NovelToon NovelToon
Bertahan Hidup Sebagai Tuan Muda Sampah

Bertahan Hidup Sebagai Tuan Muda Sampah

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:529
Nilai: 5
Nama Author: Nappzz

Arthur terbangun di dunia novel dark fantasy yang baru saja ia tamatkan. Sialnya, ia tidak merasuki tubuh sang Pahlawan, melainkan Arthur Pendelton—tuan muda dari keluarga Duke yang terkenal sebagai "sampah", sombong, dan ditakdirkan mati mengenaskan di chapter awal oleh sang protagonis asli. Berbekal ingatannya tentang alur cerita masa depan dan rahasia-rahasia tersembunyi di dunia itu, Arthur harus menyusun strategi untuk menghindari kematiannya. Tapi anehnya... kenapa pahlawan asli dan tokoh-tokoh kuat lainnya malah mulai tunduk dan mengikutinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nappzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 Runtuhnya Keangkuhan Sang Ketua

Lorong-lorong Labirin Tartarus terasa semakin tidak stabil seiring langkahku mendekati sumber cahaya Suar Emas. Dinding batu bergetar pelan, dan sesekali terdengar raungan ganjil yang menggemakan aura sihir kuno, persis seperti anomali yang kutemui sebelumnya.

Tidak butuh waktu lama bagiku untuk menemukan lokasi kejadian.

Di ujung lorong yang cukup luas, kulihat lima anggota elit Komite Kedisiplinan—murid-murid kelas atas yang membanggakan seragam biru tua mereka—kini tergeletak bersimbah darah. Zirah magis mereka terkoyak seperti kertas, dan tongkat sihir mereka patah menjadi dua.

Di tengah genangan darah dan debu pertarungan itu, Cecilia von Arnault berdiri tertatih. Napasnya tersengal-sengal. Rambut pirang platinanya yang selalu diikat rapi kini terurai berantakan, basah oleh keringat dan noda kotor. Pedang rapier perak di tangan kanannya bergetar hebat. Lengan kirinya terkulai lemas, tampaknya tulangnya patah.

Di hadapan Cecilia, berdiri seekor monster yang membuat udara di sekitar kami berubah menjadi racun.

Chimera of Despair. Monster langka hasil eksperimen gagal para alkemis kuno. Makhluk itu memiliki tubuh singa raksasa berwarna ungu busuk, ekor berbentuk ular kobra berkepala tiga yang mendesis liar, dan sepasang sayap kelelawar compang-camping di punggungnya. Mata merahnya menatap Cecilia layaknya predator yang sedang bermain-main dengan mangsa yang sekarat.

Level ancaman: A+. Satu tingkat di atas Penjaga Kuno yang baru saja kuhancurkan.

"Bertahan... aku harus bertahan..." gumam Cecilia, mati-matian merapal mantra sihir cahaya untuk melindungi dirinya, meski perisai pelindung itu kini sangat tipis dan hampir tembus pandang.

Sang Chimera mengaum, memamerkan taring-taring yang meneteskan bisa korosif. Makhluk itu melompat maju, mengangkat cakarnya yang setajam pedang, bersiap untuk memberikan serangan penutup yang akan memenggal kepala sang gadis bangsawan.

Cecilia memejamkan mata. Ia kehabisan mana. Ia kehabisan tenaga. Gelang Evakuasinya telah hancur oleh tebasan monster itu lima menit yang lalu. Sang Ketua OSIS yang selalu angkuh itu bersiap menyambut kematiannya di dalam kegelapan labirin.

Satu detik. Dua detik.

Tidak ada rasa sakit. Tidak ada tebasan.

Hanya suara benturan keras yang menggema, disusul jeritan melengking dari monster chimera tersebut.

Cecilia membuka matanya perlahan.

Tepat di depannya, melindunginya dari maut, berdiri sesosok pemuda berjubah yang ujung-ujungnya sobek akibat pertarungan. Ia tidak menggunakan sihir perisai. Ia hanya mengangkat pedang hitam legam dengan satu tangan, menahan cakar raksasa Chimera itu dengan santai.

Pemuda itu menoleh ke arah Cecilia. Pendaran ungu redup di dalam mata birunya memancarkan ketenangan absolut yang menembus rasa takut sang gadis.

"Kau terlihat berantakan, Ketua Arnault," ucapku dengan nada bosan yang sangat khas. "Ini pertama kalinya aku melihat seragam birumu itu sekotor lap pel lantai."

Mata zamrud Cecilia membulat. Bibirnya bergetar tak percaya. "A-Arthur? Kau... apa yang kau lakukan di sini?"

"Jalan-jalan. Menikmati udara lembap," jawabku asal.

Aku kembali menatap Chimera di depanku. Monster itu menggeram marah, mencoba menekan cakarnya lebih dalam, namun bilah Taring Abyss bahkan tidak bergeser satu milimeter pun.

"Kau mengganggu percakapanku dengan Nona Arnault, Anjing Jelek," bisikku.

Aku mengalirkan seutas mana kegelapan ke dalam Taring Abyss. Pedang hitam itu merespons seketika. Bilahnya menyerap elemen korosif dari cakar Chimera dan mengubahnya menjadi gelombang kejut hitam. Kutekan pedangku ke depan dengan tolakan tenaga murni dari tulang obsidianku.

BOOM!

Gelombang kejut itu menghantam tubuh raksasa Chimera. Monster tingkat A+ itu terpental sejauh sepuluh meter, menabrak dinding lorong hingga meruntuhkan sebagian batu stalaktit dari langit-langit. Ekor ularnya mendesis panik saat makhluk itu mencoba bangkit kembali.

Aku menurunkan pedangku, lalu menoleh penuh pada Cecilia. Gadis itu menatapku dengan ekspresi campur aduk: shock, malu, lega, dan kebingungan luar biasa. Kekuatan fisikku yang mengalahkan Leon mungkin bisa dijelaskan dengan logika mutasi fisik yang ekstrem, tapi menahan serangan Chimera kelas A+ dengan satu tangan? Itu sudah di luar nalar.

"K-Kau... dari mana asal kekuatan itu?" tanya Cecilia parau, mencengkeram lengan kirinya yang patah.

"Ceritanya panjang, dan Nona Arnault, kurasa ini bukan saat yang tepat untuk wawancara eksklusif," aku menunjuk monster di belakang kami yang mulai merangkak maju. "Monster itu belum mati. Kau punya dua pilihan: tetap berdiri di sana dan menjadi daging cincang, atau duduk manis dan biarkan si 'Tuan Muda Sampah' mengurus sisa masalahmu."

Cecilia menggertakkan gigi. Harga dirinya sebagai bangsawan tingkat atas dan murid terbaik berontak melawan bantuan dari orang yang paling ia remehkan. Namun, lukanya terlalu parah. Jika ia memaksa bertarung, ia hanya akan menjadi beban.

Dengan wajah memerah menahan gengsi, Cecilia akhirnya mengangguk kecil dan mundur berlindung di balik sebuah batu besar, tak jauh dari tubuh teman-temannya yang pingsan.

Aku kembali fokus pada sang Chimera of Despair.

"Nox," bisikku tanpa menoleh. "Apa spesialisasi dari hewan peliharaan hasil mutasi ini?"

Nox muncul dari bayangan genangan air di dekat sepatuku. "Kecepatannya luar biasa. Bisa korosifnya dapat melelehkan tulang dalam hitungan detik. Dan yang paling merepotkan... ia memiliki kemampuan regenerasi sel yang sangat tinggi. Kau memotong kepalanya, ia akan menumbuhkan kepala baru."

"Regenerasi, ya?" Aku menyeringai tipis. "Kalau begitu, mari kita bakar habis sel-sel penyembuhnya itu sebelum sempat bekerja."

Chimera itu kembali menyerang. Kali ini ia tidak menggunakan cakar. Ketiga kepala ekor kobranya membuka mulut, menembakkan tiga semburan cairan hijau pekat ke arahku.

"Vespera: Veil of the Void,"

Segumpal aura hitam legam menyembur dari tubuhku, membentuk perisai transparan di depanku. Saat cairan beracun itu menyentuh perisaiku, alih-alih meledak atau meleleh, cairan itu justru tersedot dan lenyap tak berbekas, seolah tertelan black hole.

Chimera itu tampak kebingungan. Insting monsternya tidak pernah berhadapan dengan sihir 'penelan' sepertiku.

Memanfaatkan kebingungannya, aku memacu kecepatanku secara maksimal.

Wush!

Aku muncul tepat di bawah perut singa raksasa itu. Taring Abyss di tanganku langsung memancarkan aura kegelapan yang sangat pekat. Kuayunkan pedang itu ke atas dengan kekuatan penuh.

Srat!

Darah berwarna ungu gelap menyembur deras. Perut Chimera itu terbelah panjang. Monster itu melolong kesakitan, mengepakkan sayap kelelawarnya dengan kalap mencoba menjauh. Namun, sebelum luka di perutnya sempat beregenerasi menutup, sihir kegelapan dari tebasan Taring Abyss telah menyusup ke dalam jaringannya.

Api hitam menjalar dari tepi lukanya, menggerogoti sel-sel dagingnya dari dalam, menghalangi proses penyembuhan alami si monster.

Chimera itu meronta-ronta di lantai labirin. Ia mencoba memadamkan api hitam itu dengan menggosokkan tubuhnya ke dinding batu, namun api kegelapanku tidak membutuhkan oksigen untuk menyala. Ia memakan mana dan energi kehidupan mangsanya.

Aku berjalan perlahan menghampiri monster yang sekarat itu. Pedang Taring Abyss di tanganku terseret ringan di atas lantai batu, menghasilkan suara desisan yang mengerikan.

Aku mengangkat pedangku, mengarahkannya ke leher singa raksasa tersebut.

"Tidurlah, anomali jelek," bisikku.

Crak.

Tebasan bersih memisahkan kepala singa itu dari lehernya. Api hitam seketika menelan seluruh sisa tubuhnya, menghanguskannya menjadi debu dalam hitungan detik. Yang tersisa di lantai hanyalah sebuah kristal ungu gelap yang memancarkan aura mana kuat. Inti Sihir Chimera A+.

Kuambil kristal itu, memutar-mutarnya sejenak, sebelum menyimpannya ke dalam saku jubah. Koleksi yang bagus.

Di balik batu pelindung, Cecilia von Arnault menatapku tanpa berkedip. Mata hijaunya dipenuhi keterkejutan yang begitu dalam hingga ia lupa dengan rasa sakit di lengannya. Ia baru saja menyaksikan seorang murid yang tidak memiliki bakat sihir sama sekali, membantai monster kelas A+ dengan ketenangan seorang pembunuh profesional bayaran.

Aku berjalan kembali ke arahnya, menyarungkan pedangku.

"Musuhnya sudah mati, Ketua. Kau aman," ucapku santai.

Cecilia berusaha bangkit berdiri, menahan ringisan sakit saat lengannya bergeser. "Kau... sihir apa itu tadi? Itu bukan elemen dasar. Itu... kegelapan."

"Jangan terlalu banyak berpikir, Nona Arnault. Pikiranmu yang sempit tidak akan mampu memahami apa yang terjadi di tempat ini," aku menghela napas, merogoh saku dalam jasku dan mengeluarkan sebuah botol kaca berisi cairan kemerahan. Ramuan penyembuh tingkat menengah yang kuambil dari perbendaharaan keluarga sebelum berangkat.

Kulemparkan botol itu padanya. Cecilia menangkapnya dengan tangan kanan.

"Minum itu. Tulangmu yang patah akan menyatu dalam sepuluh menit. Setelah itu, panggil tim medismu atau nyalakan suar lain untuk mengevakuasi teman-temanmu yang menyedihkan itu."

Cecilia menatap botol ramuan di tangannya, lalu kembali menatapku. Pertahanan arogannya akhirnya runtuh. Gadis bangsawan yang selalu menjaga citranya itu menundukkan kepala, suaranya terdengar bergetar karena rasa malu dan terima kasih yang enggan diucapkan.

"T-Terima kasih... Arthur. Jika kau tidak datang, aku..."

"Simpan terima kasihmu," potongku tajam. "Aku menyelamatkanmu bukan karena aku peduli. Jika kau mati di sini, fraksi bangsawan Pangeran Julian akan sepenuhnya menguasai akademi, dan itu akan sangat merepotkan bisnisku. Aku hanya melindungimu sebagai aset politik."

Aku memutar tumit dan kembali berjalan menuju kedalaman labirin.

"T-Tunggu!" panggil Cecilia, menahan rasa sakitnya. "Kau mau ke mana? Labirin ini tidak aman! Monster kelas A+ barusan adalah bukti bahwa sistemnya rusak! Jika kita kembali ke atas bersama-sama—"

"Aku tidak suka keramaian," aku mengibaskan tangan tanpa menoleh. "Lagipula, monster di sini terlalu menarik untuk dilewatkan. Sembuhkan dirimu, Arnault. Dan anggap saja pertemuan kita ini tidak pernah terjadi."

Kutinggalkan Cecilia yang terpaku menatap punggungku menghilang ditelan kegelapan Tartarus.

Aset pertama dari fraksi pahlawan berhasil kubajak.

"Kau sangat pandai bermain Tsundere, Arthur," ejek Nox sambil tertawa terbahak-bahak di udara. "Aset politik? Kau baru saja membuat gadis besi itu berhutang nyawa padamu. Kau sedang membangun harem bayangan, ya?"

"Diamlah, Nox," balasku mendengus geli. "Fokus. Kita harus mencari sumber dari anomali sistem ini. Jika aku yang menyebabkan rusaknya alur cerita labirin ini, maka ada bos besar yang menungguku di lantai terbawah. Dan aku tidak sabar untuk mengambil loot-nya."

Ujian Kelangsungan Hidup Tartarus perlahan berubah menjadi sesi grinding pribadi milik sang Penjahat.

1
ZAHRANI
keren thor mantap👍
Nappzz: thank you ka, makasih support nya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!