Di mata dunia, Theodore hanyalah "menantu benalu" yang bisanya mencuci piring, mengepel lantai, dan menelan setiap hinaan dari keluarga istrinya tanpa perlawanan. Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik celemek kusamnya, ia adalah Dewa Perang yang ditakuti, Raja Mafia terkuat, dan miliarder pemilik perusahaan raksasa yang sengaja memalsukan kematiannya. Ia menahan semua caci maki hanya demi Yevone, satu-satunya wanita yang setia membelanya di tengah keluarga yang kejam. Namun, ketika keserakahan keluarga mertuanya dan Keluarga Z melewati batas hingga mengancam keselamatan Yevone, Theodore memutuskan sudah waktunya melepas penyamarannya. Dengan sebuah cincin naga hitam usang di jarinya, Theodore bersiap menunjukkan kepada mereka bahwa kemiskinan yang absolut adalah hukuman yang jauh lebih mengerikan daripada kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RDBMB 29
Gagang telepon kabel yang terlepas dari jemari Kevin menghantam lantai marmer dengan dentang keras, memecah keheningan ruang makan. Wajah Kevin yang beberapa detik lalu dipenuhi kesombongan kini pucat pasi bagaikan mayat. Bibirnya bergetar hebat, tak sanggup menahan guncangan dari berita gila yang baru saja diterimanya lewat saluran telepon.
"Kevin! Ada apa?!" Kakek Surya menepuk meja dengan keras, menatap cucunya dengan dahi berkerut tebal. "Siapa yang telepon pagi-pagi begini dan ngomong sembarangan?" tanya Kakek Surya dengan raut marah.
"K-Kek..." Kevin menoleh kaku, matanya melotot ketakutan. "PT Mahendra Logistik... seluruh rekening operasionalnya dibekukan bank detik ini juga. Truk-truk kontainer kita ditahan di pelabuhan gara-gara izinnya dicabut. Direktur bilang perusahaan kita bangkrut!"
"Apa?! Bangkrut?!" jerit Martha histeris sambil berdiri dari kursinya, membelalakkan mata tak percaya. "Nggak mungkin! Itu anak perusahaan terbesar yang nyetor uang puluhan miliar tiap bulan ke keluarga kita! Gimana bisa tiba-tiba dibekukan begitu saja?!"
Belum sempat rasa syok Kevin mereda, ponsel di dalam saku kemeja Kakek Surya mendadak berdering nyaring. Pria tua itu dengan tangan gemetar merogoh ponselnya, lalu menekan tombol hijau dengan napas yang mulai tersengal-sengal.
"Halo! Ini Surya Mahendra—" Kakek Surya bersuara tegap, menahan debar di dadanya.
"Tuan Besar! Celaka, Tuan!" suara direktur PT Surya Konstruksi berteriak panik dari seberang saluran. "Konsorsium bank baru saja membatalkan pinjaman modal kerja lima puluh miliar kita secara sepihak! Semua vendor bahan bangunan memutus pasokan semen dan baja kita pagi ini! Seluruh proyek pembangunan fisik kita mati total!"
Ponsel di tangan Kakek Surya merosot jatuh ke atas piring saji, memecahkan cangkir keramik di dekatnya. Pria tua itu memegangi dadanya yang mendadak terasa dihantam batu raksasa. Napasnya memburu, matanya membelalak menatap langit-langit ruang makan dengan pandangan kosong. Dua anak perusahaan utama yang menjadi tulang punggung kekayaan keluarga Mahendra telah hancur total hanya dalam hitungan menit.
Di saat yang sama, ponsel pintar milik Martha di atas meja bergetar keras menayangkan panggilan masuk dari kontak bertuliskan 'Manajer Investasi Utama'. Martha yang kepalanya sudah berputar hebat buru-buru menyambar ponselnya dengan jari-jari gemetar, menempelkan benda itu ke telinganya.
"Halo, Pak Doni! Tolong bilang kalau investasi emas dan saham lima miliar saya aman, kan?!" seru Martha dengan nada bergetar panik.
"Maaf sekali, Ibu Martha!" suara pria di seberang telepon terdengar sangat gugup dan tergesa-gesa. "Platform investasi Koperasi Sentosa Jaya baru saja disergap dan dibekukan oleh otoritas keuangan pusat karena dugaan tindak pidana pencucian uang! Seluruh aset perusahaan likuidasi total! Saldo investasi Ibu... bernilai nol rupiah. Pemilik platform sudah kabur melarikan diri!"
Tut... tut... tut...
Sambungan telepon terputus secara sepihak.
"Nol... nol rupiah?!" jerit Martha dengan suara melengking tinggi yang nyaris memecahkan kaca jendela ruang makan.
Ponsel mahal di tangannya terlepas, jatuh menghantam lantai marmer hingga layarnya retak berantakan. Tubuh Martha mendadak lemas tak bertulang. Wanita paruh baya yang biasanya sangat anggun dan arogan itu jatuh terduduk di atas lantai marmer yang dingin, meraung-raung histeris sambil mencengkeram rambutnya sendiri dengan liar.
Lima miliar rupiah! Itu adalah seluruh tabungan rahasia milik Martha yang dikumpulkannya selama bertahun-tahun, termasuk uang simpanan keluarga dan dana yang sempat ia potong secara diam-diam dari anggaran kantor Yevone. Semuanya menguap tanpa sisa dalam semalam.
"Uangku! Uangku habiss!" raung Martha gila, menyapu vas bunga di atas meja samping hingga pecah berantakan ke lantai. "Lima miliar rupiah uang simpananku hilang! Gimana aku bisa bayar cicilan mobil mewah sama perhiasan bulanan?!"
Kevin ikut jatuh berlutut di sebelah ibunya, wajahnya pucat pasi menyaksikan kehancuran finansial yang mendadak meluluhlantakkan keluarga mereka tanpa peringatan. Kakek Surya bersandar lemas di kursi kayu kebesarannya, dadanya naik turun dengan liar menahan serangan jantung ringan akibat penderitaan batin yang luar biasa.
Di tengah-tengah raungan histeris, isak tangis, dan kekacauan yang melanda ruang makan mewah itu, pintu dapur belakang perlahan-lahan terdorong terbuka.
Theodore melangkah masuk ke dalam ruang makan dengan tenang. Ia mengenakan kemeja polos lusuh favoritnya dan celana bahan yang sudah agak kusam. Di kedua tangannya, Theodore membawa sebuah nampan kayu berisi tiga cangkir teh hangat aromaterapi yang baru saja diseduhnya untuk menenangkan suasana pagi.
Langkah kaki Theodore yang santai dan tanpa beban terasa sangat kontras dengan kepanikan luar biasa yang sedang menggulung keluarga mertuanya.
Martha yang sedang meraung di lantai mendadak menghentikan tangisannya. Matanya yang memerah dan sembab menatap sosok Theodore yang berdiri tenang di dekat meja makan. Seketika itu juga, rasa frustrasi, keputusasaan, dan kebencian yang membakar dada Martha menemukan sasaran tembak yang sempurna.
"SI BENALU BANGSAT!" jerit Martha melengking, bangkit berdiri dengan gerakan liar seperti orang kesetanan.
Dengan mata melotot penuh amarah murka, Martha menyambar sebuah cangkir keramik berisi teh panas dari atas nampan yang dipegang Theodore, lalu melemparkannya dengan sekuat tenaga lurus ke arah wajah menantunya.
Theodore hanya memiringkan kepalanya sedikit ke kiri dengan luwes. Cangkir keramik itu melesat lewat beberapa sentimeter dari telinganya dan hancur berkeping-keping menghantam dinding batu alam di belakangnya. Air teh panas memercik ke mana-mana, namun tidak ada satu tetes pun yang menyengat kulit Theodore.
"Ibu apa-apaan?!" Theodore bersuara tenang, matanya menatap Martha tanpa gejolak emosi sedikit pun.
"Ibu apa-apaan kamu bilang?!" raung Martha sambil menunjuk-nunjuk wajah Theodore dengan jari gemetar. "INI SEMUA GARA-GARA KAMU, BAJINGAN! KAMU PEMBAWA SIAL DI RUMAH INI!"
"Bener kata Ibu!" Kevin ikut berdiri, menatap Theodore dengan pandangan benci yang membara. "Sejak si gembel ini bawa kotak kayu sampah ke pesta Kakek kemarin, semua kesialan mendadak beruntun menimpa keluarga kita! Dia yang bawa sial! Dia yang ngerusak keberuntungan keluarga Mahendra!"
"Benalu... kamu benar-benar pembawa sial!" Kakek Surya mengetukkan tongkatnya ke lantai dengan lemah, menatap Theodore dengan tatapan penuh dendam. "Sejak kamu masuk ke rumah ini tiga tahun lalu, bisnis keluarga kita nggak pernah tenang... Sekarang dua perusahaan besar kita hancur dalam semalam!"
Theodore meletakkan nampan kayu di atas meja makan yang berantakan. Ia tegak berdiri, menatap tiga anggota keluarga Mahendra itu satu per satu dengan senyuman tipis yang sangat dingin dan penuh kegetiran.
"Pembawa sial?" panggil Theodore dengan nada suara yang sangat tenang namun menusuk. "Bukannya semua kehancuran ini terjadi gara-gara keserakahan dan kecurangan kalian sendiri?"
"Tutup mulutmu, gembel tak berguna!" maki Martha histeris, menyambar piring buah dan melemparkannya lagi ke arah Theodore, walau luput menabrak lantai. "Kamu nggak tahu apa-apa tentang bisnis! Kamu cuma benalu yang numpang makan dan minum di rumah ini! Karena kamu pembawa sial, uang investasi lima miliarku melayang! Perusahaan Kakek bangkrut!"
"Investasi bodong lima miliar rupiah yang Ibu masukkan ke platform ilegal demi mengejar bunga tinggi seratus persen?" potong Theodore pelan, menatap lurus ke dalam mata Martha. "Dan perusahaan logistik Kevin yang selama ini memalsukan dokumen pajak serta menahan hak gaji para sopir truk? Apakah itu semua juga salahku?"
Martha dan Kevin seketika membeku. Wajah mereka yang merah padam mendadak berubah menjadi kaku dan pucat pasi. Mereka tidak menyangka si benalu miskin yang biasa diam dan menurut ini bisa mengetahui kejahatan finansial terselubung yang mereka tutupi rapat-rapat selama ini.
"K-kamu... kamu ngomong sembarangan apa, hah?!" sergah Kevin gagap, mencoba menutupi rasa takutnya yang meluap.
Belum sempat perdebatan panas itu berlanjut, pintu kamar belakang terdorong terbuka. Yevone melangkah keluar dengan pakaian kerja rapinya, wajahnya tampak sangat terkejut dan bingung melihat kekacauan luar biasa di ruang makan. Piring-piring pecah berserakan di lantai, air teh membasahi dinding, dan ibunya sedang menangis histeris di lantai bersama Kevin.
"Ada apa ini?! Kenapa ruang makan jadi berantakan begini?!" tanya Yevone dengan suara cemas, berlari mendekati ibunya.
Melihat kedatangan Yevone, mata Martha yang penuh keputusasaan mendadak berkilat secara liar. Wanita paruh baya yang rakus itu langsung merangkak mendekati Yevone, mencengkeram erat rok gaun kerja anak gadisnya dengan kedua tangan yang gemetar.
"Yevone! Yevone, tolong Ibu, Nak!" raung Martha sambil menumpahkan air mata buayanya di atas pangkuan Yevone. "Ibu rugi besar! Seluruh tabungan Ibu hilang lima miliar! Perusahaan Kakekmu juga dibekukan bank dan mau bangkrut pagi ini!"
"Apa?!" Yevone membelalakkan matanya tak percaya, menatap Kakek Surya dan Kevin bergantian.
"Iya, Yevone!" Kakek Surya bersuara serak dengan napas terengah-engah. "Keluarga kita di ujung tanduk! Cuma kamu... cuma kamu satu-satunya harapan keluarga Mahendra sekarang!"
Martha mendongak, menatap wajah cantik anak gadisnya dengan pandangan penuh manipulasi dan kejam. Kesombongan yang biasa dibanggakannya menguap total, digantikan oleh keserakahan gila untuk menyelamatkan kulitnya sendiri.
"Kamu kan punya koneksi dekat sama Tuan Muda Zico!" bisik Martha dengan suara mendesak yang dipaksa lembut. "Tuan Muda Zico itu kaya raya dan punya saham di banyak bank besar! Kamu harus pergi menemui Zico hari ini juga! Minta bantuan uang dan pinjaman modal dari Keluarga Z buat nyelamatin keluarga kita!"
"Ibu bercanda?! Aku harus minta uang ke Zico?!" Yevone terperanjat mundur satu langkah, melepaskan cengkeraman ibunya dengan raut wajah tidak percaya.
Di sudut ruang makan, Theodore berdiri tenang memperhatikan intrik menjijikkan keluarga mertuanya. Tatapan matanya berganti menjadi sangat dingin ketika mendengar nama Zico kembali diucapkan untuk menjerat istrinya.