Ia dijodohkan dengan anak orang kaya di kampungnya. Pria lumpuh dengan latar belakang yang tak enak di dengar. Anak tunggal dari orang terkaya di kampung itu. Cap play boy yang suka mempermainkan wanita melekat sangat kuat di nama si cowok.
Namun, Aulia tetap menerima pernikahan itu karena hutang ayahnya yang besar. Iya. Singkatnya, pernikahan itu karena hutang keluarga yang besar, yang tidak bisa ayahnya kembalikan.
Namun, siapa sangka kalau hidup akan berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Green_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode *27
Sungguh, semuanya tersusun dengan sangat rapi. Rencana itu sudah sangat matang Diani pikirkan. Karena dia memang tidak ingin sedikitpun kegagalan terjadi.
Selanjutnya, Diani membuat rekayasa seolah Zihan benar-benar sedang tidur bersama Lula. Diani yang paling pintar dengan akal liciknya itu akan membuat Aulia mempercayai apa yang sedang terjadi.
Beberapa foto pun sudah ia dapatkan. Foto yang terlihat begitu meyakinkan kalau Zihan benar-benar sedang bersama perempuan saat ini. Bahkan, tanggal di foto pun tak lupa ia sediakan agar Aulia benar-benar yakin kalau Zihan memang sedang bersama perempuan di waktu ini.
Kemudian, Diani kirim foto tersebut ke WA Aulia. Dan tidak lupa ia kirimkan lokasi dari foto tersebut. Satu hal yang membuat foto itu benar-benar terlihat meyakinkan adalah, Diani mengirim foto itu lewat nomor Pak Toha.
Aulia yang sekarang sedang berada di taman bunga, langsung mengalihkan perhatian ketika bunyi pesan masuk terdengar dari ponselnya. Dengan penasaran, dia pun membuka pesan tersebut dengan cepat.
Bak tersambar petir di siang bolong, tubuh Aulia langsung bergetar ketika pesan itu ia lihat. Bagaimana tidak? Pesan yang dikirim oleh orang terdekat Zihan sendiri, dengan pesan singkat pula yang tertulis dengan baik di chat berikutnya benar-benar menghancurkan hati Aulia.
Maafkan saya, Nona. Saya tidak ingin mengirim foto ini pada Nona. Tapi, saya kasihan karena Nona terus dibohongi oleh suami, Nona. Karena itu, foto ini terpaksa saya kirimkan agar Nona tahu apa yang telah suami Nona lakukan di belakang Nona selama ini. Nona perempuan yang baik. Karena itu, saya tidak tega melihat Nona terus-terusan ditipu. Saya rela mempertaruhkan pekerjaan saya hanya untuk Nona. Karena hati nurani, tidak bisa membantah hal baik yang ingin saya lakukan.
Terasa lemas semua persendian Aulia setelah membaca pesan yang cukup panjang itu. Lalu, datang lagi pesan kedua yang tidak bisa untuk tidak Aulia baca. Karena saat ini, meskipun menangis, dia tetap melihat ke arah layar ponselnya yang masih terus menyala.
Datanglah ke hotel yang sudah saya kirimkan alamat sebelumnya, Nona. Karena dengan begitu, Nona akan tahu kalau saya ini berbohong atau tidak. Maaf, Nona. Kenyataan harus Nona hadapi. Lebih baik terluka secara terang-terangan, dari pada bertahan dengan kebohongan. Itu lebih menyakitkan lagi, Nona.
Pesan kedua pun telah selesai Aulia baca. Hatinya sungguh sangat sakit. Setelah kepercayaan yang dengan susah payah ia bangun, kini malah hancur seketika karena dikhianati terang-terangan oleh orang yang sudah ia berikan kepercayaan.
Aulia pun tidak bisa untuk tidak menangis secara sesenggukan. Karena luka hati itu terasa sangat perih. Sampai-sampai, semua rasa itu langsung memenuhi hatinya dengan sangat cepat.
Usai menangis selama beberapa waktu, Aulia pun memutuskan untuk pergi ke hotel. Tekad sudah ia bulatkan, kali ini, dia tidak akan memberikan sedikitpun kepercayaannya pada Zihan. Karena itu, dia akan melabrak Zihan sekarang juga.
Aulia langsung pergi setelah mengambil tas selempangnya. Tidak ia hiraukan pakaian rumahan yang saat ini ia kenakan. Karena saat ini, penampilan bukan hal yang penting bagi Aulia. Soalnya, hati sudah rusak, maka tidak ada waktu untuk memikirkan penampilan.
Aulia pergi sendiri menuju hotel tempat di mana Zihan berada. Kebetulan, beberapa waktu yang lalu, Mbok Yah sudah pergi keluar untuk berbelanja kebutuhan di mini market. Karena itu, rumah mereka saat ini sedang kosong.
Sepanjang jalan menuju hotel, Aulia yang sedang duduk di kursi penumpang taksi online itu terlihat sangat murung. Bahkan, sesekali ia terlihat sedang menyeka air matanya yang tumpah perlahan.
Ya, air mata itu jatuh begitu saja tanpa bisa ia cegah. Ditambah ketika Aulia ingat saat-saat bersama Zihan yang sudah cukup lama ia lalui. Hal itu tentu saja menciptakan perasaan yang menjadi kenangan tersendiri untuk Aulia.
Beberapa saat menempuh perjalanan, akhirnya taksi tersebut tiba di hotel yang ingin Aulia tuju. Aulia pun bergegas turun setelah membayar ongkos dari taksi tersebut.
Namun, ketika ia ingin turun, dia tiba-tiba teringat akan satu hal. 'Sepertinya, aku tidak akan lama. Karena itu, taksi ini mungkin harus tetap berada di sini untuk membawa aku kembali pulang,' kata Aulia dalam hati sambil menghentikan langkah kakinya.
"Pak, apa Bapak bisa menunggu saya? Saya di dalam gak akan lama. Mm ... hitung saja berapa ongkosnya, maka saya akan membayarnya nanti."
Si sopir awalnya sedikit ragu dan bingung. Tapi, pada akhirnya, dia setuju juga. "Baik, Mbak. Saya akan tetap di sini."
"Terima kasih, Pak."
"Sama-sama."
Aulia pun kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Sementara di dalam kamar, Diani sedang mengawasi Aulia lewat anak buah yang ia tempatkan di luar hotel.
"Bagus, perempuan bodoh. Lanjutkan langkahmu sekarang juga. Kalau bisa, bergeraklah sedikit lebih cepat agar semuanya pas dengan apa yang aku harapkan." Diani berucap sambil tersenyum lebar dengan mata yang terus terfokus pada layar ponsel.
Beberapa saat berjalan, akhirnya Aulia tiba di lantai dua. Sekarang, jantung Aulia semakin kuat berdebar karena sejujurnya, ia merasa sangat tidak siap untuk melihat dengan mata kepalanya sendiri, sang suami yang sedang tidur dengan perempuan lain.
Tapi bagaimanapun, kenyataan harus ia hadapi. Meskipun sangat sakit, tapi itu akan lebih baik dari pada hidup dalam kebohongan yang akan membawa ke jalan kesengsaraan.
Aulia yang kini telah tiba di kamar hotel dengan nomor yang tertera di layar ponselnya itupun langsung memegang gagang pintu kamar tersebut dengan tangan yang sangat berat. Sungguh diluar perkiraan Aulia, pintu kamar tersebut tidak terkunci. Karena itu, dia dengan mudah bisa langsung membukakannya.
Aulia pun menertawakan kebodohan orang yang ada di dalam dengan hati yang sangat terluka. 'Dasar manusia menjijikan. Apakah kalian segitu tidak sabarnya untuk bersama? Karena itu, pintu kamar pun tidak bisa kalian kunci terlebih dahulu. Benar-benar manusia tidak ada adabnya.' Aulia berkata dalam hati.
Pintu pun berhasil Aulia buka. Dan, air mata pun langsung terjun bebas tanpa ada hambatan sedikitpun. Aulia yang melihat sang suami sedang terbaring tanpa busana bersama perempuan lain, tentu sangat merasa kesakitan.
"Kak Zihan!"
Sebuah teriakan keras langsung keluar dari mulut Aulia. Efek obat bius dengan durasi yang tidak terlalu lama pun sudah berakhir. Hanya karena satu teriakan saja, langsung berhasil membangunkan Zihan yang sebelumnya sudah lama berada di alam bawah sadar akibat obat bius tersebut. Sementara Lula yang sebelumnya hanya pura-pura tertidur pun ikut mengerjapkan mata seolah-olah, dia juga baru sadar dari tidurnya.
Zihan yang baru sadar masih berusaha mengumpulkan kesadarannya yang terpecah. Ditambah, kepalanya yang terasa masih pusing itu membuat ia terlihat seolah sedang mengabaikan keberadaan Aulia yang saat ini sedang ada di depan pintu kamar tersebut.