NovelToon NovelToon
PENYESALAN YANG DATANG TERLAMBAT

PENYESALAN YANG DATANG TERLAMBAT

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Rumah Tangga / Selingkuh / Tamat
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Alya menjalani pernikahan perjodohan dengan Arga, pria kaya yang tidak pernah benar-benar menerimanya sebagai istri. Saat Alya berusaha mempertahankan rumah tangga mereka, Arga justru masih menjalin hubungan dengan kekasih lamanya dan mengabaikan kesetiaan istrinya.
Diam-diam, Alya menahan penyakit parah dan luka hati yang semakin dalam. Hingga suatu hari, ia memilih pergi tanpa meminta apa pun lagi.
Arga mengira Alya akan kembali. Namun ketika hari berganti dan rumah terasa semakin sunyi, ia mulai menyadari bahwa perempuan yang selalu ia abaikan adalah satu-satunya orang yang tulus mencintainya. Saat Alya akhirnya ditemukan dalam keadaan kritis, penyesalan Arga telah datang terlalu terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Satu Nama di Layar

Pagi di rumah keluarga Mahendra selalu datang terlalu sunyi.

Matahari menembus tirai tipis di kamar utama, jatuh tepat di sisi ranjang yang kosong. Alya membuka mata perlahan, lalu menatap langit-langit kamar dengan pandangan hampa. Semalaman ia tidak benar-benar tidur. Tubuhnya memang berbaring di kasur besar itu, tetapi pikirannya terus terjaga—mengulang suara Arga yang menyebut nama perempuan lain dengan nada lembut.

*Ya, Sayang.*

Dua kata sederhana.

Namun bagi Alya, dua kata itu terasa seperti pengingat bahwa selama tiga tahun pernikahan mereka, ada tempat di hati Arga yang tidak akan pernah bisa ia masuki.

Ia mengembuskan napas pelan dan melirik sisi ranjang suaminya.

Masih rapi.

Bantalnya tidak berubah posisi. Selimutnya bahkan masih terlipat sempurna sejak semalam. Berarti Arga tidak kembali ke kamar setelah menerima telepon dari Keisya. Mungkin lelaki itu tidur di ruang kerja. Mungkin keluar lagi. Atau mungkin, seperti yang sering terjadi, Alya terlalu takut mengetahui kenyataannya sehingga memilih tidak mencari.

Sebuah rasa mual tiba-tiba naik dari perutnya.

Alya segera bangun dan berjalan cepat ke kamar mandi. Ia menutup pintu, menyalakan keran, lalu menunduk di depan wastafel. Tubuhnya gemetar. Tenggorokannya terasa pahit. Setelah beberapa saat, rasa itu perlahan mereda, meninggalkan wajah pucat yang menatap balik dari cermin.

Alya memandangi pantulan dirinya.

Kulitnya terlihat lebih kusam. Lingkaran hitam mulai jelas di bawah mata. Rambut panjang yang biasanya ia rawat dengan baik kini dibiarkan tergerai tanpa semangat. Ia mengangkat tangan dan menyentuh pipinya sendiri.

Kapan terakhir kali ia terlihat benar-benar bahagia?

Pertanyaan itu membuat dadanya terasa sesak.

Dulu, sebelum menjadi Alya Mahendra, ia adalah Alya Pramesti. Perempuan yang suka bangun pagi untuk merawat tanaman di halaman rumah ayahnya. Perempuan yang bercita-cita membuka galeri kecil untuk menjual lukisan dan kerajinan lokal. Perempuan yang percaya bahwa hidup sederhana pun bisa terasa penuh selama dikelilingi orang-orang yang tulus.

Kemudian perjodohan itu datang.

Ayahnya mengatakan bahwa keluarga Mahendra adalah keluarga baik. Arga adalah putra tunggal dari sahabat lamanya. Pernikahan mereka akan menyelamatkan kerja sama bisnis dua keluarga yang sedang berada di ujung kesepakatan besar.

“Arga lelaki bertanggung jawab,” kata ayahnya kala itu. “Ayah tidak akan menyerahkan kamu kepada orang yang sembarangan.”

Alya mengangguk meski hatinya berat.

Ia tidak tahu bahwa bertanggung jawab dalam bisnis tidak selalu berarti mampu bertanggung jawab pada perasaan seseorang.

Setelah membersihkan wajah, Alya mengenakan cardigan tipis berwarna krem dan turun ke lantai bawah. Dari arah dapur, aroma kopi tercium samar. Langkahnya melambat ketika melihat Arga duduk di meja makan.

Lelaki itu sudah rapi dengan kemeja biru tua dan celana bahan hitam. Di depannya hanya ada secangkir kopi serta beberapa lembar dokumen. Ponselnya terletak di sisi tangan kanan, layar menghadap ke atas.

Alya berhenti beberapa detik di ambang pintu.

Ada bagian dalam dirinya yang ingin berbalik, kembali ke kamar, dan menghindari percakapan apa pun. Namun ia tidak ingin terus-menerus terlihat seperti orang asing di rumah sendiri.

“Pagi,” katanya pelan.

Arga mengangkat wajah. “Pagi.”

Jawabannya tidak hangat, tetapi setidaknya tidak sedingin semalam.

Alya berjalan mendekat, lalu menarik kursi di seberangnya. Mbok Sari segera muncul dari dapur membawa sepiring roti panggang dan telur dadar.

“Non Alya mau sarapan apa?” tanya Mbok Sari.

“Roti saja, Mbok.”

Mbok Sari memandang Alya dengan cemas. “Mau Mbok buatkan bubur? Wajah Non pucat.”

“Nggak usah. Aku baik-baik saja.”

Arga melirik Alya sekilas. Tatapannya singkat, tetapi cukup membuat Alya sadar bahwa suaminya mendengar.

“Aku dengar kamu hampir jatuh semalam,” kata Arga.

Jemari Alya berhenti saat hendak meraih roti.

“Cuma pusing.”

“Kamu sudah seperti itu berapa lama?”

Alya tidak langsung menjawab. Ia tidak tahu apakah pertanyaan itu lahir dari kepedulian atau hanya rasa tidak nyaman karena Mbok Sari ada di sana.

“Mungkin beberapa minggu,” jawabnya jujur.

Arga menatapnya lebih lama. “Kenapa baru bilang?”

Kalimat itu membuat Alya tersenyum kecil. Bukan karena senang, melainkan karena ia tidak tahu jawaban apa yang paling tepat.

*Karena selama ini Mas tidak pernah benar-benar bertanya.*

Namun ia tidak sanggup mengatakannya.

“Aku pikir nanti juga sembuh sendiri.”

“Kalau sudah beberapa minggu, itu bukan sesuatu yang bisa kamu abaikan.” Nada Arga terdengar sedikit tegas. “Hari ini periksa ke dokter.”

Alya menunduk. Ada kehangatan aneh yang menelusup ke dalam dadanya. Bukan karena kata-kata itu istimewa, melainkan karena ia sudah terlalu lama tidak menerima perhatian sekecil apa pun dari Arga.

“Mas mau temani?” tanya Alya, sebelum keberaniannya hilang.

Arga diam.

Hanya satu detik.

Mungkin dua.

Namun jeda itu cukup untuk memberinya jawaban.

“Aku ada rapat penting,” kata Arga akhirnya. “Tapi aku bisa suruh sopir antar kamu.”

Kehangatan tipis dalam dada Alya langsung memudar.

“Tidak usah,” jawabnya cepat. “Aku bisa pergi sendiri.”

“Alya.”

“Aku benar-benar nggak apa-apa.”

Arga menghela napas pendek, seolah percakapan itu mulai mengganggu paginya. Ia meraih ponsel di meja. Pada saat itulah layar ponselnya menyala.

Satu pesan masuk.

Nama yang muncul di layar terlihat jelas dari tempat Alya duduk.

**Keisya.**

Pesan itu hanya muncul beberapa detik, tetapi Alya sempat membaca kalimat awalnya.

*Semalam aku tidak bisa tidur. Aku kepikiran kamu terus…*

Arga segera membalik ponselnya.

Terlambat.

Alya sudah melihatnya.

Ruang makan kembali dipenuhi kesunyian yang menekan. Mbok Sari, yang sedang meletakkan segelas jus di meja, tampak salah tingkah. Perempuan tua itu lalu memilih kembali ke dapur tanpa bicara.

Arga berdeham pelan. “Aku berangkat dulu.”

Alya menatap piringnya.

“Mas,” panggilnya.

Arga berhenti.

Untuk beberapa saat, Alya hanya menatap tangan sendiri. Jari-jarinya pucat. Ia ingin bertanya apakah Keisya tahu bahwa Arga sudah menikah. Ia ingin bertanya apakah perempuan itu pernah merasa bersalah. Ia ingin bertanya apakah Arga pernah menyesal, meski hanya sedikit, setiap kali pulang ke rumah dan melihat istrinya menunggu.

Namun pertanyaan itu terasa sia-sia.

Jawabannya mungkin akan lebih menyakitkan.

“Tidak apa-apa,” kata Alya akhirnya. “Hati-hati di jalan.”

Arga menatapnya. Ada keraguan tipis pada wajahnya, tetapi ia tetap mengambil tas kerja dan berdiri.

“Kamu periksa hari ini,” ucapnya sekali lagi.

Kemudian ia pergi.

Pintu depan tertutup.

Dan Alya kembali sendirian.

***

Menjelang siang, Alya duduk di ruang konsultasi sebuah klinik penyakit dalam. Ia datang sendiri dengan taksi online, menggunakan masker dan kacamata besar agar tidak terlalu menarik perhatian. Bukan karena ia terkenal, melainkan karena ia tidak ingin ada orang dari keluarga Mahendra yang melihatnya dan memberi tahu Arga.

Ia tidak ingin Arga merasa dipaksa peduli.

Dokter perempuan berusia sekitar empat puluh tahun di depannya sedang membaca hasil pemeriksaan darah yang baru selesai dilakukan. Wajah dokter itu tenang, tetapi terlalu serius untuk membuat Alya merasa nyaman.

“Sudah berapa lama Ibu sering lemas, mual, dan pusing?” tanya dokter itu.

“Sekitar dua bulan. Mungkin lebih.”

“Berat badan turun?”

Alya berpikir sejenak. “Iya. Tapi saya kira karena akhir-akhir ini nafsu makan saya memang kurang.”

“Sering demam?”

“Kadang-kadang. Terutama malam.”

Dokter kembali melihat lembar hasil pemeriksaan. “Saya ingin Ibu melakukan pemeriksaan lanjutan di rumah sakit. Ada beberapa nilai dalam darah yang perlu kita telusuri lebih jauh.”

Jantung Alya berdegup lebih cepat.

“Serius, Dok?”

“Saya belum bisa menyimpulkan apa pun sebelum pemeriksaan lengkap dilakukan.” Dokter itu tersenyum tipis, berusaha menenangkan. “Tapi jangan ditunda, ya. Saya buatkan surat rujukan untuk hari ini atau paling lambat besok.”

Alya menerima kertas yang diberikan dokter dengan tangan dingin.

Tulisan di atasnya terlihat kabur. Ia tidak mengerti semua istilah medis yang tercetak di sana. Namun ia cukup mengerti satu hal: tubuhnya mungkin menyimpan sesuatu yang selama ini ia abaikan.

Saat keluar dari klinik, matahari terasa terlalu terang.

Alya berdiri di trotoar, memegang tas kecilnya erat-erat. Orang-orang berjalan melewatinya dengan tujuan masing-masing. Ada ibu yang menggandeng anak kecil. Ada lelaki tua membawa kantong obat. Ada pasangan muda yang tertawa sambil berbagi payung meski langit sudah tidak hujan.

Alya memandangi mereka cukup lama.

Dadanya dipenuhi kesedihan yang tidak bisa ia jelaskan.

Ia mengambil ponselnya.

Jari-jarinya sempat berhenti di nama Arga.

Ia ingin menghubunginya. Ingin berkata bahwa dokter menyuruhnya ke rumah sakit. Ingin mendengar suaminya berkata, *Aku akan datang.* Ia bahkan tidak butuh Arga memeluknya. Tidak perlu kata-kata manis. Ia hanya ingin tidak sendirian ketika menghadapi kemungkinan buruk yang belum berani ia pikirkan.

Namun baru saja ia hendak menekan tombol panggil, sebuah notifikasi berita muncul dari media sosial.

Foto Arga.

Lelaki itu berdiri di lobi sebuah hotel bersama beberapa orang dari perusahaan. Di sampingnya, Keisya tersenyum anggun dengan gaun kantor berwarna putih. Mereka tampak sedang menghadiri acara peluncuran proyek baru milik perusahaan Mahendra.

Keterangan foto itu berbunyi:

*Direktur Utama Mahendra Group, Arga Mahendra, hadir bersama Keisya Anindita dalam acara kerja sama investasi hari ini.*

Tidak ada yang salah dalam foto itu.

Secara resmi, Keisya memang bekerja sebagai kepala hubungan publik di salah satu anak perusahaan Mahendra Group. Tidak ada bukti yang cukup bagi siapa pun untuk menuduh hubungan mereka lebih dari sekadar profesional.

Tetapi Alya tahu.

Ia tahu dari panggilan tengah malam.

Ia tahu dari parfum yang menempel di kemeja Arga.

Ia tahu dari cara Arga menyebut nama Keisya tanpa mampu menyembunyikan kelembutan dalam suaranya.

Perlahan, Alya menurunkan ponsel.

Nama Arga di layar berubah menjadi deretan angka yang tidak ia tekan.

Untuk pertama kalinya, ia memilih tidak menelepon.

***

Sore hari, Alya pulang lebih awal daripada biasanya. Rumah itu masih sepi. Mbok Sari sedang menyiram tanaman di halaman belakang, sedangkan beberapa staf rumah tangga lain sibuk membersihkan ruang tamu.

Alya langsung masuk ke kamarnya.

Ia meletakkan surat rujukan dari dokter di dalam laci meja rias. Setelah itu, ia duduk di depan cermin dan memandangi dirinya cukup lama.

Wajahnya tampak lelah.

Terlalu lelah untuk perempuan berusia dua puluh tujuh tahun.

Ponselnya bergetar di atas meja.

Pesan dari Arga.

*Aku pulang malam. Jangan tunggu.*

Alya membaca pesan itu berulang kali.

Dulu, mungkin ia akan membalas: *Baik, Mas. Hati-hati.*

Dulu, ia tetap akan menyiapkan makan malam dan duduk menunggu meski Arga berkata jangan.

Dulu, ia akan mencari alasan untuk percaya bahwa suatu hari lelaki itu akan berubah.

Namun sore itu, di dalam kamar yang terlalu besar dan terlalu sunyi, Alya menyadari sesuatu yang membuat matanya panas.

Arga tidak menyuruhnya tidak menunggu karena ia khawatir Alya lelah.

Arga menyuruhnya tidak menunggu karena ia tidak ingin pulang kepada seseorang yang mencintainya.

Alya menghapus air mata yang mulai jatuh.

Lalu, untuk pertama kalinya selama pernikahan mereka, ia tidak membalas pesan suaminya.

Ia berdiri, membuka lemari pakaian, dan mengambil sebuah koper kecil yang tersimpan di bagian bawah. Koper itu sudah lama tidak digunakan. Di dalamnya masih ada stiker bandara dari perjalanan singkat bersama keluarganya sebelum ia menikah.

Alya membuka koper tersebut.

Ia tidak langsung memasukkan apa pun.

Ia hanya menatapnya.

Satu tangan memegang sisi koper, sementara tangan lainnya menyentuh dadanya yang kembali terasa nyeri.

Ia belum tahu ke mana akan pergi.

Ia belum benar-benar siap meninggalkan rumah ini.

Namun untuk pertama kalinya, Alya mulai membayangkan kemungkinan bahwa hidupnya tidak harus selalu berputar di sekitar seorang lelaki yang tidak pernah memilihnya.

Dan mungkin, pikirnya sambil menatap koper kosong itu, pergi bukan berarti kalah.

Mungkin pergi adalah satu-satunya cara agar ia bisa menyelamatkan dirinya sendiri.

1
Inarrr Ulfah
semgat alaya
Nuna_Pena: hehe.. makasi cayank sudah mampir..
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!