NovelToon NovelToon
Gadis Dalam Lukisan

Gadis Dalam Lukisan

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Janda / Romansa
Popularitas:46.5k
Nilai: 5
Nama Author: Hana Reeves

Alethea adalah seorang kurator museum yang bekerja di museum national gallery art di Washington. Dia sudah dua tahun ditingga! suaminya yang meninggal akibat kecelakaan ski. Suatu hari, dia mendapatkan kiriman lukisan wajahnya. Pengirimnya tertanda dari kota kecil di Irlandia. Alethea diutus oleh bossnya untuk mencari pelukisnya. Tidak mudah untuk mencari hingga dia tiba di desa kecil bernama Cedliff. Di sebuah hotel desa dia bertemu dengan Satoru Shinoda yang terkejut melihatnya. Tanpa Alethea tahu, Satoru adalah pelukisnya. Satu pertanyaan. Mereka belum pernah bertemu sebelumnya tapi bagaimana Satoru bisa melukis wajah Alethea?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Benci Kamu! Tapi Kamu Menggemaskan!

Alethea membereskan semua peralatan dan perlengkapan piknik mereka sementara Satoru membereskan peralatan lukisnya. Pria itu menoleh ke arah Alethea yang sedang memasukkan piring kosong yang isinya sudah dimakan.

"Thea ...."

"Apa!" balas Alethea judes.

"Kamu ... Marah?" tanya Satoru dengan wajah dibuat sok imut.

"Menurut kamu?" Alethea menatap tajam ke arah Satoru.

Satoru tersenyum lalu memeluk Alethea dari belakang. "Kamu kalau marah menggemaskan lho Thea."

"Kamu itu! Benar-benar membuat aku kesal! Bagaimana bisa seharusnya kita piknik yang menyenangkan malah membuat suasana tidak enak begini!" omel Alethea. "Rasanya aku ingin menggigit kamu!"

"Apa?"

Tiba-tiba Alethea menggigit tangan Satoru membuat pria itu menjerit kesakitan hingga melepaskan pelukannya. Setelahnya, Alethea tersenyum puas.

"Hah! Lega!" senyumnya usil.

"Ya Tuhan, benar-benar aku digigit!" Satoru melihat tangannya yang merah dengan bekas gigi wanita itu.

"Biar kamu tahu kalau aku marah!" balas Alethea galak.

Satoru cemberut. "Tapi ... Jangan digigit dong Thea."

"Harus gimana? Banting?" pendelik Alethea.

"Kamu tidak ...." Satoru menatap Alethea. "Kamu tidak mungkin bisa melakukannya bukan?"

"Kita tidak tahu kalau belum mencoba. Bagaimana?" tantang Alethea membuat Satoru memasang wajah bergidik.

"Kamu ... Aku minta maaf Thea. Aku hanya menggoda kamu agar kamu memperlihatkan sisi emosional kamu yang berbeda. Entah kenapa aku suka melihat kamu marah-marah. Makin menggemaskan," senyum Satoru.

"Dan cara menggoda kamu tidak lucu!"

"Tapi aku berhasil mendapatkan lukisan kamu dari sisi lain emosi kamu. Itu yang membuat lukisan hari ini hidup. Orang pasti akan membuat cerita yang berbeda saat melihat lukisannya. Itu yang aku suka dari para pengamat lukisanku. Bagaimana mereka punya impression sendiri." Satoru mendekati Alethea. "Sama seperti novelis. Mereka berusaha mengaduk-aduk emosi pembaca dengan memberikan imajinasi yang tidak sama satu dengan lain."

"Seperti apa misalnya?" tanya Alethea.

"Macam, kamu membayangkan Aragon dari Lord of the rings seperti apa wajahnya. Jangan bilang seperti apa yang di film." Satoru menatap Alethea.

"Aku selalu membayangkan Aragon itu seperti Charlton Heston yang main di Ben Hur tahun 1959. Dia sangat manly. Tapi aku juga setuju kalau Viggo Mortensen," jawab Alethea.

"Charlton Heston? Really?" tanya Satoru.

"Hei, aku kan kurator yang sering melihat barang-barang kuno. Jadi selera aku agak kuno," senyum Alethea.

"Apakah aku dimaafkan?" tanya Satoru sambil mendekati wajah Alethea.

"Besok lagi kalau piknik, kita harus ada briefing terlebih dahulu. Agar kita tidak seperti ini," ucap Alethea pelan.

"Berarti aku dimaafkan?" senyum Satoru semakin mendekatkan wajahnya dengan memeluk pinggang Alethea.

"Aku benci kamu, Satoru," bisik Alethea.

"Tapi ...."

"Kamu menggemaskan," lanjut Alethea.

Satoru mencium bibir Alethea lembut dan wanita itu membalasnya.

***

Hari Berikutnya

Di balik remang-remang lampu sorot galeri museumnya, Alethea berdiri terpaku di depan sebuah lukisan lanskap minyak karya maestro abad ke-19, Pierre-Auguste Renoir. Sebagai kurator berpengalaman yang memiliki ketelitian luar biasa, mata Alethea menangkap sesuatu yang janggal.

Lukisan itu dijadwalkan masuk dalam daftar lelang teratas minggu depan. Namun, saat Alethea menggunakan kaca pembesar dan pemindai sinar UV portabelnya untuk verifikasi rutin, gumpalan cat pada sudut kanan bawah memancarkan pendaran warna yang salah. Retakan minyak ( craquelure ) pada permukaan kanvas terlalu simetris, bukan retakan alami akibat usia puluhan tahun, melainkan hasil pengeringan paksa menggunakan pemanas industri.

"Ini palsu," bisik Alethea, merasakan dingin menjalar di tengkuknya.

"Apa yang palsu, Alethea?" suara tegas dan berwibawa memotong kesunyian.

Jennifer berjalan mendekat. Penampilannya selalu anggun dengan pakaian serba hitam yang tajam, mencerminkan reputasinya sebagai salah satu penilai seni paling ditakuti sekaligus dihormati di industri ini.

"Lihat pigmen biru kobalt di area danau ini, Jen," ujar Alethea sambil mengarahkan lampu UV. "Pigmen ini mengandung zat pengikat sintetis modern. Seseorang telah mereproduksi lukisan ini dengan sangat jenius, tetapi mereka ceroboh pada komposisi catnya."

Jennifer membungkuk, menatap tajam kanvas tersebut selama beberapa detik. Matanya menyipit. Bukannya marah atau panik, sudut bibir Jennifer justru terangkat membentuk garis tipis yang dingin.

"Lukisan asli bernilai $3,5 juta ini dibawa oleh kolektor privat dua hari lalu," kata Jennifer pelan. "Jika rumor lukisan palsu ini bocor, reputasi galeri kita hancur. Kita tidak bisa melibatkan polisi sekarang sebelum tahu seberapa jauh permainannya."

"Lalu apa rencana kita, Jen?" tanya Alethea.

"Kita temukan pemalsunya sendiri. Malam ini juga." Rahang Jennifer tampak mengeras.

Langkah pertama mereka dimulai dari arsip kedatangan barang. Alethea memeriksa dokumen penyerahan karya, sementara Jennifer menghubungi kontak-kontak rahasianya di lingkaran pasar seni gelap.

* Penemuan Pertama: Kanvas yang digunakan adalah kanvas tua asli dari era 1800-an, menandakan pemalsu sengaja mengikis lukisan lama yang tak bernilai untuk memakai kembali media aslinya.

* Penemuan Kedua: Di bawah sapuan cat tebal, Alethea menemukan mikroskopis serat bulu kuas sintetis modern, jenis kuas khusus buatan tangan yang hanya diproduksi oleh satu toko bahan seni langka di Florence, Italia.

"Aku tahu siapa di kota ini yang secara rutin mengimpor kuas merk Firenze Master itu," ujar Jennifer seraya mengambil kunci mobilnya dari meja kerja. "Ikut aku."

Jennifer membawa Alethea menuju sebuah studio seni tua di pinggiran distrik industri yang tampak seperti bangunan terbengkalai. Tempat itu milik Julian Vance, seorang mantan restorator seni genius yang pernah bekerja untuk museum-museum besar sebelum dipecat karena skandal etika lima tahun lalu.

Gembok pintu belakang studio itu sedikit terbuka. Jennifer mendorong pintu kayu lapuk itu perlahan, mengungkapkan sebuah ruangan beraroma tajam turpentine, minyak biji rami, dan bau cat basah.

Di tengah ruangan, berdiri sebuah easel besar dengan lukisan lanskap serupa yang belum selesai ditiup dengan pemanas udara. Berbagai botol pigmen buatan sendiri berjejer di meja, lengkap dengan oven pemanas mikro untuk menciptakan efek retakan minyak secara instan.

Tiba-tiba, suara langkah kaki bergegas terdengar dari pintu samping. Julian Vance muncul sambil memegang botol pelarut cat, terkejut melihat Jennifer dan Alethea di studionya.

"Jennifer... Alethea... bagaimana kalian bisa ...."

"Retakan simetris pada cat biru kobalt, Julian," potong Jennifer dingin seraya melangkah maju. "Kamu selalu ceroboh saat mereplikasi teknik pencahayaan Renoir."

Julian terdiam, menyadari bahwa penyamarannya telah terbongkar sepenuhnya. Bahunya terkulai lelah.

"Aku tidak punya pilihan," aku Julian dengan suara serak. "Seseorang membayar debt collector untuk menyita studioku. Seorang perantara menghubungiku dan menawarkan imbalan besar jika aku bisa menukar lukisan asli Renoir dengan tiruan ini saat proses transit ke galerimu."

"Siapa yang menyuruhmu?" desak Alethea.

Julian menghela napas panjang dan menunjuk ke sebuah amplop cokelat di meja kerja. Di dalam amplop itu terdapat bukti transfer dan lembar instruksi penukaran yang mencantumkan nama perantara yang ternyata adalah salah satu anggota dewan komisaris perlindungan karya seni di gedung pemerintahan.

Dengan bukti kuat di tangan, Jennifer tidak membuang waktu. Malam itu juga, dia dan Alethea mengamankan lukisan asli yang ternyata masih tersembunyi di kompartemen rahasia studio Julian.

Keesokan harinya, sebelum lelang dimulai, Jennifer memanggil pihak kepolisian khusus kejahatan seni dan menyerahkan seluruh bukti penipuan internal tersebut. Anggota dewan yang menjadi dalang berhasil ditangkap tanpa sempat menjual karya aslinya. FBI pun ikut bekerja sama.

Di ruang kerjanya yang luas, Jennifer menuangkan dua cangkir kopi espresso hangat dan menyerahkan salah satunya kepada Alethea.

"Mata tajammu menyelamatkan museum ini, Alethea," kata Jennifer sambil tersenyum tipis, sebuah pujian yang sangat langka keluar dari mulutnya. "Aku senang kita tidak mengalami kesusahan akibat pemalsuan ini."

Alethea tersenyum, menerima cangkir kopi itu. "Aku juga Jen. Aku juga."

***

Yuhuuu up Siang Yaaaaaa

Thank you for reading and support author

Don't forget to like vote and gift

Tararengkyu

1
Meeta Baggio
kompak bangett sama calan mertua,sama2 bisa masak sambil ngegosipp
INDRA
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻😍
Hana Reeves: mamaciih 🙏🙏🙏
total 1 replies
Marsiyah Minardi
Asyiknya bisa ajak calon bumer ngeghibah ,mana sama sama bisa masak pula
Apa kabar aku yang ga pintar masak dan kalah enak sama masakan suami 😄
amilia amel
camer dan calon menantu ternyata sari vibes 😅😅😅
Teuing Saha🙃
Keputusan yg bijak,Toru
Meeta Baggio
Ga sia2 selamalaman ga bisa tudur, akhirnyaa menu solusi yg enak buat mereka , alhamdulillah
amilia amel
Alhamdulillah sudah ketemu solusinya
D_wiwied
setelah semalaman ga bisa tidur akhirnya ketemu jg solusinya ya Toru, sepakat buat beli apart sendiri terus Thea ttp bekerja n bahkan sdh planning punya anak.. smg dilancarkan semua urusannya dan segera melangkah ke jenjang pernikahan
D_wiwied
gausah kaget Thea, dibilang keluarga Toru macam mini PBB.. dr orang biasa (yg sbnrnya jg ga biasa2 aja sih), pengusaha, dokter, pembalap, etc bahkan raja dan sultan pun adaaa 😆😆😆
Teuing Saha🙃
Untuk sekarang, cuma tidur yg kamu butuhkan, Toru..
tan_wiedya
kalau kamu mau pindah washington, beli rumah/apt sendiri aja buat kalian toru. rumah yg sekarang ditempati thea dikontrakkan saja 😄
Marsiyah Minardi
Tinggal gantian tempat dulu ga papa Satoru antara New York vs Inggris ,sampai hati mantap memilih di mana akan menetap
Thea bukan tipe perempuan sat set sat set ,terlalu banyak pemikirannya
amilia amel
pindah ke London aja Toru
nantinya Thea bisa bekerja di museum yang sama dengan tante Elle kan😊😊
Teuing Saha🙃
Setidaknya hari ini, kamu berhasil membuat Thea bahagia dengan acara kencan kalian
D_wiwied
agak diluar prediksi ya Toru, lagian kamu yg ngajak2 sendiri eeh sendirinya jg yg cemburu sm aktornya 😆 yg penting pacar bahagia dan kencan hari ini bs dianggap sukses, wes gitu aja 🤣🤣
Marsiyah Minardi
Aku gemesss banget sama Satoru 🤣🤣
amilia amel
benar-benar kencan yang indah ya Toru
walaupun antimainstream tapi tetep asikk kan😅😅😅
Meeta Baggio
Akhirnyaa kencan yg bener1 kencan juga yaa🤭
Teuing Saha🙃
Aku selalu iri dengan kehangatan keluarga ini 🥰
amilia amel
keakraban yang saling menistakan adalah bahasa sayang khas keturunan Pratomo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!