Chevani Agra
Seorang janda beranak satu yang diceraikan oleh suaminya tanpa sebab.
Menjadi janda bukan lah satu hal yang menyenangkan apalagi dia harus mengurus seorang anak dan nenek reot yang mulutnya pedas bak cabe rawit.
Saban harinya ia bekerja sebagai babu dan tukang cuci dengan gaji tak seberapa, hingga suatu saat ia dipertemukan kembali dengan mantan suaminya melalui sebuah cara yang sakitnya melebihi perceraiannya kala itu.
Bagaimana kisahnya?
Yuk mampir 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wanda Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEMBALINYA SI NENEK LAMPIR
Perkataan wanita muda ini membuatku bergidik tidak percaya. Mana mungkin Ratna tiba-tiba resign kerja tanpa memberitahuku terlebih dahulu. Huft! Aku pasti dikerjai.
“Maaf nona bukan aku tidak mempercayaimu, namun sepertinya sahabatku itu tak akan mungkin pergi tanpa pamit terlebih dahulu kepadaku.”
“Sebentar.” Perempuan anom itu beringsut ke dalam rumah dan meninggalkan aku di ambang pintu. Tak lama setelah itu ia datang kembali bersama dengan Bu Cahya, pemilik rumah megah ini. “Silahkan tanya pada Bu Cahya saja ya.” Sambungnya seraya melirik seorang wanita paruh baya yang berada di sebelahnya.
“Eum apa benar Ratna sudah tidak kerja di sini lagi bu?” Tanyaku memastikan.
“Iya benar. Kemarin dia pamit undur diri.”
“Sekarang kakak mempercayainya kan?”
Blushhh!
Dadaku rasanya diterpa angin kencang dari segala penjuru arah. Berarti pemandangan seorang wanita bersama beberapa kardus dan tas besar kemarin di tepi jalan adalah kepergian Ratna. Tapi mengapa dia tidak memberitahu aku? Bukannya aku ini sahabatnya? Ah sungguh aku seperti tengah bermimpi di siang bolong.
“Tapi kenapa dia pergi?”
“Dia hanya berkata bahwa suaminya sedang sakit dan dia harus merawatnya.”
“Apakah dia akan kembali lagi ke sini?”
“Tidak. Kalau dia akan kembali mana mungkin aku mengambil Dewi sebagai pengganti dirinya di sini.” Terang Bu Cahya seraya membidik tubuh wanita muda itu dengan matanya.
Aku tak berkutik, sederet pertanyaan membumbung di dalam isi otakku. Sepertinya telah terjadi sesuatu dengan Ratna, jika hanya perkara suaminya mana mungkin ia akan resign kerja. Seharusnya dia pasti akan membutuhkan uang lebih banyak untuk pengobatan tajuk hatinya itu, bukan malah mendadak berhenti kerja begini.
“Ya sudah saya permisi dulu bu.” Aku izin pamit kemudian melenggang pergi meninggalkan Bu Cahya dan Dewi yang masih tercegak di ambang pintu.
Ratna adalah sahabatku sejak SMA. Tidak ada suatu apapun yang bisa kami sembunyikan satu sama lain. Tapi kepergiannya kali ini menyisakan rasa penasaran dan banyak tanda tanya di dalam diriku. Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Tega sekali perempuan itu tidak berkabar pada konco lamanya ini.
“Sebaiknya kutanya saja pada orangnya.” Aku meraih sebuah benda pipih di dalam slinbang hitamku.
‘Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi’
Tuuuut.
Loh! Nomornya kok tidak aktif? Sebenarnya ini ada apa sih? Ratna bukanlah tipe orang yang susah untuk dihubungi. Tapi kali ini apa yang membuat wanita itu seperti hilang ditelan bumi? Aduh jangan-jangan Ratna diculik oleh seseorang.
Aku kembali menatap benda gepeng tersebut kemudian menekan kontak Elin dan Neni di sana. Mungkin berbicara via udara dengan mereka akan membuat aku menemukan suatu jawaban.
“Halo. Ngapain kamu pagi-pagi gini telpon hem?” Laungan suara cempreng terdengar dari seberang sana. Tanpa melihat orangnya pun aku sudah tahu itu siapa.
“Halo.” Sapa wanita yang satunya lagi.
“Ratna resign dari pekerjaannya di rumah Bu Cahya.”
“APA?” Bariton dua emak-emak rempong itu menyela bersamaan.
“Apa kalian tahu tentang Ratna? Aku merasa ada sesuatu yang sedang terjadi dengannya.”
“Kau tidak bertanya langsung pada majikannya itu?”
“Sudah. Alasannya karena ia harus merawat suaminya yang sakit.”
“Kemana dia ya? Ah atau mungkin wanita itu sedang pulang kampung?” Elin menerka-nerka asal.
“Rumah ibunya masih satu Kota dengan kita Lin. Jadi sepertinya sangat tidak mungkin.”
“Kau sudah mencoba menghubunginya?”
“Sudah. Tapi nomornya juga tidak aktif.”
“Kemarin aku menelpon wanita itu dan nomornya juga tidak aktif. Fix! Berarti sudah terjadi sesuatu dengan Ratna.”
Perkataan Elin membuat bulu kudukku semakin merinding. Berbagai terkaan melayang-layang di pikiranku. Apa wanita itu sedang berada dalam masalah? Atu dia sedang bertengkar dengan suaminya? Ah kurasa tidak mungkin, mana ada hubungannya sebuah pertengkaran dengan resign kerja.
“Hei bagaimana jika malam ini kita mendatangi rumah orangtuanya?” Kali ini Neni si mulut rombeng memberikan ide.
Ada benarnya juga yang wanita itu katakan. Bisa saja Ratna saat ini sedang berada di rumah kedua orangtuanya.
“Ya sudah. Nanti malam kita berkabar lagi oke.” Kataku kemudian menutup sambungan telpon tersebut.
Sebenarnya aku masih ingin ngobrol dengan dua orang emak-emak itu. Namun mengingat pekerjaan yang telah menumpuk membuat aku harus segera kembali ke rumah Pak Reno dan menyelesaikannya. Aku juga berencana untuk mencari pekerjaan baru setelah pulang dari sini. Semoga saja keberuntungan akan berpihak kepadaku.
“Papa abang kemana?” Tanyaku setelah berhasil mendaratkan tubuh di ruang tengah. Refa tidak lagi berada di atsa mainan raksasanya, bocah itu duduk santai sembari menikmati cokelat batangan di atas sofa.
“Udah pelgi telja.”
Alisku saling tertaut. Rasanya aku tidak begitu lama berada di luar, lagipula majikanku itu masih bersinglet ria tadi. Kenapa sekarang sudah pergi? Wow mungkin dia punya kemampuan bertukar pakaian secepat kilat seperti Ironman.
Melihat Refa yang sudah anteng di sana aku pun segera mengambil bantal di dalam kamar kemudian meletakkannya di atas karpet berbulu tempat biasa Pricilia berbaring. Pekerjaan sudah menggunung dan aku harus segera menyelesaikannya.
“Abang di sini saja dengan dek Pricil ya.” Kataku seraya mengelus puncak kepala Refa.
“Atu punya tokelat. Atu mau cuapin dek Plicil.”
“Eh ga boleh sayang. Dek Pricil belum punya gigi.” Huft! Yang benar saja anakku diberi makanan keras seperti itu, bisa tersedak-sedak dia nanti.
“Ouuu. Yaudah tumatan cendili aja deh.”
Aku tak lagi menghiraukan Refa di sana. Biarlah bocah tengil itu menikmati cokelat batangannya bersama Pricil yang tengah anteng tergeletak di atas sebuah hamparan berbulu tebal. Mencuci piring kotor yang sudah menumpuk di wastafle adalah aktivitas utama yang harus kulakukan pagi ini.
Di tengah kekhusyukanku menggoyang-goyangkan tangan pada sebuah piring kaca tiba-tiba saja ada suara gedoran pintu dari arah depan. Aku tidak tahu siapa yang datang dengan cara tidak sopan seperti itu pagi-pagi begini.
Aku menghentikan sementara aktivitas mencuci piring-piring kotor kemudian beringsut ke pintu utama dan membuka kuncinya dari dalam. Namun betapa terkejutnya aku takkala melihat sosok makhluk mana yang saat ini tengah tercegak di hadapanku. Matanya merah, parasnya kaku bak kanebo kering serta giginya yang menggelatuk menahan emosi.
“Bu Farah?”
Hei! Dia sudah kembali.
Tapi kenapa wanita itu seperti orang yang sedang kebakaran jenggot ya?
“Ikut aku ke belakang.” Sebuah cengkraman keras melingkar pada pergelangan tanganku. Aku melirik ke arah samping dan kudapati raut Bu Farah sudah tak ada bedanya dengan nenek lampir.
Ia terus menarikku paksa dan membuat aku mau tak mau harus mengikutinya. Namun takkala kami melintasi ruang tengah dari rumah itu, seorang bocah berpostur balon ngacir terbirit-birit dan menubruk tubuh Bu Farah seketika.
“Mamaaaaa.” Refa berhambur kegirangan. “Mama udah puyang?” Wajah anak tengil itu kian berbinar-binar setelah secara tak sengaja menangkap pemandangan seorang wanita yang beberapa hari lalu ditangisinya.
“Kamu di sana saja dulu. Nanti mama temenin.” Sedikitpun Bu Farah tak menggubris pelukan dari anaknya itu.
Sebenarnya ini ada apa? Kenapa nenek lampir ini mendadak kembali lalu marah-marah?
Ia meraih tanganku kembali dan menyeretnya ke halaman belakang. Di sini aku mematung seperti tahanan yang sedang menunggu giliran untuk diinterogasi.
...***...
Bersambung
Comment, like & vote
Dukungan kalian semangat buat aku
Jangan lupa mampir di AKU KAU DAN ISLAM ga 😍
Semoga kalian sehat selalu 🤗
masukin pavorit ah...biar tak lupa...
namax yg hero kok dibenci amat ?