NovelToon NovelToon
Vonis Hati Sang Hakim

Vonis Hati Sang Hakim

Status: tamat
Genre:Mafia / Beda Usia / Dark Romance / Tamat
Popularitas:70
Nilai: 5
Nama Author: Mary Mendes

Hakim Agung Damon Bradfort dikenal dingin, tak bisa disuap, dan tak punya satu pun alasan untuk mempercayai siapa pun. Selama lima tahun ia membongkar jaring hukum yang melindungi Cosa Nostra, tanpa seorang pun di Roma tahu darah siapa yang mengalir di nadinya.

Felipa Bianchi, 25 tahun, mahasiswi hukum yang menanggung adik kecilnya dan ayah yang kejam, butuh uang dan jalan keluar. Tawaran itu datang dari tempat yang paling ia takuti: magang di Mahkamah Agung, dengan satu syarat tak tertulis. Ia harus mengawasi sang hakim.

Hari pertamanya berakhir dengan bentakan dan tumpukan fotokopi. Namun sang hakim yang menyebalkan itu ternyata adil, teliti, dan sesekali menjadi satu-satunya orang yang melihat bahwa Felipa tidak baik-baik saja. Semakin dekat Felipa dengan pria yang seharusnya ia khianati, semakin sulit ia membedakan tugas dari perasaan.

Ketika kebenaran terbongkar, Damon harus memilih: hukum yang selama ini ia pegang, atau perempuan yang tak bisa lagi ia lepaskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 - Tak Ada yang Hilang

Damon

Baru setelah tim kebersihan mulai bekerja, aku sadar betapa kotornya ruanganku.

Sampai tadi, aku begitu tenggelam di laptop sampai tak memperhatikan debu yang menumpuk di sudut-sudut, bekas noda di kaca pemisah, atau bau pengap yang menyebar begitu mereka mulai menggeser perabot. Seorang petugas mengelap mejaku, yang lain membersihkan jendela, dan dalam beberapa menit, awan debu seperti memutuskan bermukim di paru-paruku.

Aku bersin sekali.

Lalu sekali lagi.

Pada yang ketiga, kututup laptop lebih keras dari yang perlu.

"Bagus."

Aku berdiri sebelum pembersihan itu mengubah ruanganku menjadi kamar siksa dan keluar, masih menggosok hidung dengan tangan.

Di koridor, aku bertemu Dominic.

"Makan siang sama aku," katanya, sudah melangkah ke arah lift.

Aku mengikutinya tanpa membantah. Begitu kami masuk, dia mulai menggerutu soal betapa tidak masuk akalnya situasi ini.

"Nggak bisa dipercaya, Damon. Peserta magang cuma empat jam. Empat jam! Zaman kita dulu..."

"Zaman kita dulu, kita diperbudak, Dominic."

Dia melirikku.

"Persis."

"Jadi sekarang aku nggak boleh melakukan hal yang sama pada mereka?"

Dominic tertawa sinis.

"Nggak. Dan kalau apes, kamu bisa digugat, seperti aku."

Lift tiba di lantai dasar dan kami berjalan di koridor menuju restoran. Dominic terus bicara soal generasi baru, soal bagaimana tak ada yang mau bekerja melewati jam, dan soal bagaimana empat jam rupanya cukup bagi seseorang untuk merasa sudah menjalani hari kerja penuh.

Aku mendengarkan tanpa minat.

Sampai dia teringat sesuatu.

"Suka sama peserta magangmu?"

Aku tak perlu berpikir.

"Tidak."

Jawabanku keluar begitu cepat sampai Dominic menoleh menatapku.

"Tidak?"

"Tidak."

Bayangan gadis itu muncul di kepalaku tanpa kuminta. Dia tak gentar. Bahkan saat jelas-jelas tak nyaman, dia berusaha tetap tegak. Entah kenapa, itu membuatku lebih kesal dari seharusnya.

Dominic mengangkat sebelah alis.

"Berarti itu bagus."

"Aku nggak lihat bagusnya di mana."

Dia terkekeh.

"Karena kalau dia nggak gentar sama kamu, mungkin dia justru yang kamu butuhkan."

Aku terus berjalan, mengabaikan komentarnya.

"Punyaku cengeng," tambah Dominic sambil terkikik sendiri. "Tadi pagi nyaris menangis."

Kali ini aku melirik sekilas padanya.

"Mungkin kamu terlalu menuntut."

"Lihat siapa yang sekarang membela peserta magang."

"Aku nggak membela siapa pun. Tapi aku kenal kamu, Dominic."

"Aku ini malaikat," balasnya.

Dia terus tertawa saat kami masuk restoran.

Aku hanya melangkah maju tanpa menjawab. Lagi pula, mengakui bahwa gadis itu berhasil membuatku kesal dalam beberapa jam saja sama dengan memberi Dominic persis apa yang ingin dia dengar.

Kami makan di restoran yang sama seperti biasa, di meja yang jauh dari yang lain, tempat Dominic sudah kenal nama pelayannya dan aku bisa makan tanpa harus mendengar obrolan orang.

Kami baru selesai makan ketika ponsel Dominic bergetar di atas meja.

Sekali.

Dua kali.

Pada yang ketiga, dia mengambilnya dan begitu melihat layar, senyum merekah di wajahnya.

Aku bahkan tak perlu bertanya.

Aku kenal senyum itu.

Dominic membuka kunci ponsel dan menatap layar beberapa detik sebelum sadar aku memperhatikan. Lalu dia memutar layarnya ke arahku.

Livia.

Putrinya muncul di foto dengan mulut belepotan buah, pipi gembul, dan senyum ompong yang memenuhi hampir seluruh wajah.

Dominic menatap putrinya seakan gambar kecil itu hal terpenting di dunia.

Dan mungkin memang begitu baginya.

"Kamu nggak tahu apa yang kamu lewatkan, Damon."

Dia bicara tanpa mengalihkan mata dari foto.

"Memang melelahkan. Kadang aku nggak bisa tidur nyenyak, harus mengubah rutinitas, membatalkan ini-itu, mendengar tangisan, mengejar dia keliling rumah... tapi jadi ayah itu hal terbaik di dunia."

Aku menatapnya beberapa detik.

Ada ketulusan yang membuatku canggung dalam suaranya. Tak ada upaya membujukku, tak ada pidato yang sudah disiapkan. Hanya kebanggaan.

Tapi aku sama sekali tak merasakan apa-apa saat memandang bocah itu.

Mungkin karena bagiku, gagasan punya anak tak pernah berarti kelanjutan, keluarga, atau kebahagiaan.

Itu berarti darah.

Darah yang sama yang seumur hidup kucoba lupakan.

"Aku nggak kehilangan apa-apa."

Dominic akhirnya mengangkat mata padaku.

Kutahan tatapannya.

"Aku nggak mau melestarikan darah yang mengalir di nadiku."

Senyum itu perlahan lenyap dari wajahnya.

Dan untuk pertama kalinya sejak kami duduk di meja itu, Dominic kehabisan jawaban.

Aku membayar tagihan sebelum Dominic sempat membantah. Aku berdiri, merapikan jas, dan menuju pintu tanpa menoleh.

Tak lama kemudian, aku sudah kembali di Mahkamah Agung.

Begitu pintu lift terbuka, kulihat Mirtes datang tergesa dari koridor. Dia mendekap beberapa kertas di dada dan memperlambat langkah saat melihatku.

"Ruangan Anda sudah bersih, Hakim Bradfort."

Aku hanya mengangguk.

Aku tak punya apa pun untuk ditambahkan.

Aku masuk ruangan dan mendapati semuanya persis seperti yang kusuka: rapi, sunyi, dan tanpa jejak tim kebersihan yang beberapa jam lalu mengubah tempat ini jadi kekacauan.

Kuletakkan jas di kursi, duduk di depan laptop, dan melanjutkan pekerjaan dari tempat aku berhenti.

Perkara.

Laporan.

Putusan.

Tenggat.

Jauh lebih mudah menghadapi halaman-halaman penuh undang-undang daripada hal apa pun yang menuntutku merasakan sesuatu yang tak ingin kupahami.

Aku kembali bekerja.

Dan terus bekerja.

Ketika akhirnya mengangkat mata dari layar, koridor di luar sudah sepi dan lampu-lampu gedung sudah berubah intensitasnya.

Baru saat itu aku sadar telah kehilangan sama sekali rasa akan waktu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!