Dia pernah berdiri di atas segalanya. Pedang, alkimia, formasi, hukum Dao, semuanya sudah ia kuasai. Tapi ada satu dinding yang tidak pernah bisa ia tembus: puncak sejati.
Maka Yu Tian melakukan hal yang dianggap gila. Ia menghancurkan tubuhnya sendiri, membuang seluruh harta dan kekuatannya, lalu bangkit dari titik nol dengan tubuh baru dan ranah paling rendah.
Pengetahuannya utuh. Kekuatannya tidak. Dan untuk pertama kalinya setelah zaman yang tak terhitung, ia tersenyum karena akhirnya ada sesuatu yang belum ia miliki.
Ia masuk sekte sebagai murid biasa, tapi ia tidak pandai merendah. Ia tidak sudi tunduk pada gelar, usia, atau kedudukan. Ia hanya menghormati kemampuan. Tapi dunia ini tidak peduli siapa dirinya dulu. Lawan yang lebih tinggi ranahnya tetap bisa membunuhnya, dan pengetahuan seluas apa pun tidak bisa menggantikan fondasi yang belum dibangun.
Setiap kemenangan menuntut bayaran. Setiap rahasia yang terbuka membawa pertanyaan yang lebih besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xi Nda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Pohon pinus itu sudah ia lewati untuk keempat kalinya. Yu Tian tahu karena bekas telapak sandalnya masih tercetak di kaki batang, dan ranting patah yang ia lempar tadi pagi masih tergeletak di tanah tempat ia membuangnya.
Ia berdiri di persimpangan jalan setapak yang bercabang tiga, dengan kantong kain berisi sisa inti monster terikat di pinggang dan perut yang sudah berbunyi sejak fajar.
'Aku pernah menghitung bintang sampai ke tepi alam semesta. Tiga jalan setapak seharusnya bukan masalah.' Ia memungut sebuah kerikil, melemparnya ke atas, lalu menangkapnya tanpa melihat. Kerikil itu menunjuk ke jalan tengah, dan ia mengikutinya dengan percaya diri yang tidak tergoyahkan, hanya untuk kembali ke pohon pinus yang sama satu jam kemudian.
Kembali ke desa untuk bertanya arah pada Kakek Lao adalah pilihan yang paling masuk akal. Yu Tian lebih memilih makan kerikil tadi daripada mengakuinya. Ia menyandarkan punggung ke batang pinus, menyilangkan lengan, dan memandang langit sore dengan wajah orang yang sedang menunggu jalan datang sendiri kepadanya.
Sesuatu melintas di atas kepalanya, begitu cepat sampai angin dingin mengusap rambutnya. Sebuah bayangan ramping meluncur di bawah awan, diikuti kilau dingin yang menyayat langit seperti goresan es.
Yu Tian menegakkan badan dan menaungi mata dengan telapak tangan. Seorang pria berjubah putih kebiruan berdiri tegak di atas sebilah pedang panjang, ujung lengan bajunya berkibar, dan burung-burung di pucuk pinus beterbangan dengan jeritan terkejut saat ia lewat.
"Terbang dengan pedang." Yu Tian bergumam sendirian, dan sudut bibirnya naik pelan. 'Berarti ada sekte yang muridnya sudah bisa melakukan itu, dan berarti ada tempat yang bisa kutuju. Keberuntungan memang suka menemukan orang yang tidak mencarinya.'
Ia langsung berlari, bahkan sebelum pikirannya selesai menyusun alasan. Pedang itu bergerak lebih cepat daripada kakinya, tetapi ia tidak kehilangan arah karena kilau dingin di belakangnya masih menggantung di udara seperti jejak embun.
Yu Tian melompati parit, menerobos semak berduri, dan memanjat punggung tebing dengan jari-jari yang meninggalkan bekas darah di batu. Paru-parunya terbakar dan betisnya gemetar. Tubuh sucinya menolak menyerah, dan itu satu-satunya alasan ia masih berdiri ketika hari berganti senja.
Di puncak bukit terakhir, ia berhenti dengan napas tersengal. Di seberang lembah berkabut, deretan aula putih bertingkat-tingkat menempel di lereng gunung, atapnya melengkung seperti sayap burung, dan awan biru pucat melingkar di antara menara-menaranya. Di kaki lereng, sebuah gerbang batu setinggi tiga tombak berdiri dengan huruf-huruf besar terukir di papan di atasnya: Sekte Awan Azure.
...------...
Jalan menuju gerbang itu penuh orang. Ratusan pemuda dan pemudi berdesakan di sepanjang anak tangga batu, sebagian berpakaian kain kasar dengan bungkusan di punggung, sebagian lagi berjubah sutra dengan pelayan yang membawa kotak kayu di belakang mereka. Bau keringat, minyak rambut, dan kulit sepatu baru bercampur dengan wangi dupa yang mengambang dari balik gerbang.
Di depan gerbang, seorang murid berjubah biru berdiri dengan tangan di belakang punggung, wajahnya kaku seperti papan. Ia menunjuk lambang awan yang terpahat di tiang gerbang dengan dagunya. "Semua calon murid wajib membungkuk pada lambang sekte sebelum masuk. Yang tidak membungkuk, silakan pulang."
Satu per satu orang di depan Yu Tian menangkupkan tangan dan membungkuk dengan hormat, sebagian bahkan sampai dahinya hampir menyentuh lutut. Yu Tian berjalan melewati lambang itu tanpa menurunkan kepala, dan dua pemuda di belakangnya sampai berhenti melangkah karena kaget.
"Hei, kau." Murid penjaga itu menahan lengannya, alisnya menyatu. "Apa kau tuli? Membungkuk."
Yu Tian menunduk menatap tangan yang mencengkeram lengan bajunya, lalu menatap mata si murid dengan tenang. "Aku datang untuk melamar, bukan menyembah. Kalau sekte ini hanya menerima orang yang pandai menekuk punggung, kau sebaiknya mencari yang lain."
Wajah si murid menegang. Mulutnya terbuka hendak membalas, tetapi seorang murid lain di sampingnya menyikut rusuknya sambil melirik ke antrean yang mulai berbisik-bisik. Cengkeramannya mengendur, dan Yu Tian meneruskan langkah sambil merapikan lengan bajunya dengan satu kibasan malas.
Di lapangan batu di balik gerbang, barisan panjang mengular menuju sebuah meja kayu tempat seorang murid sedang mencatat nama di bilah bambu.
Seorang bocah gemuk berjubah sutra di depan Yu Tian sedang berceloteh pada temannya dengan suara yang cukup keras untuk didengar separuh lapangan. "Pamanku bilang tahun ini tiga ratus orang mendaftar, dan hanya sepuluh yang diterima. Tapi pamanku kenal seorang tetua, jadi aku pasti masuk."
Yu Tian mendengarnya sambil mengusap debu dari bahu.
'Tiga ratus orang berebut sepuluh kursi. Dan aku, yang pernah menghancurkan bintang, mengantre di belakang bocah yang bangga karena pamannya.' Ia hampir tertawa, tetapi menahannya karena perutnya lebih dulu berbunyi.
Giliran tiba. Murid di balik meja itu mengangkat kuas tanpa mendongak. "Nama?"
"Yu Tian." Ia menyandarkan siku ke tepi meja. "Dan jangan bertanya aku dari mana. Jawabanku akan membuatmu sakit kepala."
Kuas itu berhenti sebentar, lalu bergerak lagi tanpa komentar. Murid itu menyodorkan sebilah bambu bertuliskan angka dua ratus empat belas. "Besok pagi, pemeriksaan dimulai. Tetua Shen yang akan menguji kalian satu per satu. Jangan terlambat."
Yu Tian menerima bilah bambu itu dan memutarnya di antara jari.
'Nomor dua ratus empat belas. Murid biasa.' Ia mendongak ke aula-aula putih yang kini diselimuti cahaya senja, dan senyum tipis mengembang di wajahnya yang berdebu. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia berdiri di barisan paling bawah, dan ia ingin melihat seberapa jauh ia bisa naik.