Mahardika yang harus menanggung penyakit kusta selama 3 tahun, setelah berobat di berbagai macam caranya, dari obat alternatif, hingga rumah sakit besar, tapi penyakitnya tak kunjung sembuh.
Hingga akhirnya, uang tabungan habis untuk berobat dan hanya tinggal sebidang tanah dan sebuah rumah yang tersisa. Dan itu tidak mungkin ia jual karena hanya itu satu-satunya peninggalan untuk anak dan istrinya.
Hingga akhirnya ia bermimpi ada seorang kakek datang dan memintanya untuk datang ke gunung Merapi jika ia mau sembuh.
Mahardika pun meminta izin dengan istrinya, dan berharap bisa sembuh jika ia berobat dengan kakek tersebut.
Hari berganti bulan, hingga akhirnya dia tahun berlalu. Kini Mahardika sudah sembuh total dan sehat kembali dan mendapatkan wasiat menjadi tabib.
Tapi saat ia pulang, alangkah terkejutnya dia. Karena rumah dan tanah itu sudah terjual, dan lebih sakitnya, anaknya ternyata di titipkan ke panti, sementara istrinya sudah menikah lagi.
Akhirnya ia membangun keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
"Iya, Dika! Katanya ilmu pengobatanmu hebat? Itu ada orang mau mati di depanmu! Cobalah sembuhkan kalau memang kamu bukan penipu!" kata Ningsih ikut campur sambil melipat tangannya.
Mahardika menatap Aris dan Ningsih dengan pandangan dingin. "Kalian pikir nyawa manusia adalah bahan taruhan untuk kesombongan kalian?"
"Alah, banyak alasan!" Bilang saja kamu memang tidak bisa dan cuma modal omong kosong!" ejek Aris tertawa puas.
"Sudah, jangan banyak bicara! Anak muda, ini urusan medis tingkat tinggi! Pendarahan otak bukan mainan! Jangan sok tahu dan merusak tubuh pasien!" potong Kepala Rumah Sakit tajam pada Mahardika.
Mahardika menghela napas pelan. Ia menunduk menatap Amel. "Amel, duduk di samping Paman Baskoro sebentar ya, Sayang."
"Iya, Papa," angguk Amel patuh.
Mahardika melangkah mendekati tubuh Pak Hendra yang sudah kejang-kejang kecil.
"Jauh-jauh dari pasien. Jika kalian menunggu ambulans, pria ini akan mati dalam waktu tiga menit," kata Mahardika dengan tegas.
"Hei! Kamu mau apa?!" bentak Kepala Rumah Sakit mencoba menghalangi.
"Jika Anda tidak punya kemampuan untuk menyelamatkannya, diam dan biarkan yang mampu bekerja!" gertak Mahardika dengan suara rendah namun memancarkan aura dingin.
Mahardika berjongkok. Mengaktifkan penglihatan tembus pandangnya.
Dalam pandangannya, pembuluh darah di bagian otak kiri Pak Hendra telah pecah, menumpahkan darah yang menekan saraf utama, sementara jantungnya berdetak sangat lemah.
Mahardika merogoh wadah kainnya dan mengeluarkan tujuh buah jarum perak.
Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb!
Tujuh jarum perak menancap sempurna di titik-titik vital kepala, leher, dan dada Pak Hendra.
"Itu... teknik penusukan jarum kecepatan tinggi?!" gumam Kepala Rumah Sakit terperanjat, matanya melotot tak percaya.
Mahardika tidak berhenti di situ. Ia menempelkan dua telapak tangannya di dada dan dahi Pak Hendra.
Energi murni keemasan mengalir dari jarinya, menembus kulit dan tengkorak pasien.
Secara ajaib, energi hangat itu menghentikan pendarahan di otak, serta memperbaiki sel-sel pembuluh darah yang pecah secara instan.
Wusss...
Hanya dalam waktu kurang dari satu menit, kejang di tubuh Pak Hendra berhenti.
Warna kulitnya yang semula membiru perlahan kembali memerah segar.
Napasnya yang tadi terputus-putus kini kembali teratur dan dalam.
Uhuk! Uhuk!
Pak Hendra tiba-tiba terbatuk pelan, menyemburkan sedikit darah kotor dari mulutnya, lalu perlahan membuka matanya dengan segar!
"L-Lega sekali... Dadaku tidak sakit lagi... Kepala saya juga terasa sangat ringan..." gumam Pak Hendra terduduk pelan sambil memegang kepalanya sendiri, tampak sepenuhnya sehat.
Sreeek!
Seluruh ruangan VIP seketika terdiam.
Kepala Rumah Sakit tersungkur ke lantai, berlutut mendekati Pak Hendra dengan tangan gemetar.
Ia memeriksa denyut nadi dan refleks mata Pak Hendra secara langsung.
"I-Ini tidak mungkin... Ini tidak masuk akal! Pendarahan otak akut dan serangan jantungnya... sembuh total?! Tidak ada sisa kerusakan saraf sedikit pun?! Ya Tuhan... ilmu pengobatan apa ini?!" teriak Kepala Rumah Sakit histeris bercampur takjub yang luar biasa.
Kepala Rumah Sakit mendongak menatap Mahardika penuh rasa malu dan hormat yang teramat sangat.
"Master! Maafkan kesombongan dan kebodohan saya tadi! Anda bukan sekadar dokter... Anda adalah Mahadewa Pengobatan!" kata Kepala Rumah Sakit sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Walikota bertepuk tangan penuh kekaguman. "Luar biasa! Benar-benar dokter ajaib!"
Tuan Baskoro tersenyum bangga seraya menatap Aris dan Ningsih yang kini berdiri mematung dengan wajah pucat.
"Bagaimana, Aris? Ningsih? Masih mau menyebut penyelamat nyawa kami ini sebagai penipu miskin tidak berguna?" panggil Tuan Baskoro dengan nada mengejek yang dingin.
Aris dan Ningsih terdiam penuh rasa malu.