Alarice Jovelyn Dav Dewantara, atau Jove, adalah putri pertama keluarga Dewantara yang hidupnya nyaris sempurna. Namun, kesempurnaan itu runtuh dua hari sebelum pernikahannya ketika ia memergoki calon suaminya sedang bercinta dengan wanita lain di rumah yang telah mereka persiapkan untuk kehidupan setelah menikah.
Tanpa ragu, Jove membatalkan pernikahannya dan memilih menutup hati. Selama dua tahun, ia menenggelamkan diri dalam pekerjaan hingga membuat kedua orang tuanya khawatir.
Alaska Dewantara akhirnya memutuskan menjodohkan Jove dengan Nicholas Alvarendra, putra sahabat bisnisnya.
Nicholas adalah pria dingin yang juga memiliki luka yang sama. Ia pernah dikhianati tunangannya yang justru hamil dari sahabatnya sendiri. Sejak saat itu, Nicholas tidak lagi percaya pada cinta.
Dua hati yang sama-sama terluka akhirnya dipertemukan dalam sebuah perjodohan.
Mereka menikah tanpa cinta dan membuat kesepakatan untuk tidak saling berharap.
“Pernikahan kita hanya sebatas kertas, jangan berharap lebih.”
“Tenang saja, aku juga tidak ada niat menjalankan rumah tangga ini denganmu.”
Tapi, bagaimana jika dua orang yang sama-sama tidak percaya cinta justru perlahan menemukan kembali arti cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shann29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Pesta Alva Corp
Pesta itu pun tiba.
Jove tetaplah wanita cantik yang selalu memperhatikan penampilannya. Ia berjalan di sisi Alaska dengan gaun hitam elegannya. Rambutnya ditata dengan rapi, sementara riasan sederhana di wajahnya semakin menonjolkan kecantikannya. Kehadirannya begitu memancarkan aura wanita kelas atas.
Beberapa pria yang mengenal keluarga Dewantara mencoba menyapa Jove. Namun, Jove hanya membalas seperlunya. Ia tidak menunjukkan ketertarikan untuk membuka percakapan lebih jauh.
Alaska tidak mempermasalahkan sikap putrinya. Menurutnya, sikap Jove justru menunjukkan bahwa putrinya memiliki harga diri dan tidak mudah memberikan perhatian kepada sembarang orang.
Tak lama kemudian, Arman Alvarendra datang menyambut tamu utamanya.
“Pak Alaska, senang sekali Anda datang ke pesta perusahaan saya.”
Alaska membalas jabatan tangan Arman.
“Saya juga senang bisa datang ke sini,” jawabnya ramah.
Tatapan Arman kemudian beralih kepada Jove. Senyum hangat langsung terukir di wajahnya.
“Putri Anda sangat cantik.”
“Terima kasih, Uncle,” balas Jove sopan.
Arman kemudian mengantar Alaska dan Jove menuju area eksekutif. Setelah memastikan keduanya mendapatkan tempat yang nyaman, Arman memanggil istrinya untuk menyapa mereka.
Marry datang dengan senyum ramah di wajahnya.
“Ya Tuhan, putri Anda begitu cantik sekali, Pak Alaska. Siapa namanya?” tanya Marry.
“Namaku Jovelyn, Aunty. Aunty bisa memanggilku Jove,” jawab Jove.
“Nama yang cantik. Secantik orangnya,” kata Marry sambil tersenyum. “Maaf jika aku berlebihan. Sedari dulu aku ingin sekali memiliki anak perempuan, tetapi aku hanya memiliki satu anak laki-laki.”
Jove hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Marry. Ia tidak terlalu banyak bicara, tetapi tetap menunjukkan sikap sopan kepada wanita yang lebih tua darinya.
Mendengar Marry bercerita tentang putranya, Alaska melihat sebuah kesempatan.
“Oh ya, di mana putra Anda?” tanya Alaska.
“Nic?” Marry balik bertanya.
Arman yang berada di samping istrinya segera mengedarkan pandangan mencari putranya. Tak lama kemudian, ia menemukan Nicholas di antara para tamu.
Arman mengangkat tangannya dan melambaikan tangan.
Nicholas yang melihat sang ayah pun segera berjalan menghampiri.
“Iya, Pa?”
Arman berdiri dan menepuk salah satu pundak Nicholas.
“Nic, tolong temani Pak Alaska dari Dewantara Group.”
Nicholas mengalihkan pandangannya kepada Alaska. Ia kemudian tersenyum tipis dan menganggukkan kepala dengan sopan.
“Halo, Uncle. Apa kabar?”
“Baik. Kemarilah, Nic.”
Alaska cukup menyukai sikap Nicholas yang menurutnya sopan dan tenang. Nicholas pun duduk bersama mereka di kursi yang mengelilingi meja bundar, sementara Arman dan Marry kembali menyapa tamu-tamu lainnya.
Awalnya, Nicholas hanya berniat memenuhi permintaan ayahnya. Namun, pembicaraan dengan Alaska ternyata cukup menarik. Keduanya mulai berbincang mengenai bisnis dan beberapa hal yang berkaitan dengan perusahaan.
Di sela percakapan, pandangan Nicholas sesekali beralih kepada Jove.
Wanita itu duduk dengan tenang di samping Alaska. Jove tidak banyak bicara dan lebih sering memperhatikan suasana di sekitarnya.
Nicholas kembali mengalihkan pandangan. Ia tidak memiliki alasan untuk memperhatikan wanita itu lebih jauh.
Begitu pula dengan Jove.
Ia sempat melirik Nicholas ketika pria itu duduk di hadapannya, tetapi setelah itu kembali sibuk dengan pikirannya sendiri. Jove tidak menunjukkan ketertarikan apa pun terhadap pria tersebut.
“Oh ya, ini putriku, Jove. Dia juga yang menjabat sebagai CEO di perusahaan kami,” kata Alaska kemudian, memperkenalkan putrinya kepada Nicholas.
Jove menoleh sekilas kepada Nicholas dan hanya memberikan anggukan kecil.
“Halo,” ucapnya singkat.
Nicholas membalas anggukan itu.
“Halo.”
Tidak ada percakapan lanjutan di antara mereka.
Keduanya kembali diam, seolah perkenalan singkat itu tidak memiliki arti apa-apa.
Tak lama kemudian, acara resmi pun dimulai.
Lampu di area utama mulai diarahkan ke panggung. Para tamu perlahan memusatkan perhatian mereka ke depan ketika Arman meminta Alaska memberikan sambutan sebagai salah satu tamu kehormatan.
Alaska merasa terhormat atas permintaan tersebut. Ia pun bangkit dari kursinya dan berjalan menuju panggung.
“Permisi,” ucap Alaska singkat kepada Jove dan Nicholas sebelum meninggalkan meja.
Jove mengangguk, sementara Nicholas hanya memperhatikan Alaska yang berjalan menuju panggung.
Kini, untuk beberapa saat, hanya Jove dan Nicholas yang tersisa di meja.
Suasana di antara mereka terasa sedikit canggung karena keduanya sama-sama tidak memiliki topik pembicaraan.
Nicholas akhirnya membuka suara.
“Mau minum?”
Jove menoleh sebentar, lalu menggeleng.
“Tidak, terima kasih.”
Jawabannya singkat dan tanpa senyum. Bahkan setelah menjawab, Jove kembali mengalihkan pandangannya ke arah panggung.
Nicholas memperhatikannya sesaat.
Dalam hati, ia menilai Jove sebagai seorang nona muda yang cukup dingin dan mungkin sedikit angkuh. Namun, ia tidak merasa perlu memberikan komentar.
Baginya, Jove bukan urusannya.
Sementara itu, Jove juga tidak terlalu memikirkan Nicholas. Ia hanya ingin menghadiri pesta bersama ayahnya dan tidak memiliki keinginan untuk berkenalan dengan pria mana pun malam itu.
Beberapa menit kemudian, Alaska selesai memberikan sambutannya. Tepuk tangan para tamu memenuhi ruangan ketika ia turun dari panggung.
Alaska kemudian kembali berdiri bersama Arman. Keduanya berbincang sejenak mengenai acara malam itu hingga pembicaraan mereka perlahan mengarah pada sesuatu yang lebih serius.
“Istriku menyukai putri Anda, Pak Alaska,” kata Arman, mencoba memancing pembicaraan.
Alaska yang sejak awal memang memiliki pemikiran tertentu langsung menangkap maksud Arman.
“Apa mungkin mereka cocok?” tanyanya sambil melirik ke arah Jove dan Nicholas yang masih duduk di meja.
Arman sempat terdiam.
Ia tidak menyangka Alaska akan memberikan respons secepat itu. Dulu, ketika pertama kali mencoba membahas Jove, Alaska sama sekali tidak menggubrisnya. Namun, kali ini Alaska justru seolah membuka sebuah peluang.
“Bolehkah jika keluarga kami melamar putri Anda?” tanya Arman hati-hati.
Alaska kembali menatap putrinya.
Jove masih duduk dengan tenang, sama sekali tidak mengetahui pembicaraan yang sedang berlangsung.
Setelah beberapa saat, Alaska akhirnya mengambil keputusan.
“Bicaralah kepada putramu jika ingin melamar putriku. Aku akan membantu bicara kepada putriku,” ucap Alaska dengan yakin.
Arman langsung tersenyum lega.
Ia merasa senang mendengar jawaban tersebut. Bukan semata-mata karena keluarga Dewantara, tetapi karena sejak awal Arman memang mengagumi sosok Jove.
Di usianya yang masih muda, Jove telah mampu menjadi seorang CEO. Ia juga bukanlah nona muda yang manja seperti kebanyakan putri keluarga kaya yang selama ini Arman kenal.
Dan tanpa Jove sadari, malam itu menjadi awal dari sebuah keputusan yang perlahan akan mengubah hidupnya, tanpa mengetahui apa pun, Jove masih duduk dengan tenang. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa beberapa meter darinya, ayahnya baru saja membuat sebuah keputusan besar mengenai masa depannya.
Begitu pula dengan Nicholas. Pria itu masih duduk dengan tenang bersama Jove, tanpa sedikit pun mengetahui bahwa namanya baru saja dibicarakan sebagai calon suami seorang wanita yang bahkan baru dikenalnya malam ini.