NovelToon NovelToon
Sistem Kasino Realitas

Sistem Kasino Realitas

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Jarinya dipotong. Adiknya mati. Tabungannya dirampas.

Dibuang seperti bangkai oleh bos kasino tempatnya mengabdi selama lima tahun, mantan bandar bernama Sora membangkitkan satu-satunya senjata yang tersisa yakni sistem yang memanipulasi probabilitas kenyataan.

Pisau yang harusnya menancap di dada? 0,01% peluang kena. Brankas yang harusnya terkunci rapat? 99,99% terbuka. Sekarang, meja taruhan sudah terbalik. Dan rumah kasino yang selalu menang akan ia beli sendiri.


Peringatan Konten: Cerita ini mengandung kekerasan fisik ekstrem, adegan penyiksaan berdarah, tema kriminalitas (judi, pemerasan, pencucian uang), trauma psikologis gelap, serta bahasa kasar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Pasak kayu terganjal tepi koin logam, menolak bergerak turun. Tumit sang bandar menginjak kosong, gagal menarik medan magnet di bawah meja.

Pada saat yang sama, mangkuk aluminium sudah terlanjur diangkat ke udara.

Tiga dadu kayu memantul bebas di atas bantalan karet tanpa tarikan magnetik. Dua dadu menunjukkan angka lima dan enam, sementara dadu ketiga masih berputar kencang di poros sudutnya, bergulir di antara angka dua dan empat.

Jika dadu ketiga berhenti di angka dua, totalnya adalah tiga belas (Besar). Jika berhenti di angka empat, totalnya adalah lima belas (Besar). Namun jika dadu itu terpental keluar bantalan, putaran akan dianggap batal.

Sora memfokuskan pupil matanya pada dadu yang sedang berputar. Di sudut pandangnya, proyeksi sistem menyala cepat:

...----------------...

...[SISTEM KASINO]...

...[Intervensi Mikro: Kunci Momentum Sudut Dadu]...

...[Biaya: 0,5 Point Chip]...

...[Peluang Keberhasilan: 99,9%]...

...[Konfirmasi: Ya / Tidak]...

...----------------...

‘Konfirmasi.’

Hembusan angin sepoi-sepoi dari kipas angin warung kopi bergeser sepersekian derajat, meniup permukaan dadu kayu yang ringan itu tepat pada momen pendaratan terakhirnya.

Dadu ketiga berhenti tegak.

Angka lima.

Total angka, lima, enam, lima. Enam belas. Angka Besar pasti.

“Buka! Enam belas, Besar!” seru salah seorang kuli yang kebetulan menaruh selembar uang dua puluh ribu di sisi besar karena iseng.

Bandar kumis tipis itu terbelalak menatap meja tripleksnya sendiri. Wajahnya yang semula congkak mendadak pucat. Ia melirik ke bawah meja dengan panik, heran mengapa pedal magnetiknya mendadak macet. Belum sempat tangannya meraba kolong meja, sorak-sorai kerumunan penjudi sudah menuntut pembayaran kemenangan.

“Bayar, Bos! Gua pasang ceban di besar!”

“Gua pasang goceng!”

Di tengah keributan itu, Sora memanfaatkan kepanikan sang bandar. Ia meletakkan selembar uang seratus ribu rupiah—yang baru saja ia pungut dari kuli yang menang taruhan besar dan melemparkannya ke tanah karena mabuk—langsung ke atas kotak angka kembar tiga pada putaran berikutnya.

Dalam dua putaran berikutnya, Sora mengulang kombinasi yang sama, manipulasi fisik pada tuas bandar yang kini panik, dipadu dorongan mikro sistem seharga sisa 0,5 PC untuk mengunci sisi angka yang paling sedikit dipasang pemain lain.

Di putaran ketiga, tumpukan uang kertas di hadapan Sora telah membengkak menjadi satu juta lima ratus ribu rupiah.

Kerumunan mendadak terdiam. Para kuli yang semula berisik menoleh serempak ke arah pemuda bertopi pet yang berdiri tenang di sudut meja. Tidak ada orang yang bisa menebak angka tiga kali berturut-turut di lapak dadu jalanan tanpa trik kotor.

Bandar kumis tipis itu membanting mangkuk aluminiumnya ke atas meja tripleks dengan suara memekakkan telinga. BRAK!

Mangkuk itu penyok membentur kayu. Urat-urat di leher sang bandar menonjol tebal saat ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap tajam ke arah wajah Sora di balik bayangan topi pet.

“Kamu pasang tiga kali tepat terus,” desis bandar itu, suaranya dingin penuh ancaman. Tangannya perlahan meraba ke bawah meja, tempat sebilah pisau lipat biasanya diselipkan di antara celah tripleks. “Jangan coba-coba main sulap di lapakku, sobat.”

Sora tidak berkedip. Tangannya meraup gulungan uang satu setengah juta rupiah dari atas meja, lalu menyelipkannya santai ke saku jaketnya.

“Ganjalan magnetik di bawah mejamu jelek,” kata Sora datar, suaranya pelan namun terdengar jelas oleh kerumunan di sekitarnya. “Kawat selingnya karatan. Lain kali ganti pakai kabel rem sepeda motor biar gak macet pas ada angin kencang.”

Mata sang bandar membelalak lebar, kaget rahasianya dibongkar di depan para pelanggannya sendiri.

Tepat pada detik itu, sebelum keributan fisik meledak di warung kopi itu, getaran aneh merayap di retina mata kiri Sora.

Proyeksi neon berwarna kuning amber terang mendadak membesar di bidang pandangnya, menggantikan tampilan saldo yang kini kosong.

...----------------...

...[SISTEM KASINO]...

...[Misi Terbuka: Hancurkan Arus Kas Kasino Ruko Tiga Naga]...

...[Target: Menghancurkan likuiditas meja utama Koko Jerry]...

...[Batas Waktu: 7 Hari]...

...[Hadiah: 200 Point Chip]...

...[Kegagalan: Penalti Fisik Kategori C]...

...----------------...

Sora menatap baris penalti itu dengan napas tertahan.

‘Penalti Fisik Kategori C?’

Sistem ini tidak meminta izin. Sistem ini menyodorkan kontrak meja taruhan yang harus ia selesaikan dalam tujuh hari, atau tubuhnya akan menanggung konsekuensi yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.

Dua orang preman pasar berbadan tegap di belakang bandar dadu mulai melangkah maju mengelilingi meja tripleks dengan tangan masuk ke balik saku jaket jins mereka.

Sora menarik napas panjang, melangkah mundur satu jengkal ke arah jalan raya, dan bersiap membalikkan meja pertama dalam pelariannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!