"Aku telah mati karena cinta, kali ini aku ingin hidup untuk diriku sendiri" atau begitulah yang diucapkan Evelyn awalnya sebelum dia mengenal kepribadian Matthew si Pangeran Kulkas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PhepipoOrevi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Pangeran Kulkas Bikin Heboh
Matthew masih berdiri santai sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Kemeja hitamnya yang tergulung rapi sampai siku membuat penampilannya terlihat kasual tapi tetap memesona. Sudut bibirnya yang terangkat tipis memberi kesan seolah ia baru saja menonton adegan paling menghibur seharian ini.
"Eve? Kamu ngeliatin siapa sih?" tanya Chloe seraya menyipitkan mata, mengikuti arah pandangan Evelyn.
Begitu mata Chloe menangkap sosok Matthew, cewek berambut pirang itu mendadak terbelalak kaget. Ia refleks menyikut lengan Evelyn pelan. "Bentar... itu bukannya Matthew? Matthew Pendragon anak sekelas kita?!"
"Iya, siapa lagi," sahut Evelyn santai, pura-pura merapikan letak tali tasnya.
"Gila... sejak kapan si Pangeran Kulkas nongkrong di luar lab jam segini?" bisik Chloe dengan nada tertahan, matanya bolak-balik menatap Matthew dan Evelyn. "Terus... kok rasanya dia kayak lagi ngeliatin ke arah kita ya? Lebih tepatnya... ngeliatin kamu, Eve?"
Sebelum Evelyn sempat menjawab, Matthew sudah menegakkan tubuhnya. Pria itu menurunkan lipatan tangannya, merogoh satu saku celana, lalu berjalan perlahan menghampiri mereka berdua. Langkah kakinya yang tenang terasa kontras dengan aura dominan yang mengelilinginya.
Chloe mendadak kaku di tempat. "Eve... dia jalan ke sini, Eve. Demi Tuhan, aku belum siap ditatap mata emasnya yang serem itu!"
Evelyn cuma tertawa kecil melihat reaksi panik sahabatnya.
Matthew berhenti tepat dua langkah di depan mereka. Ia melirik Chloe sekilas dengan raut wajah datar—membuat Chloe refleks makin merapat ke belakang punggung Evelyn—sebelum akhirnya mata keemasannya kembali mengunci Evelyn.
"Kerja bagus," kata Matthew singkat. Suaranya yang berat dan tenang terdengar begitu jelas di lorong yang mulai sepi.
Evelyn menaikkan satu alisnya, berpura-pura tidak paham. "Kerja bagus buat apa, Kak?"
Matthew menyunggingkan senyum tipis—senyuman langka yang bikin Chloe di sebelah Evelyn hampir memekik tanpa suara. "Buat adegan 'usir hantu' tadi. Akting mu lumayan."
"Itu bukan akting ya," protes Evelyn sambil menyilangkan tangan di dada, meniru gaya Matthew tadi. "Aku beneran muak."
"Baguslah kalau sadar," sahut Matthew santai. Ia melirik jam tangan peraknya seketika. "Ngomong-ngomong, praktikum Anatomi jam dua nanti... dosennya ganti Dokter Aris. Jangan lupa bawa modul, atau kamu bakal disuruh keluar kelas kayak minggu lalu."
Evelyn tertegun. Matthew ingat detail sekecil itu tentang praktikumku?
"Oh... oke. Makasih infonya, Kak," jawab Evelyn pelan, sedikit salah tingkah.
Matthew mengangguk tipis. Sebelum berbalik pergi menuju koridor laboratorium, ia sempat melirik Evelyn lagi dengan tatapan yang sulit diartikan—hangat, tapi menyimpan rasa penasaran yang mendalam.
"Sampai ketemu di kelas praktikum, Eve," ucap Matthew pelan sebelum akhirnya melangkah pergi, meninggalkan wangi fragrance kayu dan kopi yang samar di udara.
Begitu sosok Matthew menghilang di belokan koridor, Chloe langsung mencengkeram bahu Evelyn kuat-kuat dan mengguncangnya heboh.
"EVELYN! DEMI APA KAMU BISA NGOBROL SANTAI SAMA PANGERAN KULKAS?!" pekik Chloe histeris. "Kalian ada hubungan apa anjir?! Kenapa dia panggil kamu 'Eve'?! Sejak kapan si Kulkas berubah jadi perhatian gini?!"
Evelyn tertawa lepas melihat reaksi heboh Chloe, menepuk-nepuk tangan sahabatnya agar tenang. Namun di dalam hatinya, sebuah pertanyaan besar kembali mencuat.
Matthew... kamu beneran cuma kebetulan lewat, atau kamu mulai ingat sesuatu dari kehidupan kita yang lalu? Atau kamu adalah petunjuk dari Tuhan agar aku bisa melalui hidup keduaku ini?