Indira termangu mendengar permintaan nyonya Hamidah,mengenai permintaan putra dari majikannya tersebut.
"Indira,,mungkin kekurangan mu ini bisa menjadi suatu manfaat bagi putraku,, mulai sekarang kamu harus menyerahkan asimu buat diminum putraku,kami tahu sendiri kan? putraku punya kelainan penyakit ." ujar nyonya Hamidah panjang lebar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
meminta hak..
Indira meringkuk di atas ranjang.
bukan karena kesakitan,tapi karena ketakutan.
Dia takut diserang wanita kejam itu,Clarissa.
Indira tahu kalau Clarissa adalah calon tunangan Arjuna.
Dia bisa apa saat Arjuna memasukinya? dia tidak punya hak menolak,dia tidak punya kuasa untuk itu.
Bukan hanya Clarissa disini yang menjadi korban,malah dia lah yang seharusnya korban utama.
Masa depannya terenggut.
Kesuciannya terenggut,dan hidupnya pun direnggut oleh majikannya itu.
tap..
Tap..
Tap..
suara langkah kaki mendekati kamarnya.
Indira tahu siapa pemilik langkah itu,dia sudah sangat hapal irama langkah tersebut,-Arjuna.
Dengan santainya Arjuna melangkah mendekati ranjang gimana Indira meringkuk.
"Buka pakaian mu,,aku mau minum." titahnya seenak nya.
Indira tidak mendengarkan perintah sang tuan,masih meringkuk disana tanpa bergerak.
"Kau mau melawan ku hmm?" Arjuna duduk ditepi ranjang menunggu Indira melakukan perintahnya.
"Saya tidak mau,,saya lelah,mau tidur." Indira menarik selimut nya lalu menutup seluruh tubuhnya.
tadinya Arjuna mau mengamuk karena Indira menolak permintaannya,tapi saat Arjuna melihat selimut yang menutupi Indira bergerak gerak kecil,dia paham,kalau Indira sedang gemetaran saat ini,mungkin gadis manis itu sedang tremor karena ketakutan.
Arjuna menyingkap selimut tersebut,lalu berbaring di samping Indira,,kemudian menutupkan kembali selimut itu untuk mereka berdua.
"Mas,," Indira menatap Arjuna yang ikut ditutupi selimut.
"Kenapa? aku berhak mengambil hak ku,, jangan lupa kalau asimu beserta wadahnya sudah kubeli."
Indira terdiam,lagi lagi suani sirinya itu menegaskan kepemilikan tubuhnya.
Cupp..!
Arjuna mulai menyesap puting milik Indira yang kembali penuh.
Indira tidak sadar kapan Arjuna membuka pakaiannya,dan mengeluarkan bobanya dari wadah.
"Nikmat sekali,,kau tahu Indira? selama ini aku mendapat donor asi,tapi tidak senikmat asimu,,kau benar benar penawar sakit ku,," ucapnya disela hisapannya.
Indira tidak menanggapi,dia fokus pada gelenyar aneh yang merayap di bawah perutnya.
rasa yang membuatnya berhasrat.
Sebelumnya dia tidak pernah merasakan hal itu,sejak hamil dia sangat sensitif dan peka terhadap sentuhan Arjuna.
beberapa kali Indira menelan ludahnya dengan kasar,mencoba menekan rasa aneh itu.
Tangan Arjuna mulai merayap di antara kedua paha Indira,dengan cepat Indira menghentikan gerakan Arjuna.
"Jangan disentuh!" pekiknya pelan.
Arjuna menghentikan gerakannya sejenak, namun ia tidak menarik tangannya. Alih-alih menjauh, ia justru memberikan tekanan kecil di sana, membuat napas Indira semakin menderu tidak teratur.
Arjuna menengadah, melepaskan hisapannya dari dada Indira yang kini basah dan memerah. Ia merangkak naik, memerangkap tubuh kecil Indira di bawah kungkungannya. Tatapan matanya yang tajam mengunci manik mata Indira yang mulai berkaca-kaca karena perpaduan rasa takut dan gairah yang tak terbendung.
Klaim Sang Tuan
Arjuna mendekatkan wajahnya ke telinga Indira. Hembusan napasnya yang hangat terasa menggelitik sekaligus mengintimidasi kulit leher Indira yang sensitif.
"Kau lupa siapa dirimu, Indira?" bisiknya dengan suara rendah yang serak. "Aku tidak suka pengulangan, tapi sepertinya otak kecilmu ini perlu diingatkan terus-menerus."
Tangan Arjuna yang tadinya tertahan, kini bergerak lebih berani, menggerayangi lekuk tubuh Indira dengan tuntutan yang mutlak. Ia membelai pinggangnya, naik ke punggung, lalu kembali turun menyusuri paha Indira dengan sentuhan yang membakar.
"Kau adalah istriku. Meski dunia hanya mengenalmu sebagai pelayan, di hadapan hukum Tuhan, tubuh ini milikku," bisik Arjuna lagi, bibirnya nyaris menyentuh daun telinga Indira.
"Jangan berani-berani melarangku menyentuh milikku sendiri. Kau tidak punya hak untuk menolak, karena setiap inci dari dirimu sudah kubeli, bahkan sebelum kau menyadarinya."
Gejolak yang Tak Terelakkan
Indira mencoba memalingkan wajah, namun jemari Arjuna dengan sigap mencengkeram dagunya, memaksanya untuk terus menatap mata pria yang telah merenggut segalanya itu.
"Katakan padaku, Indira... jika kau membencinya, kenapa tubuhmu justru gemetar menantikan sentuhanku?" tanya Arjuna dengan seringai tipis yang mematikan.
Ia kembali menurunkan kepalanya, namun kali ini bukan untuk minum. Arjuna memberikan kecupan-kecupan kecil di ceruk leher Indira, sementara tangannya terus bergerak nakal di bawah sana, mengeksplorasi setiap titik sensitif yang membuat pertahanan Indira runtuh seketika.
Indira hanya bisa mencengkeram sprei ranjang dengan erat. Ia ingin memberontak, namun sentuhan Arjuna adalah candu yang mengkhianati logikanya sendiri. Di bawah temaram lampu kamar, ia hanya bisa pasrah saat Arjuna kembali mengklaim wilayahnya dengan lebih dalam.
Sentuhan Arjuna yang menuntut kini berpindah, meluncur turun dari dada menuju inti kepekaan Indira yang sudah sangat sensitif akibat hormon kehamilan.
Tanpa peringatan, Arjuna memposisikan dirinya di antara kedua paha Indira. Ia menatap lekat wajah Indira yang memerah padam, menikmati pemandangan wanita yang tadinya ketakutan itu kini mulai terbuai oleh permainan tangannya.
Puncak Sensitivitas
"Kau sangat berisik di dalam sini, Indira. Tubuhmu bicara lebih jujur daripada mulutmu," gumam Arjuna sebelum akhirnya ia membenamkan wajahnya di sana.
Ketika lidah Arjuna mulai bermain dengan lihai, memberikan sentuhan yang basah dan hangat di titik paling sensitif milik Indira, tubuh wanita itu seketika menegang. Indira membusungkan dadanya, jemarinya mencengkeram erat rambut Arjuna, mencoba mencari pegangan di tengah badai gairah yang menghantamnya.
"Ahhh... Mas... j-jangan..." desah Indira panjang. Suaranya terdengar parau, antara memohon untuk berhenti atau meminta lebih.
Lidah Arjuna bergerak kian lincah, memberikan pijatan dan hisapan yang ritmis. Setiap gerakan lidah itu seolah menyetrum syaraf-syaraf Indira, membuatnya merasa melayang. Gejolak aneh di bawah perutnya yang tadi ia coba tekan, kini meledak tak terkendali.
Hak Mutlak Sang Suami
Arjuna mendongak sebentar, melihat bagaimana Indira memejamkan mata dengan napas yang tersenggal-senggal. Ia menyeringai puas melihat efek yang ia berikan pada "miliknya" itu.
"Ini yang kau sebut tidak mau?" bisik Arjuna serak, suaranya sarat akan kemenangan. Ia kembali melanjutkan aksinya, kali ini lebih dalam dan menuntut, membuat Indira tak mampu lagi mengeluarkan kata-kata selain desahan yang memenuhi kamar sunyi itu.
Indira merasa dunianya berputar. Rasa takut pada Clarissa sejenak menguap, tergantikan oleh dominasi Arjuna yang begitu nyata. Ia tidak berdaya, bukan hanya karena statusnya, tapi karena tubuhnya sendiri telah berkhianat dan tunduk pada sentuhan pria yang telah merenggut masa depannya itu.
Setelah badai gairah itu mereda, suasana kamar kembali sunyi, hanya menyisakan suara napas yang masih memburu dan detak jantung yang beradu.
Arjuna tidak langsung bangkit. Ia menarik tubuh Indira ke dalam pelukannya, menyandarkan kepala wanita itu di dada bidangnya yang masih hangat oleh keringat.
Indira masih memejamkan mata, merasa malu sekaligus hampa. Ia merasa seperti boneka yang baru saja dimainkan, namun dekapan Arjuna saat ini terasa begitu protektif.
Sisi Lain Sang Tuan
Arjuna mengelus lembut rambut Indira yang berantakan, sebuah gerakan yang jarang ia tunjukkan. Ia mencium puncak kepala Indira dengan lama.
"Kenapa diam? Kau masih memikirkan wanita itu?" tanya Arjuna tiba-tiba, suaranya kini lebih tenang, tidak ada lagi nada perintah yang kasar.
Indira membuka matanya perlahan, menatap lurus ke arah jendela yang tertutup gorden. "Non Clarissa adalah calon tunangan tuan,bagaimana kalau non Clarissa mengamuk padaku dan menyakiti ku dan anak ini?"
Arjuna terdiam sejenak. Ia mempererat pelukannya, seolah tidak membiarkan Indira pergi selangkah pun dari sisinya.
"Clarissa adalah urusan bisnis dan keluarga. kamu tidak perlu memikirkan hal itu,,Clarissa menjadi urusan ku,.." Arjuna menjeda kalimatnya, tangannya beralih mengelus perut Indira yang masih rata.
"Kamu adalah ibu dari calon anakku. Dan asimu... itu hanya milikku. Jadi aku akan melindungi milikku,,karena kamu penting untukku."
Indira menelan ludahnya,,disetiap kalimat Arjuna tersemat kalau tubuhnya adalah milik pria itu untuk kebutuhan nya sendiri,bukan karena dicintai.
Arjuna menarik dagu Indira, memaksa wanita itu melihat kesungguhan di matanya.
"Selama kau berada dalam pengawasan ku, tidak ada satu orang pun yang boleh menyentuhmu, termasuk Clarissa. Jika dia berani melukaimu, dia berurusan denganku," ulang Arjuna tegas. "Tugasmu hanya satu: patuhi aku, jaga kandungan mu, dan berikan apa yang aku minta. Paham?"
Indira mengangguk lemah. Ia tahu ini adalah sangkar emas yang berbahaya, namun untuk saat ini, kehangatan tubuh Arjuna adalah satu-satunya perlindungan yang ia miliki.
"Tidurlah," bisik Arjuna sembari menarik selimut hingga menutupi bahu mereka berdua.
bersambung...
semoga aja pernikahan Indira dan Arjuna di warnai cinta
klo gt gn kn cr pnculik kn hamidh.... tutup semua jalur indi dr ank kau