Terbuang saat bayi dan nyaris tewas di Hutan Terlarang, Hu Jin tumbuh tanpa mengetahui identitas aslinya sebagai Putra Mahkota Kerajaan Timur.
Ditolak oleh dunia dan diasuh oleh Dewi Es dari Sekte Teratai, Hu Jin bangkit membuktikan dirinya melalui Tulang Kaisar Langit—bakat mitologi yang mengguncang semesta. Namun, alih-alih menjadi alat politik sekte, ia memilih pergi menantang alam liar demi membebaskan gurunya dan merebut kembali takdir yang dirampas!
Mampukah pangeran yang terbuang ini menaklukkan benua dan kembali sebagai Dewa Pedang Es Kuno?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Warisan di Gua Es
Ranting-ranting kering patah saat tapak sepatu Hu Jin menjejak tanah berlumpur. Udara di Hutan Kabut Hitam terasa pekat bagai racun, menyebarkan bau dedaunan lapuk dan aroma amis darah. Ini adalah wilayah perbatasan barat Benua Timur—tempat hukum kerajaan mati dan digantikan oleh ayunan senjata berdarah dingin.
Bagi anak usia sepuluh tahun biasa, hutan ini adalah tempat pembantaian. Namun bagi Hu Jin, tempat ini hanyalah arena latihan baru untuk menguji batas dirinya.
GROOORRR
Semak belukar di sampingnya mendadak terkoyak. Seekor Serigala Mata Merah—binatang buas setara puncak Ranah Pemuliaan Tubuh—melompat keluar. Taringnya yang meneteskan racun hijau meluncur cepat mengincar leher Hu Jin.
Hu Jin tak panik. Mata hitamnya mengunci pergerakan monster itu. Sepuluh tahun ditempa angin beku Puncak Es membuat refleks fisiknya jauh melampaui usianya.
SRET
Hu Jin bergeser setengah langkah ke kanan, membiarkan cakar monster itu menyapu udara kosong. Saat tubuh serigala masih melayang di udara, Hu Jin mengepalkan tangan. Energi Qi tipis namun padat berkumpul di buku-buku jarinya.
BUMM
Pukulan telak itu menghantam pelipis serigala. Suara retakan tulang terdengar jelas sebelum tubuh monster itu terlempar dan menghantam tanah tanpa nyawa.
Hu Jin menghela napas pelan, mengusap debu di jubah sederhananya. Ia menarik belati kecil di pinggang, membelah dada serigala itu dengan gerakan terlatih, lalu mengambil batu kristal merah seukuran kelereng—Inti Monster.
"Pergerakannya cepat, tapi tumpuan kakinya terlalu rapuh," gumam Hu Jin mengevaluasi diri. "Di Puncak Es aku belajar keindahan jurus, tapi di tempat ini aku harus bertarung untuk membunuh."
"Oho... Lihat ini. Bocah cilik membunuh Serigala Mata Merah hanya dengan satu pukulan?"
Sebuah suara serak memecah sunyi. Dari balik pohon rindang, tiga pria bertubuh kekar melangkah keluar. Zirah besi mereka berkarat dan penuh goresan—tentara bayaran liar yang biasa berburu dan merampok di wilayah perbatasan.
Pria bermata satu di tengah mengayunkan kapak besarnya ke tanah. Matanya menatap ketat Inti Monster dan cincin giok di jari Hu Jin dengan kilat keserakahan.
"Bocah," seru si Mata Satu dengan cengiran kusam. "Hutan ini berbahaya untuk anak ingusan. Serahkan Inti Monster dan cincin di jarimu, nanti kami kawal keluar dari sini hidup-hidup."
Dua anak buahnya tertawa mengejek, mengepung Hu Jin dari kiri dan kanan. Bagi mereka, bocah sepuluh tahun yang sendirian di Hutan Kabut Hitam adalah mangsa paling empuk.
Hu Jin menyimpan Inti Monster ke dalam cincinnya dengan tenang, lalu memegang hulu pedang besi di pinggangnya.
"Mengawal?" tanya Hu Jin datar. "Kalian bahkan tidak bisa menyembunyikan niat membunuh di mata kalian. Kalau mau merampok, langsung saja, tidak usah banyak omong."
"Cah, bocah tengil!" bentak salah satu tentara bayaran bertombak. Pria itu menerjang maju, mengarahkan mata tombaknya lurus ke dada Hu Jin.
SRING
Hu Jin tidak menangkis. Ia membungkuk rendah, menyusup tepat di bawah jangkauan tombak. Sebelum musuhnya menyadari apa yang terjadi, bilah pedang besi Hu Jin telah menyayat urat nadi di leher pria tersebut.
Darah segar menyembur deras. Pria bertombak itu ambruk memegangi lehernya yang bocor, tewas seketika.
"Apa?!" Si Mata Satu dan satu anak buahnya tersentak mundur. Wajah mereka pucat pasi. Kecepatan dan kekejaman bocah sepuluh tahun ini sama sekali tidak masuk akal!
"K-kau... kau monster!" jerit tentara bayaran yang tersisa. Ia berbalik dan berusaha lari ketakutan.
Namun Hu Jin tak memberi ampun pada musuh yang menginginkan nyawanya. Ia melontarkan belati kecilnya ke udara, lalu memukul gagangnya dengan sentakan Qi. Belati itu meluncur melintasi udara, menembus punggung pria yang sedang berlari tersebut hingga roboh.
Kini tinggal Si Mata Satu. Pria berbadan raksasa itu gemetar hebat, genggamannya pada gagang kapak terasa licin oleh keringat dingin. Ia baru sadar, di hadapannya bukan anak kecil polos, melainkan pencabut nyawa muda.
"T-tunggu! Aku salah! Jangan bunuh aku—"
SLAASSH
Satu ayunan pedang membungkam permohonan itu. Kepala Si Mata Satu terkulai jatuh ke tanah.
Hu Jin menyapu darah di pedangnya dengan kain lusuh milik musuhnya. Tak ada penyesalan. Di dunia luar, belas kasihan adalah tiket tercepat menuju kematian. Setelah mengambil kantong koin milik ketiga tentara bayaran itu, ia kembali melanjutkan langkah.
Menjelang sore, cuaca Hutan Kabut Hitam berubah drastis. Udara hangat menguap, digantikan oleh angin kencang yang membawa gelombang hawa dingin menusuk tulang. Salju dan serpihan es mendadak turun dengan lebat secara tidak wajar.
"Badai Es Abadi?" gumam Hu Jin menahan napas. Meski terbiasa dengan suhu Puncak Es, badai di hutan ini mengandung serpihan Qi liar yang bisa merusak meridian jika terhirup terlalu banyak.
Guna mencari tempat berlindung, Hu Jin memanjat tebing terjal di bagian barat hutan. Di tengah jarak pandang yang tertutup salju, mata tajamnya menangkap celah sempit di balik rerimbunan semak es di dinding jurang.
Tanpa ragu, ia menyusup masuk.
Ajaibnya, begitu melewati celah tersebut, deru badai di luar mendadak senyap. Lorong gua batu di dalamnya terasa hangat dan dipenuhi pancaran energi yang sangat murni. Dinding gua terbuat dari kristal es alami yang membiaskan cahaya biru lembut.
Hu Jin berjalan perlahan dengan pedang terancung. Makin dalam ia melangkah, bukan bahaya yang ditemukan, melainkan sebuah ruangan batu yang sangat luas.
Di tengah ruangan, di atas altar giok putih, duduk bersila jasad seorang kultivator tua. Meski telah mengering menjadi mumi, jasad itu masih memancarkan tekanan Qi yang berwibawa. Di depannya tergeletak sebuah gulungan kitab dari kulit naga kuno dan sebilah pedang hitam pekat tanpa sarung.
Mata Hu Jin berbinar. Di dinding batu belakang altar, terukir ukiran kalimat yang dipahat menggunakan tebasan energi pedang:
"Aku, Dewa Pedang Es Kuno, meninggalkan warisan terakhirku di sini. Siapa pun yang memiliki Meridian Es Murni dan keteguhan jiwa sejati, berhak mewarisi Seni Pedang Sembilan Es Kuno untuk mengguncang semesta."
Hu Jin menarik napas dalam-dalam. Ia melangkah mendekati altar, berlutut, lalu memberikan tiga kali penghormatan pada jasad senior tersebut sebagai etika dunia persilatan.
"Senior, terima kasih atas warisannya," ucap Hu Jin tenang.
Namun saat jemari Hu Jin menyentuh gulungan kitab kulit naga itu, aura emas Tulang Kaisar di dalam dadanya bergejolak hebat! Kitab kuno itu pecah menjadi serpihan cahaya biru, lalu meluncur lurus menembus dahinya!
WUUUUUSH
Ratusan bayangan jurus pedang dan pemahaman hukum es kuno meledak di dalam pikiran Hu Jin. Ilmu ini tidak hanya menyempurnakan teknik es yang diajarkan Qian Renxue, tetapi juga memberikan kunci pertama untuk menerobos batas tubuhnya menuju Ranah Pembentukan Qi (Qi Foundation).
Di dalam gua es yang terisolasi dari dunia luar, pangeran yang terbuang itu memejamkan mata—siap menyerap warisan agung yang akan mengubah jalan hidupnya.