Tiga pemuda bokek di Desa Kertajaya nekat mencari cara mendapatkan uang. Alih-alih menemukan keberuntungan, mereka justru selalu terjebak dalam masalah kocak yang bikin hidup mereka semakin kacau. Tanpa mereka sadari, petualangan aneh yang lebih besar sudah menunggu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Matahari pagi telah sepenuhnya naik, memancarkan cahaya hangat yang menyapu atap-atap seng dan genting rumah warga di Desa Kertajaya. Suara radio dari salah satu rumah tetangga yang menyiarkan tembang campursari mengalun lembut, berpadu dengan suara sapu lidi yang bergesekan dengan tanah halaman.
Di depan teras kos nomor empat, Raka, Bayu, dan Dimas berdiri bersiap. Raka mengenakan kaus polo abu-abu yang sedikit pudar, sementara Bayu sibuk merapikan kerah kaus partainya. Dimas berdiri paling tenang sambil membawa selembar kertas HVS putih dan sebatang pulpen hitam di tangannya.
Di dekat mereka, Mira berdiri dengan dagu terangkat bangga. Gaun ungunya tampak berkibar tipis tertiup angin pagi. Ia merasa sangat berjasa atas ide layanan jasa bersih-bersih pekarangan yang akan dieksekusi hari ini.
"Ingat," kata Mira dengan nada menceramahi, menatap ketiga pemuda itu satu persatu.
"Kalian adalah penyedia jasa eksklusif. Jangan tawarkan harga terlalu murah, atau martabat kelompok kita akan jatuh di hadapan para petani dan pedagang pasar."
Bayu mendengus pelan sambil tersenyum geli.
"Martabat kelompok, katanya. Tenang saja, Ratu Mira. Di Kertajaya ini, kalau kita pasang harga terlalu mahal, yang ada kita malah diusir pakai sapu ijuk sama bapak-bapak setempat, bukan dibayar."
"Makanya, biarkan Dimas yang memegang kendali pemasaran," sahut Raka sambil menepuk bahu Dimas.
"Dim, udah siap dengan daftar harganya?"
Dimas mengangguk pelan, memperlihatkan kertas HVS di tangannya yang sudah dicoret-coret dengan tulisan tangan rapi.
"Udah. Paket A: bersih-bersih halaman depan dan cabut rumput liar, sepuluh ribu rupiah. Paket B: pangkas ranting pohon dan rapikan dahan, lima belas ribu rupiah. Paket C: bongkar dan rapikan gudang berantakan, dua puluh lima ribu rupiah plus bonus es teh manis kalau yang punya rumah baik hati."
"Bagus," puji Mira, mengangguk puas. "Setidaknya kalkulasi matematis manusia dingin ini masih masuk akal."
"Yaudah, tunggu apa lagi? Ayo kita berangkat sebelum keduluan tukang rumput keliling langganan Pak RT," ajak Bayu bersemangat, langsung melangkah turun dari teras kos.
Raka, Dimas, dan Mira mengekor di belakang Bayu. Mereka berjalan menyusuri gang sempit Desa Kertajaya yang asri. Di sepanjang jalan, suasana desa tampak hidup. Beberapa anak seragam SD berlari kecil sambil tertawa membawa pensil warna, seorang ibu menjemur gabah di atas terpal biru di depan rumahnya, dan tukang sayur keliling sedang melayani emak-emak yang sibuk menawar harga cabai.
Mira mengamati setiap sudut desa dengan sorot mata penuh rasa ingin tahu yang disembunyikan di balik sikap angkuhnya. Meskipun awalnya ia menganggap desa ini sebagai tempat yang kotor dan bising, perlahan-lahan ia mulai mengenali pola kehidupan para warganya siapa yang suka bangun pagi, siapa yang warungnya paling laris, hingga siapa tetangga yang paling hobi bergosip di pos ronda.
Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menemukan sasaran pertama. Di sebuah rumah bercat hijau lumut dengan halaman cukup luas yang dipenuhi dedaunan kering dan rumput liar setinggi mata kaki, tampak seorang bapak-bapak paruh baya sedang berdiri bingung sambil memegang gunting tanaman besar.
Bayu langsung menyenggol lengan Raka.
"Nah, itu dia target potensial kita. Pak Haji Dahlan, pensiunan mantri desa yang terkenal hobi melihara tanaman tapi malas nyabutin rumputnya."
Raka mengangguk, lalu berjalan mendekati pagar halaman rumah tersebut bersama Dimas. Mira ikut melangkah di samping Raka, memasang senyum penuh kemenangan seolah-olah dirinyalah manajer utama dari usaha jasa dadakan ini.
"Pagi, Pak Haji!" sapa Raka ramah begitu sampai di depan pagar.
Pak Haji Dahlan menoleh, lalu tersenyum lebar melihat tiga pemuda kos nomor empat.
"Eh, Raka, Bayu, Dimas! Pagi juga. Wah, tumben lewat jalur timur. Mau pada ke mana nih?"
"Begini, Pak Haji," ujar Dimas langsung mengambil alih dengan gaya tenangnya, membentangkan kertas HVS daftar harga di depan pagar.
"Kami dari kelompok pemuda mandiri kos nomor empat sedang membuka jasa pemeliharaan pekarangan dan kerapian gudang. Mumpung halaman Pak Haji kelihatan butuh sentuhan artistik, kami mau nawarin Paket A khusus hari ini."
Pak Haji Dahlan mengerjap kaget, lalu tertawa terbahak-bahak hingga kumis putihnya bergetar.
"Ha ha ha! Jasa kebersihan pekarangan? Wah, kebetulan banget! Dari kemarin saya mau nyuruh cucu saya bersihin rumput tapi dianya malah main gawai terus.
Mau dibayar berapa kalian kalau bereskan halaman depan sampai bersih?"
Mira, yang berdiri tepat di sebelah Raka, tersenyum sinis penuh kemenangan, berbisik pelan ke udara kosong,
"Katakan pada manusia tua itu agar mengambil Paket B sekaligus, maka kita akan dapat uang tambahan."
Raka menahan senyumnya, lalu menatap Pak Haji Dahlan dengan mantap.
"Cukup sepuluh ribu saja, Pak Haji. Dijamin pekarangan rumah langsung kinclong sebelum siang."
"Wah, murah meriah euy! Sikat, Nak! Alatnya di gudang belakang, silakan dipakai!" seru Pak Haji Dahlan antusias.
Raka, Bayu, dan Dimas langsung masuk ke halaman, bersiap mulai bekerja. Di tepi pagar, Mira melipat tangannya di dada, merasa bangga karena ide briliannya terbukti sukses besar di hari pertama.
Suara gesekan bilah arit kecil yang beradu dengan pangkal rumput liar mulai berirama di halaman depan rumah Pak Haji Dahlan. Bayu berjongkok sambil mencabut rumput teki dengan penuh penghayatan, sementara Dimas bertugas menyapu dedaunan kering menggunakan sapu lidi bambu ke dalam satu tumpukan besar. Raka kebagian jatah merapikan dahan-dahan pohon kamboja hias yang sudah terlalu rimbun di dekat teras.
Di bawah naungan pohon mangga di sudut halaman, Mira berdiri memperhatikan ketiga pemuda itu bekerja dengan sebelah alis terangkat sinis. Meskipun ide awalnya terbukti berhasil mendatangkan pelanggan pertama, pemandangan manusia-manusia fana yang harus berjongkok di atas tanah demi lembaran uang sepuluh ribuan tetap saja tampak sangat kontras dengan standar hidup seorang putri bangsawan gaib.
Pekerjaan yang benar-benar mengandalkan otot dan keringat, batin Mira menggelengkan kepala pelan, melipat tangan di dada dengan gaun ungunya yang berkibar pelan tertiup angin pagi. Tetapi, setidaknya mereka tidak lagi menghitung uang receh dua ribu perak sambil meratapi nasib di kamar kos.
"Heh, Bayu! Jangan cuma rumput kecil yang dicabut, itu akar ilalang di sebelah batu bata merah tolong dibongkar sekalian!" perintah Mira iseng, berbicara tepat di telinga Bayu meskipun wujudnya tidak terlihat oleh sang pemuda.
Bayu yang sedang asyik menarik rumput tiba-tiba merinding. Ia mengusap tengkuknya sendiri sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Duh... kok tiba-tiba merinding ya? Perasaan matahari udah sepenggalah, tapi hawanya berasa kayak dilewatin angin kuburan."
Dimas, yang sedang mengumpulkan tumpukan sampah daun ke dalam karung plastik, melirik Bayu sekilas dari balik tumpukan sampah.
"Paling juga angin dari balik pagar. Jangan kebanyakan drama, selesaikan dulu bagian lo sebelum Pak Haji keluar bawa es teh."
Mendengar kata 'es teh', mata Bayu langsung berbinar-binar penuh semangat.
"Nah, itu dia motivasi kerja yang paling nyata! Semangat kerja bakti demi segelas es teh manis buatan istri Pak Haji!"
Di teras rumah, Pak Haji Dahlan keluar membawa sebuah nampan kecil berisi empat gelas es teh manis berembun yang tampak sangat menyegarkan di bawah terik matahari pagi yang mulai meninggi. Ia meletakkannya di atas meja kayu kecil di teras, lalu memanggil para pekerjanya.
"Istirahat dulu sebentar, Nak! Kopi dan tehnya sudah siap!" seru Pak Haji Dahlan ramah.
Raka, Bayu, dan Dimas langsung meletakkan alat kerja mereka dan berjalan menuju teras dengan wajah sumringah. Mereka duduk bersila di atas lantai keramik teras yang bersih, menikmati tegukan pertama es teh manis yang langsung menyegarkan kerongkongan.
Mira ikut mendekat, berdiri di dekat tiang teras. Meskipun ia tidak bisa ikut mencicipi es teh manis buatan manusia, aroma harum teh melati dan dinginnya es batu yang berderak di dalam gelas plastik itu cukup membuatnya ikut menelan ludah secara diam-diam.
"Wah, pas banget ini, Pak Haji! Hausnya langsung ilang seketika," puji Bayu sambil menyeka keringat di dahinya dengan lengan kaus.
Pak Haji Dahlan tertawa renyah, melipat tangannya di dada sambil mengamati hasil kerja ketiga pemuda itu.
"Wah, rapi juga ya halaman saya setelah kalian sentuh. Padahal baru setengah jam dikerjakan. Kalau begini caranya, minggu depan kalian boleh datang lagi buat potong rumput di samping rumah."
Raka tersenyum sopan, meletakkan gelasnya yang sudah berkurang setengah.
"Siap, Pak Haji. Kapan pun butuh jasa kebersihan, tinggal panggil kelompok kami saja. Nama kelompoknya... Pemuda Mandiri Kertajaya."
"Pemuda Mandiri Kertajaya, ya? Bagus, bagus. Nama yang gagah," puji Pak Haji Dahlan mengangguk-angguk puas.
Setelah menyelesaikan pekerjaan dan menerima bayaran sepuluh ribu rupiah ditambah bonus dua bungkus gorengan pisang hangat dari Pak Haji Dahlan, Raka, Bayu, dan Dimas pamit undur diri. Mereka berjalan meninggalkan rumah berpagar hijau lumut itu dengan langkah ringan.
"Nah, lihat kan?" ujar Mira dengan nada bangga, berjalan di sisi kiri Raka sambil mengangkat dagunya tinggi-tinggi.
"Ideku terbukti menghasilkan keuntungan instan. Tanpa sihir, tanpa pesugihan, murni menggunakan strategi pemasaran yang cerdas."
"Iya deh, manajer pemasaran terbaik sepanjang sejarah istana gaib," ledek Raka tersenyum tipis, memasukkan uang sepuluh ribu lembar baru ke dalam saku celananya.
"Tapi lumayan juga, Mir. Kalau sehari kita bisa dapat tiga pelanggan dengan paket yang berbeda, dompet kita bakal selamat sampai akhir bulan," tambah Bayu sambil menggigit gorengan pisang yang masih ngebul.
Di tengah perjalanan kembali menyusuri gang, langkah kaki mereka tiba-tiba terhenti di dekat pos ronda sudut dusun. Di sana, tampak Bu Rini tetangga sebelah yang terkenal sebagai ratu gosip tingkat RT sedang berdiri berkerumun dengan dua orang ibu-ibu lainnya, membicarakan sesuatu dengan ekspresi wajah yang sangat antusias.
Begitu melihat Raka, Bayu, dan Dimas lewat membawa peralatan bersih-bersih, Bu Rini langsung melambaikan tangannya heboh.
"Eh, Raka! Sini sebentar, Nak!" panggil Bu Rini dengan suara melengking penuh rasa penasaran.
Raka saling berpandangan sejenak dengan Bayu dan Dimas, lalu melangkah mendekati pos ronda dengan senyum terpaksa. Mereka tahu betul, kalau Bu Rini sudah memanggil, obrolan ringan tidak akan pernah selesai dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Dan di belakang mereka, Mira menyipitkan mata penuh selidik, bersiap mendengarkan gosip apa lagi yang akan beredar di Desa Kertajaya pagi ini.
Raka, Bayu, dan Dimas menghentikan langkah tepat di bawah rindangnya pohon ketapang di samping pos ronda. Bu Rini langsung melangkah maju, menaruh kedua tangannya di pinggang daster oranye miliknya dengan mata berbinar-binar penuh selidik.
"Kalian ini dari mana pagi-pagi bawa arit sama sapu lidi?" tanya Bu Rini langsung on point, tanpa basa-basi sedikit pun.
"Tadi saya lihat dari jendela rumah, kalian masuk ke pekarangan rumah Pak Haji Dahlan. Wah, jangan-jangan numpang mangga tetangga, ya?"
Bayu mendengus pelan, mengangkat arit di tangannya dengan gaya defensif bercanda.
"Bukan numpang mangga, Bu Rini. Kita ini lagi alih profesi jadi pasukan pembersih pekarangan bersertifikat resmi Pemuda Mandiri Kertajaya."
"Hah? Pembersih pekarangan?" Bu Rini membelalakkan matanya kaget, lalu tertawa kecil sambil melirik dua ibu-ibu di belakangnya.
"Duh, ada-ada saja anak kos zaman sekarang. Kuliah belum tentu, malah jadi tukang rumput keliling. Emang dibayar berapa sama Pak Haji Dahlan?"
Sebelum Bayu sempat membalas ucapan usil tetangganya itu dengan nada protes, Mira yang berdiri di sebelah Raka sudah mendengus kesal setengah mati. Sang putri jin melipat tangannya di dada, menatap Bu Rini dengan tatapan tajam setajam silet.
Perempuan paruh baya berambut keriting gantung ini benar-benar ratu kepo tingkat nasional, gerutu Mira dalam hati, memutar bola matanya jengah. Bagaimana bisa setiap gerak-gerik manusia di desa ini selalu dilaporkan kepada seluruh penduduk tanpa izin?
"Perempuan cerewet berbibir merah itu benar-benar hobi mencampuri urusan orang lain," bisik Mira kesal tepat di telinga Raka, sengaja menyalurkan embusan angin dingin agar pemuda itu tahu ia sedang sebal berat.
Raka, yang merasakan tiupan angin dingin di lehernya, langsung paham bahwa Mira sedang sebal berat. Ia buru-buru menjawab pertanyaan Bu Rini dengan senyum paling ramah untuk menghindari gosip baru yang lebih ngawur.
"Alhamdulillah cukup buat beli makan siang, Bu. Namanya juga usaha halal buat nyambung hidup," jawab Raka sopan.
"Kalau rumah Bu Rini halamannya butuh dirapikan atau rumputnya mau dicabut, kelompok kami juga siap kasih diskon khusus tetangga."
Bu Rini tersenyum lebar, tampak cukup puas mendengar jawaban Raka.
"Wah, boleh juga tuh kapan-kapan. Halaman belakang saya memang agak semak karena pohon belimbing udah rimbun. Nanti kalau senggang saya panggil, ya!"
"Siap, Bu! Kabari saja kapan pun butuh tenaga kami," sahut Dimas tenang.
Setelah basa-basi singkat yang dipenuhi rasa penasaran tingkat tinggi khas Bu Rini selesai, Raka, Bayu, dan Dimas akhirnya diizinkan berlalu melanjutkan perjalanan pulang ke kos.
Mereka berjalan menyusuri sisa gang dengan langkah santai. Sepanjang jalan, Bayu terus-terusan mengeluh soal Bu Rini yang hobi mengorek informasi pribadi warga, sementara Dimas menanggapinya dengan komentar-komentar datar yang menggelitik. Di samping mereka, Mira masih merengut kesal, melampiaskan kekesalannya dengan menendang-nendang kerikil kecil di sepanjang jalan tanpa menyentuhnya secara fisik.
Sesampainya di pelataran kos Bu Ratna, mereka bertiga langsung merebahkan diri sejenak di bangku panjang depan kamar mandi lantai bawah. Uang sepuluh ribu rupiah hasil kerja keras pertama hari itu diletakkan di atas meja kecil kamar oleh Raka, menjadi simbol kemenangan kecil bagi kelompok usaha dadakan mereka.
"Setidaknya ide ini jalan," kata Raka sambil tersenyum menatap uang kertas sepuluh ribuan tersebut.
"Besok kita coba cari pelanggan lain lagi."
Mira, yang berdiri bersidekap dengan dagu terangkat, mendengus pelan namun ada binar kepuasan di balik manik matanya. Ternyata hidup di dunia manusia tidak sepenuhnya membosankan, batin sang putri jin mengakui dalam diam.
Matahari perlahan bergerak turun ke sebelah barat, memantulkan bias cahaya jingga yang hangat di atas genting-genting rumah warga Desa Kertajaya. Suara azan Ashar mulai berkumandang sahut-sahutan dari musala-musala dusun, menandakan hari mulai berangsur sore.
Di dalam kamar nomor empat, suasana terasa jauh lebih santai. Raka sedang merapikan sisa-sisa peralatan kerja mereka di sudut ruangan, sementara Dimas merebahkan diri di kasur sambil memainkan pulpen di tangannya.
Bayu duduk bersila di dekat meja, menghitung lembar demi lembar uang hasil kerja keras pertama mereka hari itu.
"Sepuluh ribu dari Pak Haji Dahlan, ditambah bonus dua bungkus pisang goreng..." gumam Bayu girang sambil menghitung koin recehan logam.
"Kalau seminggu konsisten, kita bisa beli stok mi instan sebulan penuh!"
Mira duduk dengan anggun di kursi kayu kecil dekat jendela, melipat kedua tangannya di dada sambil memperhatikan tingkah Bayu yang kegirangan hanya karena uang sepuluh ribu rupiah. Meskipun awalnya ia merasa derajatnya turun karena tinggal bersama manusia miskin, melihat hasil nyata dari strategi yang ia sarankan membuat rasa percaya diri sang putri jin melambung tinggi.
"Sudah kubilang, kecerdasan taktis seorang bangsawan gaib tidak pernah salah," kata Mira dengan nada angkuh yang dibuat-buat, menegakkan dagunya.
"Jika bukan karena saranku tadi pagi, kalian mungkin masih sibuk meratapi isi dompet yang kosong di sudut ruangan ini."
Raka menoleh ke arah Mira, tersenyum tipis mendengar kesombongan kecil sang putri jin.
"Iya, Ratu Mira yang terhormat. Ide bisnismu memang luar biasa. Tapi kalau besok kita mau keliling gang lagi, sepertinya kelompok kita butuh identitas yang lebih jelas supaya warga nggak ngira kita cuma anak-anak iseng."
Dimas bangkit dari kasurnya, mengangguk setuju.
"Benar juga. Minimal kita punya semacam kartu nama darurat atau tanda pengenal kelompok 'Pemuda Mandiri Kertajaya'. Biar kelihatannya lebih profesional di mata Bu Rini dan tetangga lain."
"Kartu nama?" Mira mengerutkan keningnya tidak paham, memiringkan kepalanya. "Potongan kertas kecil bertuliskan nama kalian? Untuk apa benda setipis itu?"
"Biar warga gampang menghubungi kalau sewaktu-waktu butuh jasa kita, Mir. Namanya juga strategi pemasaran modern," jelas Bayu sambil cengengesan.
Mira mendengus pelan, lalu tersenyum tipis penuh rahasia. "Kalau cuma soal secarik kertas tanda pengenal, aku bisa membuatkan stempel ukiran prasasti gaib yang tidak akan luntur sampai sepuluh turunan."
"Eh, nggak usah pakai stempel gaib, Mbak. Nanti malah kertasnya terbakar atau memancarkan cahaya misterius yang bikin Pak RT ketakutan," cegat Raka cepat, tahu betul kalau sihir Mira kadang berlebihan.
"Pakai pulpen dan kertas HVS sisa tugas kuliah Dimas saja sudah cukup."
Dimas langsung mengambil selembar kertas sisa dan mulai merobeknya rapi menjadi beberapa bagian kecil, lalu menuliskan tulisan tangan yang sangat rapi di atasnya: Jasa Pembersihan Pekarangan & Gudang - Kelompok Pemuda Mandiri Kertajaya (Hubungi Raka/Bayu/Dimas).
Mira mengamati proses pembuatan kartu nama darurat itu dengan sorot mata penuh takjub yang disembunyikan di balik gengsinya. Di tengah kesederhanaan kamar kos yang sempit, deru angin sore yang masuk lewat ventilasi, dan gelak tawa kecil dari Bayu yang meledek tulisan tangan Dimas, malam yang tenang di Desa Kertajaya kembali menyambut mereka dengan kehangatan yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.
Malam perlahan merayap turun, menyelimuti Desa Kertajaya dengan selimut gelap yang dihiasi udara sejuk khas perdesaan. Di langit barat, sisa-sisa bias jingga matahari telah sepenuhnya padam, digantikan oleh kerlip bintang-bintang dan sinar lampu neon kuning yang berpendar dari teras-teras rumah warga.
Di dalam kamar nomor empat, suasana terasa begitu hangat dan hidup. Bola lampu bohlam gantung di tengah ruangan memancarkan cahaya kekuningan yang menerangi meja kecil tempat beberapa kartu nama darurat buatan Dimas berserakan rapi.
Bayu sedang merebahkan diri telentang di atas kasur busa tipis, kedua tangannya menopang kepala sambil menatap langit-langit kamar.
"Wah, hari ini bener-bener produktif. Dari pagi keliling gang nawarin jasa, terus cabut rumput di rumah Pak Haji Dahlan. Lumayan banget keringetan sehat."
Dimas duduk di tepi kasur sambil merapikan sisa kertas HVS dan memasukkan pulpen ke dalam tas ranselnya.
"Namanya juga usaha, Bay. Capeknya dapet, duitnya juga dapet. Bu Rini tadi sore bahkan sempat nawarin halaman rumahnya kan."
"Ih, kalau Bu Rini yang punya rumah, yang ada kita bukan dibayar pakai uang sepuluh ribu, tapi dibayar pakai gosip terbaru se-Kecamatan Kertajaya," timpal Bayu cengengesan.
Di sudut ruangan dekat jendela, Mira duduk bersilang kaki di atas kursi kayu. Perempuan bergaun ungu itu mendengarkan obrolan kedua pemuda tersebut sambil melipat tangan di dada. Meskipun ia tidak ikut berbaring atau merentangkan tangan seperti Bayu, sorot mata tajam yang biasanya memancarkan arogansi kini tampak jauh lebih santai.
Manusia-manusia fana ini memang hobi mengeluh dan punya kebiasaan yang aneh, batin Mira merenung pelan dalam diam. Tetapi, di balik kesederhanaan dan kerepotan hidup mereka, ada sesuatu yang tidak pernah kutemukan di istana gaibku: kebersamaan.
Raka, yang baru saja selesai membereskan sapu dan alat kebersihan di sudut kamar, berjalan mendekati meja kecil. Ia mengambil salah satu kartu nama darurat buatan Dimas, membacanya sekilas, lalu tersenyum tipis.
"Kartu nama darurat kita sudah jadi, kelompok Pemuda Mandiri Kertajaya resmi beroperasi mulai besok," kata Raka sambil meletakkan kartu itu di dekat tumpukan dompet kusamnya. Ia melirik sekilas ke arah Mira