Lexa, seorang siswi populer yang terbiasa menindas siapa saja yang menghalangi jalannya, terbangun di sebuah kamar sempit yang asing. Saat memandang cermin, ia tersentak menemukan sosok Maya gadis lugu dan pendiam yang saban hari ia jadikan sasaran rundungan di sekolah. Karna suatu kejadian, jiwanya terperangkap dalam tubuh korban yang paling ia benci.
Terjebak dalam kehidupan Maya, Lexa kini harus merasakan dinginnya lantai kamar mandi tempat ia dulu menyiram Maya, pedasnya cemoohan teman-temannya sendiri, hingga kejamnya rasa terisolasi. Demi bertahan hidup dan mencari cara kembali ke tubuh aslinya, Sephia terpaksa membalas balik intimidasi kelompoknya sendiri—kali ini menggunakan akal dan keberanian yang tak pernah dimiliki Maya sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Pagi hari kembali menyapa dengan bias cahaya matahari yang menembus tirai kamar tidur bernuansa klasik modern. Maya, yang kini terbangun di dalam raga Lexa, merenggangkan tubuhnya perlahan di atas kasur berseprai sutra yang begitu empuk. Namun, di balik kenyamanan luar biasa yang kini melingkupinya, ada satu ruang kosong yang terus berdenyut di dalam dadanya.
Kerinduan yang amat mendalam terhadap sang ibu seketika menghantam batin Maya.Mengingat kembali ibunya yang seorang diri hidup di rumah petak sempit dan reyot di gang perkampungan kumuh berjuang membanting tulang tanpa ada yang menemani membuat hati Maya terasa ngilu. Ia tahu betul kondisi rumah itu, atap sengnya yang berkarat kerap bocor jika hujan lebat turun, dinding biliknya yang sudah lapuk, serta lantai semen kasurnya yang lembap.Berbekal seluruh fasilitas dan limpahan kekayaan yang kini berada di bawah kuasanya sebagai "Lexa", Maya membulatkan tekad. Saat sarapan pagi bersama di meja makan yang panjang, ia menatap kedua orang tua angkatnya dengan binar mata penuh permohonan yang tulus.
"Papa... Mama..." panggil Maya lembut, menghentikan dentingan sendok dan garpu.Papa dan Mama Lexa langsung mendongak, menatap putri tunggal mereka dengan senyuman hangat."Ada apa, Sayang? Mau minta fasilitas tambahan atau oleh-oleh buat liburan ke Australia nanti?" tanya Papanya ramah.
Maya menggeleng pelan, lalu merunduk sopan. "Bukan, Pa... Bukan itu. Lexa cuma mau minta izin sama Papa dan Mama... Boleh tidak, kalau Lexa menggunakan sebagian kecil fasilitas atau bantuan kita untuk membantu kehidupan teman sekelas Lexa? Anaknya sangat mandiri, rajin, tapi kondisi keluarganya... amat sangat kekurangan." Mama Lexa terperangah sejenak, lalu menatap putrinya dengan pandangan yang sarat akan kekaguman dan rasa haru yang teramat dalam. Beliau tidak menyangka putri tunggalnya yang dulu begitu egois dan sombong, kini memiliki kepedulian sosial yang begitu tinggi terhadap orang lain.
"Ya Tuhan, Lexa..." bisik mamanya dengan mata berkaca-kaca. "Tentu saja boleh, Sayang! Mama bangga sekali punya anak seperti kamu. Membantu orang lain yang kesusahan adalah hal yang amat mulia. Siapa nama teman kamu itu?"
"Namanya Maya, Ma," jawab Maya jujur, menyebut namanya sendiri dengan nada setenang mungkin. "Rumahnya tidak jauh dari kawasan pasar tradisional." Papa Lexa tersenyum lebar, menepuk meja makan dengan penuh antusias. "Hebat! Keputusan yang sangat luar biasa, Lexa. Kalau begitu, sepulang sekolah nanti, Papa dan Mama akan temani kamu langsung ke sana. Kita lihat apa yang bisa kita bantu untuk keluarga temanmu itu!"
Sore harinya, setelah bel jam terakhir berbunyi, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam legam dengan logo pabrikan ternama melaju perlahan memasuki kawasan pemukiman padat penduduk. Mobil itu terpaksa berhenti di ujung sebuah gang sempit yang hanya bisa dilalui oleh pejalan kaki.Dari dalam mobil, turunlah raga Lexa yang dijiwai oleh Maya didampingi oleh Papa dan Mama Lexa yang mengenakan pakaian kasual namun tetap tampak berkelas. Mereka berjalan kaki menyusuri lorong gang sempit yang berliku, diapit oleh dinding-dinding rumah petak yang berdempetan, hingga akhirnya berhenti di depan sebuah rumah kecil berbilik kayu kusam yang atap sengnya tampak berkarat dan melengkung di beberapa bagian.
Di depan teras rumah tersebut, berdirilah jiwa Lexa yang kini terperangkap di dalam raga Maya. Mengenakan pakaian lusuh dengan mata yang sembab, raga Maya tampak gelisah dan kebingungan menunggu kepulangan ibunya dari pasar.Begitu melihat sosok mobil mewah dan kedatangan orang tua Lexa yang dikawal oleh raga Lexa sendiri, jiwa Lexa di dalam tubuh Maya mendadak kehilangan kendali atas emosinya. Rasa benci, iri,keputusasaan, dan kerinduan yang membuncah membuatnya lupa diri.
Tanpa mempedulikan tatapan orang sekitar, raga Maya berlari kencang menerobos lorong sempit, lalu langsung menghambur memeluk tubuh Papa Lexa dengan erat!. "Papaaa!" teriak raga Maya histeris, menangis sejadi-jadinya di dada pria paruh baya itu. "Bawa aku pulang, Pa! Aku nggak tahan hidup di tempat kumuh ini! Aku anak Papa! Tolong aku, Pa!"
Papa Lexa yang tiba-tiba dipeluk oleh seorang gadis asing berpakaian kusam seketika terkejut setengah mati. Ia terdorong mundur selangkah, tubuhnya menegang kaku karena merasa canggung dan risih.
"E-eh?! Astaga... Nak, lepaskan! Siapa kamu?!" seru Papa Lexa dengan nada panik, mencoba melepaskan pelukan erat tersebut dengan hati-hati agar tidak berlaku kasar. Mama Lexa langsung menarik lengan suaminya dan merengkuh raga Lexa yang asli menjauh, menatap gadis kusam itu dengan pandangan prihatin namun waspada.
"Kasihan sekali anak ini..." bisik Mama Lexa kepada suaminya dengan nada penuh iba. "Mungkin dia mengalami trauma berat akibat gempa kemarin atau sangat merindukan sosok seorang ayah dalam hidupnya, makanya dia bertingkah seperti ini. Jangan dibentak, Pa."
Papa Lexa mengangguk-angguk paham, menarik napas lega seraya merapikan jasnya yang sedikit kusut. Sedetik pun mereka tidak pernah menduga, tidak pernah membayangkan, dan tidak memiliki petunjuk sedikit pun bahwa gadis kusam yang menangis histeris di hadapan mereka itu sebenarnya adalah darah daging kandung mereka sendiri jiwa Lexa yang asli yang terjebak di dalam raga Maya.
Di saat bersamaan, ibu kandung Maya yang baru saja pulang dari pasar dengan membawa keranjang sayur di tangannya terperanjat kaget melihat kedatangan orang-orang kaya raya di depan rumah reyotnya.
"Ya Ampun... Tuan dan Nyonya...?" sapa ibu Maya terbata-bata, segera meletakkan keranjangnya dan membungkuk hormat. "Ada perlu apa ya datang ke gubuk jelek saya?"
Maya yang berada di dalam raga Lexa melangkah maju mendekati ibu kandungnya sendiri. Melihat wajah lelah dan kerutan di wajah sang ibu yang merawatnya penuh kasih sayang selama ini, air mata haru hampir menetes di sudut mata Maya. Namun ia segera menguasai diri. "Ibu..." sapa Maya lembut dengan suara khas Lexa yang anggun. Ia menoleh ke arah Papa dan Mama Lexa, lalu tersenyum manis. "Pa, Ma... Inilah rumah Maya, teman sekelas Lexa."
Papa dan Mama Lexa mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah petak tersebut. Hati mereka tersentuh seketika melihat kondisi bangunan yang amat memprihatinkan, sangat kontras dengan kemewahan istana mereka di pusat kota. Papa Lexa melangkah mendekati ibu Maya dengan wibawa seorang pengusaha sukses. "Ibu, perkenalkan saya orang tua Lexa. Kedatangan kami ke mari karena putri kami ingin membantu keluarga Ibu."
"M-membantu...?" cicit ibu Maya tak percaya.
"Betul, Bu," timpal Mama Lexa tulus sambil memegang tangan ibu Maya. "Kami ingin merenovasi rumah ini agar layak huni. Biar anak Ibu si Maya itu bisa belajar dengan aman, tenang, dan tidak perlu lagi khawatir kebocoran saat hujan atau kepanasan saat siang hari." Mendengar penawaran mulia itu, pertahanan ibu Maya runtuh seketika. Air mata kebahagiaan menetes deras membasahi pipinya. Ia bersujud dan berlutut di hadapan orang tua Lexa, mengucapkan terima kasih berulang-ulang kali dengan suara yang bergetar hebat karena rasa syukur yang tak terhingga.
"Terima kasih, Tuan... Nyonya... Terima kasih banyak! Kalian malaikat bagi keluarga kami..." tangis ibu Maya pecah.
Di sudut lain, jiwa Lexa yang berada di dalam raga Maya hanya bisa terduduk lemas di atas tanah berdebu, menatap kosong pada pemandangan tersebut. Ia melihat orang tua kandungnya sendiri justru menggelontorkan dana besar untuk memperbaiki rumah musuh bebuyutannya, sementara ia sendiri harus menderita di tempat kumuh itu tanpa ada yang mengenali jeritannya.
Tak lama setelah hari itu, kontrak renovasi ditandatangani. Tukang-tukang bangunan profesional didatangkan, merobohkan dinding bilik yang lapuk, mengganti atap seng yang bocor dengan genteng kokoh, mengecat ulang tembok menjadi bersih, serta melengkapi rumah itu dengan fasilitas dasar yang aman dan nyaman.
Rumah Maya kini berdiri dengan sangat layak terlindung sepenuhnya dari panas dan hujan menjadi simbol dari buah kebaikan dan ketulusan jiwa Maya, sementara Lexa harus membayar mahal harga dari seluruh keangkuhan masa lalunya di balik tirai takdir yang tak terelakkan.