tapi setelah pura-pura pacaran, makan bareng, dan menghadapi masa lalu yang muncul kembali di reuni… Andi mulai menyadari sesuatu: dia sedang terjebak.
Antara cinta pura-pura, kontrak tak wajar, dan perasaan yang benar-benar tumbuh.
Dan setiap degup jantungnya… makin mendekatkannya ke denda satu milyar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
No Love, No Mercy
Pagi Jakarta datang tanpa permisi — seolah ia selalu begitu, membangunkan orang dengan teriakan matahari terlalu terang dan suara lalu lintas terlalu kencang.
Alarm Andi berbunyi jam enam lewat lima belas — dan kali ini, ia tidak mati misterius seperti beberapa hari lalu, bangun dengan mata sembab, rambut berantakan seperti laporan keuangan belum direvisi sepuluh kali.
Ia duduk di tepi kasur, memandangi ponsel, layarnya kosong tidak ada pesan baru dari Nayla.
Entah kenapa, itu membuatnya lebih gugup daripada kalau ada menunggu tanda tidak tahu apa artinya.
Pukul tujuh kurang sepuluh, Dio sudah berdiri di depan apartemen mengayunkan dua gelas kopi plastik. Warnanya beda: satu hitam pekat, satu coklat muda.
“Yang pahit buat lu — biar otak nyala. Yang manis buat gue — biar hati senang,” katanya sambil menyerahkan gelas hitam.
Andi menatap kopi itu seolah itu racun. “Gue belum siap minum pahit lagi kalau bukan dari kerja, ya dari… semuanya.”
“Tenang,” Dio menepuk bahunya dengan kekerasan yang pas. “Hari ini pahitnya cuma administratif. Belum sampe pahit emosional yang bikin lu nangis di toilet kantor.”
Itu tidak menenangkan sama sekali.
Mereka masuk ke mobil. Andi menyalakan mesin, Dio langsung membuka pembicaraan tidak dia minta:
“Jadi, hari ini lu resmi masuk ke dunia pacar sewaan. Selamat bergabung di klub yang membuat cinta jadi bisnis!”
Andi menggeleng. “Gue cuma brifing doang.”
“Kontrak,” Dio mengulang pelan, nada suaranya tiba-tiba jadi serius. “Semua masalah terbesar di dunia ini — mulai dari utang sampai perceraian — selalu dimulai dari kata itu.”
"Selepas pulang kerja, temenin gue ke kantornya."
" Nemenin lu ?Dio mengernyit, 'Gue ada Rani, ngapain lu nyuruh gue nyari cewek sewa? "
" Otak lu beku, "Andi tertawa kecil, " temenin gue bukan ikutan sewa, dodol."
" Gue nyesal nyuruh lu nyari cewek sewa hanya karena reuni" Bahu Dio naik sekian senti, matanya membesar, ' kalau tahu begini mending gue nyuruh Surti nemenin lu."
" Siapa Surti ? "
" Pembantu gue di kampung."
\=\=\=
Sore itu.
Gedung Cinta Rental 24 Jam berdiri di pinggir jalan Jakarta Selatan — tidak terlalu tinggi, tidak terlalu mencolok. Cuma empat lantai, kaca gelap yang menyembunyikan apa yang ada di dalam, dan plang nama dengan font terlalu ramah untuk bisnis cukup mencurigakan.
Dio menatap bangunan itu lama menyedot kopinya. “Ini tempat nyewain cinta atau nyuci dosa? Kelihatan bersih tapi jantung gue berdebar, siapa tahu "love scam" lu dijual ke Kamboja oleh Nayla."
“Setan ! "
Mereka turun. Sebelum masuk pintu, Dio menahannya dengan satu tangan di dada — gerakan cepat dan tegas.
“Dengerin gue baik-baik, ya?”
Andi menoleh terlihat serius, tidak seperti biasanya sok asik.
“Jangan sok jujur, jangan sok lugu, jangan pernah cerita soal Mama, Sofiah, atau Bandung ke siapapun di situ. Ini bisnis, bukan cerita rakyat.”
“And—”
“Dan kalau ada klausul aneh yang bikin lu bingung — baca dua kali. Kalau masih bingung, baca tiga kali. Lu ini akuntan, bukan tukang cilok, kalau lu ketipu sama kontrak, itu aib nasional buat komunitas akuntan se-Indonesia.”
Andi menghela napas panjang. “Makasih ya, Di. Dukungan lu bener-bener hangat tapi dingin kayak es batu di dalam kompor."
“Gue temen sejati lu mah. Gue hina dulu, baru bela. Itu aturan tidak tertulis.”
Resepsionis perempuan dengan rambut ikal menyambut mereka senyum profesional terlatih. “Selamat pagi. Ada yang bisa dibantu?”
Andi baru mau membuka mulut — tapi Dio lebih cepat: “Temen brifing kontrak pacaran. Namanya Andi.”
Andi menyikutnya diam-diam. Resepsionis tetap tersenyum. “Oh, Kak Andi ya? Mbak Nayla sudah menunggu di lantai dua.”
Jantung laki laki berwajah polos itu berdetak lebih cepat, seakan ada gerombolan kucing besar berlari di dalam dadanya mencakar
“Gue tunggu di bawah aja,” kata Dio duduk di sofa lobi. “Gue nggak cocok masuk ke dalam gedung kelihatan bersih tapi isinya jebakan batin. Kalau gue ikut, nanti gak nyadar nyeletuk kita berdua dituntut ke Komnas Perlindungan Cinta Semusim.”
“Lu yakin?”
“Yakin banget. Gue cuma mau nunggu di sini sambil lihat orang-orang yang masuk siapa tahu ada yang nyasar nyewa gue.”
" Siapa juga yang mau nyewa supir bajaj kaya lu."
Lift berhenti di lantai dua. Dan tepat di depan pintu lift, Nayla sudah menunggu.
Hari ini ia tidak pakai blazer seperti atasan perempuan garang, cuma kemeja putih rapi, celana hitam lebar, dan sepatu datar, sederhana, rapi, dan entah kenapa — membuat jantungnya menari.
“Pagi, Kak Andi.”
“Pagi.”
Nada mereka keduanya formal terlatih. Seolah baru kenal, bukan orang yang sudah ngobrol di pagi buta dan bertukar pesan di jalan pulang.
Nayla membuka pintu ruang kecil di sampingnya. Papan di depan pintu tulis: Client–Talent Alignment Room. Di dalamnya ada sofa kecil, meja bundar, papan tulis kosong, dan jam dinding yang berdetak terlalu keras menghitung waktu yang tersisa.
Mereka duduk berhadapan. Nayla langsung membuka map yang ada di atas meja tanpa basa-basi:
“Ini cuma briefing cepat, biar ke depan nggak ada salah paham.”
Andi mengangguk hanya mengangguk.
Nayla membaca daftar di mapnya: “Agenda kita ke depan: reuni SMA minggu depan, beberapa unggahan media sosial yang sudah direncanakan, dan sesi tampil publik kalau diminta.”
“Diminta siapa?”
“Netizen,” jawabnya terlalu ringan. “Mereka klien tak tertulis paling galak.”
Andi menelan ludah, biji dong dong tercekik di tenggorokannya.
Nayla menutup map menatapnya lebih serius. Nada suaranya berubah — lebih dingin, lebih profesional, seolah dia bukan Nayla mengirim pesan perhatian tadi malam.
“Ada satu hal yang harus kakak ingat. Yang paling penting.”
“Klausul emosional.” Andi langsung tahu. Kalau tidak, dia bukan akuntan.
“Kontraknya sudah ditandatangani,” lanjut Nayla, “tapi gue perlu memastikan kakak benar-benar paham apa artinya.”
Ia berdiri, berjalan ke papan tulis, dan menulis satu kalimat dengan spidol hitam besar:
TIDAK BOLEH JATUH CINTA.
“Ini bukan basa-basi,” katanya, sambil menunjuk kalimat itu. “Perusahaan kami tutup beberapa tahun lalu gara-gara satu kasus: klien dan talent baper, bikin kerusuhan di media sosial, dan hampir bikin perusahaan bangkrut.”
Andi terdiam matanya tidak bisa lepas dari kalimat itu.
“Satu miliar itu bukan cuma angka buat nakut-nakutin,” Nayla menambahkan, nada suaranya tetap dingin seperti es. “Itu buat ngingetin — bahwa ini bisnis, bukan cerita cinta yang manis.”
Sunyi membanjiri ruangan, jam dinding terus berdetak mengingatkan laki laki itu untuk berpikir ulang atau membatalkan
“Kalau kakak ngerasa mulai… nggak profesional,” lanjut Nayla, “bilang gue, kita evaluasi bisa stop kapan saja, asal sesuai aturan dan uang kakak hangus.
Andi menatapnya lamat, mulutnya terasa kering. “Kalau… kalau dari pihak talent? Yang ngerasa nggak profesional?”
Nayla berhenti berbalik, nada suaranya tetap tenang, tapi matanya seolah menyembunyikan sesuatu.“Tanggung jawabnya sama dan hukumannya lebih berat, talent akan dipecat dan tidak mendapatkan apapun."
Jawaban itu terlalu rapi terlalu siap seolah dia sudah mempelajarinya berulang-ulang.
Selesai briefing, mereka turun ke lobi. Dio bangkit dari sofa, “Udah?”
“Udah,” jawabnya lemah dari seharusnya.
“Semoga lu berdua nggak saling naksir ya Mba Nayla, gue males urunan satu miliar — gue cuma punya duit buat beli kopi plastik.”
Nayla tertawa kecil, bunyinya ringan. Tapi Andi tidak mulutnya terkatup.
Nayla berdiri di tangga depan, menatapnya
“Kita lanjut sesuai jadwal ya, Kak.”
Ia berbalik masuk gedung. Mohon izin gue balik ke kantor.'
Andi baru sadar satu hal kecil yang membuatnya terasa dingin di tengah panasnya matahari
TIDAK BOLEH JATUH CINTA
Dan itu… lebih mengkhawatirkan daripada semua klausul denda di dunia.