“Mereka menikah bukan karena cinta, tapi karena hitungan. Namun, siapa sangka... justru hitungan Jawa itulah yang akhirnya menulis takdir mereka.
Radya Cokrodinoto, pewaris tunggal keluarga bangsawan modern yang masih memegang teguh adat Jawa, dipaksa menikah dengan Raras Inten, seorang penjual jamu pegel keliling yang sederhana, hanya karena hitungan weton.
Eyangnya percaya, hanya perempuan dengan weton seperti Raras yang bisa menetralkan nasib sial dan “tolak bala” besar yang akan menimpa Radya.
Bagaimana nasib Raras di pernikahan paksa ini? sementara Radya sudah punya kekasih yang teramat ia cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Percaya siapa?
Darahmu akan membayar darahku!
Gema sumpah itu seolah melintasi ruang dan waktu, getarannya yang penuh dendam merambat dari pendopo yang terbakar puluhan tahun lalu, menembus dinding paviliun pusaka, dan berakhir sebagai sengatan dingin yang menusuk belakang leher Radya Maheswara, ribuan kilommeter dari tempat Raras berdiri.
Radya tersentak di kursi kulitnya yang ergonomis. Ia memijat tengkuknya, menggeram pelan. Udara di ruang kerjanya yang berada di lantai tiga puluh lima terasa pengap, padahal pendingin ruangan berdengung stabil pada suhu dua puluh dua derajat.
Sakit kepala yang selama beberapa minggu terakhir menjadi tamunya yang tak diundang kini kembali berdenyut-denyut di pelipisnya, seirama dengan kerlip data di tiga monitor raksasa di hadapannya.
Logika. Angka. Proyeksi. Itulah dunianya. Dunia yang kini terasa retak oleh serpihan-serpihan irasionalitas yang tak bisa ia jelaskan. Bayangan Raras memegang buku klenik, tuduhannya yang terasa begitu benar saat diucapkan tetapi meninggalkan residu aneh setelahnya, dan perasaan sesak yang ganjil setiap kali ia memikirkan perempuan itu.
“Stres,” desisnya pada diri sendiri, mencoba menenangkan badai di dalam kepalanya.
“Hanya stres kerja.”
Namun, ia tahu itu bohong. Ini lebih dari sekadar stres. Ada simpul kusut yang harus ia urai. Dan simpul itu memiliki nama,Rara, si Office Girl misterius yang kebetulan adalah istrinya.
Dengan gerakan cepat, ia meraih tetikus, jemarinya menari di atas papan ketik. Ia membuka kembali rekaman CCTV dari koridor divisi administrasi, dari hari di mana Bayu mencegat Raras.
Ia sudah menontonnya tiga kali, dan setiap kali, ada sesuatu yang mengganggunya. Sesuatu yang tidak cocok dengan narasi yang telah dibangun di kepalanya,narasi yang dibisikkan Ayunda, narasi yang dikuatkan oleh pengaruh pelet yang tak ia sadari.
Narasi itu sederhana, Raras adalah seorang oportunis cerdas yang menyamar menjadi gadis desa lugu untuk memanipulasi Eyang dan merebut kekayaan Cokrodinoto.
Ia menekan tombol putar. Di layar, Bayu yang tegap dan berwibawa mendekati Rara yang sedang mendorong troli pembersih. Radya mencondongkan tubuhnya, matanya menyipit, mengabaikan audio yang memang tidak ada, dan hanya fokus pada bahasa tubuh.
Bayu berbicara, wajahnya tersenyum, tetapi Radya, yang terlatih membaca negosiator ulung, melihat ketegangan di rahang ajudannya itu. Senyum itu tidak sampai ke mata.
Itu adalah senyum predator. Lalu, Radya melihat Rara. Perempuan itu membeku sejenak. Radya bisa melihat, bahkan dari resolusi kamera yang tidak sempurna, getaran halus di tangannya yang mencengkeram gagang troli.
Itu dia. Ketakutan.
Tetapi kemudian, sesuatu yang lain terjadi. Rara mengangkat wajahnya. Punggungnya yang tadi sedikit membungkuk kini menjadi lebih tegak. Dan matanya… matanya menatap lurus ke arah Bayu. Tidak ada perlawanan, tidak ada pembelaan. Hanya ketenangan yang dalam dan solid seperti batu karang. Sebuah penerimaan yang ganjil.
Seolah ia berkata, “Aku tahu siapa dirimu, dan aku tidak takut.”
Sebuah disonansi kognitif yang brutal mengoyak logika Radya. Seorang penipu yang tertangkap basah seharusnya panik, memohon, atau mencoba menyangkal.
Seorang gadis desa yang lugu seharusnya gemetar ketakutan. Rara tidak melakukan keduanya. Ia menunjukkan ketakutan dan ketenangan dalam satu tarikan napas yang sama. Ia tampak seperti… korban yang menolak untuk menjadi lemah.
“Sialan,” umpat Radya, memundurkan kursinya dengan kasar.
Kepalanya berdenyut semakin kencang. Kabut di benaknya seolah menipis sesaat, memperlihatkan celah kebenaran yang menyilaukan, sebelum kembali menebal.
Dia hanya aktris yang hebat, bisik suara lain di kepalanya, suara yang mirip suara Ayunda. Dia tahu kamu mungkin melihat rekaman ini. Ini semua sandiwara.
Radya memejamkan mata, memijat pangkal hidungnya. Ia ingin mempercayai bisikan itu. Lebih mudah untuk percaya bahwa Raras adalah penjahatnya. Jika tidak, maka siapa? Bayu? Orang kepercayaannya? Tidak mungkin. Atau… dirinya sendiri? Pria yang telah menghina dan menyakiti seorang perempuan yang mungkin tidak bersalah? Gengsinya menolak kemungkinan itu mentah-mentah.
Ponselnya di atas meja bergetar, layarnya menyala menampilkan nama ‘Ayunda’. Tanpa pikir panjang, ia mengangkatnya, berharap suara logis Ayunda bisa menenangkan kekacauannya.
“Halo, Sayang,” sapa suara Ayunda, terdengar manis dan sedikit manja.
“Masih di kantor?”
“Iya. Ada beberapa laporan yang harus kuperiksa,” jawab Radya, suaranya lebih serak dari yang ia duga.
“Jangan terlalu malam, ya? Kamu butuh istirahat. Aku khawatir banget sama kamu akhir-akhir ini,” lanjut Ayunda. Nada suaranya penuh perhatian, tetapi entah kenapa malam ini terdengar seperti jerat. Setiap kata seolah menarik tali di lehernya, membuatnya sesak.
“Aku baik-baik saja, Yun.”
“Enggak, kamu nggak baik-baik saja. Pasti karena perempuan itu, kan?” Suara Ayunda berubah, ada sedikit nada tajam di baliknya.
“Dia pasti melakukan sesuatu lagi di rumah. Dia itu sumber masalahnya, Dya. Aku udah bilang dari awal.”
Radya diam. Biasanya, ia akan langsung setuju. Tapi bayangan ketenangan Raras di depan todongan ancaman Bayu melintas lagi di benaknya.
“Radya? Kamu dengar aku?”
“Dengar,” jawabnya singkat.
“Kamu harus tegas sama dia. Usir dia. Eyang mungkin akan marah sebentar, tapi ini demi kebaikanmu, demi perusahaan. Sejak dia datang, semuanya jadi berantakan. Dia itu pembawa sial.”
Setiap kata Ayunda terasa seperti paku yang coba ditancapkan ke dalam keraguan Radya, memaksanya kembali ke narasi yang aman dan nyaman. Tapi paku itu kini membentur sesuatu yang keras di dalam dirinya.
“Aku harus kerja, Yun. Nanti kutelepon lagi,” potong Radya, tidak sanggup mendengar lebih lama lagi.
“Tunggu, Dya! Besok pagi kita sarapan bareng, ya? Aku masakin buat kamu di apartemen. Aku kangen banget sama kamu. Hatimu cuma buat aku, kan, Sayang?”
Pertanyaan itu. Hatimu hanya untukku.
Kalimat itu bergema aneh, terasa familier dengan cara yang salah, seolah ia pernah membacanya di suatu tempat. Rasa pusing yang hebat menghantamnya.
“Aku… aku nggak tahu, Yun. Aku tutup dulu.”
Radya mematikan panggilan itu bahkan sebelum Ayunda selesai menjawab. Ia mencengkeram kepalanya, napasnya terengah-engah. Perasaan tercekik itu semakin menjadi. Rasa posesif Ayunda yang dulu terasa menenangkan kini terasa seperti racun.
Cukup sudah.
Ia tidak bisa lagi memecahkan teka-teki ini dengan data dan rekaman CCTV. Ia tidak bisa lagi mempercayai bisikan Ayunda yang terasa semakin sumbang. Dan ia jelas tidak bisa mempercayai pikirannya sendiri yang terasa seperti medan perang.
Hanya ada satu sumber dari semua kekacauan ini. Satu orang yang memulai dekret weton sialan ini. Satu orang yang mungkin memegang kunci dari semua kegilaan ini.
Eyang.
Dengan gerakan tegas, Radya bangkit. Ia menyambar kunci mobil dan jasnya, meninggalkan monitor yang masih menampilkan wajah Raras yang tenang membeku di layar. Ia tidak akan menemui Raras. Menghadapi perempuan itu sekarang hanya akan menambah kebingungannya. Ia butuh jawaban yang absolut, jawaban dari sang patriark.
Ia melangkah keluar dari kantornya, melewati koridor-koridor kosong yang sunyi. Pikirannya hanya terfokus pada satu tujuan, pulang ke Kediaman Cokrodinoto dan menuntut kejelasan dari kakeknya, apa pun risikonya.
Perjalanan pulang terasa kabur. Lampu-lampu kota yang berkelip di luar jendela mobil mewahnya tidak mampu menembus kegelapan di dalam benaknya.
Saat mobilnya memasuki gerbang utama yang megah, ia merasakan firasat buruk yang menusuk. Rumah besar itu tampak lebih gelap dan lebih sunyi dari biasanya.
Ia memarkir mobilnya dengan tergesa, lalu melangkah cepat menuju pintu utama. Ia harus bicara dengan Eyang. Sekarang juga.
Saat kakinya menapaki teras marmer yang dingin, ia mendengar suara. Bukan suara teriakan atau benturan keras. Hanya sebuah bunyi gedebuk pelan yang teredam, diikuti oleh desah napas yang berat. Suara itu datang dari arah paviliun pusaka yang remang-remang.
Jantung Radya berdebar kencang. Ia berlari kecil menyusuri koridor samping, matanya mencoba menembus kegelapan.
Dan di sanalah, di ambang pintu Paviliun Tua yang sedikit terbuka, sesosok tubuh renta dalam balutan piyama sutra tergeletak di lantai. Tangannya yang keriput terulur lemah ke depan, seolah mencoba menggapai sesuatu yang tak terlihat.
“Eyang!”