Dianjurkan membaca Novel TK berjudul Lelaki Berkacamata agar lebih paham jalan cerita novel berikut ini.
Annemie, biasa di panggil Anne. Dia adalah anak yang cerdas, ceria dan baik hati. Dia dibesarkan di panti asuhan sejak masih bayi. Entah dari mana asalnya.
Berbanding terbalik dengan Anna teman sebayanya di panti asuhan. Meskipun Anna juga anak yang cerdas tapi dia lebih pendiam dan juga perasa.
Seiring berjalannya waktu, banyak cinta yang datang dengan cara yang tidak biasa. Ada Alan, Larry, dan Dinda yang mengelilingi mereka membuat cinta menjadi lebih rumit. Apakah mereka masih akan bertahan sebagai saudara atau saling benci karena cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab XXVII
Angin semilir membawa kesegaran
Membawa rasa rinduku melayang
Mencari dia yang tak kunjung datang
Membawa hati pada kenyamanan
Aku bukannya tidak menngenalimu
Aku bukannya tidak merindu
Sayang waktu bukan lagi untukku
Semua sudah berganti dan berlalu
*****
Mobil yang di kendarai om Tio bersama Larry hampir saja berbelok untuk kembali pulang. Namun sayang, sekian detik kemudian dari arah pintu keluar ibu Ayu Kumala yang mengetahui kepulangan kedua anak asuhnya bersama seseorang. Dia ingin tahu siapa yang sudah mengantar Anne dan juga Anna pulang saat ini. Ibu Ayu Kumala hanya ingin berterima kasih saja!
"Lho Inne, Anna... Kenapa temannya tidak disuruh duduk dulu?" tegur ibu Mala begitu tahu jika mereka berdua di antar oleh Larry yang sudah dia kenal beberapa minggu yang lalu.
"Eh... tapi..." belum selesai Anne menjawab, ibu Mala susah menyapa Larry terlebih dahulu.
"Nak Larry, mampir dulu. Mari, minum teh buatan ibu!" Ibu Mala mengajak Larry untum mampir terlebih dahulu.
"Itu om supirnya juga biar istirahat, kan mestinya capek nak!" Ibu Ayu Kumala melanjutkan kata-katanya sebelum Larry sempat menjawab ajakannya.
"Gimana om?" tanya Larry cepat. Dia melihat om Tio yang sedikit terperanjat karena terkejut dengan kedatangan ibu Ayu yang tiba-tiba tanpa bisa di prediksi sebelumnya.
"Terserah kamu boy!" jawab om Tio gugup. Dia tidak bisa berpikir cepat saat ini. Situasinya tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
"Ayok!" Terdengar ajakan ibu Kumala yang masih menunggu. Anne serta Anna juga berdiri dalam diam di dekat ibu asuhnya itu.
"Baiklah, kami mampir sebentar. Tapi ibu jangan kaget ya nantinya!" Larry berkata memberikan jawaban atas ajakan ibu Kumala. Akhirnya Larry turun lagi dan menunggu om Tio yang juga ikut turun untuk mampir.
Dengan mata menyipit, ibu Kumala mengangguk ragu. Namun itu hanya berlangsung beberapa detik saja, karena setelahnya Ibu Ayu Kumala terlihat terkejut dan terbelalak dengan apa yang dia lihat di depannya saat ini.
"Mas...ma...mas Ti...tiooo...!" Dengan tergagap ibu ayu menyebut nama om Tio yang baru saja turun dari mobil dan memutar ke arah depan agar bisa terlihat olehnya. Ibu Ayu Kumala terlonjak kaget dan mundur beberapa langkah ke belakang. Dia tidak yakin dengan apa yang sedang dia lihat saat ini.
"Selamat sore Ayu Kumala Ningsih!" Sapa om Tio dengan wajah yang terlihat cemas namun juga senang. Entahlah, bagaimana gambaran dari wajahnya sekarang ini. Pasti sangat aneh!
Anne dan Anna yang masih ada di tempatnya berdiri sejak tadi menjadi heran. Mereka berdua saling pandang saru sama lainnya, begitu juga dengan Larry yang sebelumnya juga tidak tahu semua kebenaran yang ada. Sebab apa, karena mereka bertiga tidak pernah tahu nama panjang ibu Ayu Kumala. Ibu asuh sekaligus pemilik panti asuhan tersebut. Yang mereka tahu hanya ibu Ayu Kumala seperti nama panti asuhan mereka. Dan lebih herannya lagi, dari mana om Tio yang tampak seperti supirnya Larry mengenal ibu Ayu Kumala.
Om Tio diam, seakan menunggu ibu Ayu untuk berbicara terlebih dahulu. Sedangkan ibu Ayu sendiri, mulutnya seperti terkunci rapat dan tidak bisa dibuka sekedar untuk berbasa-basi seperti tadi.
"Ma... ma... maaf!" Hanya itu yang bisa ibu Ayu ucapakan dengan bibir bergetar hebat. Dia menjadi pucat dan tidak tahu harus berkata apa lagi.
"Tidak perlu sekarang, kamu bisa jelaskan waktu lain. No yang menelpon beberapa kali tadi adalah punyaku. Tadi kami ingin ijin untuk makan terlebih dahulu sebelum mengantar pulang, tapi ternyata tidak kamu angkat juga. Ya sudah akhirnya tidak jadi dan langsung kami antar balik. Ternyata malah kita bisa ketemu lagi seperti sekarang ini setelah sekian puluh tahun lamanya." Om Tio berkata panjang, mengeluarkan semua rasa yang dia pendam. Namun Larry dan terutama ibu Ayu Kumala sudah pasti tahu jika ada tekanan di beberapa kata dan ada yang di sembunyikan untuk arti yang sebenarnya juga.
Ibu Ayu Kumala menundukkan wajahnya. Menyembunyikan air mata yang sudah mengenang. Mengingat apa yang dulu pernah dia lakukan untuk om Tio di masa mudanya.
"Sudah, kami langsung pamit pulang saja ya!" kata om Tio mengeleng beberapa kali. Dia melihat ke arah Larry dan mengangguk sebagai tanda isyarat.
"Maaf Bu Ayu, kami pamit dulu. Anna, Anne kami pulang ya!" Larry pun berpamitan kepada ibu Ayu serta Anne beserta Anna yang masih diam tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi sore ini.
Anne dan juga Anna mengangguk mengiyakan. Mereka saling melirik ke arah ibu asuhnya yang hanya diam tanpa menyahut perkataan Larry. Om Tio pun hanya tersenyum penuh arti tanpa bicara lagi. Semua menjadi misteri bagi kedua gadis itu.
Larry dan om Tio kembali masuk ke dalam mobil. Menghidupkan mesin dan meluncur kembali kejalan untuk segera pulang.
"Bu, Bu Ayu!" tegur Anne pelan. Dia memanggil beberapa kali namun atensi ibu Ayu masih pada objek yang sama di mana tadi om Tio berdiri di hadapannya.
" Bu..." tegur Anna lembut sambil memegang tangan ibu Ayu. Setelahnya, ibu Ayu menjadi terperanjat dan segera menoleh ke arah Anna yang memegang tangan sambil memanggil namanya pelan.
"Eh, iya Ann. Ayo masuk dan segera membersihkan diri dulu sana! Kamu pasti capek juga kan? Inne juga sana!" Ibu Ayu sudah berusaha bersikap sewajarnya. Dia pun tersenyum seperti biasanya juga.
"Ibu kenal om Tio?" tanya Anna pelan setelah Anne pergi terlebih dahulu. Ibu ayu tampak terdiam beberapa saat sebelum akhirnya malah ikutan bertanya juga.
"Kamu kenal dengan Tio, emhhh maksud ibu kamu kenal sudah lama dengan supirnya teman kamu Larry?" tanya ibu Ayu Kumala menyelidik.
"Tidak Bu. Kami hanya tahu jika dia bukan supir. Tapi suami tantenya Larry. Hanya itu, dan kami juga baru dua kali bertemu. Pertama waktu hujan turun dan tidak berhenti sepanjang waktu." Anna menjelaskan apa yang dia ketahui selama ini, karena memang hanya itu juga yang dia ketahui.
"Tadi kenapa gak jadi mampir untuk makan?" tanya ibu Ayu lagi, seakan-akan ingin mengalihkan pembicaraan tentang om Tio. Padahal masih tampak jelas jika wajahnya yang terlihat pucat ada yang dia simpan rapat tanpa ingin di ketahui oleh siapapun.
"Larry sudah menelpon beberapa kali, tapi tidak ibu angkat juga. Ya sudah, kami gak jadi mampir dan langsung pulang saja." Anna berkata menerangkan apa yang menjadi penyebab ketidak nyamanan yang tadi sempat ada karena kepulangannya malah justru menjadi bumerang bagi ibu Ayu dan juga om Tio.
"Iya maaf. Tadi ibu sedang membuat bubur untuk saudara kamu yang masih sakit dan memang tidak terdengar juga suara dering hape." Ibu Ayu tampak tersenyum namun terlihat gagal.
lanjut...