Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen terindah berubah menjadi bencana bagi keluarga Abraham. Kakak kandung Alice Sabrina Catrine (Cesa) mendadak kabur tepat di hari H pernikahan demi menghindari perjodohan sepihak. Demi menjaga martabat keluarga, Cesa tidak punya pilihan lain. Menggunakan gaun pengantin yang bukan miliknya, Cesa terpaksa melangkah ke pelaminan untuk menggantikan posisi sang kakak.
Cesa sama sekali tidak mengenal siapa laki-laki yang menjabat tangan ayahnya di depan penghulu. Detik berikutnya, dunia seolah runtuh saat ia mengetahui identitas sang suami: Devano Alvian Mahendra.
Devan adalah paket lengkap dari definisi masalah: terkenal galak, tengil, nakal, dan punya hobi kelayapan malam yang mendarah daging. Sialnya, Cesa bukanlah gadis penurut yang lemah lembut. Cesa adalah gadis cantik berkulit mulus dengan sumbu pendek alias emosi yang mudah meledak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon manggiskaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mall
Siang beranjak sore, dan Cesa mulai merasa bosan berada di dalam mansion. Ia memutuskan bahwa hari ini adalah hari yang tepat untuk menguras kantong suami barunya. Cesa berganti pakaian menggunakan crop top kasual dan celana jeans longgar, lalu berjalan menghampiri Devan yang sedang rebahan di sofa ruang tengah sambil bermain game di ponselnya.
"Devan, bangun! Anterin gue ke mall sekarang. Gue mau belanja," perintah Cesa sambil menendang pelan kaki sofa tempat Devan berbaring.
Devan bahkan tidak melirik dari layar ponselnya. "Punya kaki kan? Punya sopir kan di rumah ini? Pake sopir sana. Jangan ganggu gue, gue lagi push rank."
Cesa tersenyum licik. Ia meraba sakunya dan mengeluarkan ponselnya, lalu mengetik sesuatu di layar.
"Oh gitu... Yaudah, gue telepon Papa aja ya. Gue bilang kalau anaknya yang tengil ini menolak menemani istri sahnya belanja kebutuhan rumah tangga, dan malah ngebentak-bentak gue sampai gue nangis batin."
Mendengar kata 'Papa', Devan langsung bangkit dari sofa seperti disengat listrik. Wajahnya langsung pucat campur aduk dengan rasa kesal yang teramat sangat. "Bangsat lo, Cesa! Dikit-dikit ngadu ke bokap! Lo tuh istri apa cepu sih?!"
"Gue adalah istri pintar yang tahu cara memanfaatkan kartu as," sahut Cesa dengan senyum kemenangan.
"Gimana? Mau anterin gue atau mau semua fasilitas lo disita total besok pagi?"
Devan menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan tangannya agar tidak mencubit pipi cewek di depannya ini sampai lepas. "Oke! Gue anterin! Tapi awas lo ya, jangan banyak tingkah di jalan!" Devan menyambar kunci mobil sport-nya di meja dengan kasar dan berjalan mendahului Cesa dengan langkah pasrah yang penuh hentakan emosi.
Di garasi, sebuah mobil sport Porsche berwarna merah menyala sudah menunggu. Devan masuk ke kursi pengemudi, sementara Cesa duduk di sebelah beralaskan kursi penumpang dengan wajah riang gembira.
Begitu mobil keluar dari gerbang mansion dan masuk ke jalan raya yang agak lengang, Devan menyeringai licik. Ia melirik Cesa yang sedang sibuk bercermin di kaca spion tengah. 'Lo mau main-main sama gue kan? Rasain nih, gue bikin lo nangis jerit-jerit di dalam mobil ini,' batin Devan jahat.
Devan langsung menginjak pedal gas sedalam-dalamnya. Mesin Porsche itu meraung keras, membelah jalanan dengan kecepatan yang melonjak drastis dari 60 km/jam ke 140 km/jam dalam hitungan detik. Devan sengaja mengambil jalur tikungan dengan teknik berbelok yang tajam untuk menakut-nakuti Cesa.
"Hahaha! Rasain lo! Takut kan lo?! Makanya jangan sok ngancem gue!" teriak Devan di tengah deru mesin, berharap melihat wajah Cesa yang pucat pasi atau mendengar suara tangis histeris.
Namun, bukannya takut atau menjerit minta turun, Cesa malah membuka kaca jendela mobil, membiarkan rambutnya terbang berantakan diterpa angin kencang. Wajahnya justru memancarkan ekspresi yang sangat antusias, matanya berbinar-binar penuh adrenalin.
"WOOOOHOOOO!! KURANG KENCENG, DEVAN! LEBIH KENCENG LAGI! GAS POLLL SAMPE MENTOK! GAK USAH DIREM KALO ADA TIKUNGAN!" teriak Cesa dengan suara bar-barnya, malah bertepuk tangan kegirangan seperti anak kecil yang sedang naik roller coaster.
Ia begitu kegirangan bak anak kecil..
Devan melongo, konsentrasinya hampir buyar melihat reaksi istrinya yang di luar nalar. "Lo gila ya?! Ini kecepatan tinggi, Cesa! Lo gak takut mati apa?!"
"Takut mati? Hahaha! Gue lebih takut miskin daripada takut kecepatan, Devan! Ayo buruan, pacu lagi mobilnya! Cowok tengil kayak lo masa cuma berani segini doang? Payah!" ejek Cesa sambil tertawa menantang.
Mendengar harga dirinya diinjak-injak, Devan semakin emosi. Bukannya melambat, ia benar-benar menambah kecepatan hingga mobil mereka melesat bak peluru kendali menuju mall terbesar di pusat kota. Pertarungan mental di dalam mobil itu akhirnya dimenangkan mutlak oleh Cesa yang tetap santai bernyanyi sepanjang jalan raya.
Begitu sampai di mall, Devan memarkirkan mobilnya dengan kasar. Ia turun dengan napas memburu karena lelah menahan emosi dan adrenalin. Sementara Cesa turun dengan tubuh segar bugar dan senyum sumringah.
"Yuk, Suami Kampret! Waktunya menguras black card milik keluarga sultan!" ajak Cesa sambil merangkul lengan Devan dengan paksa. Devan hanya bisa pasrah, membiarkan dirinya diseret masuk ke dalam pusat perbelanjaan mewah tersebut.
Begitu menapakkan kaki di area butik barang-barang branded, kegilaan Cesa yang sesungguhnya dimulai. Cesa tidak melihat label harga lagi. Ia masuk ke butik tas mewah pertama.
"Mbak, tas yang model terbaru ini, ini, sama yang warna putih di sana, bungkus ya. Oh sama dompetnya juga sekalian buat hadiah pelayan-pelayan di rumah," kata Cesa dengan santai menunjuk barang-barang seharga ratusan juta rupiah.
Devan yang berdiri di belakangnya terbelalak. "Heh! Lo beli tas banyak-banyak buat apa? Tangan lo cuma dua, Cesa! Terus ngapain pelayan di rumah dibelikan tas branded juga?!"
"Biar mereka makin semangat masakin gue makanan enak, Devan. Anggap saja ini program kesejahteraan karyawan dari Nyonya sultan," jawab Cesa tanpa dosa.
"Mana kartunya? Siniin!"
Devan dengan tangan gemetar mengeluarkan kartu kredit hitamnya dari dompet dan menyerahkannya pada kasir. Setiap kali bunyi 'bip' dari mesin EDC terdengar, dada Devan rasanya seperti dihantam batu besar.
Tidak berhenti di situ, Cesa menyeret Devan ke toko sepatu premium, membeli lima pasang sepatu hak tinggi sekaligus, lalu pindah ke toko perhiasan untuk membeli kalung berlian yang langsung ia pakaikan di lehernya. Puncaknya adalah ketika Cesa masuk ke toko pakaian mewah dan memilih belasan gaun mahal.
Setiap kali Devan mencoba protes, Cesa hanya perlu mengangkat ponselnya dan berbisik, "Halo, Papa..." yang langsung membuat Devan bungkam seribu bahasa dan terpaksa menandatangani semua struk belanjaan yang panjangnya sudah seperti gulungan tikar.
Di akhir petualangan belanja mereka, Devan berjalan di belakang Cesa dengan tubuh yang dipenuhi oleh belasan kantong belanjaan besar di kedua belah tangannya, bahkan ada beberapa kantong yang terpaksa ia jepit di ketiaknya. Wajah Devan benar-benar pasrah, lesu, dan tak berdaya menghadapi kehebohan sang istri bar-bar.
Cesa berjalan di depan dengan langkah riang, memegang sebuah es krim cone yang dibeli dengan uang kembalian Devan. Ia berbalik menatap suaminya yang malang.
"Ayo cepetan jalannya, Devan! Masih ada toko kosmetik di depan yang belum kita datangi!" seru Cesa penuh semangat.
"Cesa... demi Tuhan... tangan gue mau copot... tolong kasihanilah saldo dan otot-otot gue..." rintih Devan, si cowok tengil yang kini telah takluk total di bawah kendali ancaman Papa dan kebar-baran istri dadakannya yang menurutnya aga gila ini.