Setiap pagi, Laras melayani pelanggan pertamanya di kedai kecil itu: seorang pria bermata biru yang selalu memanggilnya "Cantik". Hanya itu. Karena di rumah, ayah dan kakaknya memperlakukannya seperti sampah, dan lelaki setampan itu tak akan pernah melirik gadis gemuk sepertinya.
Yang tidak Laras tahu, pria itu adalah Satria Kusuma, Don 'Ndrangheta, bos mafia yang ditakuti, dan ia punya waktu enam bulan untuk menikah atau kehilangan takhtanya. Satu malam, setelah melihat sendiri bagaimana Laras diperlakukan, Satria mendatangi rumahnya dan menawarkan kesepakatan yang tak bisa ditolak ayah Laras: utang dilunasi, dan Laras menjadi istrinya.
Laras mengira ajalnya sudah dekat. Ia punya rahasia yang menurut hukum mafia pantas dibayar nyawa. Tapi pria yang ia takuti justru menyediakan sofa, selimut, dan kesabaran tanpa batas, dan perlahan menunjukkan padanya bahwa ia boleh hidup, boleh dicintai, bahkan boleh menjadi kuat.
Sementara itu, di balik pesta dan perjodohan, keluarga Kusuma menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan semuanya. Dan Bianca, adik Satria yang tajam lidahnya, sedang bermain api dengan satu-satunya lelaki yang tak boleh ia sentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lenardt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Satria Kusuma
Aku turun untuk makan malam dan kulihat Laras sudah duduk di meja bersama orang tuaku. Wajah ayahku masih tegang, tapi dia tampak menyukai Laras, dan aku sangat mengerti, Laras pemalu, manis, canggung, tapi sekaligus memikat orang-orang di sekitarnya.
"Adikku mana?" Ayahku kelihatan makin marah begitu mendengar pertanyaanku.
"Sejak kamu kasih dia lebih banyak kebebasan, dia merasa boleh melakukan apa saja. Nggak pulang, seharian di luar. Semoga kamu tahu apa yang kamu lakukan."
"Bianca akan menikah dan menaati kontrak yang Papa paksakan padanya, tapi sampai saat itu, aku mau adikku hidup, hidup lebih dari yang dipaksakan padanya."
"Sudah cukup, kalian berdua. Makan yang tenang. Nanti Laras mikir apa? Keluarga kita ini keluarga barbar?" kata ibuku.
Aku ingin pergi, ingin mencari Bianca, tapi aku tidak akan melakukan itu pada Laras, tidak akan meninggalkannya sendirian di meja bersama keluargaku. Jadi aku duduk diam dan kami makan dalam diam.
Kami tidak begini dulu. Kami keluarga yang kompak, penuh kasih, tapi semuanya berubah sejak kontrak itu diterima, dan dengan itu masa depan adikku diputuskan untuknya. Aku tidak setuju, ibuku tidak setuju, Bianca mengamuk begitu tahu, dan Rendra, Rendra jadi berubah, meski dia tidak bilang apa-apa, aku tahu dia juga tidak setuju dengan keputusan ayahku. Nenek seperti biasa tidak ikut campur, karena kalau menyangkut hal-hal begini, dia dibesarkan untuk tidak pernah menyuarakan pendapatnya, jadi dia memilih diam.
Kami semua tampaknya membenci gagasan itu, tapi ayahku tidak peduli, tidak peduli pada siapa pun dari kami. Dia begitu saja memutuskan menyerahkan adikku kepada orang gila demi kekuasaan dan uang yang lebih banyak.
Kami selesai makan malam, dan dalam hati aku bersyukur Laras tidak mau makanan penutup dan sudah pamit. Aku beranjak dari meja bersamanya dan berpamitan, menjelaskan bahwa aku akan mencari adikku.
Laras pergi ke kamar tanpa bilang apa-apa, dan sebagian diriku tidak mau meninggalkannya di sana, tapi harus, aku perlu tahu ke mana perginya si gila Bianca itu.
Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Kutelepon sekali, dua kali, tiga kali, dan dia tak mengangkat. Kuakui kecemasan mulai menguasaiku. Lalu aku memutuskan pergi ke satu-satunya tempat yang kutahu ada orang yang mau mendengarkanku.
Aku sampai di apartemen Rendra sekitar dua puluh menit kemudian, dan seperti biasa aku langsung diizinkan masuk, karena sejak Rendra pindah dia sudah menegaskan bahwa aku harus selalu diizinkan masuk.
Aku masuk lift dan naik ke lantai lima belas. Setelah berjalan sebentar di koridor, di sanalah apartemennya. Kupencet bel dan menunggu. Aku ingin langsung masuk, tapi juga tak mau lancang, bisa jadi dia sedang bersama cewek. Lagi pula, aku yakin dia pindah karena seorang perempuan.
Setelah beberapa lama, sampai aku terpikir jangan-jangan penjaga lobi salah dan dia tidak ada di rumah, akhirnya dia membuka pintu. Rambut dan bajunya kusut, jelas dia habis tidur.
"Tidur jam segini, Bro?" tanyaku sambil melewatinya dan masuk. "Dan dari berantakannya, tidurnya nggak sendirian."
Wajahnya pucat, dia kelihatan kehilangan warna dan lidahnya juga, karena dia tidak bicara apa-apa.
"Kenapa, lidah lo digondol kucing?"
"Cuma... gue nggak nyangka lo bakal dateng, tolol."
"Gue ke sini nyari adik gue."
"Maksud lo? Lo nyari adik lo di sini?" Dia jelas gugup, dan itu terasa sangat aneh bagiku.
"Tenang, kenapa lo setegang itu? Gue ke sini cuma karena kalian berdua ikut satu misi, jadi gue kira lo tahu dia di mana."
"Gue kirim dia ke misi lain."
"Apa? Tanpa nanya gue?"
"Gue mau bilang, tapi hari ini sibuk banget."
"Kelihatan banget sesibuk apa 'sibuk' lo." Aku membuat tanda kutip dengan jari. "Tapi bilang, misi apa yang lo kasih ke Bianca?"
"Lukman. Dia beli senjata dalam jumlah besar dan sekarang nunggak. Gue kira Bianca orang yang pas buat nagih utang itu."
"Berisiko, tapi strategi bagus. Lukman nggak akan segila itu nyentuh adik gue, dan Bianca nggak bakal ngasih dia kesempatan sok, malah bisa bikin dia nunduk. Nah, gue suka. Tapi hati-hati, pastiin dia baik-baik aja, dan kabarin gue begitu ada tanda masalah, ngerti?"
"Serahin ke gue, Bro."
"Gue cabut dulu, biar lo nerusin hari sibuk lo," kataku dengan nada menggoda. "Besok gue mau lo ke rumah, biar dikenalin resmi ke tunangan gue."
"Tunangan? Kabar apa lagi ini?"
"Lo bakal tahu kalau lo angkat telepon gue. Tapi nanti gue ceritain semuanya, lo tahu sendiri, tembok bisa punya telinga," kataku, karena kusadari dia tidak sendirian, ada seseorang di kamarnya, dan siapa pun itu, Rendra tidak mau aku tahu dengan siapa dia lagi main.
* * *