NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua: Pengantin Pengganti Sang Mafia

Kehidupan Kedua: Pengantin Pengganti Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Pengantin Pengganti / Penyesalan Keluarga
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: riri-can

Serena mati tersambar petir saat bermain hujan di tengah malam karena bosan, Serena berpikir dia akan ke alam baka. Siapa sangka jiwa Serena malah masuk ke tubuh seorang gadis bernama Serena juga, seorang gadis malang yang dikorbankan keluarganya sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi seorang mafia kejam untuk melunasi hutang.

Sebagai seorang pecinta dunia mafia, Serena sangat menikmati hidupnya didunia baru ini. Serena berencana akan memikat hati mafia kejam itu hingga jatuh ke pelukannya.

Bagaimana kehidupan Serena di dunia ini, apakah Serena mampu meluluhkan hati sang mafia? Ataukah Serena malah menjadi mainan mafia itu sendiri?. Stay tune!.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sembunyi Dari Sergio

Angin sore berhembus pelan menerpa halaman belakang mansion yang luas dan tertata rapi. Di balik dinding pilar bangunan utama yang bernuansa klasik modern, tampak sesosok wanita sedang berjongkok sambil mengintip-ngintip takut ke arah teras. Dialah Serena Amaryllis.

​Gadis itu mendengus kesal dengan bibir mengerucut sedalam-dalamnya. Semalam, setelah insiden baku tembak dan drama pelukan manis di ruang bawah tanah, Serena sempat berpikir bahwa Sergio akan melunak padanya. Ia membayangkan suaminya itu akan memperlakukannya seperti ratu, mencintainya secara ugal-ugalan, dan berhenti menyiksanya dengan berbagai pekerjaan rumah tangga.

​Tapi ternyata? Itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya!

​Meskipun hukuman tegas sudah diberikan kepada Calum karena ucapan kasarnya malam itu, sifat asli Sergio sebagai majikan yang kejam dan otoriter sama sekali tidak berubah. Pria itu masih saja sering menyuruhnya ini dan itu. Untung saja, ide gila menyuruhnya memijat kursi sofa sudah tidak pernah diulangi lagi oleh Sergio. Kendati demikian, beban kerja sebagai pelayan pribadi tak bergaji di mansion ini tetap membuat Serena ingin menangis darah.

​"Pria sialan! Apa yang bisa kuharapkan dari seekor mafia darah dingin?!" gerutu Serena pelan sambil mencabuti rumput liar di dekat kakinya dengan penuh dendam kesumat.

"Tingkahnya menyebalkan sekali! Mentang-mentang dia pemilik mansion dan bos besar, sok berkuasa banget nyuruh-nyuruh aku ini itu tiap detik!"

​Serena terus mengomel seorang diri, meluapkan kekesalannya. Padahal, sebelumnya ia sempat kepedean tingkat dewa, mengira Sergio akan segera jatuh cinta padanya mengingat perlakuan pria itu sempat melunak dan manis saat ia merajuk.

​"Dasar penipu ulung... Bilangnya mau ngelindungin, eh taunya habis itu malah disuruh nyiapin air mandinya dan nyuci cangkir kopinya!" protes Serena lagi dengan suara berbisik, melipat kedua tangannya di depan dada sambil terus bersembunyi rapat-rapat di balik pilar besar.

​Tiba-tiba, sebuah suara bariton yang ramah namun mengejutkan membahana tepat di samping telinganya.

​"Permisi... Apa yang sedang Nyonya lakukan berjongkok di balik pilar seperti ini?"

​Serena terperanjat hebat. Jantungnya nyaris copot dari tempatnya. Ia mendongakkan kepalanya dengan cepat dan mendapati sosok menatapnya dengan sebelah alis terangkat geli.

​Serena langsung melompat berdiri. Dengan panik, ia menarik lengan jas Zayden agar ikut membungkuk, lalu mendesis panik.

"Ssstt...! Jangan keras-keras, Zayden! Pelan sedikit suaranya!"

​Zayden mengerjap, sedikit kebingungan dengan reaksi berlebihan sang nyonya. "Ada apa, Nyonya? Kenapa kita harus berbisik-bisik begini?" tanyanya dengan nada sopan yang tenang.

​Serena menoleh ke kiri dan ke kanan dengan cemas, memastikan tidak ada bayangan Sergio di sekitar sana.

"Bagaimana kalau pria kejam itu melihatku bersembunyi di sini, hah?!" bisik Serena sewot.

"Aku sudah capek disuruh ini itu terus sama dia seharian! Punggungku hampir patah, tahu!"

​Zayden tertegun sejenak, lalu matanya menyipit membentuk lengkungan sabit. Senyuman manis dan geli seketika mengembang di wajah pria berdarah dingin itu. Jarang sekali ia melihat seorang wanita yang berstatus sebagai istri sah dari seorang Sergio Maximilian Ziegler justru kabur dan bersembunyi di sudut bangunan hanya karena takut disuruh bekerja oleh suaminya sendiri.

​"Jadi... Nyonya sedang bersembunyi dari Tuan Sergio?" tanya Zayden, berusaha keras menahan diri agar tawanya tidak meledak saat itu juga.

​Serena mengangguk penuh semangat, bibirnya semakin mengerucut tebal. "Tentu saja aku sedang bersembunyi! Aku sudah muak, Zayden. Dia itu punya banyak sekali aturan yang menyebalkan. Padahal ya, aku ini kan baru saja sembuh dari syok mental pasca penembakan kemarin, tapi dia sama sekali tidak punya belas kasihan. Kejam sekali!" adu Serena panjang lebar dengan nada merajuk.

​Zayden benar-benar harus menggigit bagian dalam pipinya untuk meredam gelak tawa yang mendesak keluar. Ia tidak pernah menyangka akan mendapatkan seorang nyonya rumah yang selucu, sekocak, dan seunik ini. Bisa-bisanya seorang istri kabur dari suaminya sendiri di dalam mansionnya sendiri hanya karena malas disuruh merapikan meja kerja!

​"Ah, begitu ya..." balas Zayden dengan nada jenaka yang ditahan-tahan.

"Tapi, Nyonya... Kalau Tuan Sergio sampai tahu Anda bersembunyi di sini untuk mengadu pada saya, saya rasa hukuman Anda berikutnya tidak sekadar menyiapkannya kopi lagi, lho."

​Mendengar itu, mata Serena langsung membelalak panik. Ia bergidik ngeri membayangkan amukan sang mafia kejam.

"Hiii... Jangan menakut-nakutiku, Zayden! Makanya, jangan bilang siapa-siapa kalau kamu ketemu aku di sini, ya? Anggap saja kamu tidak lihat apa-apa!" mohon Serena dengan kedua tangan disatukan di depan dada memohon.

​Zayden terkekeh pelan, suara tawanya terdengar sangat ringan dan ramah, namun di balik mata tajamnya, ia merasa terhibur luar biasa. Kehadiran Serena benar-benar membawa angin segar di mansion yang selama bertahun-tahun selalu dipenuhi aroma darah, peluru, dan ketegangan mutlak.

​"Baiklah, rahasia aman di tangan saya, Nyonya," jawab Zayden setuju sambil meletakkan satu tangan di dadanya gaya gestur hormat.

"Tapi omong-omong, apa tidak sebaiknya Anda kembali ke dalam? Menghindari Tuan Sergio tidak akan menyelesaikan masalah, lho. Beliau kalau sedang mencari sesuatu atau seseorang pasti akan menemukannya sampai dapat."

​Serena menghela napas panjang, meratapi nasibnya yang malang. "Iya sih... Tapi aku masih ingin menikmati waktu bebas sebentar saja. Lima menit lagi, ya?" tawar Serena memelas.

​Belum sempat Zayden menjawab kalimat Serena, sebuah suara berat yang dingin, tegas, dan sarat akan dominasi tiba-tiba menggema dari arah koridor samping, membuat udara di sekitar mereka mendadak membeku seketika.

​"Lima menit untuk apa, Serena?"

​Zayden langsung menegakkan tubuhnya, memasang wajah netral seketika dan membungkuk hormat. Sementara Serena? Wajah cantiknya mendadak pucat pasi. Ia menelan ludahnya susah payah, perlahan memutar kepalanya ke arah sumber suara.

​Di sana, berdiri sosok Sergio dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celana bahan hitamnya. Kemeja putih yang digulung hingga siku memperlihatkan otot lengannya yang kokoh, sementara mata biru terang milik sang mafia menyorot tajam lurus ke arah Serena, memancarkan aura bahaya yang sangat nyata.

​"Sergio..." cicit Serena pelan, tersenyum kaku semanis mungkin sambil menggeser posisinya ke belakang tubuh Zayden untuk berlindung, meskipun hal itu tidak ada gunanya.

​Sergio tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari sang istri. Pria itu melangkah mendekat dengan perlahan namun pasti, membuat setiap langkah kakinya terdengar bagai hitungan mundur bagi Serena.

​"Jadi, istriku tercinta sedang berniat menjadi buronan di rumahnya sendiri dan bersembunyi di balik punggung anak buahku, begitu?" suara rendah Sergio menggelegar dingin, menusuk langsung ke gendang telinga Serena.

​Zayden yang merasa berada di posisi terjepit antara bos dan nyonyanya memilih untuk mengambil langkah aman. Ia membungkuk hormat sekali lagi, lalu berbisik cepat pada Serena.

"Nyonya... sepertinya waktu istirahat Anda sudah habis. Saya undur diri dulu." Tanpa menunggu jawaban, Zayden berlalu pergi meninggalkan Serena seorang diri menghadapi singa yang sedang kelaparan.

​"Ihh, Zayden pengkhianat!" umpat Serena dalam hati melihat Zayden meninggalkannya begitu saja.

​Kini, jarak antara Sergio dan Serena hanya tinggal beberapa langkah saja. Sergio berhenti tepat di hadapan istrinya, menundukkan sedikit wajahnya untuk menatap lekat-lekat ke dalam mata cokelat Serena yang tampak salah tingkah.

​"Menikmati waktu bebasmu, hm?" tanya Sergio sinis, sebelah alisnya terangkat tajam.

"Kamu pikir dengan bersembunyi di sudut bangunan seperti ini tugasmu sebagai istri akan selesai?"

​Serena meremas ujung bajunya sendiri, menelan ludah dengan susah payah. Namun, sifat keras kepalanya mendadak kambuh. Alih-alih meminta maaf atau memohon ampun seperti wanita ketakutan pada umumnya, Serena justru mendongakkan kepala, memasang wajah sok berani meskipun hatinya berdegup kencang.

​"Ya wajarlah aku bersembunyi!" protes Serena dengan nada sebal, melipat kedua tangannya di dada.

"Kamu itu jadi suami galak banget! Dikit-dikit suruh bikin kopi, dikit-dikit suruh masak, dikit-dikit suruh rapikan meja kerja! Emangnya aku ini robot pelayan tanpa bayaran yang diimpor dari agensi tenaga kerja, hah?!"

​Sergio tertegun sejenak. Alih-alih marah besar mendengar protes frontal istrinya, pria itu justru menyipitkan mata, memperhatikan bagaimana bibir Serena mengerucut sebal dengan pipi yang sedikit merona merah karena emosi. Pemandangan itu, anehnya, terlihat sangat menggemaskan di mata sang mafia.

​"Kamu adalah istriku, Serena," ucap Sergio dengan nada suara yang perlahan merendah, namun tetap memancarkan otoritas mutlak.

"Dan sudah kewajiban seorang istri untuk melayani suaminya di rumah."

​"Melayani itu ada batasnya, Tuan Mafia!" sanggah Serena tidak mau kalah.

"Kalau kerjanya disuruh terus dari pagi sampai sore tanpa jeda napas, namanya bukan istri, tapi perbudakan! Mana janjimu waktu di ruang bawah tanah kemarin yang bilang mau ngelindungin aku? Kenapa perlindunganmu bentuknya malah menyiksaku lewat cucian piring dan secangkir kopi hitam pahit?!"

​Sergio menghela napas pendek. Pria bertubuh tinggi besar itu maju selangkah lagi, mempersempit jarak hingga tubuh Serena hampir menempel pada dinding pilar di belakangnya. Sergio mengurung tubuh mungil istrinya dengan menaruh sebelah tangan di samping kepala Serena.

​Aroma maskulin bercampur wangi cedarwood yang khas langsung menguar memenuhi indra penciuman Serena, membuat detak jantung gadis itu mendadak menggila di luar kendali.

​"Kalau kamu tidak mau membuat kopi atau merapikan meja kerja..." bisik Sergio tepat di dekat telinga Serena dengan suara rendah yang terdengar serak dan menghanyutkan,

"Bagaimana kalau kita ganti hukumannya dengan melakukan hal lain di dalam kamar?"

​Mendengar kalimat penuh tersirat itu, mata Serena sontak melotot lebar. Wajahnya yang tadinya pucat kini berubah merah padam seperti kepiting rebus. Ia tahu persis apa maksud dari hal lain yang diucapkan oleh suaminya yang mesum itu!

​"E-eh?! Jangan ngadi-ngadi ya!" protes Serena terbata-bata, mendorong pelan dada bidang Sergio meskipun usahanya sia-sia karena tubuh pria itu bagaikan tembok karang.

"Siapa juga yang mau dihukum begitu! Pokoknya aku mau cuti jadi pelayan!"

​Sergio tertawa kecil, sebuah tawa langka yang terdengar sangat lembut di telinga Serena, kontras dengan reputasinya yang dikenal sebagai pembunuh berdarah dingin. Pria itu menatap lekat mata Serena dengan sorot penuh ketertarikan yang tidak lagi disembunyikan.

​"Kalau begitu, kembali ke dalam sekarang, Nyonya Ziegler," perintah Sergio dengan nada lembut namun mutlak.

"Buatkan aku satu cangkir kopi lagi dengan benar, atau kamu akan benar-benar kurung di kamar dan kuhukum seharian penuh tanpa ampun."

​Serena mendengus kesal, mengerucutkan bibirnya sedalam mungkin. Meski dalam hati ia masih ingin mendebat, ancaman terselubung di akhir kalimat suaminya itu sukses membuat nyalinya menciut seketika. Dengan langkah berat dan jurus bersungut-sungut sepanjang jalan, Serena akhirnya berjalan mendahului Sergio kembali masuk ke dalam mansion, menyerah pada takdir barunya sebagai istri sang mafia paling menyebalkan sekaligus paling memesona di dunia.

Bersambung...

1
Ita Putri
kasihan nasib Callum setelah ini....jangan terlalu kejam hukum Callum nya sergio
It's me Ri🥕: Kayaknya bakalan di bunbun dehh🙏😭
total 1 replies
Mia Camelia
seru banget ngliat tingkah polos serena🤭
Mia Camelia
sergio bisa lembut juga 🤭
Dessy Rinda
klo serenanya jago nela diri sm nembak keren kak thor🤭😁🙏
Dessy Rinda: siiippp
total 2 replies
Mia Camelia
mampir thor🤭
cerita nya bagus thor, pliss jangan di hapus lgi kya 2 judul yg kemarin itu ya😔🤭🤔
Dessy Rinda: semangat nulisnya kk thor,semoga di berikan ide2 cemerlang sehat2 ya kak💪👍
total 2 replies
Sumawita
saya suka dengan cerita nya bagus bangett 🥰🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!