Ibrahim Adlan baru menyadari telah jatuh cinta pada Najwa aulia,di saat gadis itu sudah di persunting oleh kakak sepupunya sendiri yang bernama Irfan Zidni.
Mempercepat keberangkatannya untuk melanjutkan study ke Ummul-Quro adalah langkah yang di tempuh oleh Ibrahim Adlan untuk menghindari pernikahan gadis yang di cintainya begitu dalam itu.
Disaat,Ibrahim Adlan sudah memiliki kemantapan hati untuk melupakan perasaannya setelah dua tahun berlalu,ia mendapat kabar kalau Irfan Zidni meninggal karna sebuah kecelakaan.Bukannya pulang untuk meraih kembali cintanya,Ibrahim Adlan justru menyerahkan perjalanan cintanya pada kehendak Taqdir.
Saat ia pulang dua tahun kemudian,keluarganya menjodohkannya dengan Aisha,gadis cantik yang sepadan dengannya.yakni sama-sama anak Kyai pemilik pesantren.Di saat yang sama ia juga kembali bertemu dengan Najwa Aulia yang masih di cintainya tanpa jeda.
Siapakah kemudian yang akan di pilih oleh Ibrahim Adlan.Apakah Aisha yang telah di anggapnya sebagai adik,ataukah Najwa yang berasal dari latar belakang yang berbeda dengannya,yang mungkin tidak akan di setujui orang tuanya..
Untuk tau jawabannya,simak ceritanya yukk..
ENGKAULAH TAQDIRKU.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Engkaulah Taqdirku 27
" Mas Adlan menolak dik Aisha dan lebih memilih Mbak Najwa" ucap Mahil kemudian.
" Apa..?" Najwa tersentak.
" Apa maksudnya"??
**
" Saya akan mengambil tanggung jawab pada putri bibi,tapi bukan Aisha".demikian ucapan Ibrahim Adlan pada waktu itu yang di ceritakan kembali oleh Mahilatul Jamilah pada Najwa Aulia.
" Lalu siapa Adlan??" tanya Nyai Masturoh.
" Najwa Aulia".sahut Adlan mantap.
Nyai Masturoh tersentak kaget.begitupun Fathan dan istrinya.keterkejutan juga tampak pada raut wajah Nyai Mabruroh.bahkan umminya itu segera bertanya tak mengerti.
" Adlan,apa maksudmu nak??"
" Najwa juga putri bibi,kan?.dan setelah Mas Irfan meninggal,bibi juga mempunyai tanggung jawab yang tidak kecil terhadapnya". ucapan Ibrahim Adlan itu membuat semuanya terdiam.
" Bibi". Ibrahim Adlan kembali berkata lembut menatap bibinya. " jika bibi merestui,saya akan menggantikan Mas Irfan, mengambil tanggung jawab pada Najwa Aulia dan menjadikannya sebagai pendamping hidup saya"..
**
" Itu gak mungkin..dik." Najwa bergumam lirih begitu Mahil tlah mengakhiri ceritanya.
" Itu yang terjadi mbak..bahkan dik Aisha yang mendengar itu sampai menumpahkan nampan berisi minuman yang di bawanya..sangking terkejutnya".
ujar Mahil lagi.
Najwa menggeleng-geleng masih tak percaya dan memang tidak ingin percaya.namun kemudian tampak sepasang matanya berkaca-kaca.
" Ummi nampak terpukul dengan keputusan Mas Adlan itu, apalagi dik Aisha."mendengar ucapan Mahil itu air mata Najwa pun jatuh.
" Ya Allah..jadi ini yang terjadi??"
Najwa menangis setelah beberapa kepahaman di dapatkannya atas beberapa ucapan Aisha,sikap-sikapnya padanya.ucapan- ucapan Nyai Masturoh,dan ucapan Kyai Faqih..secara utuh, ia mulai mengerti semuanya.
" Mbak..Mbak gak apa-apa??" Mahil nampak kawatir begitu di lihatnya Najwa diam saja dengan tetes-tetes air matanya.
" Gak apa apa dik," ia menghapus air matanya,namun air mata yang lain kembali menggelindingi wajahnya.
" Maafkan saya mbak..saya menyesal telah bercerita,kalau akan membuat mbak sedih begini ".
" Justru saya berterima kasih pada Dik Mahil telah memberitaukan saya, karna saya memang harus tau ini dik " wanita itu berusaha tersenyum meski hatinya jiwanya,pikirannya tidaklah baik-baik saja setelah itu.
**
" Waahh ternyata santriwati tercantik Al Bustan ada di sini ", gadis berjilbab hitam itu menepuk pundak teman yang di carinya dari tadi,dan ternyata di temukannya tengah rebahan santai di musholla.
" Tepat!!..itu memang julukanku,jangan pernah lupa!!". jawab si gadis yang tengah tiduran itu seraya mengacungkan jempolnya.
" Tapi apa gunanya coba,menjadi santri paling cantik di Al-Bustan,toch pangeran Al Bustan sudah menikah.dan pangeran Al Falah bahkan tak pernah melirik sama sekali" gadis berjilbab hitam itu meledek temannya sambil terkekeh.
" Jangan meremehkanku,Mas Adlan itu hanya belum menyadarinya saja."
" Menyadari apa memang??"
" Bahwa ada bidadari surga yang terdampar di Al Bustan dan sedang menunggunya".
" Mas Adlan tidak menyadari, mungkin karna pesona bidadari surga tertutup busa sabun colek pencuci piring." kedua santriwati itu serempak ketawa berderai.kreatif juga keduanya memilih topik candaan,membuat Najwa yang mendengarnya jadi ikut tersenyum.
" Tapi sudah cukup lama ya Mas Adlan tidak hadir?"
gadis berjilbab hitam lagi yang mulai pembicaraan.
" Ia.membuatku,jadi kurang bersemangat".temannya menjawab lesu.
" Eeh jangan-jangan karna itu kau bolos hari ini??"
" Salah satunya."
" Awas,aku adukan Ustadza!" si jilbab hitam mengancam.
" Aku juga akan balik mengadukanmu,kau kan juga bolos".
" Aku adukan Ning Aisha saja,"
" Ning Aisha lagi sakit.."
" Tapi..eh dengar-dengar Ning Aisha mau tunangan sama Mas Adlan !!" si jilbab hitam berkata agak heboh.
" Ia kata mbak-mbak dhelem" temannya menjawab lesu dan muka berkabut sedih.
" Ahh ternyata Mas Adlan bukan hanya tidak melirikmu,tapi juga tidak menggubrismu"..kembali si gadis jilbab hitam itu meledek temannya sambil tertawa gelak gelak.
" Ehemm " Najwa akhirnya menginterupsi keduanya dengan deheman kecil.
" Ning Najwa!!" keduanya sangat terkejut menyadari ternyata bukan hanya mereka berdua saja yang berada dalam musholla yang cukup luas itu.
Lebih terkejut lagi karna ternyata yang ada di sana adalah salah satu keluarga dhelem.
Najwa Aulia yang tengah duduk sambil membaca buku.
Kedua santri itu segera memperbaiki posisi duduknya
dengan duduk sopan. " maaf Ning Najwa, kami tidak tau kalau ada sampean".
Di kalangan santri,Najwa Aulia juga di panggil ning,karna dia mantunya bu nyai." gak apa-apa."Najwa tersenyum.
" Tidak sekolah mbak?"
Ditanya begitu keduanya terdiam.
", ini sudah waktunya masuk kan??" tanya Najwa lagi di sertai senyum lembut.para santri memang mengenalnya sebagai pribadi yang ramah dan santun.
" I.ia Ning..kami permisi." keduanya beringsut keluar dengan langkah sopan.
Najwa tersenyum dengan ulah keduanya.
Setidaknya canda tawa kedua santri putri itu sedikit menghilangkan kekalutan pikirannya.Meskipun topik canda mereka adalah tentang sosok yang memang menjadi sumber keresahannya.
Najwa memang menarik dirinya dari kelas.Ia hanya memberi tugas pada anak didiknya,ketika ia tak mampu lagi mengembalikan perasannya pada kondisi baik-baik saja.Dan tempat yang di pilihnya adalah musholla ini.Yang pada jam segini pasti sepi dari aktifitas santri.
Najwa memang kerap kali berbaur dengan para santri.Ikut sholat berjamaah dengan mereka.
Berbincang-bincang santai bersama.Seperti yang di lakukannya siang ini.Hingga seorang santri datang memberitaunya. " Ning Najwa,sampean di cari Mas Fathan!",
" Oo ia..terima kasih mbak".
Fathan Abdillah menunggunya di halaman musholla
" ada apa Mas Fathan??"
" Mbak sholat berjamaah bersama santri??"
" Ia..rasanya sangat menyenangkan sekali.." Najwa menjawab dengan senyum.
" Mbak Najwa sudah makan siang,tadi istri saya bilang
mbak gak pulang ke rumah dari tadi??"
" Saya sudah makan bersama Fitri dan Sofia."
Fitri dan Sofia adalah santri yang memiliki tugas masak di dhelem kyai.
" Tapi mbak baik-baik saja??" fathan menatap kakak iparnya itu dengan seksama.
" Insyaallah". Najwa senyum meyaqinkan.
" Apa mbak Najwa ingin bicara dengan Mas Adlan,?? saya akan telp dia".
"..." Najwa Aulia menatap Fathan heran atas apa yang di tanyakannya barusan.
" Istri saya sudah cerita,kalau dia sudah memberitaukan mbak semuanya". Fathan mengerti arti tatapan Najwa itu.
" Oo ia"..Najwa menunduk.wajahnya berubah sendu.
" Mbak ingin bicara dengan Mas Adlan??" lagi.Fathan menawarkan.
" Ia.saya akan bicara jika beliau sudah datang ke Al Bustan..tidak perlu di telfhon!!"
" Baiklah mbak.."
" Terima kasih Mas Fathan." Najwa tersenyum .ia sangat senang mendapati adik iparnya itu cukup perhatian padanya.
" Mbak tidak ingin memanggil saya adik??".Fathan bertanya dengan senyum.
Najwa memang tetap memanggil Fathan, Mas.sebagaimana panggilan para santri Al Bustan untuk putra kyai nya.Kendati merupakan adik dari suaminya, ia risih untuk langsung memanggil adik,sebagaimana pada Aisha dan Ning Mahil.
Najwa nampak salah tingkah dengan pertanyaan sekaligus tegoran itu.
" Meskipun tidak di besarkan bersamaan saya sangat menyayangi Mas Irfan sebagai kakak saya mbak".ujar Fathan.
" Ia.maafkan saya dik Fathan".Najwa cepat mengubah panggilannya.Fathan nampak tersenyum.
" Dan lagi saya rasa,Mbak Najwa itu memang di taqdir untuk menjadi kakak ipar saya,." ujar Fathan kemudian.
" Meskipun Mas Irfan sudah meninggal.Saya masih punya kakak sepupu yang saya rasa juga sama cinta dan sayang sama mbak seperti Mas Irfan..bahkan lebih"..
Najwa terdongak menatap Fathan " kenapa sampean berkata begitu??" ia bertanya pelan.
" Biar nanti,Mas Adlan yang menjelaskan".
degg.Najwa merasakan jantungnya berdebar mendengar itu.
***
Tinggalkan jejak ya..Tinggalkan like,koment,dan vote-nya juga..ku mohoonnn dehh..syukronn semuanya..
nangiss bombay malam2 😭😭