Azalae Djadmika, gadis 22 tahun. Dia berpikir telah menikah dengan seorang pria lajang berstatus duda. Ternyata tidak. Syafira Bella, isteri Zayn Putra Maliq yang di beritakan telah meninggal Dunia satu tahun yang lalu. Tiba-tiba kembali dan mengambil semua cinta yang singgah pada Lea.
Apalagi Zayn merasakan cintanya pada Bella tidak pernah memudar seiring waktu hilangnya isterinya. Kehadiran istrinya kembali, membuat Zayn kembali seperti pria muda yang sedang kasmaran dan jatuh cinta sekali lagi pada Bella.
Oleh karena itu, sikap Zayn mulai berubah, dia mulai mengabaikan kehadiran Lea. Apalagi bisikan Bella menuntut agar Zayn segera menceraikan Lea.
***
Karya ini menggunakan nama tokoh yang di usulkan oleh teman baikku, Lele. Alur cerita dan pokok pikirannya pun di sumbangkan oleh temanku yang comel itu.
Selamat membaca 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eouny Jeje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TSO-25
Lea memicingkan matanya ketika sinar matahari menerobos masuk melalui ventilasi jendela kamar. Dia masih merasakan sulit untuk bangun. Bukan karena rasa malas, tetapi dia tidak memiliki tenaga untuk bangun.
Padahal malam tadi, Lea telah meminta pelayan mengantar makan malam yang baru setelah dia yakin Bella dan Zayn tidak berada dalam ruangan yang sama. Dia yakin, mana ada pria akan tidur dengan seorang wanita yang sedang datang bulan. Sampai detik ini, dia merasa Zayn terlampau setia untuk dirinya saja.
Lea memaksakan dirinya untuk makan malam, dan menelan kembali setiap rasa mualnya, dan menahan dirinya untuk tidak muntah, Lea melahap makan malamnya sendiri dalam kamar. Setelah makan dengan kenyang, dia menelan Vitaminnya. Setelah itu, vitamin itu bagaikan obat yang membius kesadarannya menjadi tidur yang panjang. Lea telah terlelap begitu lama. Dia bahkan tidak menyadari, jika dia telah tertidur sampai pukul 12 siang.
Suara tertawa yang saling bersahutan di luar kamarnya. Membuat seluruh inderanya yang baru saja bangun tidur, segera naik menuju kesadarannya. Ujung telinganya berdiri tegak, menyimak setiap percakapan banyak wanita di luar. Namun, hanya beberapa kata yang terdengar jelas.
"Siapa di luar? ramai sekali. Teman-teman ka Bella. Tumben sekali, mengundang banyak orang." Lea terlihat penasaran.
Selanjutnya, Lea meraba mencari sosok di sisinya. Tidak ada. Kelopak matanya mendadak melipat ke atas. Rasa terkejut dan curiganya merayap kembali, mengguncang dadanya. Zayn tidak ada di sisinya.
"Apakah dia tidak kembali ke kamar, malam tadi?" tanyanya pada dirinya, rasa resah menggerayangi seluruh raga dan pikirannya. Dia segera menaikkan postur tubuhnya dari terlentang menjadi posisi duduk. Tangan kanannya meraih jantungnya, berusaha menenangkan degupnya yang tidak beraturan.
"Jangan mencurigai," peringat Lea padanya dirinya sendiri. Lalu, sepasang matanya mengedar ke seluruh penjuru ruangan. Tidak ada bekas Zayn. Kamar mandi pun terdengar senyap. Lalu, matanya menatap pada jam dinding. Pukul 12 siang.
"Ah, mengapa aku bangun terlalu siang?" gumam Lea seraya menepuk dahinya sendiri. Dia bahkan tidak pernah menyadari, jika dia telah menelan obat tidur berkedok botol vitamin setiap malamnya. Diam-diam Bella selalu menukar dosis menjadi obat tidur yang dengan takar miligram yang lebih besar dari sebelumnya.
Lea mengerjapkan matanya. Membuang kecurigaannya untuk Bella maupun Zayn.
Zayn pastilah sudah berangkat kerja. Mereka tidak akan melakukan hal demikian. Mereka hanya bersahabat.
Lea beranjak bangun, baru saja kakinya menginjak ubin lantai. Kepalanya berdenyut sakit, pandangan terlihat gelap. Dia kembali duduk, dan merasakan perutnya pun sangat sakit, dan nyeri.
"Arg ...," ringis Lea. Perlahan menenangkan dirinya dan mengumpulkan tenaganya, mengusahakan dirinya untuk kuat. Pandangannya mulai terlihat bewarna, dan tapak kakinya dia injakkan dengan kuat menginjak setiap ubin lantai menuju kamar mandi. Dia meloloskan dirinya untuk mandi. Dia bertekad untuk segera sembuh dari fisiknya yang lemah.
Selesai mandi, Lea berganti pakaian. Semua terlihat sangat longgar dengan dirinya. Setiap celana dan rok yang dia kenakan akan jatuh melorot begitu saja. Tidak ada pilihan yang lain, Lea memilih Daster tidur. Hanya itu pilihan tersisa.
Tok.Tok.Tok.
Tiga ketukan pintu terdengar. Lea tertatih menuju pintu. Membuka pintu. Mendapatkan Raden yang menyapa kemudian.
"Pagi Bu, ada dokter berkunjung."
Lea mengerutkan kening. Mungkinkah Zayn mengirimkan seorang dokter baru lagi, untuknya.
Apakah dokter kali ini pilihan Bella lagi?
Lea ragu sesaat. Namun, dia tetap melangkah keluar. Baru tiga langkah melewati garis pintu. Dia di kejutkan dengan semua mata prihatin yang menatapnya. Baik wanita maupun pria yang berkumpul di sekitar Bella. Terlihat berhenti menyantap makanannya, seakan memandangi Lea dari ujung kaki hingga rambut, adalah hal yang penting daripada mengisi perut.
Lea merasakan dirinya menjadi sorotan, hanya memberikan senyum yang terlihat kikuk bercampur rasa terpaksa.
"Lea," sapa Bella berdiri, "Hari ini aku reuni dengan teman lamaku. Mereka adalah semua sahabatku," lanjut Bella.
Lea menatap ke setiap orang. Semua yang wanita terlihat glamor dan indah, sedangkan yang pria terlihat tegap dan tampan.
"Ya, kak. Salam kenal semua."
Tidak ada satupun menanggapi. Setiap orang hanya memberikan pandangan sebentar, dan tersenyum yang terlihat sangat di paksakan.
"Mari berkenalan dengan semua temanku."
Lea merasa canggung. Namun, Bella maju dan mengapit lengannya untuk mendekati lingkaran teman Bella.
"Hai semua. Dia lah bernama Lea. Wanita baik yang telah menikah dengan suamiku beberapa bulan yang lalu." Bella menyebutnya dengan setiap kata yang di teriakannya dengan lantang.
Malu. Lea merasa di permalukan. Lalu,dia berpura-pura tuli. Namun, tetap saja telinganya menangkap setiap kata yang terlontar dari semua teman Bella.
"Aku pikir dia seperti yang aku bayangkan. Ternyata tidak."
"Dia isteri kedua. Tepatnya, dia hanyalah seorang pesakit."
"Mengapa dia terlihat seperti ini? Apakah dia mumi hidup? Aku rasa begitu."
"Aku rasa Zayn telah di sihir oleh wanita ini. Bagaimana bisa Zayn menyukainya."
"Dukun mana yang dia gunakan?'
"Jelek sekali!"
Lea tersudut bersiap menangis. Ingin kembali ke kamar. Namun, lengannya di tahan Bella.
"Jangan tersinggung, Lea. Mulut temanku, memang seperti itu," bisik Bella, dan melemparkan pandangannya pada temannya, seraya memberi tatapan mengijinkan untuk mengejek Lea.
"Kalian jangan salah paham. Lea adalah wanita cantik, manis, dan baik. Dia hanya mengalami penurunan fisik secara drastis, karena trauma janin dalam perutnya, telah meninggal dunia."
Deg! Lea meremas setiap jemari. Anak dalam perut, di ungkit. Membuat dirinya tidak bisa membendung air matanya lagi. Dia menangis berderai, tanpa suara.
"Oh, traumatis. Kasihan sekali." Salah satu tiba-tiba melemparkan kata simpatiknya.
"Bisa saja itu karma. Karma merampas suami orang," timpal seseorang dengan ketus.
Deg! Jantung Lea terhunus akan satu kata itu. Karma merampas suami orang.
Ya Tuhan. Aku tidak merampas siapapun, jerit Lea dalam hatinya.
Aku hanya jatuh cinta tanpa sengaja pada pria yang tidak aku ketahui, telah memiliki isteri.
"Kalian jangan salah paham. Kalian tahu kan apa yang telah terjadi padaku. Aku hilang selama setahun. Jika bukan karena ingatanku kembali padaku. Aku tidak akan kembali ke rumah ini. Untung Tuhan masih menyayangiku, dan mengembalikan diriku pada keluargaku," cerita Bella dengan tangan yang merangkul bahu Lea dengan ketat.
"Suamiku butuh pelayan ranjang. Wajar, jika tiba-tiba ada Lea. Lagipula, dia masih sangat polos."
"Perawan desa maksudmu? wanita kampungan," ejek sang pirang terbahak kemudian.
"Hentikan Jen! Kau bergurau jangan menyakiti hatinya," interupsi Bella memberikan tatapan mata tersenyum pada Jen, wanita pirang yang terlihat bersemangat meludah api pada Lea.
Jen maju beberapa langkah, dan menatap Lea, "Pria lebih menyukai wanita berpengalaman. Untuk perawan, dia hanya ingin icip-icip. Aku berani bertaruh, Zayn akan kembali pada Bella. Lalu, kau hanya terlihat bagai manekin dalam rumah ini. Janda bukan. Istri bukan."
"Jen, setiap katamu! akan membuat Lea sakit hati" interupsi Bella merasa miris akan olokan itu.
Jen bermain kuku, menatap kukunya, seakan dia tidak perduli perasaan milik Lea.
"Jangan membelanya. Aku sangat kasihan padamu sayang. Kau wanita tehormat, wanita pertama. Kau pasti sangat kecewa telah di duakan."
Lalu, Bella menatap pada Lea, "Dan ketika aku kembali. Aku harus pasrah mengetahui satu orang bertambah dalam keluargaku. Dia adalah isteri kedua Zayn. Suamiku memilihnya, karena dia cantik, baik hati."
"Dan juga pandai menggoda!" teriak salah satu teman pria Bella, dan selanjutnya setiap orang terbahak dan melemparkan mata yang jatuh merendahkannya.
Deg! Raga Lea bergetar. Ingin rasanya, dia memukul kepalanya saat ini. Agar dia jatuh pingsan, atau mati sekaligus.
"Terkadang nasib sial akan mengikuti seseorang karena ulahnya sendiri, " sindir seseorang lagi pada Lea.
Bella tersenyum di belakang Lea. Mengedipkan mata kepada setiap temannya, dan bergindik jijik di tujukan untuk Lea.
......................
Bersambung ...
Kasihan kan Lea? Di bully itu nggak enak, apalagi ma orang yang baru kamu kenal. So, Lea kalau dah kuat berdiri lagi, yang dia ingat hanya satu orang, "Bella lah si ratu penindasnya."
setiap hari selalu mengecek kelanjutan cerita TSO..
Up dunk Thor.. plisssss
kapan terungkapnya sih😭😂