"Briar" adalah seorang wanita muda berusia 20-an yang tengah berjuang menata kembali hidupnya. Terluka oleh trauma masa kecil dan kehilangan berbagai hal berharga, ia harus bertahan di dunia seorang diri.
Kesederhanaan, kepolosan, dan paras cantiknya tanpa sengaja mempertemukannya dengan Adrian, tetangga baru yang juga seorang CEO muda penuh kesempurnaan.
Tanpa ragu, Adrian masuk ke dalam hidup Briar, dan dalam waktu singkat, hubungan mereka berlabuh dalam ikatan pernikahan. Untuk pertama kalinya, Briar merasakan kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Namun, di balik hangatnya sikap sang suami, pertanyaan-pertanyaan kelam mulai menghantui:
Mengapa pria sesempurna Adrian begitu terburu-buru menikahinya?
Rahasia gelap apa yang disimpan Adrian rapat-rapat?
Ketika takdir mulai mempermainkan segalanya, sanggupkah cinta mereka bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ar's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cincin
Malam sudah menunjukan pukul 3 dan aku tidak bisa tidur.. Aku terus di bayangi lamaran sebelumnya. Itu benar-benar romantis dan tidak pernah ku sangka-sangka. Seorang pria sesempurna Mas Adrian melamarku..
Bagaimana bisa?
Lagipula bagian mana di diriku ini yang bisa membuat mas Adrian jatuh cinta kepadaku.
-
Lagi-lagi aku selalu kesiangan karena kepikiran tentang lamaran itu semalaman. Akupun bergegas memulai aktivitasku. Aku bekerja sambil mendengarkan lagu-lagu kesukaanku dan bernyanyi. Ternyata begini rasanya jatuh cinta.. Aku selalu tersenyum sendiri setiap kali ku ingat mas Adrian dan saat-saat mas Adrian melamarku.
"Ehm..!" Apakah aku mengganggu?". Mas Adrian berpura-pura batuk sambil bersandar di pintu depan, entah sejak kapan dia sudah berdiri disana.
"Mas Adrian..? Kamu sudah berapa lama disana..?". Tanyaku
"Mungkin sekitar 2 menit yang lalu. Kamu terlihat sangat menikmati nyanyian jadi aku tidak mau menghentikan kamu yang sedang bernyanyi merdu. Lagipula aku sepertinya mulai suka mendengar kamu bernyanyi..". Ujar Mas Adrian menggodaku.
Mas Adrian datang ketempatku untuk menghabiskan waktu bersama di jam istirahat kerjanya, sambil membawakan aku sebuah bingkisan berisi coklat batangan kesukaanku dan kami juga berencana pergi makan siang bersama.
-
Sudah 3 bulan berlalu sejak lamaran itu terjadi.. Dan hampir setiap hari kami terus mencari waktu untuk bertemu dan bicara berdua sampai lupa waktu. Kadang kami saling bicara lewat telefon sebelum tidur. Mendengar mas Adrian bernyanyi di atas balkon lewat telefon. Mas Adrian juga sangat menghormatiku, sampai-sampai kami hanya bertahan di tahap sebatas saling berpegangan tangan dan sesekali terkadang mas Adrian hanya menggosok rambutku tidak lebih dari itu. Meskipun berkali-kali ada kesempatan untuk melakukan lebih. Tapi mas Adrian tidak pernah sekalipun membuatku merasa tidak nyaman. Sampai-sampai tetanggaku mulai merasa aneh dengan gelagat kami berdua.. Karena setiap kali mereka menanyakan hubungan kami, aku selalu menjawab hanya sebatas teman.. tapi disisi lain Mas Adrian menyebutku sebagai calon istrinya..
-
Hari ini Mas Adrian memintaku datang ke kantornya untuk mengantarkannya makan siang, Mas Adrian menghubungiku dan mengatakan bahwa dia sangat ingin makan makanan yang pernah aku masak untuknya. Karena dia tidak bisa keluar dari kantor untuk makan, jadi aku fikir tidak ada salahnya untuk pergi menemuinya, sekalian melihat-lihat bagaimana kehidupan calon suamiku di tempat kerja.
Aku naik taxi dan melihat sekitar, di depanku sudah ada sebuah kantor yang lumayan besar. Sepertinya benar, ini kantor Mas Adrian..
Aku masuk dan bertemu satpam di depan gerbang. Mereka bertanya apa keperluanku untuk masuk. Aku mengatakan pada mereka aku hanya ingin mengantarkan makan untuk seseorang yang bekerja disini. Namun satpam ini tidak percaya dan ikut masuk bersamaku menemui resepsionis.
"Mbak, ruangan Mas Adrian dimana ya..?". Tanyaku pada seorang resepsionis.
"Ada perlu apa?". Tanya resepsionis.
Namun sebelum aku menjawab, satpam itu sudah duluan mengatakan bahwa aku masuk tanpa persetujuannya. Padahal satpam itu tidak bicara apa-apa hanya mengikutiku berjalan masuk, seolah-olah curiga bahwa aku mau mengganggu orang di dalam kantor ini.
"Ohh.. paling fans nya pak Adrian.. usir aja pak". Bisik resepsionis judes itu pada si satpam.
Resepsionis itu benar-benar salah paham tentangku. Lalu satpam itu memintaku untuk keluar dan menunggu di luar. Lalu aku menghubungi Mas Adrian di luar kantor dan menunggu Mas Adrian datang menemuiku.
"Dek.. kamu sudah lama sampai? Kenapa nggak masuk..". Tanya Mas Adrian tergesa-gesa.
"Mmm.. belum lama kok mas..". Jawabku sambil meringis.
Lalu Mas Adrian membawaku masuk kedalam menuju keruangannya. Lalu satpam dan resepsionis itu hanya diam tercengang sambil sembunyi-sembunyi membicarakanku. Aku memilih untuk tidak bercerita tentang kejadian tadi pada Mas Adrian. Khawatir mas Adrian akan marah pada mereka yang hanya berusaha mencari nafkah.
"Makasih ya karena kamu mau datang dan masak buat mas..". Ucap Mas Adrian.
"Iya mas.. kamu makan yang lahap ya..". Ujarku pada Mas Adrian.
Mas Adrian makan dengan lahap dan sesekali memandangiku saat makan sambil tersenyum. Setelah mas Adrian makan aku dan mas Adrian duduk sambil bicara mengenai tempat kerjanya. Mas Adrian memberi tahuku banyak hal dan karakter beberapa pegawainya. Mas Adrian terlihat sangat peduli dan banyak hal baik lainnya yang aku temukan dari mas Adrian.
Hanya saja..
Setiap kali kami hampir membicarakan orang tuanya, mas Adrian mengalihkannya seolah-olah tidak mau membahasnya. Yang aku tau, orang tua mas Adrian sudah bercerai dan sudah memiliki keluarganya masing-masing. Dan tinggal di lain kota.
Mas Adrian memberitahuku banyak hal tentang dunianya, bahkan mas Adrian berencana mengenalkanku pada orang-orang di kantornya. Namun aku tak mengizinkannya.. karena aku tau mereka akan sangat membenciku ketika mereka tau bahwa bos mereka yang sempurna dan di kejar oleh banyak wanita malah memilih seseorang sepertiku..
"Dek.. apa kamu sedang memakai cincin dari pemberian mas..?!". Mas Adrian memegang tanganku dengan terkejut, saat melihat jariku manisku yang sudah memakai cincin pemberiannya.
Tiba-tiba mas Adrian memeluk tubuhku dengan gembiranya dan ini untuk pertama kalinya aku dan mas Adrian berpelukan. Dan tanpa sadar akupun ikut memeluknya.. Lalu mas Adrian menatap wajahku dan mencium keningku. Jantungku.. berdegup sangat cepat.
Akan tetapi di balik itu, sebenarnya aku belum mau menggunakan cincin pemberian mas Adrian. Hanya saja, yang sebenarnya terjadi adalah aku iseng-iseng menggunakan cincin dari Mas Adrian dan tidak bisa melepaskannya.. Dan aku lupa untuk melakukan sesuatu untuk melepaskannya dari jariku. Tetapi sudah terlanjur di lihat oleh mas Adrian. Jadi mau tidak mau aku harus tetap memakainya.. Tetapi entah mengapa aku merasa sangat senang.
"Jadi.. sepertinya kita harus mulai membicarakan tentang rencana pernikahan kita. Dan mas mau kamu kenalin mas ke keluarga kamu untuk meminta restu dari mereka. Setelah itu, mas mau bawa kamu buat ketemu keluarga mas dan juga kenalin kamu ke teman-teman mas. Dan.. mas fikir sebaiknya kamu mulai berhenti kerja dan fokus sama rencana pernikahan kita.. Kalau masalah biaya hidup, kamu tidak perlu khawatir, mas akan tanggung semua yang kamu butuhkan.. jadi kamu bisa fokus untuk persiapan pernikahan kita.. maaf ya kalau mas terkesan terburu-buru. Karena mas fikir di usia mas yang sekarang, sebaiknya mas tidak perlu menunda-nunda..". Ujar mas Adrian.
"Ehm, baik mas, tapi sepertinya masalah pekerjaan, aku bakal tetap bekerja mas.. dan kalau aku butuh sesuatu, aku bakal bilang sama mas..". Jawabku untuk menjaga persaan mas Adrian.
"Apapun itu, jangan merasa sungkan mas akan selalu ada buat kamu..". Ucap mas Adrian.
-
Aku pulang dan berbaring di tempat tidur sambil berfikir tentang banyak hal.. sejujurnya aku takut pada pernikahan. Menurutku pernikahan adalah hal yang sulit untuk di jalani.. dan aku terlalu takut pada kata perpisahan. Apalagi mas Adrian adalah sosok pria idaman yang mana ada anyak perempuan di luar sana yang mau menjadi pasangan mas Adrian.
Akan tetapi disisi lain..
Aku sangat menyukai mas Adrian dan untuk sekali ini aku ingin menjadi egois untuk memiliki mas Adrian..
Dan aku juga tidak sabar untuk menjalani hidup bersama mas Adrian.. Dan sepertinya mas Adrian juga tidak bisa menunggu lama untuk seseegera mungkin menikahiku..