NovelToon NovelToon
Dark Chocolate

Dark Chocolate

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Perjodohan / Romantis / Cintamanis / Patahhati
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Chayahuda

Cinta yang tulus terkadang harus rela melepaskan, meski hati tak pernah benar- benar siap.
Tiga tahun menjalani pernikahan, Elma akhirnya menyadari jika Maxime tidak pernah tulus mencintainya. Perjodohan dua keluarga itu nyatanya harus hancur karena bedanya prinsip, kerasnya ego dan kesalahpahaman yang dipendam.
Akankah Elma sanggup bertahan atau justru memilih melepaskan pria tersebut. Lantas bagaimana dengan Maxime! Akankah pria itu menyadari perasaannya.

#cintabutuhperjuangan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chayahuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEKUASAAN DAN HARGA DIRI

Malam harinya Elma baru saja tiba ketika seorang staf rumah tangga menyampaikan bahwa Maxime belum pulang dari kantor. Ia mengangguk singkat sebelum naik ke lantai atas untuk berganti pakaian. Sekitar satu jam kemudian, suara kendaraan terdengar dari halaman depan, Maxime akhirnya pulang. Laki-laki itu memasuki kamar sambil melonggarkan dasinya. Ia meletakkan jas di sandaran kursi, lalu mendapati Elma sedang duduk di sofa kecil dekat jendela. Sebuah buku terbuka di pangkuannya, tetapi dari cara perempuan itu menatap halaman yang sama sejak tadi, Maxime tahu pikirannya tidak sedang berada di sana.

"Belum tidur?" Tanyanya.

"Menunggumu." Sahut Elma.

Maxime mengangkat sebelah alis. Ia menghampiri istrinya, meletakkan ponsel di atas meja, kemudian duduk di hadapannya.

"Sepertinya ada sesuatu yang lebih penting daripada sekadar menungguku."

Elma menutup bukunya. "Kasus Evelyn." Elma langsung pada intinya.

Maxime tidak menunjukkan keterkejutan. Ia hanya menyandarkan tubuhnya dengan santai. "Apa tentang itu?"

"Jadi benar kau yang mengatur penyelesaiannya?"

"Aku tidak memiliki alasan untuk menyangkalnya."

Elma menatapnya beberapa detik. "Menarik. Aku justru mengetahui keterlibatan suamiku dari direktur agensi kakakku sendiri."

Maxime mengangkat pandangan. "Radian Collins?"

"Ya. Dia menceritakan bagaimana perwakilan Sinclair Group datang, melakukan negosiasi, dan meminta agar tuntutan terhadap Evelyn dihentikan."

"Aku senang dia sudah menjelaskan semuanya."

Elma tertawa pendek, tetapi tidak ada kegembiraan di dalamnya. "Kau bahkan tidak merasa perlu memberitahuku?"

"Apa yang ingin kau dengar, Elma? Bahwa aku menghubungi agensi itu dan memastikan masalah Evelyn selesai? Ya, memang itu yang kulakukan."

"Setidaknya sekarang kita tidak perlu berpura- pura bahwa keputusan itu terjadi begitu saja."

Maxime mengamati wajah istrinya. "Masalahnya sudah selesai, Elma. Evelyn tidak lagi menghadapi tuntutan, keluargamu tidak perlu terseret lebih jauh, dan kau bisa kembali fokus pada pekerjaanmu. Bukankah itu hasil yang kita inginkan?"

"Siapa yang mengatakan bahwa aku menginginkan penyelesaian seperti itu?" Sela Elma

Maxime terdiam sejenak.

Elma melanjutkan. "Kasus itu berada di bawah tanggung jawab profesional-ku. Aku yang mempelajarinya, aku yang memahami duduk persoalannya, dan aku yang harus mempertanggungjawabkan setiap langkah hukum yang diambil. Tetapi tiba-tiba kau datang, menggunakan pengaruhmu, lalu menyelesaikan semuanya tanpa memberiku kesempatan untuk menentukan langkah berikutnya."

"Aku tidak mengambil alih pekerjaanmu."

"Benarkah?" Elma sedikit mencondongkan tubuhnya.

"Lalu apa namanya ketika seseorang menyelesaikan perkara yang sedang ditangani pengacara lain tanpa terlebih memberitahunya?"

Maxime menatapnya lekat-lekat. "Aku mencegah persoalan itu berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar."

"Itu mungkin keputusan bisnis yang bagus menurutmu. Tetapi ini bukan rapat direksi, Maxime."

Nada suara Elma mulai mengeras. "Dan aku bukan salah satu direktur yang harus menerima keputusanmu tanpa bertanya."

Rahang Maxime bergerak tipis. "Aku tidak pernah memintamu tunduk pada keputusanku."

"Tetapi kau bertindak seolah-olah pendapatku tidak diperlukan."

Hening sesaat.

Maxime menyandarkan kedua lengannya pada lutut. "Elma, aku tahu bagaimana dunia bekerja. Ada persoalan yang tidak perlu diselesaikan melalui proses panjang jika ada cara yang lebih efektif. Aku memiliki sumber daya, jaringan, dan orang-orang yang bisa mengurusnya. Mengapa aku harus membiarkan masalah itu menghabiskan waktumu?"

"Karena itu pekerjaanku." Tegas Elma.

"Dan aku suamimu." Sambung Maxime.

"Justru itu, seharusnya kamu memahami perbedaannya."

Maxime menyipitkan mata.

Elma menarik napas sebelum melanjutkan. "Aku tidak menikah denganmu untuk menyerahkan seluruh keputusan dalam hidupku kepadamu. Aku tidak membutuhkan seseorang yang selalu datang untuk membereskan segala sesuatu sebelum aku sempat menyelesaikannya."

"Aku tidak pernah menganggapmu tidak mampu."

"Tetapi kau tidak memberiku kesempatan untuk membuktikannya."

Kalimat itu membuat Maxime terdiam.

Elma menatap suaminya dengan ekspresi serius. "Kau tahu apa yang paling menggangguku? Bukan karena kau membantu Evelyn, bukan pula karena kau menggunakan pengaruh Sinclair Group. Yang menggangguku adalah kau bahkan tidak mempertimbangkan untuk berbicara denganku terlebih dahulu."

"Karena aku tahu kau sedang sibuk."

"Itu bukan alasan untuk mengabaikan keberadaanku dalam perkara yang menjadi tanggung jawabku."

Maxime mengembuskan napas perlahan. "Jadi, menurutmu aku seharusnya membiarkanmu menghadapi semuanya sendiri?"

Elma segera menggeleng. "Jangan memutarbalikkan perkataanku. Aku tidak pernah meminta kau membiarkanku sendirian."

"Lalu apa?"

"Aku memintamu untuk menghormatiku." Jawaban itu terdengar sederhana, tetapi cukup membuat Maxime terdiam.

Elma melanjutkan dengan suara lebih rendah, namun justru terdengar semakin tegas.

"Aku tahu siapa dirimu, Maxime. Aku tahu kekuasaan yang kau miliki, pengaruh keluarga Sinclair dan betapa mudahnya kau membuat orang lain mengubah keputusan mereka. Aku tidak pernah mempermasalahkan itu."

Ia berhenti sejenak. "Tetapi aku membangun karierku dengan caraku sendiri. Aku tidak ingin setiap keberhasilan yang kuraih selalu dikaitkan dengan nama suamiku. Aku ingin orang-orang menghargai pekerjaanku karena kemampuan dan pertimbanganku, bukan karena mereka takut menolak permintaan seorang Maxime Sinclair."

Maxime menatapnya tanpa berkedip. "Aku tidak pernah berniat membuatmu terlihat seperti itu, Elma."

"Namun, itulah yang mungkin dipikirkan orang lain."

"Pendapat orang lain tidak penting bagiku."

"Tetapi penting bagiku." Sela Elma.

"Bagimu, mungkin semuanya sederhana. Kau melihat masalah, kau menemukan jalan keluar, lalu kau memastikan masalah itu selesai. Kau terbiasa memegang kendali. Kau terbiasa memberikan perintah dan mendapatkan hasil."

"Tetapi aku tidak hidup dengan cara seperti itu. Aku tidak ingin menjadi seseorang yang hanya menikmati hasil dari kekuasaan orang lain."

Maxime ikut bicara "Aku tidak pernah menginginkan seorang istri yang hanya menikmati hasil pekerjaanku."

"Kalau begitu, jangan perlakukan aku seperti itu."

Maxime tidak langsung memiliki jawaban, selama ini ia terbiasa menghadapi orang-orang yang berusaha menyenangkan dirinya. Ia bisa mengendalikan situasi dengan satu instruksi dan memastikan segala sesuatu berjalan sesuai kehendaknya. Namun Elma tidak sedang berhadapan dengannya sebagai seorang bawahan. Perempuan itu berdiri di hadapannya sebagai seseorang yang memiliki prinsip dan kehidupan profesionalnya sendiri.

"Aku hanya tidak ingin kau terbebani, aku juga mengkhawatirkan kesehatanmu" ujar Maxime akhirnya.

Ekspresi Elma sedikit melunak.

"Kasus Evelyn cukup rumit. Ada banyak hal yang bisa berkembang jika persoalan itu dibiarkan."

"Aku tahu. Aku yang menangani kasusnya, Maxime. Aku lebih memahami risikonya dari apa yang kau kira."

Maxime mengangguk tipis.

"Dan aku bisa menyelesaikannya lebih cepat."

"Itulah masalahnya."

Maxime mengerutkan kening.

Elma tersenyum kecil, tetapi sorot matanya tetap serius. "Kau selalu mengukur segala sesuatu berdasarkan seberapa cepat dan mudah sesuatu bisa diselesaikan. Sementara aku tidak hanya mengejar hasil akhir. Ada proses, tanggung jawab, dan prinsip profesional yang harus kujaga."

Elma mendekat "Jadi, dengarkan aku baik-baik. Kalau suatu hari aku membutuhkan bantuanmu, aku akan memintanya. Kalau kau memiliki informasi atau cara yang menurutmu bisa membantu pekerjaanku, sampaikan kepadaku. Kita bisa membicarakannya."

Elma menatap mata suaminya. "Tetapi jangan pernah membuat keputusan atas namaku tanpa persetujuanku."

Maxime diam cukup lama, Kemudian ia mengangguk. "Baik."

Maxime melangkah mendekat. "Aku tidak berjanji akan berhenti menyelesaikan masalah karena itu sudah menjadi bagian dari diriku. Tetapi aku bisa belajar untuk tidak selalu mengambil keputusan sendiri ketika persoalan itu menyangkutmu."

Elma menatapnya beberapa saat. "Itu sudah cukup."

Maxime mengangkat tangan, menyentuh lembut sisi wajah istrinya. "Namun, ada satu hal yang perlu kau pahami."

"Apa?"

"Aku mungkin bisa menghormati caramu menyelesaikan masalah, tetapi jangan berharap aku akan berhenti untuk melindungimu."

Elma menghela napas kecil. "Maxime..."

"Aku serius." Laki-laki itu menatapnya dengan ekspresi tenang.

"Kau boleh menyelesaikan masalahmu sendiri. Kau boleh menolak bantuanku. Bahkan kau boleh berdebat denganku setiap kali merasa aku melewati batas. Tetapi jangan pernah berpikir bahwa aku akan bersikap tidak peduli ketika sesuatu mengancammu."

Elma akhirnya tersenyum tipis. "Aku tidak pernah memintamu untuk tidak peduli."

"Aku hanya meminta agar kau belajar bertanya sebelum bertindak."

Maxime tertawa kecil. "Sepertinya itu akan menjadi pelajaran yang cukup sulit bagiku."

"Kalau begitu, mulailah belajar."

Maxime mengangguk, lalu mengecup kening istrinya singkat. "Baik, Nyonya Sinclair. Maaf karena aku telah ikut campur".

Elma menggeleng melihat sikap suaminya yang mulai kembali santai.

"Jangan mengira semuanya selesai hanya karena kau sudah meminta maaf."

Maxime mengambil tangan Elma lalu mengecupnya pelan. "Aku paham".

Malam itu mereka memang tidak sepenuhnya sepakat. Maxime masih menjadi laki-laki yang terbiasa mengendalikan keadaan. Sementara Elma tetap menjadi perempuan yang tidak ingin kehilangan identitasnya hanya karena menikah dengan seorang Maxime Sinclair. Perlahan Maxime harus memahami bahwa mencintai Elma bukan berarti mengambil alih setiap persoalan yang dihadapinya. Terkadang, kepercayaan justru berarti membiarkan seseorang menghadapi perjuangannya sendiri, meskipun kita memiliki kemampuan untuk menyelesaikannya dalam sekejap.

☆

1
Heni Utami
bagus , sayangnya ngegantung belum selesai,
Chayahuda: Makasi,,,
Ceritanya masih berlanjut kok,,,
Sabar ya,,,
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!