SINOPSIS
Mati di tangan Antagonis yang kejam? Itu urusan belakangan. Tapi hidup miskin dan banyak utang? Itu penistaan bagi jiwa kapitalis Aura!
Bertransmigrasi ke dalam tubuh Elara—seorang figuran pelayan istana lusuh yang ditakdirkan mati di Bab 10—Aura menolak menyerah pada takdir novel klise. Berbekal insting bisnis tingkat dewa dan satu koin emas pusaka curian, ia nekat menerobos masuk ke ruang kerja Pangeran Caden, sang Antagonis utama yang dingin, sadis, dan luar biasa kaya. Bukannya mengemis nyawa, Elara justru memeras sang pangeran dan menawarinya proposal investasi saham!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Serangan Pemberontak dan Hitungan Biaya Kerusakan
"Koin ini menghubungkan pertahanan benteng bawah tanah istana. Selama ratusan tahun, Fraksi Selatan mencari ini untuk bisa mengambil alih istana tanpa ketahuan. Saat kau membawanya padaku pagi itu, aku membelinya bukan karena nilainya, tapi untuk memastikan tidak ada bajingan yang bisa menguasai kekaisaran ini."
Caden mengusap pipi Aura. "Tentu saja, aku menyembunyikan fakta itu darimu karena saat itu kau hanyalah pelayan mata duitan yang mungkin akan menjual koin ini ke Fraksi Selatan jika mereka menawar lebih tinggi."
"Gue emang bakal ngelakuin itu kalau mereka nawar lebih gede sih," cengir Aura tanpa rasa bersalah. "Hukum Supply and Demand, Bos! Siapa yang berani bayar mahal, dia yang dapat barang."
"Dan sekarang?" Caden mendekatkan wajahnya, matanya menatap tajam ke dalam mata Aura. "Jika Fraksi Selatan menawarimu seratus juta koin emas untuk mengkhianatiku, apa kau akan mengambilnya?"
Aura terdiam sejenak. Ia pura-pura berpikir keras, menghitung dengan jari-jarinya.
"Seratus juta emas itu... bisa buat beli pulau pribadi, armada kapal dagang, dan makan wagyu tiap hari selama seribu tahun," gumam Aura.
Caden mengeraskan rahangnya. Kilatan cemburu dan amarah mulai muncul di mata peraknya.
"Tapi..." Aura tersenyum lebar, langsung mengalungkan kedua tangannya di leher Caden. "Kalau gue sama Bos, seluruh kekayaan kekaisaran ini otomatis jadi joint account kita, kan? Seratus juta mah receh dibanding valuasi perusahaan gabungan kita! Lagian, cowok-cowok Fraksi Selatan mukanya pada tua dan boomer semua. Nggak ada yang setampan Bos. Investasi estetika itu penting buat kesehatan mental!"
Ketegangan di rahang Caden sirna. Tawanya meledak. Ia menarik pinggang Aura hingga gadis itu duduk di pangkuannya.
"Jawaban yang sangat materialistis, dangkal, dan luar biasa memuaskan. Kau benar-benar satu-satunya wanita yang bisa menaklukkan akal sehatku, Elara."
Tepat saat bibir mereka hendak bertemu untuk 'negosiasi ulang' harga koin, sebuah ledakan dahsyat terdengar mengguncang menara penthouse.
BOOM!
Seluruh kaca raksasa di penthouse itu bergetar hebat. Alarm magis berwarna merah menyala seketika, menenggelamkan ruangan dalam cahaya peringatan berkedip. Suara sirene meraung-raung memekakkan telinga.
Aura melompat dari pangkuan Caden, jatuh terduduk di karpet. "Gila! Ada gempa bumi?! Atau saham kita crash massal?!"
Caden berdiri secepat kilat. Pedang panjang langsung muncul di tangannya dari udara kosong. Matanya menatap tajam ke luar jendela kaca.
Di udara malam, puluhan penyihir berjubah hitam terbang menggunakan sapu magis, mengepung menara lantai 99. Mereka menembakkan bola-bola api dan sihir penghancur ke arah pelindung magis yang melindungi kaca penthouse.
"Pemberontakan," desis Caden, suaranya sedingin es. "Sisa-sisa loyalis Fraksi Selatan. Mereka tahu Vane ditangkap, dan mereka melakukan serangan bunuh diri malam ini untuk merebut koin Inti Naga."
PRANGGG!
Satu sisi kaca raksasa di ruang tamu akhirnya pecah berantakan akibat hantaman bola api biru. Pecahan kaca beterbangan ke segala arah.
Caden langsung menerjang maju, mendekap tubuh Aura dan melindunginya dari serpihan kaca tajam. Punggung Caden terkena beberapa goresan kecil, namun ia sama sekali tidak peduli.
"Bos!" Aura memekik dari dalam pelukan Caden.
"Kau terluka?!" Caden menunduk, memeriksa wajah dan tubuh Aura dengan panik. "Mana yang sakit?!"
"Bukan gue yang sakit! Tapi dompet divisi kita yang sakit!" teriak Aura sambil menunjuk kaca yang hancur berkeping-keping. "Bos tahu nggak itu Kaca Kristal Obsidian Anti-Sihir harganya berapa per meter perseginya?! LIMA PULUH RIBU KOIN EMAS! Dan mereka baru mecahin sepuluh meter persegi! SETENGAH JUTA EMAS KITA HANGUS DALAM SEDETIK!"
Caden nyaris tersedak. Dalam situasi hujan bola api dan serangan mematikan, asisten gilanya ini sedang mengalkulasi kerugian property damage (kerusakan properti)!
"Diamlah soal uangmu, Elara! Nyawamu sedang diincar!" bentak Caden, setengah marah setengah takjub.
Tiga penyihir terbang masuk melalui jendela yang pecah. Mereka mendarat di ruang tamu, pedang sihir menyala di tangan mereka.
"Serahkan Inti Naga itu, Caden! Atau wanita peliharaanmu itu akan hangus jadi abu!" teriak salah satu penyihir.
Aura mengintip dari balik bahu Caden. "Woy, Mas! Jangan sembarangan panggil peliharaan! Jabatan gue Asisten Keuangan Utama tingkat Eksekutif! Dan karena kalian udah mecahin kaca mahal gue, kalian harus bayar ganti rugi pakai nyawa kalian!"
"Tetap di belakangku," perintah Caden mutlak.
Dalam sekejap mata, Caden melesat maju. Kecepatannya tidak masuk akal. Hanya dengan dua sabetan pedang, ketiga penyihir elit itu tumbang tanpa sempat membaca mantra pertahanan. Darah memercik ke atas karpet bulu beruang mahal.
"BOS! KARPETNYA KENA DARAH! ITU NGGAK BISA DI-DRY CLEAN!" jerit Aura histeris melihat aset mewahnya ternoda.
"Berhenti memikirkan karpet! Kita harus turun ke brankas bawah tanah!" Caden menarik tangan Aura, berlari menuju lift khusus darurat di balik lemari buku rahasia. "Koin itu harus diaktifkan di panel inti untuk memanggil pasukan pengawal bayangan kerajaan. Istana sedang dikepung secara keseluruhan!"
Mereka melompat masuk ke dalam lift rahasia yang terbuat dari baja padat. Lift meluncur turun dengan kecepatan mengerikan menuju perut bumi.
Aura menahan napas, memegang koin naga di tangannya erat-erat. Jantungnya berdebar kencang. Ia belum pernah berada dalam situasi perang sungguhan seperti ini. Di dalam novel, pemberontakan ini seharusnya terjadi di bagian akhir cerita dan dipimpin oleh tokoh antagonis (Caden). Tapi karena alurnya sudah kacau balau, pemberontakan ini malah menargetkan Caden dan dirinya.
"Bos," cicit Aura, tiba-tiba merasa ngeri. "Ini Force Majeure (keadaan kahar) kan? Kalau gue sampai mati malam ini, saldo di kartu platinum gue jatuhnya ke mana?"
Caden yang sedang memasang kuda-kuda siaga di depan pintu lift, menoleh ke belakang. Ia menghela napas panjang, berjalan mendekati Aura, dan memeluk bahu gadis yang diam-diam gemetar ketakutan di balik kelakuan bar-barnya itu.
"Kau tidak akan mati, Elara. Aku bersumpah atas nama seluruh kekayaanku, aku tidak akan membiarkan satu goresan pun menyentuh kulitmu," bisik Caden tegas, mengecup dahi Aura dalam-dalam.
"Beneran ya? Kalau gue sampai lecet, Bos harus bayar Hazard Pay (tunjangan bahaya) dobel bulan ini!" tuntut Aura, mencoba tersenyum meski bibirnya sedikit pucat.
"Ya. Sepuluh kali lipat jika kau mau." Caden tersenyum tipis. "Sekarang, pegang koin itu. Saat pintu lift ini terbuka, kau berlari lurus ke arah altar kristal di tengah brankas. Masukkan koinnya. Aku yang akan menahan siapa pun yang ada di bawah sana."
Ting.
Pintu lift darurat terbuka.
Namun, bukan brankas emas yang menyambut mereka. Melainkan lorong gelap yang dijaga oleh puluhan pengawal istana yang ternyata telah membelot. Di tengah-tengah mereka, berdiri Pangeran Arthur dengan pedang terhunus.
"Kau terlambat, Caden," ucap Arthur dengan tatapan penuh kebencian. "Dan kau, Elara. Malam ini, monopoli kalian atas istana ini berakhir."
Aura menelan ludah. "Wah, Hama Pirang beneran upgrade jadi Bos Dungeon sekarang. Bos Caden, tolong kasih tau gue kalau ini ada tambahan uang lemburnya."
Caden memutar pedangnya, hawa membunuh tumpah ruah memenuhi lorong. "Kau akan mendapat seluruh isi istana ini jika kau mau, Asistenku. Ayo selesaikan perhitungan dengan hama ini."
boleh gak bahasa si Elera ini di ganti jadi "Aku" Jangan "Gue" biar kita baca nya enak dikit gitu thor😄kasian di pangeran di gue guein