NovelToon NovelToon
SELIR DI DALAM TUBUH NAYA

SELIR DI DALAM TUBUH NAYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dide_Lara

Dulu dia mati karena diam. Sekarang dia hidup untuk bersuara.*

lie yun vei, seorang selir cerdas di era dinasti, mati tragis karena dijebak dan difitnah.
Di kehidupan barunya, dia bereinkarnasi jadi selebriti bawahan yang juga ditindas manajernya, Hans.

Tapi kali ini Naya tidak akan diam.
Dengan otak selir dan mental baja, dia akan membalikkan keadaan.
Di tengah drama, skandal, dan paparazzi... muncullah CEO dingin yang tiba-tiba tertarik padanya.

*Dendam harus dibayar. Ketenaran harus direbut.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dide_Lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TEFLON DI BALIK PINTU YANG GELAP

Tok... tok... tok... Suara ketukan terdengar dari balik pintu utama.

Kami bertiga saling tatap. Sendok yang baru saja hendak menuju mulut terhenti di udara, menggantung antara lapar dan waspada.

Vanka langsung beranjak dan melangkah menuju sumber suara ketukan itu. Langkahnya ringan namun penuh kewaspadaan. Vanka mengintip melalui lubang kecil pintu yang memang sudah disediakan untuk mengintai.

Aku menatap Vanka dari meja makan. Begitu pun dengan Tuan Ajimo. Napas kami berdua tertahan. Vanka membuka pintu apartemen dan seorang pria berjas hitam masuk ke dalam. Kehadirannya membuat napas kami tercekat. Aroma bahaya menyelinap masuk bersama debu lorong.

Vanka berbicara dengan pria itu. Entah apa yang mereka bicarakan, suaranya samar-samar sampai tidak terdengar oleh telingaku. Bibir mereka bergerak pelan, menyisakan misteri di antara denting sendok.

Pria itu lalu keluar dan Vanka kembali menuju meja makan. Langkahnya kembali tenang, namun sorot matanya menyimpan bara.

Aku ingin bertanya karena rasa penasaran yang mendesak, tapi enggan kulakukan. Tuan Ajimo tiba-tiba bertanya dengan tangan yang tetap bekerja untuk mengisi perutnya. Nasi goreng di piringnya masih mengepul.

"Siapa dia, Vanka?" tanya Tuan Ajimo dengan penasaran.

"Oh, dia pengawalku, Paman. Ia bilang para pembuat kerusuhan di kedai sashimi saat mencari kalian, mereka tidak mau mengatakan atas perintah siapa mereka melakukan itu," jelas Vanka sambil menarik kursi dan duduk.

"Aku yakin pasti Hans memberi ancaman kepada mereka," ujar Tuan Ajimo sambil menahan emosi dengan mata memerah saat mendengar nama Hans. Nama itu menjadi racun yang membakar lidahnya.

Aku hanya diam menyimak pembicaraan mereka. Aku sedang menikmati suap demi suap nasi goreng yang diracik oleh jemari Vanka. Rasa gurihnya merayap di lidah, mengobati perut yang telah lama meronta.

Tidak terasa nasi goreng yang mengisi piring porselen putih itu habis tidak tersisa. Begitu pun dengan piring Tuan Ajimo. Kami benar-benar merasa sangat lapar. Lapar kami menjadi jurang yang akhirnya terisi setelah dua minggu terombang-ambing tanpa kepastian.

Vanka melihat kami tersenyum dan terpancar ketulusan dari hatinya. Senyum itu menjadi mentari kecil di dalam ruangan apartemen yang dingin.

Ia menata piring-piring itu dan membawanya menuju wastafel. Saat ia ingin membersihkan piring-piring itu, aku melangkah dengan cepat menghampirinya.

"Vanka, tunggu, biar aku saja yang membersihkan," ujarku seraya menarik spons yang sudah berada di tangannya.

"Terima kasih, Naya," ujar Vanka yang masih berdiri di sampingku. Kedekatannya membuat jantungku berdegup tidak beraturan.

Tuan Ajimo yang masih duduk di meja makan terlihat diam, tapi di kepalanya ia sedang menyusun rencana untuk menghancurkan adik iparnya itu. Pikirannya menjadi labirin strategi yang berputar tanpa henti.

"Vanka, bisakah kau kemari? Aku ingin bicara," panggil Tuan Ajimo.

Vanka menengok dan melangkah menuju Tuan Ajimo. Aku menarik napas lega, setidaknya ia tidak berada di sampingku lagi.

"Hufft," desahku pelan.

"Iya, Paman, ada apa?" tanya Vanka seraya duduk di depan Tuan Ajimo, membuat mereka saling berhadapan. Dua kepala dengan dua dunia berbeda kini bertemu di satu meja.

"Apa kau bisa mengantarku ke kantor pengacara Frans?" ujar Tuan Ajimo dengan tatapan serius.

"Tapi, Paman, apakah tidak terlalu berisiko?" ujar Vanka khawatir. Alisnya bertaut.

"Aku akan menyamar agar tidak terlihat," Tuan Ajimo meyakinkan Vanka. Suaranya mantap.

"Baiklah, Paman, jika itu maumu. Nanti akan ada anak buahku yang menjaga Paman," ucap Vanka meyakinkan Tuan Ajimo.

"Sekarang, Paman siap-siap, kita akan berangkat empat puluh lima menit lagi," ujarnya seraya mengangkat sedikit tangannya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.

Tuan Ajimo beranjak dari duduknya dan melangkah menuju kamar.

Vanka melangkah menuju kamar yang kutiduri semalam.

Aku hanya diam di dalam apartemen. Baru dua hari di sini, rasanya sudah sebulan. Aku merasa bosan. Kebosanan itu menjadi sangkar yang mengurung sayapku, menunggu tuannya menuangkan biji-bijian di mangkuk makanannya.

Tuan Ajimo keluar dengan setelan training, topi, dan masker. Penampilannya cukup cocok untuk usianya yang sudah lima puluh lebih dan terlihat masih cukup gagah dengan kondisi tubuhnya yang semakin pulih. Saat melihat Tuan Ajimo, terkadang aku merasa benci. Di satu sisi aku ingin merasakan kasih sayang seorang ayah. Sungguh membuatku bingung dengan diriku sendiri. Benci dan rindu berkelahi di dalam dada.

Terdengar suara pintu kamar dibuka.

Kreek...

Vanka keluar dari balik pintu dengan aroma khas parfum dari kalangan elit. Dengan setelan kemeja krem, Vanka terlihat lembut sekaligus gagah. Wibawanya menjadi magnet yang sulit diabaikan.

Aku masih duduk di meja makan, lalu berpindah ke kursi sofa yang lembutnya menjadi kapas yang memeluk tubuhku.

Vanka menatapku.

"Naya, aku akan pergi bersama ayahmu. Jangan hubungi siapa pun dan jangan buka pintu sekalipun ia mengatakan pengawalku," tegas Vanka lalu memberikan masker beserta topi kepada Tuan Ajimo.

Mereka melangkah menuju pintu utama. Aku langsung sedikit berteriak memanggil Vanka.

"Vanka!"

Vanka menengok ke belakang.

"Iya, Naya, ada apa? Oh iya, aku lupa, baju gantimu sudah kusiapkan di atas kasur. Kau bisa pakai itu. Itu baju yang paling kecil milikku, aku rasa cukup untuk badanmu," ujarnya seraya tersenyum.

"Makasih, Vanka, tapi ada satu lagi. Bisakah kau ajariku cara menghidupkan TV ini?" ucapku dengan gugup, wajahku memerah menahan malu.

Tuan Ajimo dan Vanka menyeringitkan dahi. Mungkin dalam hati mereka bergumam, bagaimana bisa di dunia modern ini Naya tidak bisa menghidupkan televisi.

Vanka tersenyum lalu menghampiriku. Ia mengambil remot kontrol untuk benda pipih besar yang tertempel di dinding dan mengajariku cara menggunakannya.

Setelah aku bisa memahami cara menggunakan dan menghidupkan benda pipih besar itu, Vanka mengelus rambutku dan tersenyum tulus. Sentuhannya membuat wajahku sedikit memerah dan malu.

"Perasaan campur aduk macam apa ini," gumamku dalam hati.

Vanka kembali melangkah bersama Tuan Ajimo dan meninggalkan apartemen. Pintu tertutup, meninggalkan keheningan yang menggema.

Aku merindukan Choco, Puri, dan Alex, tapi tidak memungkinkan untuk menghubungi mereka karena Hans mulai curiga kepada mereka. Rindu itu menjadi beban yang menggantung di langit-langit apartemen.

Aku mencium badanku yang sangat bau. Bau itu membuatku jijik dengan diriku sendiri. Lalu aku melangkah ke kamar, membersihkan diri, dan mengganti pakaian yang diberikan Vanka. Sepasang kaus training putih yang berada di atas kasur, lalu aku memakainya. Pakaian itu sangat kebesaran untuk badanku yang sedikit kecil ini. Lengan bajunya menjuntai menutupi jemariku.

Lalu aku melangkah keluar kamar dan duduk di atas sofa nan lembut.

Aku menghidupkan benda pipih besar yang menempel di dinding. Aku menikmati drama yang ada di dalam benda pipih yang bertengger di dinding itu. Tiba-tiba terdengar suara pintu seperti sedang dibuka, sedangkan Vanka dan Tuan Ajimo sedang keluar dalam kurun waktu yang cukup lama. Darahku berdesir.

Aku langsung mematikan TV dan berlari ke dapur mengambil benda bulat bergagang, teflon, dan menutup semua tirai lalu melangkah dan mematikan saklar lampu agar gelap, lalu berdiri di belakang pintu. Napasku menjadi pemburu yang menunggu dalam senyap, menunggu sang ikan memakan umpan.

*Bersambung...

1
Rosdianah 🌷
revisi kak, pelayan ku.
Nurull Sef Az: oke ka makasih
ya ka
total 1 replies
Nurull Sef Az
plotwis banget
muhammad fikriaz
suka sama alur ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!