NovelToon NovelToon
Aku Mengulang Kematian Dalam Hitungan Detik

Aku Mengulang Kematian Dalam Hitungan Detik

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Fantasi
Popularitas:427
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Di dalam Menara Terkutuk yang membelah peradaban Valenthia, kaum jelata dilemparkan ke garis depan sebagai pasukan tumbal bagi kemuliaan para bangsawan darah biru. Ren, seorang prajurit buangan, dijatuhi vonis mati di Lantai 10 saat monster Chimera menerkam barisan mereka.

Namun ketika ajalnya tiba, waktu terputar mundur puluhan detik ke belakang. Terjebak dalam lingkaran maut yang tak berujung, Ren mengumpulkan ingatan dari setiap kematian untuk memetakan jalur bertahan hidup—merobek tirani aristokrasi dan memimpin para penyintas menembus Koloseum Darah Lantai Menara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4

Dentuman keras meledak di rongga leher monster zirah hitam saat tombak petir para penyihir bangsawan menghantam telak titik lemahnya.

Kilatan cahaya biru merobek lapisan sisik dan daging, memicu semburan cairan hijau pekat dan serpihan sisik tajam yang berhamburan ke segala arah. Gelombang angin kencang menghempas seluruh aula, meretakkan pilar-pilar batu di sekitarnya dan merontokkan debu pekat dari langit-langit. Bau hangus daging terbakar seketika berbaur dengan uap belerang, menyesakkan dada siapa pun yang masih bernapas.

Ren meluncur di atas lantai marmer menuju perlindungan perisai Vargas.

Pecahan batu dan serpihan sisik menghantam perisai besi veteran itu dengan dentang logam keras. Percikan api menyala saat serpihan tajam beradu dengan lempeng baja tebal. Berkat posisi perisai yang dimiringkan sesuai arahan Ren, kekuatan hantaman itu terbelokkan ke arah samping, menyelamatkan tangan dan bahu Vargas dari cedera remuk.

"Masuk ke sini, Ren!" seru Vargas serak sambil menarik bahu Ren ke balik perisainya.

Ren terduduk di lantai batu, menyandarkan punggungnya pada kaki perisai Vargas. Napasnya memburu cepat, dadanya naik turun dengan kasar saat ia berusaha menghirup udara yang kini pekat oleh debu. Keringat bercampur darah mengucur dari pelipisnya, membasahi kain kusam seragamnya yang robek di beberapa bagian.

Seluruh pakaian kulitnya kotor oleh jelaga hitam dan cipratan lendir asam yang mengepulkan uap tipis. Di dalam kepalanya, rasa sakit dari belasan kematian sebelumnya masih berdenyut perih. Tenggorokannya terasa kering dan pahit, menyisakan jejak racun semu yang terus mengingatkan dirinya bahwa hidupnya saat ini dibayar dengan penderitaan yang menguras kewarasan.

Monster kolosal di hadapan mereka tidak lagi bergerak untuk menyerang.

Tubuh raksasa berkaki enam itu terhuyung-huyung ke depan dengan langkah goyah. Cahaya merah di matanya padam, digantikan oleh asap hitam yang membubung dari lehernya yang koyak parah. Ketiga ekor berdurinya terkulai di atas lantai marmer, kehilangan tenaga untuk mematuk mangsa.

Lewat satu lengkingan parau yang melemah, monster penjaga Lantai 10 tumbang menghantam lantai katedral dengan benturan keras yang mengguncang fondasi aula.

Debu batu dan kabut hitam membubung tinggi, menyelimuti bangkai raksasa yang kini kaku tanpa sisa kehidupan.

[Penjaga Lantai 10 Berhasil Dikalahkan.]

[Kondisi Khusus: Inti Monster Hancur dalam Satu Siklus Serangan.]

Tulisan sistem mengambang sesaat di udara dalam pendar keemasan sebelum memudar, menandakan ancaman utama di lantai tersebut telah berakhir.

"Bagus. Serangan yang rapi dari divisi sihir," suara tenang Julius von Ravensburg menggema dari barisan belakang barier pelindung.

Julius melangkah maju di atas pecahan marmer putih. Rapier tipis di tangannya disarungkan kembali ke pinggangnya dengan gerakan anggun. Jubah sutra birunya tetap bersih tanpa setitik debu pun. Di belakangnya, barisan ksatria elit keluarga Ravensburg melangkah teratur, mengawal komandan mereka dengan pedang terhunus dan pandangan dingin ke sekeliling.

"Sesuai rencana Batalion Ketujuh," lanjut Julius sambil menatap para perwiranya, "monster ini tumbang dalam satu putaran serangan. Catatan penaklukan ini akan memperkuat posisi keluarga Ravensburg di hadapan dewan militer kekaisaran."

Mendengar ucapan itu, rahang Vargas mengeras di balik helm besinya. Tangan sang veteran meremas pegangan perisai dengan geram menahan amarah yang mendidih.

"Rencana batalion..." gumam Vargas dengan suara geram yang tertahan. "Bocah ini yang meluncur di bawah taringnya, menusuk celah lehernya dengan tombak perunggu, dan membuka ruang bagi mantramu! Kalau dia tidak menahan sambungan leher itu, tombak petirmu cuma membal di atas sisik tebalnya!"

Ren menyentuh lengan zirah Vargas, menggelengkan kepala perlahan. "Tahan dirimu, Paman. Membantah bangsawan bersenjata di sini cuma memberi mereka alasan untuk menghukum kita atas tuduhan pembangkangan."

Ren paham betul cara dunia ini bekerja. Bagi para bangsawan, prajurit kasta rendah tidak berhak atas medali kehormatan atau catatan jasa. Mereka hanyalah alat pakai-buang yang tugasnya selesai begitu monster meregang nyawa.

Di dekat bangkai monster yang masih mengepulkan asap, Lady Elise melangkah mendekat dengan jubah putihnya. Sepasang mata peraknya menatap Ren yang duduk kelelahan di balik perisai dengan tatapan penuh tanda tanya.

Sebagai penyembuh yang terlatih membaca aliran energi dan ritme tempur, Elise tahu bahwa tindakan Ren bukan sekadar kebetulan.

Gerakan pemuda itu—menghindari letupan asam di detik yang tepat, menyelinap ke bawah sayap sebelum duri beracun ditembakkan, hingga menusuk leher tepat saat kepala monster terangkat—terlalu presisi untuk disebut keberuntungan rekrutan baru. Pemuda itu bergerak seperti orang yang sudah membaca seluruh jalannya pertempuran berkali-kali di dalam kepalanya.

"Prajurit itu," kata Elise pelan, menatap Julius dengan nada serius. "Dia yang menahan leher monster agar mantramu bisa masuk. Tanpa tindakannya, lantai ini tidak akan beres secepat ini, Julius. Jasanya harus dicatat dalam laporan resmi ekspedisi."

Raut wajah Julius tetap dingin, matanya melirik tajam ke arah Elise dengan sorot meremehkan.

"Nona Elise," sahut Julius tenang namun menusuk. "Anda terlalu terbiasa mencari sosok pahlawan di tempat yang salah. Prajurit pelopor itu cuma rekrutan jelata yang kebetulan panik melempar senjatanya. Mengaitkan keberhasilan sihir tingkat tinggi ordo Ravensburg dengan tindakan acak prajurit kasta bawah adalah kekeliruan memalukan bagi tradisi militer kekaisaran."

"Tapi gerakannya jelas terencana!" bantah Elise dengan nada tertahan. "Dia memandu perisai Vargas dan mengalihkan perhatian ekor monster itu sendirian!"

"Cukup, Nona," potong Julius dingin, suaranya mengunci perdebatan tanpa ruang kompromi. "Wewenang penulisan log ekspedisi berada di bawah mandat keluarga Ravensburg, bukan wangsa Althea."

Julius menoleh ke arah ajudannya tanpa menunda waktu. "Buka portal pemindahan sekarang. Seluruh ksatria elit dan pasukan inti bersiap kembali ke benteng pangkalan di Lantai 9."

"Siap, Komandan!" jawab ajudan seraya mengaktifkan kristal sihir pemindahan yang memancarkan pendar biru safir.

"Tunggu dulu!" seru salah seorang prajurit pelopor yang terkapar dengan paha berlumuran darah di dekat pilar. "Bagaimana dengan kami? Portal itu cuma muat untuk rombongan bangsawan! Bagaimana dengan evakuasi kami yang luka-luka di sini?!"

Suara rintihan lain mulai bersahut-sahutan dari barisan prajurit jelata yang selamat. Mereka menatap lingkaran cahaya biru itu dengan mata penuh keputusasaan, berharap ada uluran tangan bagi mereka yang telah menumpahkan darah sebagai umpan.

Julius melangkah menuju lingkaran cahaya tanpa menoleh sedikit pun ke arah suara-suara rintihan itu.

"Regu pelopor tetap di sini untuk mengamankan area sampai tim logistik berikutnya tiba," jawab Julius datar, suaranya terdengar seperti membacakan keputusan administratif biasa. "Lantai ini akan mengalami pergeseran struktur setelah monster penjaga mati. Siapa pun yang masih bernapas saat tim perintis datang akan dijemput sesuai prosedur."

Vargas membelalak mendengar alasan dingin itu. Rahangnya gemetar menahan amarah yang membakar dada.

"Pergeseran struktur? Kau tahu persis lantai ini bakal ambruk ke jurang begitu miasma pelindungnya hilang!" teriak Vargas serak. "Kau sengaja meninggalkan kami di sini supaya tidak perlu membagi ransum ekspedisi dan membayar sisa kontrak kami ke keluarga di bawah!"

Julius hanya menatap dingin dari dalam lingkaran cahaya sihir pemindahan yang mulai menyelimuti tubuhnya. Di matanya, kemarahan prajurit tua itu tak lebih dari dengungan lalat yang tidak berharga.

"Buktikan nilai kalian dengan bertahan hidup," ucap Julius sebelum sosoknya dan para ksatria pengawal lenyap ke dalam pusaran portal yang menutup rapat.

"Julius! Kau tidak bisa meninggalkan mereka seperti ini!" suara protes Elise terdengar keras sebelum lingkaran sihir pelindung otomatis keluarga Althea menarik tubuh sang putri suci masuk ke dalam portal pemindahan secara paksa.

Cahaya sihir padam seketika. Aula katedral kembali hening dalam kegelapan yang menekan. Udara dingin seketika menusuk tulang, membawa aroma debu dan kesendirian yang mencekam.

Di lantai yang berlumuran darah, tersisa sekitar tiga puluh prajurit pelopor yang selamat dari serbuan pertama. Sebagian besar terluka parah, terkapar dengan napas tersengal tanpa pasokan obat yang memadai.

Shizuka bergegas mendekati prajurit yang terluka, merobek kain kassa untuk membalut luka robek di kaki mereka. Gerakannya cepat dan dingin, menghemat sisa salep herbal yang tersisa di tasnya. Di sampingnya, Riku berdiri terpaku dengan wajah pucat menatap ke arah ubin tempat portal tadi berdiri.

"Mereka benar-benar meninggalkan kita..." bisik Riku dengan suara tercekat, air mata mengalir di pipinya yang kotor oleh jelaga. "Kita ditinggal mati di sini..."

"Jangan melamun, Riku!" seru Vargas serak seraya mengencangkan tali perisainya. Pria tua itu menarik anak itu menjauh dari retakan lantai. "Kumpulkan tali tambang, belati, dan semua ransum kering yang berserakan! Cari pegangan di pilar terdekat sekarang juga!"

Ren memaksa tubuhnya bangkit berdiri. Rasa ngilu di dadanya masih berdenyut, tetapi getaran di telapak kakinya mengirimkan sinyal bahaya yang jauh lebih mendesak.

"Paman, pegang Riku dan Shizuka!" teriak Ren sambil menyambar tas perbekalan di dekat bangkai monster.

Suara derak keras terdengar dari dasar lantai marmer di bawah kaki mereka.

Retakan-retakan besar menjalar cepat di sepanjang lantai aula, membelah marmer putih menjadi lempengan raksasa yang mulai kehilangan daya topang. Menara ini tidak memiliki belas kasihan; matinya monster lantai memicu keruntuhan ekosistem ruang secara instan.

Guncangan dahsyat meruntuhkan langit-langit katedral, menjatuhkan balok-balok batu obsidian seberat ribuan pon ke lantai yang kian miring. Angin bertekanan rendah menyedot debu dan udara ke rongga jurang di bawahnya dengan deru yang memekakkan telinga.

Lantai 10 yang kehilangan fondasi sihirnya ambruk ke dalam kegelapan jurang hampa. Seluruh puing reruntuhan, pecahan pilar, bangkai monster, dan orang-orang yang tersisa tersapu jatuh, melayang ke dalam kegelapan lantai tersembunyi yang belum pernah tercatat di peta kekaisaran.

1
Lusiana Dewi ♥
mengerikan
Lusiana Dewi ♥
sungguh kejam 😡
Lusiana Dewi ♥
mengerikan kuku nya besar lemari /Scare/
Lusiana Dewi ♥
kasihan /Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!