NovelToon NovelToon
Meant To Be

Meant To Be

Status: tamat
Genre:Angst / Beda Usia / Keluarga / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Tamat
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: nowitsrain

El Gracia Jovanka memang terkenal gila. Di usianya yang masih terbilang muda, ia sudah melanglang buana di dunia malam. Banyak kelab telah dia datangi, untuk sekadar unjuk gigi—meliukkan badan di dance floor demi mendapat applause dari para pengunjung lain.

Moto hidupnya adalah 'I want it, I get it' yang mana hal tersebut membuatnya kerap kali nekat melakukan banyak hal demi mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan sejauh ini, dia belum pernah gagal.

Lalu, apa jadinya jika dia tiba-tiba menginginkan Azerya Karelino Gautama, yang hatinya masih tertinggal di masa lalu untuk menjadi pacarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nowitsrain, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Taking Care of Her

Ketika pintu unitnya terbuka, Karel disambut aroma bumbu mi instan yang menyengat—campuran bawang putih, kaldu ayam, dan sedikit rasa pedas yang langsung menusuk hidung. Alisnya terangkat sebelah, namun kakinya tetap melangkah masuk sambil menenteng plastik putih berisi dua porsi bubur ayam yang dibelinya dalam perjalanan pulang setelah menjemput Eliana dari sekolah.

Sepatu hitamnya dilepas di dekat pintu, digantikan sandal rumah berwarna abu-abu. Dua porsi bubur dalam kemasan styrofoam itu dibawanya menuju dapur, diletakkannya di atas meja makan kayu yang permukaannya memantulkan cahaya lampu ruang makan. Matanya menatap ke arah kompor, di mana Jovanka sedang berkutat dengan panci aluminium yang mengeluarkan kepulan uap panas menyembur ke udara. Gadis itu masih mengenakan pakaian semalam, dengan rambut diikat asal ke belakang.

Beberapa helai rambut lepas dari ikatan, menempel di pelipis dan tengkuknya yang tampak berkeringat. Jovanka terbatuk beberapa kali karena terkena semburan uap panas yang naik dari panci, tangannya sibuk mengaduk dengan spatula kayu. Entah mengapa, pemandangan itu membuat Karel tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala pelan.

"Masak mi instan?" tanyanya basa-basi, suaranya memecah keheningan yang hanya diisi suara mendidih air di kompor.

Agaknya, Jovanka tidak menyadari kedatangannya. Karena saat gadis itu berbalik—spatula masih terangkat di udara—ia tampak terkejut. Matanya membelalak sesaat, napasnya tertahan sebentar sebelum akhirnya menghela napas lega.

"Ah... Iya," balasnya, suaranya sedikit terengah. Wajahnya memerah, entah karena panas uap atau karena malu ketahuan sedang memasak tanpa izin. "Gue lihat di kulkas cuma ada telur, terus di rak ada mi, so... gue masak aja." Dia menjeda sejenak, mematikan api kompor. Selagi tangannya menekan tombol off, raut wajahnya berubah sungkan. Kedua alisnya bertaut, bibir bawahnya sedikit digigit. "Sorry ya kalau lancang, soalnya gue lapar."

"Nggak masalah." Karel mendekat dengan langkah santai, mengambil alih panci berisi rebusan mi instan tanpa mengusik keberadaan Jovanka di depan kompor. Uap panas mengepul di antara mereka berdua. "Tapi lo nggak boleh makan mi instan. Gue udah beliin bubur, makan itu aja," lanjutnya seraya menuangkan mi instan ke dalam mangkuk keramik putih yang sudah lebih dulu dituangi bumbu. Aroma bawang goreng dan bubuk kaldu tercium kuat begitu air panas bercampur dengan bumbu kering.

Jovanka melirik ke atas meja makan, pada dua kotak styrofoam putih yang masih tertutup rapat—bubur yang Karel maksud. Uap tipis masih mengepul dari celah-celah tutupnya. "Oh...." gumamnya pelan, pandangannya beralih menatap kembali pria di sampingnya itu. "Terus mi gue gimana? Masa dibuang?"

"Gue yang makan."

Tanpa ba-bi-bu, Karel membawa mangkuk mi kuning pucat yang masih beruap itu ke meja makan dan duduk di salah satu kursi kayu dengan sandaran tinggi. Sendok dan garpu stainless steel beradu di dalam mangkuk, mengaduk bumbu sampai tercampur merata dengan mie dan kuah panasnya. Namun, gerakannya terhenti karena sadar Jovanka tidak kunjung menyusul. Gadis itu masih saja berdiam diri di dekat kompor, kedua tangannya menggantung canggung di samping tubuh, seolah tidak mengerti apa yang harus dilakukannya selanjutnya.

"Ngapain berdiri di situ? Sini buruan," ucapnya, meraih sandaran kursi di sampingnya dan menariknya sedikit sebagai bentuk undangan. Kakinya menendang ringan kaki kursi itu hingga bergeser beberapa senti.

Begitu Jovanka akhirnya berjalan ke arahnya, Karel mengeluarkan satu bungkus bubur dari plastik, membuka tutup styrofoam-nya dengan gerakan cekatan. Uap hangat langsung mengepul keluar, membawa aroma kaldu ayam, bawang goreng, dan seledri segar.

"Gue nggak tahu apa yang biasanya lo skip kalau makan bubur, jadi gue beliin komplit. Kalau ada kondimen yang nggak lo suka, singkirin aja ke sini." Dia berkata seraya membuka satu bungkus bubur yang lain dengan suara sobek plastik, menunjuknya dengan gerakan dagu.

Jovanka manggut-manggut saja, duduk di kursi yang ditarik Karel tadi. Di saat Karel mulai makan mi instan buatannya—garpu menggulung mi dengan gerakan terlatih, mulutnya mengunyah sambil sesekali menghirup udara karena panas—dia baru meraih sendok plastik putih dan hendak menyentuh permukaan bubur ayam yang dipenuhi taburan daun bawang cincang dan seledri hijau segar.

Jovanka menyingkirkan keduanya ke pinggir dengan ujung sendok, hanya untuk menemukan gundukan kacang kedelai goreng bertabur melimpah di bawahnya. Warna coklatnya kontras dengan putih bubur. Dia tidak suka kacang kedelai di bubur ayam. Bukan karena alergi atau rasanya yang memang gurih dan enak, ia hanya tak menyukai teksturnya yang terlalu keras dan kontras dengan lembeknya tekstur bubur yang lembut di mulut.

Dalam sekali sendok, diangkatnya hampir setengah kacang kedelai dari sana, lantas dipindahkan ke bubur ayam milik Karel dengan gerakan cepat. Beberapa butir jatuh ke meja, tapi dia biarkan saja. Hal itu diulanginya dua sampai tiga kali lagi, tangannya bergerak otomatis. Terlalu fokusnya ia lakukan sampai tidak sadar bahwa di sebelah, Karel memperhatikannya melakukan ritual kecil itu dengan ujung-ujung bibir yang tertarik sedikit ke atas.

"El pulang hari ini?" tanya Jovanka, setelah memastikan semua kacang kedelai berpindah tempat. Sendoknya akhirnya menyentuh permukaan bubur yang sudah bersih dari kondimen yang tidak disukainya. Suaranya terdengar santai, mencoba mengisi keheningan yang mulai terasa mengganggu.

Karel mengalihkan pandangannya kembali pada mangkuk mi, tak mau tertangkap basah sedang mengamati apa yang Jovanka lakukan. Garpu di tangannya kembali bergerak, menggulung mi. "Enggak. Cuma dijemput sama mamanya, habis itu diantar lagi ke sini."

Jovanka hanya menganggukkan kepala, sebab mulutnya sedang penuh oleh suapan pertama. Bubur hangat itu terasa lembut di lidah, gurih kaldu ayam bercampur dengan rasa bawang goreng yang renyah. Teksturnya sempurna—tidak terlalu encer, tidak terlalu kental. Dia mengunyah perlahan, menikmati kehangatan yang menyebar di mulut dan tenggorokan.

"El belum mau pulang."

Kalimat itu diucapkan Karel tiba-tiba, memecah keheningan. Suaranya lebih pelan dari sebelumnya, hampir seperti bergumam pada diri sendiri.

"Kenapa?" Jovanka menelan makanannya, menatap Karel penasaran. Alisnya terangkat sedikit.

Bahu Karel mengedik, wajahnya tetap fokus pada mangkuk mi di depannya. "Nggak jawab waktu ditanya sama papanya. Gue juga males nanya-nanya, biasanya dijawab ngawur."

Tanpa sadar, Jovanka tertawa kecil mendengar penuturan Karel barusan. Kemarin-kemarin, rasanya dongkol sekali setiap melihat Eliana dengan tingkahnya yang usil dan komentar-komentarnya yang nyelekit. Tetapi kini setelah dipikirkan kembali dengan kepala lebih dingin, anak itu gemas juga. Tidak seperti orang dewasa yang pura-pura peduli dengan sopan santun dan basa-basi kosong, Eliana punya caranya sendiri untuk menunjukkan kepedulian. Bukannya kepedean, tapi Jovanka merasa bahwa Eliana memang cukup peduli padanya belakangan ini. Ya... Walaupun tingkah usilnya juga tetap jalan seperti yang sudah-sudah.

"Anak lo gemes juga," celetuknya tiba-tiba. Seakan suara di kepalanya terlontar begitu saja. Sebab sepersekian detik setelah sadar apa yang barusan dikatakan, dia berdeham canggung. Tangannya yang memegang sendok terangkat ke mulut untuk menutupi, pura-pura batuk kecil.

Untuk beberapa lama, suasana canggung begitu terasa menyelimuti meja makan. Hanya terdengar suara sendok dan garpu bersentuhan dengan mangkuk, suara kunyahan pelan, dan desah napas mereka. Lampu ruang makan mendadak terasa terlalu terang, menyorot setiap detail ekspresi mereka yang kikuk. Sampai kemudian Karel tersenyum tipis menanggapi celetukannya.

"Demam lo udah turun?"

Pertanyaan itu seperti jembatan yang menyelamatkan mereka dari kecangggungan. Suara Karel terdengar lebih hangat.

Jovanka menurunkan sendoknya perlahan ke pinggir mangkuk styrofoam. Dirabanya dahi perlahan, telapak tangan digerakkan bolak-balik mengecek suhu tubuh.

"Udah," sahutnya, suaranya lembut. Pandangannya bertemu dengan mata Karel sebentar sebelum beralih ke bubur di depannya. "Makasih ya."

Karel tidak mengatakan apa pun, hanya tersenyum tipis dan melanjutkan makannya dengan gerakan yang lebih santai. Tidak ada lagi yang bicara setelahnya. Mereka menyantap makanan masing-masing dalam hening yang dibiarkan berkuasa.

Bersambung....

1
Zenun
Ayah abis olahraga
nowitsrain: Iya, iya olahraga 🤫
total 1 replies
Zenun
bae bae kasurnya rubuh😁
nowitsrain: Ya kaliii 🤣
total 1 replies
Zenun
Coba hancurkan David, Rel😁
nowitsrain: Aww takut
total 1 replies
Zenun
Jangan mau kalah sama David kalau kaya gitu. Berarti jangan jauh-jauh dari mamake
nowitsrain: Tapi kan rinduu
total 1 replies
Zenun
menjenguk mamake di rumah sakit ditemani Karel
nowitsrain: Oraitt
total 1 replies
Zenun
mungkin misinya belum selesai😁
nowitsrain: Misi apa tuhh
total 1 replies
Zenun
Emak ama baba nya mah nyantuy🤭
nowitsrain: Emak ama baba otw bikin adik baru
total 1 replies
Zenun
Udah mulai buka apartemen, nanti buka hati😁
nowitsrain: Ihiwwwww
total 1 replies
Zenun
Kamu banyak takutnya Karel, mungkin Jovanka mah udah berserah diri😁
nowitsrain: Lebih ke ngeyel sih kalau Jovanka mah
total 1 replies
Zenun
asam lambungnya kumat
nowitsrain: Wkwkwk
total 1 replies
Zenun
Mingkin Jovanka pingsan di dalam
Zenun
Ayah harus minta maaf sama penyihir🤭
Zenun
Ntar kalo Elliana gede, kamu nikahin lagi
nowitsrain: Takut bgtttt
total 3 replies
Zenun
laaa.. kan ada babe Gavin😁
nowitsrain: Ya gapapa
total 1 replies
Zenun
iya betul Rel, harusnya dia anu ya
Zenun
dirimu minta maaf, malah tambah ngambek😁
Zenun
kayanya lebih ke arah ini😁
nowitsrain: Ssssttt tidak boleh suudzon
total 1 replies
Zenun
Coba jangan dipadamin, biar nanti berkobar api asmara
nowitsrain: Gosong, gosong deh tuh semua
total 1 replies
Zenun
Kan ada kamu, Karel🤭
nowitsrain: Harusnya ditinggal aja ya tuh si nakal
total 1 replies
Zenun
iya tu, tanggung jawab laaa
nowitsrain: Karel be like: coy, ini namanya pura-pura coy
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!