( upload senin - Sabtu= 6× )
The Artefact of the Past and the Chosen One's Destiny
Setiap seratus tahun, sebuah fenomena misterius bernama Divine Moon muncul di langit.
Setiap kali cahaya bulan tersebut muncul, empat anak terpilih lahir ke dunia. Mereka ditakdirkan menjadi penjaga Ancient Artifacts, peninggalan suci yang menjaga keseimbangan seluruh alam semesta.
Ater. Mala. Angis. Evir.
Empat anak. Empat kekuatan elemen. Satu takdir.
Namun, takdir tidak pernah mudah bagi mereka yang mewarisi dosa masa lalu.
Enam ratus lima puluh tahun sebelumnya, Sora adalah salah satu penjaga terhebat yang pernah dimiliki alam semesta. Dicintai oleh rakyatnya dan mengabdikan hidupnya untuk melindungi Ancient Artifacts, ia berdiri bersama Zeo, sahabat terdekatnya yang telah ia anggap seperti saudara.
Kemudian semuanya berubah.
Cinta yang seharusnya menjadi cahaya berubah menjadi tragedi.
Sebuah kehilangan menghancurkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARDICK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
{Chapter 17}:{secret journey }
Iles terus bangkit dan melihat reruntuhan. Bangunan yang dulu indah dan megah kini hanya menjadi puing-puing yang berserakan tanpa beraturan.
Bau tanahnya masih sama seperti dulu.
“Aku merindukan aroma tanah ini... tempat ini.”
Ia berbicara sendiri sambil menatap sekeliling.
“Lihat, Iles. Saat kamu dan Kake memberi makan ternak.”
Tatapannya beralih ke tempat lain.
“Dan itu tempat kamu dan Ibu melihat Ayah saat disembuhkan.”
Saat teringat ayahnya, tetesan air mata meluncur tanpa peringatan.
“Sangat indah, bukan, Iles?”
“Lihat ayunan ini. Saat kamu terjatuh dan bermanja pada Ibu dan Ayah.”
Iles menyentuh ayunan yang sudah rusak.
“Dan ini... kamu ingat tidak? Gubuk ini tempat kamu bermain dengan teman-teman.”
“Iya... aku sangat ingat.”
Sesaat kemudian, Iles melihat masa lalu saat dirinya masih kecil berlarian, sementara Elara mengejarnya.
Kenangan itu terasa begitu nyata.
Iles kecil kemudian berlari dan memeluk ayahnya.
“Ayah, Iles mau Ayah dan Iles menjadi pahlawan desa dan kerajaan ini.”
Raja Api hanya tersenyum.
Karena keterbatasannya, hampir 70% kemampuannya telah direnggut.
“Ayah tahu tidak? Iles sekarang sudah bisa berdandan. Yang mengajarkan Iles adalah Ibu yang cantik.”
“Ibu, Ayah, dan Iles... kita berpelukan.”
“Iya, Iles. Ibu akan memeluk Iles hingga dewasa.”
Kenangan itu sangat indah bagi Iles.
Sesaat kemudian, Iles kecil menghampiri Iles yang telah dewasa dan membawanya ke hadapan ayah dan ibunya.
Tangan Iles bergetar. Matanya menatap kedua sosok itu dengan perasaan haru yang begitu dalam.
“Peluklah Ibu dan Ayah,” ucap Iles kecil.
Tanpa memikirkan apakah ini nyata atau tidak, Iles langsung memeluk keduanya.
Tetesan air mata kembali mengalir.
“Ibu... Ayah... aku rindu kalian. Aku sangat rindu. Bawa aku, Ibu... Ayah...”
Namun di kejauhan, orang misterius itu meneteskan air mata melihat Iles memeluk sesuatu yang sebenarnya tidak ada.
“Iles... aku akan menjadi tempat untukmu bersandar.”
Beralih pada Zeo.
Ia masih khusyuk berdoa.
Namun gangguan mulai bermunculan.
Zeo berada di sebuah tempat tanpa tepi.
“Aku di mana? Tempat apa ini?”
Ia melihat dari ujung ke ujung, tetapi tidak ada tanda batas.
“Alam... ujian apa yang kini kau berikan?”
Di luar, tubuh Zeo masih berdoa.
Namun di dalam raganya, jiwanya berada di tempat lain.
Tempat itu berubah menjadi lautan.
Getaran terasa di bawah kaki Zeo. Seketika, permukaan tanah terbuka dan berubah menjadi laut yang luas.
“Apa yang sebenarnya terjadi? Aku di mana?”
Tiba-tiba air membentuk gelombang yang sangat tinggi dan mengarah ke Zeo.
Dengan gerakan cepat, Zeo berhasil menghindarinya.
Namun tiba-tiba, sesuatu melesat ke arah Zeo dari belakang.
Beralih kembali pada Iles.
Ia masih memeluk ruang hampa.
Saat tersadar, ia baru menyadari bahwa semua itu hanyalah ilusi.
Teriakan kecewa Iles menggema di negeri yang kini redup dari keramaian tawa anak-anak dan rakyat.
“Alam... mengapa aku diikatkan lagi pada masa yang sangat kurindukan?”
Air mata kembali membasahi wajahnya.
“Aku tidak sanggup lagi dengan semua ini. Aku tidak mampu lagi menjalankan takdir ini.”
Iles mengepalkan tangannya.
“Aku akan membakar diriku dengan kekuatan yang takdir berikan.”
Saat Iles mulai mengumpulkan kekuatannya, Elara muncul.
“Aku tidak sanggup lagi.”
Suara Api terdengar seakan tidak sabar ingin melahap apa pun yang ada di hadapannya.
“Maafkan aku, alam. Ibu... aku tak sanggup lagi.”
Namun di detik terakhir, terdengar suara lembut menyebut nama Iles.
“Iles... putriku. Apa yang akan dilakukan olehmu?”
Iles terdiam.
“Ibu tidak pernah menyerah untukmu. Tetap kuat. Dan Ibu tidak pernah menyuruhmu untuk menyerah saat kamu lelah.”
Iles menatap ke atas.
Di sana, ia melihat ibunya.
Tanpa berpikir panjang, Iles langsung memeluknya.
“Ibu... aku sangat tersiksa. Aku selalu dihantui rasa bersalah terus-menerus.”
Elara memeluk Iles.
“Ibu tahu.”
Suaranya lembut.
“Ibu sangat memahami derita yang kamu jalani. Tapi coba kamu lihat.”
Elara menunjuk tanah di bawah kaki mereka.
“Tanah yang terus diinjak menahan beratnya seisi alam semesta. Ia tidak pernah meminta pada alam untuk digantikan dengan yang lain.”
Iles menatap tanah itu dalam diam.
“Terkadang tanah hanya dianggap sebagai pijakan untuk kita berjalan. Tapi kita juga tahu tanah bisa menumbuhkan tunas-tunas yang akan menjadi pohon yang kokoh.”
Elara tersenyum lembut.
“Di tanah yang sama.”
Ia kembali menatap Iles.
“Jadi, kamu harus ingat. Saat ini kamu adalah tanah yang mencoba menumbuhkan tunas-tunas yang akan berdiri kokoh.”
Elara kemudian menunjuk ke arah langit.
“Dan lihat Angin, Air. Mereka terus mengikuti arah untuk datang ke tempat-tempat yang alam perintahkan.”
“Angin tidak mengeluh harus ke mana ia datang dan pergi. Angin tidak akan berkata, ‘Aku tidak ingin ke tempat tercemar.’ Ia tetap pergi ke tempat yang alam kehendaki.”
“Lihat Air. Ia tidak bisa berjalan hanya mengandalkan jalur yang sudah alam siapkan. Ia tetap membutuhkan dorongan dari Angin, dan Angin membutuhkan Air untuk berputar arah.”
“Lihat Api. Ia panas. Ia sangat berbahaya bila disentuh. Tapi Api tetap memberikan alam ini kehangatan, termasuk kepada seluruh isinya.”
Elara menatap Iles dengan penuh ketenangan.
“Jadilah seperti beberapa elemen itu. Kamu akan merasakan penderitaan yang jauh lebih berat dari yang kamu rasakan.”
Ia berhenti sejenak.
“Sesuatu sudah memiliki tolak ukur kemampuan.”
Tatapan Elara tetap lembut.
“Bukan alam yang memberi derita, tapi kita yang memilih jalan derita itu.”
jangan putus di tengah jalan ya💪💪💪
buat yang mau baca mampir
💪💗💗
dan maaf bilah kurang haku
ayo teman teman kita dukung setiap ada karya baru. biar mereka bisa berkembang dalam setiap langkah nya . dan meningkatkan alur cerita nya