NovelToon NovelToon
Penguasa Danau Keabadian

Penguasa Danau Keabadian

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kebangkitan pecundang / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: LanzT0k3

Di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, Wang Dahu hanyalah seorang pecundang—pemuda bertubuh gemuk yang tak mampu berkultivasi, dihina orang lain, bahkan dipermalukan oleh wanita yang dicintainya.

Ketika semua harapannya hancur, ia mendatangi Danau Pengabul Keinginan, tempat terlarang yang konon menyimpan rahasia mengerikan. Di sana, ia membuat perjanjian dengan iblis kuno demi memperoleh kekuatan.

Namun, sesuatu yang mustahil terjadi.

Alih-alih kehilangan tubuh dan jiwanya, Wang Dahu justru menyerap kekuatan sang iblis!

Kini, rahasia yang terkubur selama ribuan tahun mulai terbangun. Seorang lelaki yang dahulu diinjak-injak perlahan melangkah menuju puncak dunia kultivasi.

Tetapi, jika iblis kuno pun ketakutan terhadap tubuhnya, sebenarnya siapa Wang Dahu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 — Meridian Pertama Terbuka

​Fajar baru menyentuh atap-atap rumah di Desa Cangmu ketika Wang Dahu sudah duduk bersila di halaman belakang rumahnya.

​Embun pagi masih membasahi tanah pekarangan. Udaranya terasa dingin menggigit, tetapi pikiran Dahu jauh lebih jernih dan tenang dari hari-hari sebelumnya.

​Sejak semalam, ia terus mengevaluasi sensasi unik yang ia rasakan saat berlatih teknik pernapasan dasar. Ia tahu ia tidak boleh mengandalkan kebetulan semata. Jika ingin melangkah lebih jauh, ia harus paham betul bagaimana pola sensasi itu terbentuk dan cara memanggilnya kembali.

​Dahu menutup matanya perlahan.

​Tarik napas dalam.

​Hembuskan teratur.

​Ia mengosongkan pikirannya dari segala beban, membiarkan aliran udara mengalir tanpa sedikit pun paksaan.

​Beberapa saat kemudian, sensasi hangat yang familier itu kembali menyapa ujung-ujung jemarinya. Kali ini ia tidak bernafsu mengejarnya. Ia bersikap sabar, mengamati kapan titik-titik itu menipis dan kapan mereka menebal.

​Setelah mencoba beberapa kali penyesuaian ritme, ia menemukan titik temu yang pas.

​Satu tarikan napas.

​Dua tarikan napas.

​Lalu, titik-titik energi halus di sekelilingnya mulai tertarik mendekat, seolah mengenali jalurnya.

​“Bagus. Sekarang jangan gegabah menyerapnya,” suara si iblis mendadak bergema di benaknya.

​Dahu sedikit terkejut. “Tumben sekali kau mau memberi tahu?”

​“Aku hanya tidak ingin melihat tubuh ini hancur karena kebodohanmu yang terlalu bersemangat. Rasakan energinya, tapi jangan biarkan ia merangsek ke jalur yang belum siap kau buka.”

​Dahu mengangguk kecil dalam hati, mengikuti arahan tersebut dengan disiplin.

​Perlahan-lahan, setitik energi spiritual yang murni menyusup masuk melewati pori-pori kulitnya.

​Sensasinya begitu halus, nyaris tak berasa. Namun kali ini beda. Ia tidak sekadar mendeteksi keberadaan energi di luar tubuh—ia benar-benar menyadari bahwa unsur asing itu telah resmi bersarang di dalam raganya.

​Dahu menahan debar antusias di dadanya.

​Ia memandu aliran energi itu dengan penuh kehati-hatian.

​Inti energi spiritual tersebut bergerak meluncur turun, menelusuri lorong-lorong sunyi di dalam tubuhnya. Namun ketika hendak mencapai satu titik pusat dada, jalurnya mendadak tersumbat rapat.

​JLEB!

​Rasa sakit yang tajam menusuk ulu hatinya secara mendadak.

​“Berhenti!” seru si iblis panik.

​Namun terlambat. Energi spiritual yang membentur dinding jalur tertutup itu bergejolak hebat, bereaksi secara reaktif dengan raga Dahu.

​KRAK!

​Suara retakan bagaikan kaca pecah bergema di ruang kesadarannya.

​Seluruh otot Dahu serta-merta menegang kaku. Gelombang rasa sakit menjalar liar dari dada menuju tulang punggung, lalu menyengat ke seluruh persendian. Keringat dingin seketika membasahi sekujur wajahnya.

​Ia nyaris kehilangan fokus.

​“Jangan melawan dengan membabi buta!” bentak si iblis galak. “Kendalikan napasmu! Kalau kau panik sekarang, kau hanya akan membuat pembuluh darahmu meledak!”

​Dahu menggertakkan giginya rapat-rapat hingga berderak.

​Ia langsung menyelaraskan kembali irama pernapasannya sesuai teori yang dihafalnya. Meski rasa sakitnya masih mendera hebat, ia memaksa kesadarannya tetap tenang di atas badai rasa sakit.

​Benturan energi yang semula macet perlahan-lahan mulai melunak.

​Jalur yang tadinya buntu itu mulai didesak dari dalam, terbuka sedikit demi sedikit.

​Di dalam kerangka tubuhnya, sebuah jalur meridian yang selama belasan tahun tertutup rapat kini mendadak berdenyut menyambut kehidupan. Aliran energi spiritual menerobos masuk, menyebarkan kehangatan yang menjalar ke sekujur tubuhnya.

​Dan detik berikutnya—

​DARRR!

​Denyut gelombang kejut yang kuat bergetar di dalam rongga dada Wang Dahu.

​Ia tersentak membuka mata, terengah-engah menghirup udara sebanyak-banyaknya.

​Di balik kulitnya, aliran energi yang tadinya mati kini meninggalkan jejak kehangatan yang tipis. Kendati belum stabil sepenuhnya, ia tahu ada perubahan mendasar yang baru saja terjadi.

​“Meridian...” bisiknya takjub.

​Si iblis di dalam kepalanya tidak langsung menimpali.

​Di dalam dimensi gerbang bersegel, makhluk kuno itu berdiri mematung. Sepasang mata merahnya menatap tajam ke arah rantai-rantai hitam yang melingkar di sekeliling ruang batin.

​Ia merasakan ada fluktuasi asing pada raga Dahu.

​Meridian pertama telah jebol.

​Namun, ada satu detail janggal yang membuatnya merasa tidak nyaman. Aliran energi yang baru saja mendobrak tubuh Dahu itu tidak mengikuti pola jalur kultivasi standar yang ia kenal selama ribuan tahun. Ia mencoba menyelidiki lebih dalam, namun tekanan misterius langsung menepis persepsinya.

​Yang bisa dipastikannya saat ini hanyalah satu: Wang Dahu benar-benar telah membuka meridian pertamanya.

​Selebihnya tetap menjadi misteri yang pekat.

​“Bocah,” ucap si iblis akhirnya dengan nada datar, “kau benar-benar berhasil.”

​Dahu tersenyum letih, menyeka keringat di dahinya. “Nada bicaramu terdengar seperti orang yang tidak percaya.”

​“Jangan cepat besar kepala! Membuka meridian pertama hanyalah garis Start paling bawah. Di luar sana, jutaan orang bisa melakukannya dengan mudah. Kau masih sangat lemah!”

​“Aku tahu.”

​Jawaban singkat itu membuat si iblis kembali terdiam sesaat.

​Dahu bangkit berdiri perlahan. Tubuhnya kini terasa jauh lebih ringan, dan panca inderanya terasa lebih tajam dari sebelumnya. Meski belum tahu seberapa besar lonjakan tenaga tempurnya, ia bisa merasakan perubahan fisik yang nyata.

​Ia tidak lagi meraba-raba dalam gelap.

​Ia telah resmi melangkahkan kaki ke jalan kultivasi.

​Usai beristirahat sejenak dan memulihkan tenaga, Dahu mengambil buku catatan usang di kamarnya. Ia mulai menuliskan seluruh detail pengalamannya barusan.

​Ia merinci ritme pernapasannya, titik persis di mana rasa sakit itu muncul, bagaimana energi itu mendobrak, hingga sensasi hangat setelah meridian terbuka.

​Berkat daya ingat sempurnanya, ia mampu merekonstruksi kejadian itu tanpa ada yang terlewat. Catatan ini akan menjadi panduan berharga untuk latihan-latihan berikutnya.

​“Untuk ukuran pemula yang baru menjebol satu meridian, ketelitianmu lumayan juga,” komentar si iblis.

​“Kalau tidak dicatat, aku bisa ceroboh mengulangi kesalahan yang sama di tahap berikutnya.”

​“Baguslah kalau kau sadar pentingnya evaluasi.”

​Dahu kemudian menutup buku catatannya dan beralih membuka literatur tentang tanaman obat yang kemarin ia pinjam. Ia teringat bahwa beberapa jenis herbal tertentu sangat mujarab untuk mempercepat pemulihan otot dan menstabilkan meridian baru, meski salah pengolahannya bisa berakibat fatal.

​Masalahnya, ia tidak punya kepingan batu spiritual atau uang untuk membeli pil mahal di pasaran. Jika ingin sumber daya, ia harus mencarinya sendiri.

​Tepat saat ia berpikir demikian, telinganya menangkap percakapan dua orang warga yang melintas di jalan depan rumahnya.

​“Eh, kau tahu? Orang-orang dari Balai Obat sedang merekrut tenaga pengumpul herbal untuk ekspedisi ke Perbukitan Batu Merah,” seru salah seorang warga. “Bayarannya tiga kali lipat dari upah buruh biasa!”

​“Sebesar itu? Pasti ada udang di balik batu. Bukankah tempat itu berbahaya?”

​“Betul. Katanya mereka memburu tanaman langka yang tumbuhnya persis di dekat teritori sarang binatang buas.”

​Langkah Dahu yang hendak keluar kamar mendadak terhenti.

​Perbukitan Batu Merah terletak di wilayah pinggiran Desa Cangmu. Ia tahu betul tempat itu menyimpan banyak herbal bernilai tinggi, tetapi separuh kawasannya dipenuhi monster liar yang mematikan bagi orang biasa.

​Bayaran besar berarti peluang emas untuk mendapatkan modal latihan.

​Namun Dahu bukan tipe orang yang bertindak bodoh tanpa perhitungan matang.

​Ia mulai mengumpulkan informasi secara diam-diam: jenis tanaman apa yang sedang diincar, rute mana yang akan ditempuh, dan siapa penanggung jawab rombongan tersebut.

​Sebagian besar warga hanya tahu berita samar-samar. Namun dari kepingan informasi itu, Dahu menyimpulkan satu hal: misi itu bukan sekadar memetik rumput liar di pinggir jalan.

​Balai Obat berani membayar mahal karena tidak ada warga waras yang mau bertaruh nyawa di pedalaman bukit tersebut tanpa persiapan.

​Dahu mengusap dagunya berpikir.

​“Kupikir kau sedang merencanakan kebodohan lagi,” sindir si iblis.

​“Aku sedang menimbang apakah upahnya sepadan dengan risiko di lapangan.”

​“Jangan lupa, meridianmu baru terbuka satu. Di hadapan binatang buas tahap penempaan tubuh, kau itu hanya sepotong daging empuk.”

​“Aku tidak berniat adu jotos dengan monster. Aku hanya akan mempelajari rute, mengenali ciri tanaman incarannya, dan mengambil bagianku secara cermat.”

​Si iblis mendengus. “Setidaknya otakmu masih dipakai berpikir sebelum bertindak.”

​Dahu mengabaikan ejekan itu. Ia belum memutuskan untuk bergabung, tapi untuk pertama kalinya, ia memiliki target hidup yang jelas: ia butuh sumber daya, dan ia siap menggunakan seluruh pengetahuan serta strategi untuk mendapatkannya.

​Malam kembali merayap.

​Dahu kembali bersila di atas ranjang kayunya di kamar. Kali ini ia tidak berniat memaksakan diri membuka meridian kedua. Tubuhnya masih butuh masa penyesuaian agar tidak kaget dengan aliran energi baru.

​Ia hanya mengulang latihan pernapasan ringan, meresapi aliran tipis di dalam tubuhnya tanpa ambisi berlebih.

​Namun di tengah latihan itu, sebuah keanehan kembali terjadi di dalam alam kesadarannya.

​Jauh di balik gerbang kuno tempat si iblis dikurung, sebuah rune atau simbol keemasan mendadak menyala terang untuk sepersekian detik.

​Cahayanya amat singkat, namun cukup kuat untuk membuat seluruh rantai besi hitam di sekitarnya bergetar keras.

​Si iblis tersentak kaget, sontak mendongak.

​“Apa itu lagi?!”

​Ia mencoba menerobos dinding pembatas untuk memeriksa simbol tersebut, tapi hambatan misterius kembali menepis kesadarannya secara paksa.

​Ia masih tak mampu memastikan apakah fenomena itu dipicu oleh terbukanya meridian Dahu, atau ada mekanisme lain yang bekerja di luar nalar.

​Namun satu hal mulai terasa nyata: raga pemuda di hadapannya ini menyimpan raksasa rahasia yang bahkan berada di luar jangkauan pemahaman seorang iblis kuno.

​“Wang Dahu,” panggil si iblis dengan nada serius yang tak biasa.

​“Ada apa lagi?”

​“Besok, jangan bertindak di luar batas. Meridian pertamamu masih sangat rentan. Jangan mengira kau sudah kebal hanya karena berhasil melewati satu rintangan.”

​Dahu membuka matanya, menatap langit-langit kamarnya yang retak.

​“Akan kupertimbangkan.”

​“Pertimbangkan yang benar, sialan!”

​Dahu memejamkan matanya rapat-rapat, menyunggingkan senyum tipis penuh keyakinan.

​Untuk pertama kalinya, si iblis terdengar jauh lebih cemas ketimbang marah.

​Dan di luar batas Desa Cangmu, jauh di dalam lebatnya vegetasi Perbukitan Batu Merah, sepasang mata buas berwarna kuning menyala tajam di tengah kegelapan malam.

​Tak jauh dari sosok itu, sehelai tanaman dengan tiga daun merah menyala memancarkan pendar cahaya tipis di atas tanah lembap.

​Itu adalah salah satu target utama yang sedang diburu oleh Balai Obat.

1
Muhamad U Fadillah Udwm
lqnjuttt
Muhamad U Fadillah Udwm: jangan sampe tengah jalan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!