Bagaimana rasanya menjadi seorang CEO sukses di era modern, lalu dalam sekejap mata terbangun di dalam gubuk bobrok era dinasti kuno?
Itulah nasib sial yang menimpa Lin Wan. Jiwanya merasuki tubuh seorang gadis berusia delapan belas tahun yang hampir mati kelaparan, hidup bersama ibu yang sakit-sakitan, adik kecil yang menangis kelaparan, serta paman serakah yang berniat menjual mereka demi utang judi.
Bagi Lin Wan, menyerah bukanlah kamusnya. Berbekal otak bisnis modern, kecerdasan taktis, dan tekad baja, ia bersumpah untuk mengubah nasib.
Berhasilkah Lin Wan menjadi wanita yang bisa berubah kaya, atau justru takdir membawanya pada takdir yang tak pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Kalkulasi Cerdas Sang CEO
Riuh rendah Pasar Kecamatan Sungai Besi perlahan-lahan kembali mencair setelah rombongan tandu mewah sang pangeran penyamar menghilang di balik gerbang jalan utama.
Para pedagang kembali membuka lapak mereka, dan para pembeli melanjutkan transaksi seolah insiden mendebarkan barusan hanyalah sebuah babak teater singkat yang lewat begitu saja.
Namun, di sudut kuil tua tempat keributan tadi terjadi, waktu seolah berhenti bagi keluarga Lin.
Lin Wanru duduk bersandar lemas pada dinding batu kuil yang dingin. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, dan mencoba mengatur napasnya yang masih tersengal-sengal.
Setiap kali ia menggerakkan tubuhnya, rasa sakit yang teramat sangat langsung menjalar dari punggung hingga ke tulang belikatnya, bekas hantaman keras dari tangan kasar Lin Dehai di atas tanah berbatu pasar.
Sudut bibirnya masih menyisakan noda darah kering, dan kulit wajahnya terasa berdenyut-denyut nyeri akibat lebam keunguan.
Meskipun sekujur tubuhnya berteriak kesakitan, di dalam lubuk hatinya, Wanru justru merapal rasa syukur yang mendalam.
"Tuhan... atau semesta mana pun yang membawaku ke dunia ini," batin Wanru menghela napas panjang dalam keheningan batinnya. "Kami selamat. Utang lunas berkat kantong perak bangsawan misterius itu, dan ancaman rumah bordil berhasil dipatahkan. Kebebasan ini... dibayar dengan harga yang setimpal."
Nyonya Lin masih terduduk bersimpuh di sampingnya, dengan lembut memegangi tangan putrinya yang terasa dingin. Wanita paruh baya itu menghapus sisa-sisa air mata di pipinya menggunakan ujung lengan bajunya yang robek, seraya menatap Wanru dengan pandangan penuh rasa bersyukur bercampur iba yang teramat sangat.
"Wan-er... apa punggungmu masih sangat sakit, Nak?" bisik Nyonya Lin, suaranya bergetar hebat. "Ibu merasa sangat tidak berguna... Biar Ibu lihat lukanya..."
Wanru membuka matanya, lalu menatap sang ibu dengan senyuman tipis yang menenangkan, meski wajah pucatnya menunjukkan ia sedang menahan rasa sakit yang luar biasa. "Ibu, aku tidak apa-apa. Ini hanya luka luar. Yang penting, kita berdua masih bernapas dan berdiri di tempat ini sebagai orang bebas."
Di saat kelegaan itu baru saja meresap ke dalam dada mereka, isakan tertahan kembali membuyarkan keheningan.
Lin Bao yang sejak tadi mendekap erat ujung baju ibunya dengan mata sembab, menatap ke arah jalan besar yang mengarah kembali ke Desa Hutan Batu.
Bocah delapan tahun itu teringat akan pemandangan mengerikan pagi tadi, di mana paman mereka bersama para preman beringas mengobrak-abrik tempat tinggal mereka tanpa ampun.
Lin Bao mendongak, menatap Nyonya Lin dan kakaknya dengan bibir bergetar hebat. Air matanya pun kembali tumpah membasahi pipi comel anak itu.
"Ibu... Kakak..." cicit Lin Bao dengan suara tersengal-sengal penuh kepedihan. "Rumah kita... gubuk kita sudah dihancurkan oleh Paman Dehai dan orang-orang jahat itu... Tempat tidurku, kendi air kita, semuanya sudah hancur berkeping-keping..."
Bocah kecil itu menenggelamkan wajahnya di lutut ibunya, menangis histeris sambil mengajukan pertanyaan yang membuat hati siapa pun yang mendengarnya merasa teriris-iris.
"Kalau rumah kita sudah hancur... kita mau pulang ke mana, Ibu...?"
Pertanyaan polos nan memilukan itu bagaikan hantaman palu berat yang menghantam dada Nyonya Lin. Wanita paruh baya itu terperanjat seolah kehabisan kata-kata. Ia memeluk tubuh mungil putranya erat-erat, sementara air matanya kembali tumpah membasahi rambut Lin Bao.
Ya. Mereka memang terbebas dari utang dan ancaman rumah bordil. Namun, kemenangan itu datang bersamaan dengan hilangnya satu-satunya tempat berlindung fisik yang mereka miliki di dunia ini.
Gubuk reyot beratap jerami di ujung Desa Hutan Batu kini tidak lebih dari sekadar tumpukan kayu lapuk dan reruntuhan debu.
Mendengar ratapan adiknya dan melihat kebisuan ibunya, Lin Wanru memaksa otaknya yang masih dilanda kelelahan fisik untuk segera bangkit bekerja.
Sebagai seorang eksekutif korporasi yang terbiasa memimpin penanganan krisis di tengah situasi paling buruk sekalipun, Wanru tahu persis bahwa meratapi keadaan tidak akan pernah menyelesaikan masalah.
"Gubuk satu-satunya hancur rata dengan tanah," batin Wanru merumuskan data situasi dengan cepat dan dingin di dalam kepalanya. "Matahari sudah mulai condong ke barat. Dalam waktu beberapa jam lagi, malam akan tiba, membawa suhu dingin pegunungan yang menusuk tulang. Jika kami tidak segera merencanakan tempat berteduh, ibu dan Bao-er bisa terkena hipotermia di ruang terbuka."
"Aku harus berpikir cepat... Aku harus mencari cara agar kami tidak harus tidur beratap langit malam ini," tekad Wanru bulat.
Ia menarik napas dalam-dalam, sembari menahan rasa sakit di punggungnya, lalu merangkak perlahan untuk berdiri tegak. Dengan menggunakan sisa uang kepingan tembaga hasil penjualan herbal di pasar tadi, yang masih tersimpan aman, ia mulai melakukan kalkulasi aset.
"Uang tunai kita saat ini lebih dari cukup," pikir Wanru menganalisis aspek finansial. "Tapi di Desa Hutan Batu, uang saja tidak cukup untuk langsung membangun atau membeli rumah baru dalam hitungan jam. Penduduk desa membenci kami, dan tidak ada satupun tetangga yang akan mau menyewakan kamar atau membantu kami mendirikan bangunan dalam waktu semalam."
Lalu, ke mana mereka harus pulang? Dan bagaimana bentuk tempat tinggal darurat yang harus ia siapkan sebelum malam datang?
**
Wanru melangkah mendekati ibu dan adiknya. Ia berlutut di hadapan Lin Bao, lalu dengan lembut menghapus air mata di pipi bocah itu menggunakan ibu jarinya.
"Bao-er, dengar kan Kakak," ucap Wanru dengan suara yang tenang, tegas, dan sarat akan keyakinan.
Lin Bao pun mendongak dan menatap mata kakaknya yang jernih dan berbinar. "Kakak... kita mau tidur di mana nanti malam? Apakah kita akan tidur di jalanan seperti pengemis?"
Wanru menggelengkan kepalanya perlahan, lalu tersenyum hangat. "Tidak, Bao-er. Kita tidak akan tidur di jalanan. Kakak berjanji, malam ini kita akan tetap punya tempat untuk tidur beristirahat dengan aman."
Nyonya Lin mendongak, menatap putrinya dengan kening yang berkerut cemas. "Wan-er, apa maksudmu, Nak? Gubuk kita sudah hancur total. Semua kayu dan dindingnya dirobohkan. Kalaupun kita kembali ke sana, kita hanya akan mendapati reruntuhan kosong. Di mana kita bisa berteduh malam ini?"
Wanru bangkit berdiri sepenuhnya, menegakkan tubuhnya meski sedikit meringis menahan nyeri di punggung. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling Pasar Sungai Besi yang mulai sepi, lalu mengarahkan pandangannya ke arah jalur pegunungan menuju Desa Hutan Batu.
"Ibu, kita memang tidak bisa langsung membangun kembali gubuk itu dalam semalam," kata Wanru menjelaskan hasil analisis strategisnya dengan nada lugas. "Tapi bukan berarti kita tidak punya pilihan lain."
Ia menoleh dan menatap ibunya lekat-lekat. "Pertama, kita tidak akan langsung pulang ke reruntuhan gubuk itu dalam keadaan kosong. Kita akan mampir ke toko bahan bangunan dan peralatan tukang di ujung pasar ini."
Nyonya Lin terperanjat. "Membeli bahan bangunan? Untuk apa, Wan-er? Kita tidak tahu cara bertukang!"
"Tenang, Ibu. Kita tidak akan membangun rumah mewah," jawab Wanru tenang sambil mengeluarkan beberapa keping uang tembaga dari kantongnya. "Kita hanya akan membeli beberapa lembar terpal tebal, tali tambang yang kuat, paku, dan beberapa bilah kayu ringan. Setelah itu, kita akan pulang ke lokasi gubuk kita."
Melihat kebingungan di wajah ibunya, Wanru melanjutkan pemaparannya dengan gaya seorang arsitek lapangan yang berpengalaman.
"Di atas reruntuhan gubuk itu, pasti masih ada kerangka tiang utama yang utuh atau sisa dinding batu fondasi yang kokoh," lanjut Wanru merinci rencananya. "Kita bisa memanfaatkan struktur yang tersisa itu, lalu memasang terpal tebal dan tali tambang untuk merakit sebuah tenda darurat semi-permanen yang tahan angin dan kedap air."
Wanru tersenyum tipis lalu melanjutkan. "Cara ini jauh lebih cepat, sangat efisien, dan dalam waktu kurang dari dua jam kerja, kita sudah memiliki tempat berteduh yang aman untuk malam ini. Besok, baru kita pikirkan cara untuk merenovasi ulang gubuk itu secara permanen menggunakan uang yang kita miliki."
Mendengar penjelasan yang terstruktur, logis, dan penuh keyakinan itu, Nyonya Lin terpaku seribu bahasa. Ia tidak menyangka putrinya yang baru berusia delapan belas tahun, yang sebelumnya dikenal sebagai gadis desa pemalu, kini mampu berpikir selayaknya seorang insinyur dan kepala keluarga yang handal dalam situasi krisis.
"Wan-er... kau benar-benar telah berubah banyak," bisik Nyonya Lin penuh takjub dan rasa haru yang mendalam. "Kamu adalah penyelamat keluarga kita."
"Kita saling menyelamatkan, Ibu," balas Wanru sambil merangkul pundak ibunya dan menggandeng tangan kecil Lin Bao. "Sekarang, mari kita selesaikan urusan belanja di pasar ini, lalu kita pulang untuk membangun rumah baru kita."
Bersambung...
😄😄😄😄😄🤣😄😄