NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang Mafia

Istri Kontrak Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Mafia / CEO / Tamat
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: ocha Via

Hidup tidak pernah mudah bagi Alya, dan menjadi jauh lebih berat sejak *ibunya meninggal saat Alya baru berumur 12 tahun.*

Sejak hari itu, Alya yang masih kelas 6 SD harus langsung menjadi ibu untuk adik-adiknya. Ia yang menyuapi Dinda yang masih balita, ia yang menemani Bima yang masih di dalam kandungan saat ibunya meninggal.

Karena itulah, ia tidak pernah merasakan masa remaja. Tidak ada waktu untuk manja.

Tinggal di rumah sederhana bersama ayah dan kedua adiknya, Alya adalah anak pertama yang harus menjadi tulang punggung keluarga. Ayahnya yang sejak ditinggal istrinya semakin sering sakit-sakitan membuat keadaan ekonomi mereka semakin sulit.

Jadi pernikahan kontrak itu bukan hanya untuk pengobatan ayahnya, tapi juga rasa bersalahnya karena merasa gagal menggantikan posisi ibunya untuk Dinda dan Bima.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TUJUH MINGGU DI DALAM, SATU KEDIPAN DI LAYAR

Pukul 04.17 pagi.

Alya terbangun bukan karena mimpi. Bukan karena ingin buang air kecil.

Ia terbangun karena mulutnya penuh air liur. Banyak. Cair, asam, dan tiba-tiba.

Ia duduk tegak terlalu cepat, dan perutnya langsung protes.

"Fa..."

Rafael yang sudah hafal nada suara itu langsung menyalakan lampu nakas. Di atas nakas sudah ada yang ia siapkan sejak semalam: baskom kecil bersih, tisu, air putih hangat di termos kecil, dan biskuit tawar yang masih dalam kemasan.

Rafael tidak panik. Ia hanya menggeser baskom itu mendekat dan mengusap punggung Alya.

"Pelan-pelan saja. Tarik napas lewat hidung."

Alya memejamkan mata. Rasa mual yang kemarin masih malu-malu, masih menggantung seperti begah, hari ini datang dengan wujud penuh.

Usia 6 minggu 1 hari.

Di dalam rahim, Sia yang kemarin baru memulai detak jantung pertamanya yang masih 90 kali per menit, hari ini detaknya sudah naik menjadi 105-110 kali per menit. Panjangnya sudah 6 milimeter. Jika kemarin ia masih sebesar biji delima, hari ini ia sudah sebesar biji kacang polong manis. Tabung jantungnya sudah melipat sempurna menjadi empat ruang awal. Lengannya yang kemarin masih berupa tonjolan kecil, hari ini sudah memiliki lekukan siku. Tapi semua itu masih terlalu kecil untuk dirasakan Alya. Yang bisa Alya rasakan hanyalah efek dari apa yang Sia lakukan: hormon hCG yang kini sudah dua kali lipat dari dua hari lalu, dan hormon progesteron yang membuat seluruh otot polos tubuh Alya melambat, termasuk otot lambungnya.

Itulah mengapa perutnya menolak kosong, tapi juga menolak diisi.

"Belum muntah?" tanya Rafael pelan.

Alya menggeleng, masih memejam. "Tidak. Tapi rasanya... kalau aku bergerak, aku akan muntah. Air liurnya banyak sekali."

"Itu normal. Di buku tulisnya, air liur berlebihan itu karena mual. Tubuhmu memproduksi lebih banyak air liur untuk melindungi gigi dari asam lambung kalau nanti muntah. Coba duduk tegak 15 menit, jangan langsung tiduran lagi."

Alya menurut. Ia duduk bersandar di kepala ranjang. Rafael memberikan biskuit tawar, hanya satu keping kecil, tanpa memaksa.

"Jangan dipaksa habis. Sedikit saja. Biar lambung ada yang diolah selain asamnya sendiri."

Alya menggigit ujung biskuit itu. Kunyah pelan. Sepuluh menit berlalu, rasa air liur yang meluap itu perlahan surut. Rasa mualnya tidak hilang, tapi turun dari level 8 ke level 5.

"Pintar," kata Rafael. "Jam 4 pagi kamu sudah menang satu ronde dari mual."

Alya tersenyum lemah. "Ini baru ronde pertama. Aku merasa hari ini akan ada ronde kedua, ketiga."

Dan benar.

Pukul 07.30, aroma tumisan bawang dari unit apartemen sebelah masuk lewat ventilasi. Aroma yang biasanya biasa saja, hari ini menjadi pemicu.

Alya yang sedang mencoba menyisir rambut langsung berlari ke kamar mandi.

Kali ini muntah. Pertama kalinya.

Tidak banyak. Hanya cairan bening dan sisa biskuit tadi. Tapi tubuhnya bergetar setelahnya.

Rafael berdiri di belakangnya, memegang rambutnya yang panjang, tidak berkata apa-apa sampai Alya selesai. Ia sudah membaca bahwa pada saat ini, jangan katakan "sudah tidak apa-apa" terlalu cepat. Biarkan saja.

Setelah selesai, Alya berkumur, duduk di lantai kamar mandi yang dingin.

"Maaf," katanya.

"Untuk apa minta maaf?" Rafael jongkok di depannya. "Ini Sia lagi ngasih tahu kalau dia ada. Dia bilang, Bu, aku di sini, tolong jangan makan yang bau-bau menyengat dulu ya."

Alya tertawa kecil di tengah wajahnya yang pucat. "Sia cerewet ya."

"Sangat cerewet. Persis ibunya."

Pukul 10.00, mereka kembali ke klinik. Jadwalnya memang sudah dibuat dokter: evaluasi 2-3 hari setelah USG kedua, untuk melihat detak jantung.

Alya berbaring lagi di ruangan yang sama, dengan selimut yang sama, dengan rasa mual yang masih tertinggal di tenggorokan.

Dokter datang, tersenyum melihat mereka. "Gimana semalam? Sudah mulai mual muntah ya?"

Alya mengangguk malu. "Tadi pagi muntah sekali, Dok."

"Bagus. Bukan bagus karena muntahnya, tapi bagus karena itu tanda hormonnya naik baik. Artinya kehamilan berkembang."

Gel dioleskan lagi. Probe ditempelkan lagi.

Layar menyala.

Kantong yang kemarin 5 milimeter, hari ini terlihat lebih bulat dan lebih besar. Dan di dalamnya, titik putih kecil itu sudah sedikit lebih panjang.

"Nah, ini dia," kata dokter, menekan satu tombol. Gambar di-zoom. "Lihat ini."

Di tengah titik putih itu, ada kedipan. Sangat cepat, sangat kecil, tapi sangat jelas. Berkedip-kedip seperti lampu kecil yang hampir mati tapi terus berusaha hidup.

Itu jantung.

Rafael lupa bernapas. Tangan Alya yang menggenggam tangannya langsung mencengkeram kuat.

"Itu jantungnya?" suara Rafael hampir berbisik.

Dokter mengangguk sambil mengukur. "Itu detak jantungnya. Sudah terlihat hari ini. Usia 6 minggu 1 hari. CRL-nya 6,2 milimeter. Detak jantungnya 112 kali per menit. Normal untuk usia ini. Bagus sekali. Irama teratur."

Alya menangis. Kali ini tidak diam seperti kemarin. Air matanya mengalir deras, turun ke pelipis, ke bantal.

"Dia berkedip, Fa... Sia berkedip..."

Rafael menunduk, mencium kening Alya, matanya sendiri berkaca-kaca menatap layar. "Iya. Sia lagi ngasih tahu kita, dia kuat."

Dokter membiarkan mereka melihat kedipan itu selama hampir satu menit penuh. Tidak dimatikan. Dokter tahu, momen pertama melihat kedipan jantung adalah momen yang tidak akan pernah bisa diulang.

"Detak jantung pertama yang terlihat selalu jadi penanda penting," kata dokter pelan sambil mencetak foto. "Risiko keguguran turun drastis setelah kita melihat ini. Jadi sekarang, jaga baik-baik. Mual muntahnya akan memuncak di minggu ke-8 sampai ke-9, nanti akan perlahan hilang di minggu ke-12. Makan sedikit tapi sering. Kalau tidak bisa makan nasi, ganti kentang, roti, oatmeal. Yang dingin biasanya lebih tolerable. Dan jangan biarkan dehidrasi."

Foto USG ketiga dicetak. Lebih jelas dari sebelumnya. Sekarang ada bentuk seperti koma kecil, dan di dalamnya ada tanda panah kecil yang dibuat dokter, dengan tulisan *FHR (+) 112 bpm*.

Di bawahnya dokter menulis: *6w1d - CRL 6,2mm - FHR (+) 112 bpm - Good viability.*

Di mobil dalam perjalanan pulang, Alya tidak melepas foto itu dari tangannya. Mualnya masih ada, tapi hatinya penuh.

"Papa harus lihat ini nanti," kata Alya pelan. "Kita simpan yang ini untuk Papa dan Mama. Jangan yang kemarin. Yang ini ada kedipannya."

"Setuju," kata Rafael. "Ini foto pertama Sia yang benar-benar hidup. Bukan cuma titik lagi."

Sore itu, ritual kalender mereka lakukan dengan energi yang berbeda.

Rafael menulis dengan tulisan yang lebih besar dari biasanya:

*16 Okt 2026 - 6 minggu 1 hari / 6w1d - 6,2 mm - Sia - FHR (+) 112 bpm - JANTUNG TERLIHAT PERTAMA KALI! Gejala: mual pagi berat + muntah pertama (pagi jam 4.17 air liur berlebih, jam 7.30 muntah karena bau bawang), tidak tahan bau menyengat, lelah berat. Foto USG ke-3 dengan detak jantung didapat.*

Alya mengambil pulpen, menambahkan di samping tulisan Rafael, dengan huruf yang gemetar karena masih lelah dan terharu:

_Sia, hari ini Ibu melihat jantungmu berkedip. 112 kali per menit. Kencang sekali. Ibu muntah hari ini, tapi Ibu tidak marah. Ibu bahagia. Karena itu artinya kamu ada dan kamu kuat. Tetap berkedip ya, Nak. Ibu dan Ayah jaga rahasia ini sedikit lagi, sampai kamu lebih kuat._

Malamnya, Alya tidak bisa makan malam nasi. Ia hanya makan kentang rebus dingin yang dipotong dadu kecil-kecil dengan sedikit garam, dan yogurt dingin.

Rafael duduk di depannya, menemani.

"Fa," kata Alya di sela suapannya yang kecil.

"Ya?"

"Kalau nanti mualnya makin parah, apakah Sia baik-baik saja?"

Rafael menggenggam tangan Alya di atas meja. "Sia baik-baik saja. Dia sedang sibuk membangun jantung, otak, dan tulang belakangnya minggu ini. Di usia 6 minggu ini, tabung sarafnya sudah menutup sempurna. Tonjolan tangan dan kakinya sudah mulai membentuk jari. Dia sibuk sekali di dalam. Jadi wajar kalau dia pinjam banyak energi dari kamu. Tugas kamu cuma satu: istirahat, makan yang kamu bisa makan, dan bilang ke aku kalau kamu tidak nyaman."

Alya mengangguk. Di luar, hujan turun lagi seperti semalam.

Di dalam, di atas meja nakas, tiga foto USG berjejer. Foto pertama hanya kantong hitam. Foto kedua ada titik putih. Foto ketiga ada kedipan.

Dan di dalam perut Alya, jantung sebesar biji wijen berdetak 112 kali per menit, tanpa henti, menjaga rahasia yang kini hanya diketahui tiga orang di dunia: Alya, Rafael, dan dokter yang mencetak fotonya.

Menjelang tidur, Alya berbisik, mengelus perutnya yang masih rata:

"Selamat malam, Sia yang sudah bisa berkedip. Terima kasih sudah mau terlihat hari ini. Ibu janji besok Ibu akan coba makan lagi, biar kamu punya tenaga untuk berdetak lagi."

Bersambung...

1
Renjana
🥰
ocvia
sudah kak
Mia Camelia
lanjut thor
Nda
mampir disini thor..😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!