Ujian dalam rumah tangga Aini dan Andra dimulai saat Andra mendapat kenaikan jabatan di perusahaan tempatnya bekerja
Ekonomi yang membaik, membuat Andra mulai merasa bosan dengan istrinya yang menurutnya tidak bisa merawat diri, hingga membuatnya terjerat pesona rekan kerjanya sendiri
Aini begitu terluka, saat suaminya membawa seorang wanita yang tengah berbadan dua yang ia perkenalkan sebagai istri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Pagi yang buruk, hari ini ia begitu bersemangat untuk berangkat bekerja dihari pertama. Namun ia malah kedatangan dua orang yang membuatnya kesal
"Ibu" Aini mengulurkan tangan namun Retno memandang kearah lain, Aini sendiri tidak ingin ambil pusing
"Ada keperluan apa ibu kesini?" Aini menatap tajam pada wanita hamil yang berdiri disamping ibu mertuanya
"Ibu mau bicara penting" Mendengar itu, Aini mempersilahkan keduanya masuk
"Ratih dan Dedi yang ikut keluar melihat besannya itu datang bersama seorang wanita
"Ohh jadi kayak gini menantu seleranya mbak Retno" Ratih mencibir
"Diem kamu Ratih, ini bukan urusan kamu"
"Ini jadi urusan saya, karena perempuan ini putri saya sampai menderita" Ratih ingin mendekat namun sang suami mencegah
"Sudahlah Bu, malu didenger tetangga! Sebaiknya kita tanya keperluan mbak Retno dan menantunya kesini" Ujar Dedi
Retno mengeluarkan sebuah kertas kehadapan Aini "Kamu tandatanganin cepat!"
Aini meraih kertas itu lalu membaca isinya. Ia tak tahu jika Andra bergerak sangat cepat dengan melayangkan gugatan cerai
"Kamu gak perlu nunda lama lagi, Aini! Biar urusan kamu sama Andra cepet selesai" Ujar Retno lagi
Tanpa bertanya apapun lagi, Aini mengeluarkan bolpoin dari dalam Tote bag nya lalu membubuhkan tandatangan pada kertas itu
Melihat itu, Sarah menarik sudut bibirnya, akhirnya dirinya resmi menjadi satu-satunya istri Andra
"Sudah kan? Sekarang kalian pergi dari sini!" Ratih sepertinya marah besar, bahkan Aini diam saja
"Memangnya siapa yang sudi tinggal dirumah sempit ini lama-lama" Retno berlalu bersama menantunya
"Udahlah Bu, jangan buang-buang tenaga buat ngadepin orang kayak mereka" Dedi menenangkan istrinya
"Aini berangkat dulu yaa Bu!" Aini menyalami kedua orang tuanya
"Kamu gak apa-apa kan nak?"
Aini mengangguk "Aini juga seneng kalau masalah ini cepat selesai"
Dedi mengusap kepala putrinya dengan lembut, ia tidak menyangka jika putri kesayangannya menghadapi masalah sebesar ini
Dua puluh menit dengan ojek, Aini tiba digerbang sebuah yayasan pendidikan. Sekolah ini sepertinya untuk orang-orang dengan tingkat ekonomi yang tinggi
"Permisi pak"
Seorang pria berseragam keamanan mendekat "Ada perlu apa Nona?"
"Saya mau bertemu Ibu Karina" Ujar Aini sambil membaca kartu nama yang ia pegang
"Sebentar yaa mbak, saya sampaikan dulu" Aini mengangguk
Setelah menunggu hampir satu menit, petugas itu kembali menghadap "Mbaknya disuruh langsung keruangan ibu Karina"
"Terima kasih"
Gerbang dibuka, saat itulah Aini melihat semewah apa sekolah ini. Ia sempat ragu untuk menjadi tenaga pengajar disini, tapi ia sudah tiba dan akan menjalaninya
Seorang petugas membawanya hingga kedepan sebuah ruangan, Aini mengetuk lalu terdengar suara sahutan dari dalamnya
"Permisi Bu, ibu mbak Aini"
Wanita paruh baya itu mengangguk "Ayo masuk nak!"
Aini masuk dengan ragu, ia duduk dihadapan wanita paruh baya itu setelah Karina mempersilahkan
"Saya bisa lihat CV kamu?" Karina mengulurkan tangan dan dengan sigap Aini menyerahkan map yang ia bawa
"Kamu sudah menikah?" Seperti terlihat kekecewaan dari raut wajahnya
"Iya Bu"
Karina mengajukan beberapa pertanyaan dan Aini menjawabnya. Wawancara itu berlangsung hampir satu jam
"Selamat bergabung, Ibu guru Aini" Aini merasa begitu bahagia, sungguh rasanya tidak percaya ia akan bekerja ditempat seperti ini
"Terima kasih Bu"
"Minggu depan kamu mulai bekerja"
"Terima kasih sekali lagi Bu" Aini begitu bahagia, ia meninggalkan ruangan pemilik yayasan dengan perasaan yang begitu bahagia
"Mama"
Aini membalik tubuhnya, ia melihat seorang anak perempuan berusia sekitar tujuh tahunan berlari menghampiri nya
Mungkin salah, Aini menoleh kebelakang tapi tidak ada siapapun. Hingga anak kecil itu berhenti dan memeluknya
"Mama beneran kesini? Oma bilang hari ini aku akan ketemu sama orang yang spesial" Aini tersenyum, anak ini terlihat antusias saat bicara padanya
"Hay" Aini merendahkan tubuhnya "Nama kamu siapa?"
"Melody" Jawabnya dengan sangat antusias
"Nama kamu bagus sekali, kamu kelas berapa?"
"Kelas satu" Aini mengangguk "Tapi ibu bukan mama kamu, ibu itu guru baru disekolah ini"
Wajah imut yang tadinya begitu terlihat antusias malah terlihat murung membuat Aini tidak sampai hati
"Tapi kata Oma..."
Pintu ruang kepala yayasan terbuka, Karina keluar dari dalam dan menghampiri sang cucu
"Melody, sayang"
"Oma"
Aini tersenyum, sekarang ia tahu jika anak ini adalah cucu seorang kepala yayasan
"Kamu sedang apa disini? Kembali ke kelas kamu!" Ujar Karina pada sang cucu
"Tapi kata Oma aku bisa ketemu Mama"
Karina menatap Aini dengan tatapan rasa bersalah. Tadinya ia berpikir jika Aini masih single namun ternyata ia salah
"Maafkan cucu saya yaa Aini"
"Tidak masalah Bu, dia lucu sekali" Aini mengusap kepala Melody
"Ayo Melody, kembali ke kelas kamu" Dengan perasaan kecewa, gadis kecil itu melangkah menuju kamarnya
"Maaf sekali lagi yaa Aini"
"Tidak masalah Bu" Aini tersenyum "Kalau begitu saya permisi dulu"
"Padahal aku sangat ingin memiliki menantu seperti dia" Gumam Karina sebelum ia kembali keruangan nya
***
"Apa ini?" Andra marah besar saat melihat sang istri yang datang dengan membawa berkas perceraian yang telah ditandatangani
"Ya apa lagi? Aini aku bercerai"
"Kamu datang kerumah Aini? Untuk apa kamu kesana Sarah?"
Andra tidak habis pikir dengan apa yang istrinya ini lakukan. Ia tengah berusaha untuk mempertahankan pernikahannya tapi Sarah malah bertindak sendiri
"bukan aku yang mau kesana mas, tapi ibu"
Mendengar itu semakin membuat Andra naik pitam. Jika seperti ini maka bisa dipastikan ia dan Aini akan bercerai
"Aku gak tau harus bilang apa sama kamu, kenapa kamu mengambil keputusan tanpa bertanya dulu, Sarah" Kesal Andra
"Aku cuma mau semuanya cepat selesai mas, kalian memang sudah seharusnya berpisah. Apa yang salah?"
Sarah tidak mengerti, suaminya terkesan mengulur waktu
Andra merasa frustasi, pria itu menarik rambutnya sendiri lalu melangkah menuju kamar
Dua Minggu kemudian, sidang perdana perceraian Andra dan Aini dilakukan. Keduanya datang diwaktu yang hampir bersamaan
"Aini" Wanita cantik itu menoleh, Aini menatap suaminya yang beberapa Minggu ini tidak bertemu
"Ada apa mas?"
"Apa kamu yakin dengan keputusan in?" Andra bertanya, Aini mengerutkan keningnya bingung mendengar pertanyaan pria didepannya ini
"Apa maksud kamu mas? Bukannya kamu sendiri yang memberikan surat itu padaku?"
Andra menghela napasnya "Bukan aku, semua itu rencana Ibu dan Sarah. Mas tidak mengajukan apapun"
"Aku tidak peduli, terima kasih karena kamu sudah melakukannya" Aini melangkah lebih dulu untuk dapat masuk ke gedung pengadilan agama
"Apa kamu tidak memikirkan Kasih? Kamu sudah tidak menemuinya sejak beberapa Minggu, apa kamu sama sekali tidak merindukan dia?"
Andra merasa Aini sangat tega, ia ingin Aini yang memohon padanya agar tidak diceraikan
"Jika kamu memikirkan Kasih, maka biarkan dia bersama aku, aku tidak akan meminta apapun padamu setelah itu"
Keputusan ini sudah bulat, Aini tidak ingin bersama seorang pria yang telah mendua. Ia tidak ingin berbagi apapun dengan wanita lain
Ia sudah bekerja, setelah ini dirinya akan mengumpulkan uang lalu mengambil kembali putri kesayangannya
lebih suka Aini sama Yudha saja sih, Yudha juga laki-laki yang baik