"minum obat itu cepat!" Elio berkata dingin, sorot matanya tajam, menunjuk benda persegi panjang kecil yang baru saja ia lempar tepat di samping Kaia yang masih berbalut selimut. "Aku tidak ingin memiliki anak dari wanita sepertimu. Dan jika sampai kamu hamil..." Suaranya menurun penuh penekanan. "Aku tidak akan segan-segan menghilangkannya."
Kaia adalah gadis yang baik tapi sayangnya dia kurang kasih sayang dari ayahnya. saat lulus kuliah dia di desak ayahnya harus menjadi pengantin, menggantikan sang kakak yang bernama Kiara yang meninggal dunia akibat kecelakaan. Dengan Elio, seorang dokter kulit, tunangan kakaknya.
Disisi lain, sejak kecil ayahnya yang menyimpan luka selalu menyalakan Kaia sebagai penyebab kematian istrinya.
Lalu bagaimana saat Kaia tiba-tiba mengetahui bahwa dirinya sedang mengandung. Haruskah ia pergi dan menyelamatkan nyawa kecil yang sedang tumbuh dalam rahimnya? Atau justru melenyapkannya?
Ikuti kisah Kaia...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri prisella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab : 18 Hamil
Sudah satu bulan berlalu sejak pertengkaran besar antara Elio dan Kaia sepulang dari Singapura.
Sejak hari itu, hubungan mereka yang memang tidak pernah benar-benar hangat berubah semakin dingin.
Apartemen yang mereka tinggali terasa begitu sunyi. Bukan karena tak ada penghuni, melainkan karena dua orang di dalamnya hidup seperti orang asing.
Elio semakin sering pulang larut malam. Bahkan beberapa kali memilih menginap di rumah sakit dengan alasan masih banyak pekerjaan.
Padahal Kaia tahu, sebagai dokter spesialis kulit dan kecantikan, pria itu tidak memiliki jadwal dinas malam seperti dokter IGD.
Makan malam yang setiap hari Kaia masak selalu berakhir dingin di atas meja. Sepiring sup ayam, ayam goreng, atau makanan kesukaan Elio tak pernah lagi disentuh.
Segelas kopi hangat yang ia seduh setiap pagi perlahan kehilangan uapnya, lalu akhirnya ia buang sendiri ke wastafel.
Bekal makan siang yang dulu pernah diminta Elio pun tak pernah lagi dibawa ke rumah sakit. Dan tak ada lagi percakapan sederhana.
Yang terdengar setiap hari hanyalah suara pintu apartemen dibuka saat Elio pulang larut malam, lalu kembali tertutup ketika pria itu berangkat bekerja pagi-pagi sekali.
Sementara Kaia hanya bisa memandangi punggung suaminya yang semakin hari terasa semakin jauh.
Siang itu, Kaia duduk sendirian di sebuah kafe yang berada tak jauh dari apartemen.... Di depannya tergeletak laptop yang masih menyala.
Sebuah proyek dari klien luar negeri sudah terbuka hampir setengah jam, tetapi satu baris kode pun belum berhasil ia selesaikan.
Pikirannya kosong. Jemarinya hanya diam di atas keyboard. Sesekali ia mengaduk kopi susu gula aren dingin favoritnya.
Es batu di dalam gelas mulai mencair, membuat rasa kopi semakin hambar. Ia menyeruputnya pelan. Baru dua teguk. Tiba-tiba perutnya bergejolak hebat.
"Hmmpt..." Kaia buru-buru menutup mulutnya. Rasa mual naik begitu cepat hingga membuat wajahnya memucat.
Ia langsung berdiri, hampir menjatuhkan kursinya sendiri, lalu berlari menuju toilet.
Bruk!
Pintu toilet hampir terbentur dinding saat ia mendorongnya.
"Hoek...!" Isi lambungnya keluar bersama kopi yang baru diminumnya. "Hoek...!" Tubuhnya membungkuk di depan wastafel.
Setelah tak ada lagi yang keluar, hanya cairan bening bercampur asam lambung yang membuat tenggorokannya terasa perih.
Napasnya memburu. Tangannya gemetar menopang tubuh di pinggir wastafel. Wajahnya pucat.
Perlahan ia membasuh bibirnya dengan air. Lalu menyandarkan punggung pada dinding toilet yang dingin.
Matanya terpejam. Entah mengapa, percakapan kemarin sore bersama Maika kembali terngiang di kepalanya.
Kemarin sore... Maika baru saja selesai memasak udang saus Padang. Kaia yang sudah lama menahan rindu pada masakan Farida tanpa sadar menambah nasi untuk kedua kalinya.
Melihat itu, Maika terkekeh geli. "Kamu makannya lahap banget, Kai."
Kaia ikut tertawa kecil. "Kangen lagi masakan begini, Mom. Persis masakan Nenek."
Maika menggeleng sambil tersenyum. "Kamu malah kayak ibu-ibu yang lagi ngidam, Nak."
Saat itu mereka sama-sama tertawa. Kaia sama sekali tidak memikirkannya. Tapi kini... Kalimat itu justru kembali menghantam kepalanya.
Deg!
Mata Kaia langsung terbuka. Tubuhnya menegang. Dengan tangan sedikit gemetar ia buru-buru meraih ponsel dari saku celana baggy yang dikenakannya.
Ia membuka aplikasi kalender. Tatapannya berhenti pada tanggal hari ini. Tanggal 20.
Napasnya tercekat. Tidak mungkin... Biasanya ia selalu datang tepat tanggal tujuh belas.
Tidak pernah maju dan tidak pernah terlambat.Ternyata sudah... Tiga hari.
Jantungnya mulai berdetak semakin cepat. "Ya Allah..."
Kaia menggigit bibir bawahnya. Tidak... Mungkin hanya terlambat karena stres. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Namun rasa gelisah itu justru semakin besar. Dengan langkah tergesa ia kembali ke meja. Laptop segera dimasukkan ke dalam tas ranselnya. Kopi yang bahkan belum habis ia tinggalkan begitu saja.
Begitu keluar dari kafe, pandangannya langsung tertuju pada sebuah apotek yang hanya berjarak beberapa puluh meter.
Ia menelan ludah. Lalu melangkah ke sana. Bel kecil di atas pintu berbunyi pelan saat ia masuk.
"Selamat siang." Suara kasir terdengar ramah.
Kaia mengangguk canggung. "Test pack... tiga, Mbak." Suaranya begitu pelan hingga nyaris tak terdengar.
Kasir hanya mengangguk, mengambil tiga kotak dari rak belakang tanpa bertanya apa pun. Namun bagi Kaia, rasanya seluruh orang di dalam apotek sedang memandanginya.
Padahal tak seorang pun benar-benar memperhatikan.Setelah membayar, ia segera keluar. Apartemennya hanya berjarak sekitar dua ratus meter.
Biasanya jarak itu terasa dekat. Namun hari ini setiap langkah terasa begitu berat. Sesampainya di apartemen, Kaia langsung menuju kamar mandi.
Tangannya bergetar saat membuka kemasan test pack. Ia membaca kembali petunjuk penggunaannya, meski sebenarnya sudah memahaminya sejak tadi. Ia hanya sedang mencari cara untuk menunda kenyataan.
Beberapa menit kemudian...
Setelah ia membasahi ujung testpack dengan urine. Test pack itu ia letakkan di atas wastafel.
Kaia menggenggam kedua tangannya sendiri.
Telapak tangannya dingin.Ia mondar-mandir dua langkah.Kepalanya menoleh. Namun belum terlihat.
Ia menoleh lagi. Detik jam terasa berjalan begitu lambat. Jantungnya seolah berdetak mengikuti suara detikan.
Lalu... Perlahan... Satu garis muncul. Kaia menahan napas.
"Tolong..." Bisiknya lirih. Ia berharap garis itu hanya satu.
Namun beberapa detik kemudian... Garis kedua mulai terlihat. Tipis dan lama kelamaan semakin lama semakin jelas. Hingga akhirnya berdiri sejajar dengan garis pertama.
Deg!
Positif.Tubuh Kaia membeku.
Tatapannya tak berkedip menatap benda kecil di atas wastafel itu. Air matanya perlahan menggenang.
Ia terduduk lemas di lantai kamar mandi. Tangannya tanpa sadar menyentuh perutnya yang masih rata.
Beberapa kali ia memang terlambat meminum pil kontrasepsi karena kesibukan. Tidak pernah sampai sehari penuh, tetapi beberapa kali melewati jam yang seharusnya.
"Ya Allah..." Bibirnya bergetar.Ucapan Elio pada pagi setelah malam pertama mereka kembali menggema begitu jelas di kepalanya.
"Aku tidak mau punya anak dari rahimmu. Dan kalau sampai itu terjadi... Aku sendiri yang akan menghilangkannya."
Tubuh Kaia langsung bergetar hebat. Refleks kedua tangannya memeluk perutnya.
...****************...
* Bersambung *
* Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar*
*Vote, like dan tambahkan favorit/subscribe yaa All juga hadiahnya💝 *
*Terimakasih🙏*
*Salam manis dari AUTHOR ☺️*
*ig@putri_miceela.*