Update setiap hari!
Bianca, putus dengan pacarnya yang sudah bertahun-tahun bersama. Namun, setelah putus bukannya asing, mereka justru terus dipertemukan dalam kejadian yang tak terduga.
Entah ini kebetulan? atau memang sengaja di buat oleh Arsen.
"Bagaimana bisa, bos baruku ternyata adalah dia?! Arsenio sialan! Bagaimana caranya kami menjadi mantan jika terus seperti ini?!" geram Biancca yang sudah frustrasi.
"Aghh, dia benar-benar tidak tahu bagaimana caranya menjadi mantan!" --Arsenio Kendrick
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Pagi yang cerah, menyinari seluruh negeri. Semburat cahayanya, menembus celah-celah jendela membuat Bianca terbangun. Gadis itu merentangkan tubuhnya, membuat otot-ototnya yang kaku. Kembali seperti semula. Bianca masih menguap, namun ia harus bangun. Apalagi hari ini, akan menjadi hari yang panjang untuknya.
"Jam berapa ini?" Bianca mengambil ponsel di sampingnya, pukul 06.01, ia memang tak akan terlambat. Tapi persiapannya yang memerlukan waktu cukup panjang.
"Astaga, bagaimana bisa tak ada yang membangunkanku?" Dengan cepat Bianca loncat dari kasurnya, ia mengambil handuk dan buru-buru lari ke kamar mandi.
Setelah beberapa saat, gadis itu telah berpakaian rapi. Ia memakai rok span kerja, dan blus pink kesukaaannya. Menata rambutnya dan memberikan riasan make up tipis di wajah.
"Akhirnya, kau siap juga Bianca." Ucapnya.
Bianca kini menuruni tangga, ia menghampiri semua orang yang tengah sarapan. "Ibu, aku berangkat ya. Doakan aku." Bianca berpamitan kepada Bu Mayang.
"Hati-hati, jangan lupa bekal makan siangnya di bawa!" Sambil keluar rumah, Bianca pun memberikan jempolan tangannya kepada sang ibu.
Bianca keluar rumah, ia lalu berkacak pinggang, gadis itu sudah memesan ojek online, namun belum juga sampai.
"Di mana ojolnya? Ini 30 menit lagi sudah telat ini." Bianca menatap ke arah jam tangan di lengan kanannya. Tampak jam itu menunjukkan pukul 7 tepat.
Ojol itu pun sampai, "Maaf mba, tadi sempat ada perbaikan jalan, jadi lama." Ojol itu menunjukkan arah jalan yang ia lalui.
"O, jangan lewat sana mas, emang susah. Sedang ada perbaikan." Bianca kemudian menunjukkan arah lain.
"Lewat sana saja mas, sampainya tetap kok, paling kita berputar sedikit."
Ojol itu pun mengangguk, menjawab ucapan Bianca, kini gadis itu mengarahkan jalannya.
Setelah beberapa saat, Bianca akhirnya sampai. Ia turun dari motor ojol, tak lupa ia juga memberikan ongkos cash dan juga tip.
"Makasih ya mba"
"Iya sama-sama."
Ojol itu kemudian pergi, dan kini hanya tinggal Bianca. Gadis itu kini berdiri tepat di depan sebuah perusahaan besar. Ia menatapnya, mendongak kepalanya ke atas. Terlihat bangunan yang besar nan megah.
"Wah, keren sekali."
"Ayo semangat Bianca, kau pasti bisa."
Gadis itu kini masuk ke dalam kantor, ia di sambut baik di bagian administrasi. Salah seorang staff mengantarnya ke bagian HRD.
Tak hanya Bianca, beberapa calon staff lain juga berada di ruangan itu. Kini HRD mengumpulkan mereka, setelah semua karyawan baru berkumpul. Mereka semua langsung pergi ke bagian departement tempat mereka bekerja nanti.
HRD itu kini membagi para stafnya, ada bagian sisi kanan dan bagian sisi kiri. Untuk bagian sisi kanan, mereka akan bekerja di lantai atas, berada di lingkup tertinggi perusahaan atau eksekutif.
Lalu sisi kiri, mereka akan bekerja sebagai staf biasa. Setelah pembagian itu, HRD lebih dahulu mengantar para staf eksekutif. Tak banyak, jumlah mereka hanya 5 orang.
“Semua, tolong ikuti saya. Akan saya tunjuk kan tugas dan ruangan kalian” ucap HRD perusahaan kepada beberapa karyawan baru yang bertugas di eksekutif termasuk Bianca.
Mereka menaiki lift, menuju ke tempat lantai paling atas. Tempat yang paling tinggi di gedung wiratama selain Rooftop. Tempat di mana mereka bisa bertemu dengan presiden direktur secara langsung.
Mereka akhirnya sampai di gedung 43, Lantai teratas. Di sana mereka semua yang bekerja dengan memakai jas, mereka modis bahkan penampilannya hampir sama dengan Presiden Direktur itu sendiri.
Bianca terkagum melihatnya, interior kantornya terkesan jauh lebih mewah. Dari jendela atas sana benar-benar terlihat kota Jakarta yang padat. Ia kagum akan hal itu, Bianca dengan para karyawan bersama dengan HRD serta para staf lainnya kini berkumpul. Seseorang datang, dan dia adalah Renzo. “Oh, Renzo” Sapa Bianca saat ia melihat pria itu.
“Hai, Bi. Lama tidak berjumpa ya, kau tambah cantik saja." Bianca yang mendengar itu kini tersenyum.
"Kau bisa saja."
"Aku baru tau kalau Renzo juga bekerja di sini." Batin Bianca.
Semua pun seketika, langsung berbisik tentang kedekatan Bianca dan Renzo, “Pantas saja, ternyata itu benar”
“Selain Presdir dia juga dekat dengan sekertaris Renzo. Pertemanannya benar-benar sangat luas”
“Cih, aku tidak percaya. Pasti dia sudah merayu presdir” Ada yang memuji, ada pula yang tak suka dengan Bianca. Sambutan itu berjalan lancar setelah Bianca dan beberapa staf lainnya memperkenalkan diri.
Para staff senior kemudian mengambil junior mereka, serah terima dari bagian HRD kepada ketua tim. Termasuk Renzo, pria itu membawa Bianca, dan membawanya masuk ke dalam ruangan Presdir.
Renzo mengetuk pintu beberapa kali,
TOK TOK TOK!
Lalu setelahnya langsung masuk, dan membukakan pintu untuk Bianca. Bianca dan Renzo kini berjalan memasuki ruangan itu. Seorang pria kini terlihat tengah berdiri sambil mengangkat sebuah telepon. “Ya baiklah terima kasih Tuan Darren” ucap pria itu yang kemudian langsung mengakhiri panggilan telepon.
Bianca menghembuskan napasnya pelan, ia benar-benar menyiapkan mentalnya untuk hari ini.
"Kau bisa Bianca, kau bisa, kau pasti bisa" Batin Bianca.
“Permisi tuan, Perkenalkan saya Bianca Renata Putri. Saya di tunjuk sebagai Asisten Anda mulai sekarang?” Ucap Bianca dengan penuh semangat.
Di belakangnya, ada Renzo. Pria itu mencoba sebisa mungkin menahan tawa. Bahkan ia harus memalingkan wajahnya beberapa kali agar tak tertawa, karena ia tahu. Siapa yang ada di hadapan Bianca sekarang.
Pria itu berbalik badan, terlihat wajah yang tampan, rambut yang tertata rapi, dengan setelah jas hitam. Tubuh yang tegap serta berbadan tinggi bagus. Membuat Pria itu terlihat sangat menawan.
"Apa, ini...?" Raut wajah Bianca seketika langsung berubah. Ia yang semula semangat, kini mulai goyah.
Gadis itu melongo menatap pria itu, "well well well to the well well well. Mampus kau Bianca." Ucapnya, kepada dirinya sendiri.
“Senang bertemu Anda Nona Bianca. Perkenalkan nama saya Arsenio Wiratama. Senang bisa bekerja sama denganmu” Ucap Arsenio, yang kini duduk di kursi kekuasaannya. Pria itu tersenyum menyeringai menatap Bianca. Merasa sangat puas melihat ekspresi terkejutnya.
"Sesusah itu melupakanmu, dan kau malah muncul di hadapanku sekarang?" Ucap Bianca dalam hati. Gadis itu masih terus melongo, menatap Arsen.
"Bianca, Bianca, di beri isyarat tidak mau mengerti, sudah ku bilang kita ini berjodoh." Batin Arsen.
"Wah, apa-apaan ini? mereka hanya saling tatap dari tadi, permantannan ini memang agak lain." Batin Renzo yang melihat Bianca, lalu setelahnya melihat Arsen.
"Ck ck, kau benar-benar ugal-ugalan ya Arsen. Luar biasa." Batin Renzo yang masih tak habis pikir dengan bosnya.
BERSAMBUNG