Ares Sudibyo, pewaris keluarga kaya, tidak pernah percaya pada perempuan. Sejak ibunya meninggalkan ayahnya demi pria yang lebih kaya, ditambah pengkhianatan yang dialami pamannya dan dirinya sendiri, Ares memilih menjauh dari pernikahan.
Namun, pertemuannya dengan Alisha Prameswari secara tidak sengaja mengubah sesuatu dalam dirinya. Aroma tubuh Alisha justru membuatnya penasaran karena tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan penolakan, sensasi yang tak pernah ia rasakan dari perempuan lain.
Ketika mengetahui Alisha membutuhkan biaya pengobatan untuk adiknya, Ares menawarkan sebuah kontrak: menanggung seluruh biaya pengobatan, dengan syarat Alisha bersedia memenuhi kebutuhan biologisnya. Setiap kali bersama Ares, Alisha harus menutup mata, sebuah aturan yang tak pernah dijelaskan.
Ares yakin hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Namun ketika ketergantungan mulai tumbuh, sanggupkah ia melepaskan Alisha yang memilih mengakhiri kontrak dan mencari pendamping baru dalam hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Cemburu yang Belum Diakui
Entah kenapa pemandangan itu terasa mengganggu. Sangat mengganggu.
Padahal Alisha hanya menerima makanan. Tidak ada yang salah. Tidak ada alasan baginya untuk merasa tidak nyaman.
Namun ketika Yudhis mengatakan sesuatu yang membuat Alisha kembali tertawa, tangan Ares perlahan mengepal di sisi tubuhnya.
“Kenapa aku baru tahu?” Pertanyaan itu terlepas begitu saja.
Reki menoleh. “Tuan?”
Ares tidak merespon. Matanya masih tertuju pada Alisha. Ia melihat perempuan itu memegang kotak kue dengan hati-hati, seolah benda sederhana itu benar-benar berarti baginya.
Kini Ares merasa ada seseorang yang mungkin mengenal Alisha lebih baik darinya. Perasaan itu membuat dadanya terasa sesak. Bukan seperti ketika fobianya kambuh. Ini terasa seperti sesuatu yang ingin ia rebut kembali.
Alisha tiba-tiba mengangkat wajah. Ares langsung berbalik.
“Pulang.”
Reki mengikutinya tanpa bertanya.
Namun baru beberapa langkah, Ares berhenti lagi. “Reki.”
“Ya, Tuan?”
“Siapa dokter tadi?”
Reki langsung paham. “Dokter Yudhis Pratama.”
“Cari tau sejak kapan dia kenal Alisha," titah Ares tegas.
Reki menatap punggung atasannya. Perintah itu terdengar sederhana.
Tetapi entah kenapa, Reki merasa masalah Ares mungkin bukan lagi sekadar tentang fobia terhadap perempuan.
Alisha tiba-tiba menoleh.
Tangannya naik ke alat bantu dengar di telinganya. Ia menaikkan volumenya sedikit. Langkah kaki itu terdengar lagi. Teratur. Berat. Tidak terburu-buru.
Alisha mengernyit. "Seperti langkah Tuan Ares."
Yudhis yang melihat perubahan ekspresinya ikut menoleh ke arah yang sama. “Ada apa?”
“Enggak.” Alisha masih memandang ke ujung lorong.
Dua pria berpakaian formal berjalan di koridor. Pria yang berjalan di depan memiliki bahu lebar dan langkah panjang. Jas gelapnya bergerak mengikuti setiap langkah.
Pria satunya berjalan dua langkah di belakang sambil membawa beberapa dokumen.
Alisha terpaku. Bentuk tubuh itu... Cara kepalanya sedikit menunduk saat berjalan... Bahkan jeda langkahnya terasa familiar.
“Tuan Ares?” Suaranya hanya berupa bisikan.
Kedua pria itu terus berjalan. Salah satunya sempat berhenti ketika menerima telepon, sementara pria di depannya menoleh sedikit.
Alisha refleks maju setengah langkah. Namun pria itu sudah kembali berjalan dan menghilang di balik belokan.
“Lis?”
Alisha tersadar.
Yudhis memerhatikannya. “Kamu nyari siapa?”
“Bukan siapa-siapa," jawab Alisha cepat. “Aku ke kamar Raka dulu.”
"Iya," sahut Yudhis.
Alisha tersenyum tipis sebelum meninggalkan Yudhis.
Setelah punggung Alisha menghilang di antara lalu lalang perawat dan pengunjung rumah sakit, Yudhis kembali menoleh ke lorong tempat Alisha memandang tadi. Dahinya berkerut samar sebelum akhirnya ia beranjak dari tempat itu.
Beberapa menit kemudian Alisha sudah masuk ke kamar Raka. Remaja itu langsung menoleh.
“Kak.”
“Sudah selesai diperiksa?” tanya Alisha.
“Sudah," sahut Raka. "Kakak dari mana? Kok datengnya telat.”
“Tadi ketemu temen.”
Alisha duduk di samping ranjang.
Raka meraih tangannya. Beberapa detik kemudian, jemarinya berhenti bergerak. “Kok tangan Kakak halus?”
Alisha spontan menarik tangannya. “Memangnya kenapa?”
“Biasanya kasar," jujur Raka.
“Ah...” Alisha melihat telapak tangannya sendiri. “Mungkin karena sekarang Kakak jarang beres-beres rumah.”
Raka menatapnya curiga. “Terus wajah Kakak juga beda.”
Alisha tertawa kecil. “Beda apanya?”
“Lebih bersih. Terus kayak...” Raka menyipitkan mata. “Lebih lembut.”
Alisha terkekeh. “Perasaanmu aja, Ka. Lagian, emang biasanya muka Kakak kelihatan kotor?” Alisha berusaha bicara dengan nada biasa.
“Bukan gitu, Kak.” Raka terkekeh. “Biasanya Kakak kelihatan capek. Sekarang gak.”
Alisha hanya tersenyum kecil.
Raka masih memerhatikannya. “Kakak pakai skincare baru?”
Jantung Alisha langsung berdegup lebih cepat. “Kenapa nanya gitu?”
“Kelihatan," sahut Raka.
Alisha menyentuh pipinya sendiri. “Cuma pakai yang biasa.”
“Yang dulu?” ulang Raka.
“Iya.” Alisha menjawab cepat.
“Bohong.”
Satu kata Raka itu membuat Alisha terkesiap kecil.
"Skincare baru ya?" tebak Raka.
Pertanyaan itu membuat Alisha terdiam. Ia teringat meja rias di rumah Ares. Botol-botol mahal yang bahkan mereknya saja tidak pernah ia gunakan sebelumnya. Kalau Raka tahu harganya, pertanyaan berikutnya pasti lebih sulit dijawab.
Raka langsung tertawa. “Nah lo, ketahuan.”
“Kamu ini...” Alisha pura-pura kesal.
“Serius, Kak," kata Raka. "Kulit Kakak lebih lembut.”
“Teman kantor kasih sampel,” jawab Alisha akhirnya.
Raka mengangguk pelan. “Oh.”
Alisha mengembuskan napas lega.
Namun Raka belum selesai. “Kalo cocok, ntar beli lagi, Kak.”
Bibir Alisha melengkung tipis. “Iya.”
“Jangan mikirin obatku mulu.”
Senyum Alisha langsung terasa berat.
“Iya, Kakak tahu.”
Raka kembali berbaring. “Kakak juga harus merawat tubuh sendiri.”
Alisha menatap adiknya. Ada rasa bersalah yang kembali menyelip di dadanya. “Ka.”
Raka menoleh. “Hm?”
“Kalo Kakak punya uang lebih banyak, kamu gak perlu mikirin soal itu.”
Raka menatap Kakaknya. “Jangan terlalu banyak mikir. Aku gak mau Kakak capek terus.”
Alisha menyentil pelan hidung Raka. “Cerewet.”
Raka tersenyum. “Galak.”
Alisha ikut tersenyum, lalu membenarkan selimutnya.
Namun ketika Raka memejamkan mata, senyum Alisha perlahan menghilang. Ia baru saja berbohong lagi. Dan kali ini, Raka sudah mulai menghubungkan perubahan dirinya dengan uang.
Kalau suatu hari ia bertanya dari mana uang itu berasal, alasan apa lagi yang bisa ia berikan?
Alisha masih duduk di sana beberapa menit setelah napas Raka mulai teratur, menatap wajah lelap adiknya sebelum akhirnya bangkit dan menyelipkan selimut lebih rapat.
Di lorong rumah sakit, ponselnya bergetar.
Tuan Ares:
> Datang.
Tidak ada kalimat lain. Tidak seperti biasanya yang menyertakan waktu atau alasan.
Alisha menatap layar sejenak, lalu memesan taksi online sambil berjalan menuju pintu keluar rumah sakit. Sepanjang perjalanan, wajah Raka yang curiga tadi terus terbayang, bersisian dengan wajah pria yang menunggunya di ujung perjalanan ini.
Dua kebohongan berbeda. Satu untuk adiknya. Satu lagi, entah apa namanya. Untuk pria yang baru semalam memintanya untuk tidak datang hanya karena kontrak.
Taksi yang ditumpangi Alisha akhirnya berhenti di depan rumah Ares. Begitu masuk kamar, Alisha meletakkan tasnya di kursi lalu membersihkan diri. Setelah itu ia memasang penutup mata dan duduk di tepi ranjang.
Tak lama kemudian Ares masuk ke dalam kamar.
Dari langkahnya, Alisha sudah tahu itu Ares. Ia bisa merasakan tatapannya meski matanya tertutup. Biasanya Ares akan langsung mengatakan apa yang diinginkannya. Namun malam ini berbeda.
“Tuan Ares?”
“Hm?”
Alisha memiringkan kepalanya. “Kenapa diam?”
“Nggak apa-apa.”
Alisha mengerutkan kening.
Beberapa detik berlalu dalam diam. Lalu Ares bertanya dengan nada seolah-olah hanya ingin memastikan sesuatu.
“Dokter tadi siapa?”
Alisha langsung tersentak. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.
"Dia tahu?"
Pikirannya melompat ke dua pria yang dilihatnya di lorong tadi. Postur dan cara berjalan salah satunya terasa begitu familiar.
"Jangan-jangan memang Tuan Ares..."
“Kenapa diam?” Suara Ares membuat Alisha tersadar.
“Ah...” Alisha meremas ujung selimut. “Itu Kak Yudhis.”
“Yudhis?” ulang Ares.
“Iya," sahut Alisha. "Dokter yang nanganin Raka.”
Ares tidak langsung mengomentari.
“Kebetulan dulu kenal sama saya,” lanjut Alisha.
“Dulu?” Nada suara Ares berubah tipis.
Alisha tidak menyadarinya. “Iya. Dia sepupunya Dewi, teman saya. Dulu kami pernah satu lingkungan.”
“Begitu," gumam Ares.
Alisha menunggu beberapa detik sebelum bertanya, “Memangnya kenapa?”
“Dia pernah suka sama kamu?”
...✨“Rasa cemburu sering kali datang sebelum seseorang berani mengakui bahwa ia takut kehilangan. Ia muncul diam-diam, lewat pertanyaan sederhana yang sebenarnya menyimpan perasaan jauh lebih dalam.”✨...
.
To be continued
cukup mantan mu si Reni yg ribet
kamu jangan ikutan res
Semangat Kak Nana.. Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
kacau ini orang 🤣🤣
takut ga bisa tanggung jawab sama tatapan mu.
pengecut dia takut kalah sama rasa bersalah nya🫣😔
Semangat Kak Nana... Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏