Hidup Mayu Ichihara benar-benar sial setelah ditipu kekasihnya. Keluar dari tempat kerjanya, diusir dari rumah kontrakan, bahkan seluruh uang tabungannya dihabiskan kekasihnya untuk membayar utang judi. Dia benar-benar tak tahu harus berbuat apa.
Berkhayal akan bertemu pangeran tampan berkuda putih yang akan menyelamatkannya dari kesengsaraan, yang ada dia malah terperangkap dalam kelompok penipu kelas kakap yang tengah mengincar sebuah batu mulia bernilai fantastis. Benda berharga tersebut, dimiliki oleh seorang penyanyi pop bernama Chiba Yamada. Berbagai skenario pun mereka susun demi mendekati penyanyi pop itu.
Ikuti kisah Mayu dan kelompok penipu handal dalam melakukan aksi penipuan terhadap sang Idola terkenal di Jepang.
Warning! Banyak adegan ciuman dan dewasa. Novel ini setting luar negeri, jadi kalau mau baca pikirannya juga harus ke luar negeri, ya 😊
SPIN OFF NOVEL DON'T FORGET (CHIBA YAMADA'S STORY)
Genre: Romantis Adult, Scamming, action
Alur: maju
setting: Japan
Catatan Penulis ✍️
Tidak menjanjikan novel bagus, baca aja dan nilai sendiri. Memilih bacaan adalah soal selera, kuharap karya-karyaku bagian dari seleramu.
Baca juga bukuku yang lainnya di sini:
Don't Say Goodbye: kisah cinta cowok berandalan pemain biola 🔚
Don't Forget: kisah pembalasan dendam ketua Yakuza terhadap seorang wanita 🔚
Gomen, Aishiteru: kisah pencuri misterius yang mencintai adik polisi. 🔚
©AotianYu, 2021
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yu aotian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 27 : Konferensi pers
Mayu mungkin tak akan sadar jika Chiba tak menegurnya seraya menarik kursi untuknya.
"Arigatou."
Mayu duduk di kursi tersebut, sedangkan Chiba memosisikan duduk di hadapannya. Pria itu memetik jari, dan tak lama kemudian seorang pelayan datang membawakan buku menu.
"Kau bebas memesan apa saja!"
"Benarkah?"
Mayu mulai memilih menu makanan. Sebagai orang yang pernah bekerja di restoran mewah, ia mengenal betul menu-menu dari bahan terbaik yang menjadi favorit kalangan atas.
Tak butuh waktu lama, sejumlah menu yang dipesan telah datang. Mereka mulai mencicipinya. Mayu terlihat lahap menyantap hidangan, sampai-sampai pipinya menggelembung. Sementara, Chiba tetap santai, elegan, dan tak berbicara sama seperti saat ia sedang makan di rumahnya.
Tiga puluh menit berlalu, dan semua makanan telah dihabiskan wanita itu. Ia bersandar sambil memegang perutnya yang terasa penuh.
"Aku tidak bisa bergerak," keluhnya.
"Apa kau suka semua makanannya?"
"Jika aku tidak suka, mana mungkin aku memakannya sampai habis."
"Menu yang kau pesan adalah menu favoritku saat makan di restoran ini. Sepertinya kita satu selera."
"Eh?" Mayu tercungap.
"Apa kau mau minum anggur?" tawar Chiba.
Mayu menggeleng. "Bahkan aku merasa makanan yang kutelan telah terisi penuh sampai di leherku."
Chiba tertawa tipis. Ia menoleh ke samping, lalu berkata, "Hei, lihatlah!"
Mayu mengikuti arah pandang pria itu.
"Kirei!" decaknya penuh kekaguman saat melihat cahaya keemasan di langit sore yang menandakan matahari akan segera terbenam. Namun, hanya sebentar saja ia kembali melarikan pandangannya ke arah Chiba yang masih menatap senja.
"Astaga, kenapa aku terus memerhatikan pria itu. Hei, mata! Jangan menatapnya terlalu lama, nanti aku bisa tersihir pesonanya. Ingat Mayu, lima puluh persen sedang menantimu. Kau hanya sedang berakting di sini." Mayu bergumam dalam hati sambil memalingkan wajahnya.
Ponsel Chiba tiba-tiba berdering. Rupanya, manajer Thao mengabari jika para wartawan telah berkumpul di kantor agensi. Mereka pun meninggalkan restoran itu dan bertolak ke kantor agensi.
Sepanjang jalan, Mayu teringat ucapan ketiga orang tadi yang mengatakan bahwa Chiba berani merilis pernyataan kalau sedang menjalin hubungan dengannya setelah beredar gosip tak mengenakkan tentang dirinya.
"Jadi, inikah alasan dia tiba-tiba memintaku untuk menjadi kekasihnya? Apakah itu demi melindungi nama baikku?" pikir Mayu sambil menatap Chiba dari samping, "jika memang seperti itu, maka aku juga harus membantunya menepis isu miring yang mengatakan dia idola sombong dan juga gay."
Mobil terhenti tepat di depan gedung Lion entertainment—agensi Chiba. Mereka turun dan melangkah masuk ke gedung lalu menuju ruangan tempat di mana para wartawan telah menunggu.
Mayu menahan lengan Chiba. "Yamada-kun, apa penampilanku masih bagus?" tanya Mayu sambil memamerkan deretan giginya.
Chiba menoleh ke arah Mayu. Mata pria itu terbelalak tatkala melihat sisa makanan berwarna hitam yang menempel dan menutupi salah satu gigi depan Mayu. Hal itu tentu saja merusak penampilan Mayu yang sebenarnya nyaris sempurna.
Kenapa dia menatapku seperti itu? Apa dia baru menyadari jika hari ini aku sangat cantik?
Chiba mengangkat jari telunjuknya dengan pelan seraya menunjuk ke arah bibir wanita itu. Sepasang alisnya saling bertautan dan ekspresi wajahnya terlihat gusar.
"Ada apa? Apa lipstikku terlalu terang?" tanya Mayu sambil mengerjapkan matanya secara berulang.
Chiba menggeleng sambil menahan napas.
"Apa warnanya telah memudar?"
Chiba kembali menggeleng. Entah kenapa, terasa sulit untuk mengatakan bahwa perempuan itu perlu membersihkan giginya. Namun, ini juga tak bisa dibiarkan. Mereka akan berhadapan dengan para wartawan yang tentu saja akan mengambil foto keduanya.
Sungguh, ia sedang memikirkan cara untuk beritahu tentang sisa makanan yang menempel di sela gigi Mayu, tapi tak ingin membuatnya malu dan canggung. Betapa ingin ia mengeluarkan sisa makanan di gigi Mayu yang sangat mengusik pandangannya itu. Apalagi saat ini wanita itu begitu percaya diri tampil bersamanya di depan umum.
Kenapa wajah Yamada-kun terlihat menderita begitu? Apakah dia sedang gugup?
"Yamada-kun, apa ada yang ingin kau katakan padaku?" tanya Mayu yang heran karena Chiba terus menatapnya dengan ekspresi wajah tertahan.
Chiba mengembuskan napas kasar seraya memijat pelipisnya. Ia kembali menoleh ke arah Mayu dan mulai berusaha membuka mulutnya. "Cermin! Cobalah bercermin!"
"Cermin?" Mata Mayu berkeliling mencoba melihat apakah ada cermin di tempat itu. Namun, ia tak menemukannya. "Tak ada cermin di sini, aku juga lupa membawanya," ucap Mayu seraya menggeledah isi tasnya.
Manajer Thao datang terburu-buru. "Kenapa kalian lama sekali? Semua telah menunggu!"
Chiba menatap wajah Mayu sekali lagi, lalu mulai berjalan ke ruang konferensi pers. Mayu turut berjalan penuh percaya diri di sisi pria itu.
"Selama wawancara nanti, kau tidak perlu menjawab pertanyaan wartawan. Biar aku saja," bisik pria itu sambil berjalan.
Mayu mengangguk sambil kembali memamerkan gigi depannya yang berselimut sisa makanan berwarna kehitaman.
"Jangan tersenyum sambil menunjukkan gigi seperti itu. Kau terlihat jelek jika seperti itu," ucap Chiba kembali dengan wajah yang sedikit memelas.
"Benarkah?"
"Iya. Tersenyumlah secara alami. Aku lebih suka melihat senyummu yang seperti ini." Chiba mencontohkan cara tersenyum tanpa menunjukkan gigi. "Jangan sekali-sekali menunjukkan gigi seperti tadi. Jangan!" Chiba kembali memberi peringatan keras.
"Wakatta. Aku paham." Mayu mengangguk cepat.
Mayu menghela napas, seraya berbicara dalam hati. "Hari ini, aku harus berakting di depan wartawan sebagai kekasih Yamada Chiba. Akan aku buktikan pada mereka kalau aku memang pantas menjadi kekasihnya. Meskipun bohong, hihihi."
Saat pintu terbuka, mereka langsung disambut oleh kilatan cahaya lampu dari kamera wartawan. Seperti biasa, di antara para wartawan tersebut, ada Rio dan Yuta yang selalu setia mengawasi pergerakan Mayu. Lucunya, kali ini Rai juga ikut menyamar menjadi wartawan. Pria itu bersandar di dinding, dengan kacamata hitam yang membingkai matanya.
Chiba dan Mayu duduk di sofa sambil saling berpegangan tangan. Chiba kembali berbisik, memberi peringatan sekali lagi pada wanita itu untuk tidak berbicara maupun tersenyum lebar yang memamerkan gigi.
Sesi wawancara pun dimulai. Wartawan memulai pertanyaan dengan menanyakan kapan dan di mana mereka bertemu.
"Kami tidak mengingatnya," jawab Chiba singkat.
"Jawaban apa itu? Ternyata dia bukan pembohong yang handal," cibir Rio sambil menyengir.
Wartawan mengganti pertanyaan. "Apa yang membuat Yamada Chiba-kun memilihnya sebagai kekasih?"
"Karena hanya ada dia. Pilihan hanya padanya. Selain dia, aku tidak mau."
Jawaban Chiba membuat wartawan bersorak ria. Sementara Mayu tertunduk malu, meskipun ia tahu itu hanya sekadar jawaban semata.
"Cih, berlebihan sekali dia!" cela Rio kembali.
"Apa kau bisa diam?" geram Rai seraya menyeringai kesal.
"Lalu, sejak kapan kalian memutuskan tinggal bersama."
"Seingatku, belum terlalu lama," jawab Chiba kembali.
"Kalau boleh kami tahu, apa pandangan Anda selama ini terhadap kekasih Anda?"
Chiba terdiam sejenak, menoleh ke arah Mayu yang tampak menunduk malu-malu. Sambil mengingat kebersamaan mereka selama sepekan, ia menjawab, "Kekasihku orang yang periang, yang bisa menghidupkan suasana, pandai memasak, tidak takut ataupun mengeluh ketika aku tinggal bekerja, dan dia wanita yang pantas untuk menerima cintaku."
Lagi-lagi, jawaban Chiba membuat wartawan bersorak.
"Benarkah? Benarkah itu adalah penilaian untukku? Ataukah hanya karangan semata?" Mayu bergumam dalam hati sambil menatap wajah Chiba yang tenang seperti air.
Siapa sangka, wartawan kini beralih fokus pada Mayu. Salah satu wartawan melempar pertanyaan yang ditujukan padanya.
"Ichihara-san, bisakah Anda berbagi cerita tentang hubungan Anda dengan penyanyi Yamada Chiba?"
Mendapat pertanyaan tersebut, membuat Mayu dan Chiba saling melirik. Mayu mengingat ultimatum Chiba yang memintanya untuk tidak bersuara selama sesi wawancara. Sementara, Chiba mengingat sisa makanan yang menempel di gigi depan Mayu. Mereka masih saling menatap satu sama lain. Chiba menggeleng pelan, berusaha memberi kode agar Mayu tak menjawab pertanyaan wartawan.
Salah satu wartawan berteriak, "Bisakah kalian berpose seperti itu sambil saling tersenyum?"
Chiba mengangguk dan segera melakukan apa yang diperintahkan wartawan tersebut. Ini pertama kalinya ia menuruti keinginan wartawan. Pikirnya, wartawan itu telah menyelamatkan Mayu. Mayu sendiri, hanya dapat menyunggingkan senyum tipis sesuai apa yang diajarkan Chiba.
Chiba dan Mayu masih saling menatap seraya tersenyum layaknya sepasang kekasih yang dipenuhi cinta. Momen keduanya terus diabadikan wartawan dalam kamera mereka.
"Yamada chiba-san dan Ichihara-san, mohon menghadap ke kamera." Salah satu wartawan berseru.
"Ichihara-san, bisakah Anda tersenyum lebar agar tidak kelihatan kaku?" pinta wartawan lainnya.
Mayu menatap kamera seraya melebarkan bibirnya.
"Ichihara-san, lebih tersenyum lagi. Jangan kaku, coba senyum dengan memperlihatkan gigi!" ujar beberapa wartawan.
Permintaan wartawan itu membuat Chiba tersentak seketika. Ia menoleh ke arah Mayu yang masih berusaha tak mengindahkan permintaan wartawan.
"Jangan tersenyum! Jangan tersenyum! Kumohon jangan tersenyum, kau akan mempermalukan dirimu sendiri!" Chiba terus bergumam dengan raut cemas sambil memfokuskan pandangan ke bibir Mayu.
Desakan wartawan yang terus-menerus, membuat Mayu meluluh. Ia mulai menarik kedua sudut bibirnya seraya sedikit membuka bibirnya yang sedari tadi terkatup rapat. Namun, secara mengejutkan, Chiba malah menarik tengkuk Mayu ke sisinya lalu membenamkan bibirnya ke bibir wanita itu.
"Woah!"
Seluruh wartawan terkejut mendapatkan tontonan ciuman dari penyanyi yang selalu diterpa gosip miring itu. Bahkan Rai, Rio dan Yuta turut melebarkan mata mereka melihat bagaimana pria itu meraup wajah Mayu kemudian mendaratkan sebuah ciuman yang sukses membuat semua orang terlonjak. Kesempatan langka ini tentu tak wartawan sia-siakan untuk mengabadikannya dalam kamera.
.
.
.
jangan lupa klik like + Komeng, biar semangat Bray...