Menjalin hubungan terlarang bersama mantan kekasihnya didalam kediaman keluarga Hollarck alias keluarga kekasihnya sendiri adalah sebuah ketegangan untuk Sophia.
Namun tidak untuk Felix, tangan kanan keluarga Hollarck tersebut yang menganggap semuanya adalah hal biasa saja dan malah menjadi tantangan menarik untuk hubungan mereka.
•••
"Sudah di bagian bumi lain bahkan aku masih saja bertemu dengan mu!"
Felix menyeringaikan cibiran, "Lalu kenapa? Apakah kau fikir kita akan berjodoh, kau sangat lucu... hahah lalu apakah menurut mu anjing dan kera berada dalam satu kebun binatang lalu terpisah bertahun-tahun, kemudian bertemu di kebun binatang lain lalu mereka akan berjodoh, menikah, lalu mempunyai anak dan bahagia? Huh...kisah yang indah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tris rahmawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26
Felix pun tidak melihat tanda-tanda keracunan pada Sophia, dia pun bangkit dari sana, “Big Dad, Nona Sophia hanya mengalami tusukan benda tajam biasa tidak mengandung racun.” Jelas Felix.
Elleza pun mendekat, “Syulurlah, aku bisa tidur malam ini, tidak bisa ku bayangkan jika benda itu mengandung racun, Sophia…Maafkan Mom tidak bisa menjaga Titipan Nick dengan baik.” Lirih Elleza.
“Baiklah, Elle kau bisa menjaga Sophia disini, aku dan Felix akan kembali ke Markas,”Dominique mendekat mengusap pada pundak sang istri.
“Maaf Bos, saya akan ke gudang menemui Gio, anda bisa kembali bersama para bodyguard dhollrack untuk ke Markas.”
Ada mata yang berkaca-kaca, dan suara hati yang ingin berteriak, jangan pergi Felix…jangan pergi, aku ingin kau disini, tetap disini….Aku ingin kau temani, namun lagi-lagi semuanya hanya bisa terpendam dalam.
Felix yang berdiri disana pun melihat itu, lagi-lagi tatapan mata yang berbica, bersabarlah sayang… tunggu sebentar… aku sedang berusaha…
Felix dan Dominique pun keluar dari ruangan Sophia, langkah gagahnya disambut para bodyguard Dominique diluar sana yang bergegas ikut masuk ke lift mengamankan mereka.
Didalam kamar perawatan Sophia, Elleza tampak akan menghubungi seseorang.
“Hallo, Marley kau dimana kenapa lama sekali?” Elleza pun menjauhkan ponsel miliknya.
“Sophia, Mom akan kebawah Marley membawa banyak barang dan sangat kerepotan, Serra disuruh menunggu Marley entah pergi kemana anak itu.”
Sophia mengangguk samar, dia sudah tidak bisa berkomentar apapun, nyerinya pun kini mulai terasa saat bius yang membuatnya terasa kebal pada saat dilakukannya pengooperasian kecil tadi, dan kini kekebalan itu sudah hilang.
Sophia menangis, ia mengaduh, namun rasa sakit di hati lebih mendominasi, aku lelah… aku lelah Tuhan, apakah ini hukuman untukku, menyia-nyiakan waktu saat itu, membuat sekarang jalan untuk bersama begitu cukup berat.
Felix dan Dominique siap masuk ke mobil masing-masing dengan tujuan yang berbeda, Felix dari jauh melihat Elleza yang baru saja turun.
“Argh… ponselku tertinggal di atas!” Keluh Felix memperbesar suaranya.
“Minta James menghantarkanya turun!” Usul Dominique yang siap akan masuk kedalam mobilnya.
“Tidak perlu, jika perlu jangan ada yang boleh masuk kekamar milik Sophia selain yang sudah biasa.” Lelaki yang masih memakai stelan jas dan sepatu mengkilapnya itu pun berbalik ia berjalan gagah masuk kedalam lift.
Bukan Felix namanya jika tidak banyak akal, dia pun mengeluarkan sebuah kunci kecil pada sakunya, dan juga ponsel miliknya yang ia katakan tertinggal, untuk merusak sebuah sistem keamanan yang dia sendiri sangat pahami tentang dehollrack building itu.
Seketika saja semua akses lift rusak, berhenti sendiri, beberapa pintu utama pun tertutup dan ada yang terbuka saat mengikuti terakhir aktivitasnya.
Dalam hitungan detik Felix, ia sampai lift tepat dilantai Sophia berada, Felix pun menghitung detik sebentar lagi kepanikan akan terjadi, Elleza akan panik dibawah sana kesulitan untuk masuk atau keluar, Felix pun masuk kedalam kamar Sophia.
Ya tepat sekali, saat Felix menahan lift agar tidak terbuka ia langsung mendengar langkah-langkah James dan para bodyguard Dominique yang lain seketika menjadi sibuk mereka menuruni tangga darutat dengan cepat sebab Elleza tertahan dalam sebuah lift.
Dengan Cepat Felix pun masuk kedalam kamar Sophia,
Sophia tampak memejam, dengan bulir bening di ujung netranya, tidak menyadari Felix masuk, Lelaki itu sudah berdiri di sebelah Sophia, melihat wajah cantik yang menangis itu.
“Kenapa menangis?” tegurnya.
Seketika netra Sophia membuka, dengan rasa yang seakan tidak percaya, Sophia mengerjab menatap wajah tampan itu dihadapannya, Felix pun merendahkan tubuhnya, mengambil tangan Sophia.
“Maaf… maaf aku terlambat.”
Sophia malah menangis, “K-kau kembali? Felix—Sophia pun melepaskan tangan Felix yang mengambil tangannya, “Felix bangkit! Felix ada banyak orang diluar, Elleza disini.” Sophia panik, ia takut jika Felix terlihat disini dia akan di curigai dan tertembak oleh orang-orang Dominique.
Felix pun bangkit, mengambil kembali tangan Sophia, “Bergeserlah sedikit, aku akan temani kau tidur disini, kita punya waktu 28 menit sampai semua kembali normal.”
“Felix!!!” Sophia menggeleng tidak mengerti.
Felix pun mendekatkan wajahnya mengecup pada mata yang menangis itu, “Bergeserlah…” Sentuh lembut Felix kaki Sophia memintanya bergeser sedikit mengikuti posisi aman dimana jarum infus berada.
Sophia pun perlahan bergeser kesisi kanan membawa tangan kanannya yang teluka, kemudian Felix pun berbaring disebelah kiri Sophia berposisi miring meniduri ujung bantal Sophia.
“Kenapa kau ketakukan?” dengar Felix detak jantung Sophia yang seakan berkejar-kejaran akan lepas dari penyanggahnya.
Walau Sophia yakin Felix sedang melakukan sesuatu hal dan mereka akan baik-baik saja disana, tetap saja Sophia tidak bisa menolak kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi diluar kendali.
Wajah sedih itu pun menatap sang kekasih yang sudah ada disebelahnya, “Apa yang sedang kau buat Felix.”Sophia tidak bisa bayangkan bagaimana jika seseorang melihat mereka seperti ini.
Felix mengangkat arlojinya, “Waktu kita, 25menit 23 detik lagi…”
Sophia menggeleng, langsung meraih tanga Felix yang memeluk perutnya kemudian terpejam, “Tuhan, aku tidak ingin apapun, aku hanya ingin tangan ini bisa tetap seperti ini saat aku tertidur hingga terbangun tanpa perlu takut atau mengkhwatirkan apapun.
Felix terenyuh mendengar itu Ia pun mengusap pada tangan Sophia, “Lusa aku akan memberangkatkanmu kembali ke Manila, disini semakin berbahaya untukmu, yang terjadi hari ini adalah sebuah peringatan.”
Sophia membuka matanya terkesiap, “Sendiri, aku akan kembali sendiri?”
“Ya, itu lebih baik!”
Sophia menggeleng, dia menolak itu, “Aku tidak mau, sudah ku katakan aku ingin kita kembali bersama-sama.”
“Lihat aku.”ujar Felix lembut.
Membuat Sophia pun menoleh pada wajah Felix yang terlihat serius itu. “Aku tidak mau pulang sendiri.” Ulang Sophia lagi lirih.
“Kau sayang aku?” netra coklat Felix menatap penuh permohonan, “Jika sayang kembalilah, Carlos hagens adalah orang yang berbahaya, dia tidak segan menghilangkan nyawa siapapun! Kau adalah sasarannya saat ini, tidak lain sebab kau adalah sesuatu yang lemah namun sangat penting untuk keluarga hollrack.”
Sophia enggan melihat wajah Felix ia menuduk, “Kenapa harus aku— kenapa?”
“Nickolas sebab kau adalah bagian dari Nickolas, itu yang buat Nickolas enggan kembali ke tempat ini Nickolas tidak ingin hidupnya terlibat dalam urusan atau masalah ayahnya,” Lagi-lagi Felix melihat arlojinya, “19menit, 22 detik.”
Sophia seperti sesak untuk bernafas, “Aku tidak bisa jauh-jauh dari kau lagi, akan bagaimana aku disana?”
“Tunggu aku diperkebunan, kau bisa menghabiskan waktu mu membantu ibuku di pabrik, membantu nenek mencoba berbagai macam resep masakannya, Fania pun sudah kembali kesana, aku sudah bilang ini paling lama tiga bulan, dan selama itulah kau akan menunggku tapi—”
“Tapi apa?” Sophia mengangkat wajahnya melihat Felix.
“Jika lebih dari itu dan aku masih, rdak ada kabar, maka kau jangan tunggu aku lagi, aku sudah berbahagia di tempat lain dan membebaskan mu untuk berbahagia pula disana.”
“Apa maksud mu? Berbahagia seperti apa?”
Cup… cup…
Kecup Felix cepat wajah Sophia kemudian memeluk tubuhnya erat, “Selamat tidur…” Alihkan Felix pembahasan yang dia sendiri takut, jika pada akhirnya dia tidak bisa kembali dan gugur tertangkap sebagai pengkhianat keluarga Dominique Hollrack.
Felix memejam, Namun Sophia tidak, ia masih menatap lamat-lamat wajah itu, kembali berfikir jauh, Pernahkah kau tidur nyenyak, pernahkah kau beristirahat atau berlibur menikmati waktumu, apa yang kau sukai dari ini semua.
“SOPHIAAA!!!”
Sophia pun terkesiap membuka matanya tau, Felix…gumamnya, habislah Feliz, Elleza datang, seketika ia lihat kesebelah, lelaki itu sudah tidak ada, rasanya baru saja dimemejam dan melihat Felix masih disini ya disini.
“Apa kau baik-baik saja? Apakah sesuatu terjadi padamu?”
Semenit kemudian James pun datang. “Nyonya Elleza, apakah semua baik-baik saja?”
Elleza mengedarkan pandangannya kesekitar, melihat Sophia aman, semua tidak ada yang berpindah tempat atau seperti sedang terjadi sebuah masalah.
“Ya, semuanya aman, adakah masalah James, apa yang terjadi 28menit tadi?”
“Tidak ada apapun yang terjadi saat semua akses masuk tiba-tiba saja rusak, semua aman terkendali hanya saja beberapa cctv di titik-titik tertentu rusak tidak menyimpan data.”
“Kau yakin tidak terjadi apapun disini?”
“Saya akan periksa kembali nyonya.”
Sophia melihat pada tangannya seketika, melihat ada yang aneh, sebuah tulisan dengan tinta pena berwarna hitam di telapak tangan, dua buah gambar bebek berciuman memakai bikini dan satunya memegang sebuah pistol lengkap dengan nama masing-masing pada gambar tersebut,
Felix Sophia.
Felix yakin saat ini Sophia sudah melihat gambar yang ia buat sengaja untuk menjadi moodbooster Sophia saat dia bangun namun Felix sudah tidak ada disana.
Benar, gambar itu membuat Sophia terus mengulas senyuman, membuat Elleza menatap serius.
“Sophia? Apa yang membuat mu tertawa?”
Degh…
Suatu keanehan disaat kepanikan Sophia malah tampah amat sangat bahagia, Sophia pun menghapus nama itu dengan mudah.
“Tidak ada Mom, aku hanya melihat gambar ini menertawakan diriku sendiri,” tunjuk Sophia tangannya, “Saat aku sendirian tadi, aku membuat ini.”
Elleza melihat itu, Apakah Sophia Akhirnya terkenak gangguan jiwa setelah kehilangan Nick lalu kini di celakai, atau mungkin Felix salah prediksi padahal benar benda itu membawa racun dan merusak sarafnya.
Elleza pun keluar seketika, “Aunty mau kemana?” tanya Serra yang baru akan masuk.
“Jaga Sophi, tetaplah didalam,”
Elleza berjalan cepar akan segera menemui dokter yang menangani Sophia, mengambil hasil pemeriksaanya segera.
Next »
lagi2 ngutuk Simon jahat
eeehhh... makin kesini malah d bikin ngakak abis thor.🤦♀️😆😆😆
sktk cek bahu pas Julio Pagang bahunya krg ajar si gio,,ape bgt jullio/Curse//Curse/
tdi siapa yg bilangin dilvi kyak GK punya tuhan 🤣🤣🤣