Ini hanya karya fiksi.
Bagaimana kabar mu hari ini? Apa semua berjalan dengan lancar? Atau mereka masih suka mengganggu mu?
Tenang, bila itu terjadi aku akan selalu melindungi mu dari bangun hingga terlelap mu, sebagai imbalannya biarkan aku menyatu dengan jiwa mu.
Ikuti terus alur cerita pendek menarik dalam setiap judulnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reski Muchu Kissky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab XXVIII (Death Day Part II)
Kemudian April pergi berjalan meninggalkan mobilnya untuk mencari seseorang yang bisa menolongnya.
“Ini di mana ya? Kok aku enggak kenal daerah ini? Memang tadi aku lewat mana? Kenapa aku enggak tahu jalan ini?” April terus saja berjalan, sampai ia melihat seorang bapak-bapak di depan sebuah toko kaset.
Seketika April merasa sangat beruntung bisa bertemu dengan bapak-bapak itu, kemudian April berjalan menghampiri bapak-bapak tersebut.
“Permisi pak.” bapak itu pun menoleh ke arah April.
“Iya, ada apa ya nak?” sahut si bapak.
“Pak, bapak bisa enggak buat tolong saya?mobil saya lagi mogok, dan saya enggak tahu ini daerah mana.” terang April.
“Begitu ya, ya sudah mari kita periksa nak.” ujar si bapak.
“Maaf pak, apa saya boleh minta segelas air minum?” pinta April, karena ia merasa tenggorokannya kering.
“Oh, tentu saja boleh nak, ambil saja sendiri ya.” terang si bapak.
“Tempat minumnya ada di sebelah mana pak?” tanya April lagi.
“Ada di dapur nak.”
“Oke pak.”
“Ngomong-ngomong bapak berangkat duluan ya, untuk mencek mobil mu nak.” ujar si bapak.
“Iya pak, terimakasih ya pak.”
“Iya nak.” si bapak pun berangkat menuju mobil April.
Sementara April masuk ke dapur bapak itu untuk mengambil segelas minum.
April pun berjalan dengan buru-buru, saat April melewati sebuah ruangan yang pintunya terbuka, April menghentikan langkahnya, entah mengapa ia merasa penasaran, dan ingin sekali mencek isi ruangan tersebut.
Lalu ia pun memutuskan untuk masuk ke dalam sebentar, di dalam ruangan April melihat poto-poto lama yang berwarna hitam putih.
Lalu ada sebuah poto yang paling menarik perhatiannya, yaitu poto seorang gadis dengan tawa yang begitu lebar, mengenakan baju berwarna merah.
“Oh..., ini mungkin poto anak bapak itu, ya ampun aku sampai lupa, aku kan mau ke dapur untuk ambil minum.”
April pun keluar dari ruangan itu menuju ke dapur untuk mengambil minum, setelah ia minum, April bergegas keluar dari dalam toko.
“Ya ampun, sepi bangat disini, apa tokonya enggak bangkrut ya kalau begitu terus?” gumam April.
Karena tak ingin membuat ibunya menunggu lama, April memutuskan untuk kembali ke mobilnya, tapi baru dua langkah April berjalan, tiba-tiba April teringat.
“Memang bapak itu tahu mobil ku ada dimana? Aku kan belum kasih tahu tadi.” gumam April.
Karen tak mau berfikir negatif, April kembali melanjutkan langkahnya, saat akan sampai ke mobilnya. April melihat sosok bapak-bapak yang ia temui sebelumnya bertingkah aneh, seperti sedang merobek-robek sesuatu.
“Bapak itu ngapain? Kok kayak lagi robek-robek baju?” batin April.
April berjalan dengan sangat pelan mendekati si bapak, saat sudah hampir sampai dengan tempat si bapak berjongkok, April mendengar suara rintihan kecil, namun sangat jelas.
“Akh.., tolong jangan bunuh saya.” April terkejut dan menghentikan langkahnya, lalu April melihat ada sebuah kaki yang kena pencahayaan dari lampu mobilnya.
April mulai merasa sesak dan tak bisa berkata apa-apa, perlahan si bapak bertingkah seperti binatang yang tengah menyantap mangsanya.
“Nyam nyam nyam, enak sekali daging mu nak.” ucap si bapak.
April yang melihat si bapak melahap mentah-mentah tubuh seorang pemuda yang tak berdaya itu, mulai merasa gemetaran, lututnya pun jadi kaku, susah untuk di gerakkan.
Dengan sekuat tenaga, April berusaha mundur perlahan ke belakang dengan mata yang terus melotot tanpa berkedip melihat si bapak, takutnya kalau ia balik kanan, si bapak akan menangkapnya, begitulah ia sampai April masuk ke semak-semak yang ada di tepi jalan itu.
Setelah tubuhnya tertutupi semak belukar, April berlari dengan sangat kencang, seraya berderai air mata. Dalam hatinya berkata “Aku harus kemana? Aku enggak tahu jalan, aku harus bagaiman?”
April terus berlari lurus tanpa menoleh ke belakang, dalam pelariannya sering kali April menabrak pohon, tersayat ilalang, dan juga tersandung, namun ia tak dapat merasakan apapun saking takutnya.
Sementara itu di pesta ulang tahun Mily, mereka semua mencari April. “April kemana sih?” tanya Lyla pada teman-temannya.
Kemudian Eca menjawab “tadi sih aku lihat dia keluar buat angkat telpon.”
“Dari tadi aku miscall nomornya, tapi enggak di angkat-angkat, kenapa ya kira-kira? Deva kamu coba telepon mamanya dulu.” ujar Lyla.
“Oke, sebentar ya.” ucap Deva seraya mengambil handphonenya dari dalam tas, kemudian mendial bu Mayang.
“Halo.” Mayang. 📱
“Halo tante, April ada di rumah enggak tante?” Deva. 📱
“Nah! Itu yang tante tunggu-tunggu, dia belum datang-datang juga Dev.” Mayang. 📱
“Ya ampun tante, dia kira-kira kemana ya tan?” Deva. 📱
“Tante juga enggak tahu nak, coba dong nak, bantu tante buat cariin dia ya?” Mayang. 📱
“Oke tante, ya sudah kalau begitu, Deva tutup ya tante.” Deva.📱
“Tante Mayang juga enggak tahu April ada dimana.” terang Deva pada Lyla dan Eca.
Karena pesta ulang tahun selesai, satu persatu teman-teman Lyla pun berpamitan untuk pulang.
“Kalian jangan lupa, dalam perjalanan pulang, lihat ke area jalanan, mana tahu ketemu April.” ujar Lyla.
Semua teman-teman Lyla dan Mily pun berkata “Iya.” kemudian satu persatu tamu undangan pun meninggalkan rumah Lyla.
Karena merasa lelah, Mily langsung pergi ke kamarnya.
Sebelum Mily sampai ke dalam kamar, tiba-tiba suara lagu selamat ulang tahun memenuhi kamar itu, dan juga seprai tempat tidur Mily seketika berubah menjadi warna hijau. Saat Mily membuka pintu, matanya membulat.
“Ha? Siapa yang mengganti seprai tempat tidur ku? Pada hal tadi warnanya bukan ini, dan juga ini seprai siapa? Aku belum pernah lihat sebelumnya, apa mungkin ini kejutan dari kakak? Tapikan yang turun duluan ke bawah kakak tadi.” ucap Mily.
Yang Mily tidak habis pikir, ada lagu selamat ulang tahun di dalam kamarnya. “kok bisa ada sih? Di dalam kamar inikan enggak ada DVD atau pun radio?” gumam Mily.
Mily merasa suasana seketika menjadi dingin, bulu kuduknya juga merinding, lalu Mily berjalan menuju jendela kamarnya untuk mencek cuaca di luar.
“Enggak ada angin, aku juga enggak pasang AC, tapi kok bisa sedingin ini di dalam kamar?”
Tak lama Mily merasa pundaknya sangat berat, saking beratnya Mily tak mampu bertahan dalam posisi berdirinya hingga akhirnya ia terduduk.
Saat Mily melihat ke kaca jendelanya, ia kaget melihat ada 2 buah kaki di antara kedua pundaknya
Ingin memastikan kalau itu tidak nyata, Mily medongak, sialnya ia melihat ada sosok wanita yang duduk di atas pundaknya, memakai dress merah, seraya memegang-megang rambutnya Mily.
“Ahhhh !!!!!!” Mily berteriak sekencang-kencangnya karena ketakutan.
“Mama!!! Papa! Tolong Mily!” Mily mencoba berdiri tetapi tidak bisa karena membawa beban yang sangat berat.
Lalu Mily memukul-mukul kaki sosok wanita tersebut, dengan harapan wanita itu mau pergi. Namun, bukannya berhasil, kulit wanita itu malah terkelupas akibat pukulan kuat yang Mily berikan.
Semakin Mily mencoba melepaskan sosok wanita itu, semakin sosok itu menempel padanya.
Kini sosok wanita itu pun menyilang kakinya di leher Mily, hingga Mily merasa tercekik, seberapa keras pun Mily meminta tolong, orang yang ada dalam rumah tidak dapat mendengarnya.
“Happy birthday to you.. happy birthday to you.”
Lagu di dalam kamar makin lama semakin keras terdengar, begitu pula dengan Mily yang semakin lama semakin tidak bisa bernafas.
Hingga sosok wanita itu mencengkram kepala Mily dengan kuku-kuku panjangnya, dan bersiap menarik kepala Mily kebelangkang, Mily mencoba melepaskan tangan sosok wanita itu, namun Mily tidak berhasil.
Kretek!
Kretek!
Zarrrhhhh!!!
Sosok wanita itu berhasil memisahkan kepala Mily dari leher dan tubuhnya, darah segar Mily tersebar kemana-mana.
Mily yang tak berdaya meneteskan air matanya, lidahnya juga menjulur keluar, kemudian sosok wanita itu memasukkan tangannya dari dalam leher Mily menyusuri tenggorokan hingga akhirnya meraih jantung Mily
Tap!
Sosok wanita itu menggenggam jantung Mily lalu mengeluarkannya, melewati tenggorokan dan leher Mily lagi.
Setelah berhasil mengeluarkan jantung Mily Sosok wanita itu tertawa melengking.
“kikikikikik...!”
Bersambung...
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️
Instagram :@Saya_muchu
Jangan lupa mampir juga ke karya author di bawah ini ya.
Mohon lbih teliti lagi sblm updte bab ato bisa direvisi biar lbih ciamik🙏
Semngt thor
Thanks 😊